Sastra

Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu (Puisi Taufiq Ismail)

Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu
Bersama beberapa ribu kawanmu
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru
Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru
Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru
Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu
Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu
Sampai kini sejak kau lahir dahulu
Inilah pengakuan generasi kami, katamu
Hasil penataan dan penataran yang kaku
Pandangan berbeda tak pernah diaku
Daun-daun hijau dan langit biru, katamu
Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu
Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu
Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu
Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu
Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu
Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu
Maka kami bergeraklah kini, katamu
Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju
Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu
Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu
Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu
Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu
Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu
Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu.

1998

Sumber : http://taufiqismail.com/malu-aku-jadi-orang-indonesia/191-ketika-sebagai-kakek-di-tahun-2040-kau-menjawab-pertanyaan-cucumu

Tukang Obat (Puisi Irfan M. Nugroho)

semestinya kau telah belajar menjadi pemetik daun tanpa melukai dahan
sebabmemetiknya pastilah membuat luka sayat atau sekadar
gores pada dahan-dahan yang mungkin sudah terlanjur tua untuk bicara
atau malah terlalu muda sehingga belum mengerti bahasa luka
barangkali daun itu merupa tukang nujum yang mengirim hantu
kepada orang-orang sakit lantaran mengunyah obat yang kau ramu
atau sebenarnya dirimu yang digerogoti cemas paling rampas
sehingga kau jual segala ramu seharga keringat yang lahir
dari pemanjat tebing tanpa sehelai tali
sedangkan aku masih di digerimis tanya
kenapa harus ada tebusan dari tiap gaibnya
Purwokerto, 2012
Sumber :

http://www.wawasanews.com/2013/03/puisi-puisi-irfan-m-nugroho.html

Narasi Luka (Puisi Irfan M. Nugroho)

mulanya ia adalah daun hijau yang jatuh
dihempas angin dan terurai di remah batin
lalu matahari menghujankan airmata paling api
yangmeranggaskan kematiannya
dan kau menyihirnya jadi duri paling pisau
yang tumbuh di angka-angka penanggalan
sehingga menjadi sejarah luka yang piatu
dibatinku
Purwokerto, 2012
Sumber :

http://www.wawasanews.com/2013/03/puisi-puisi-irfan-m-nugroho.html

http://www.wawasanews.com/2013/03/puisi-puisi-irfan-m-nugroho.html

Pemintal Doa – Achid BS (Puisi Irfan M. Nugroho)

lelaki yang menjatuhkan daun keningnya ke lantai
telah menuntaskan sakramen di rumah sunyi
di antara detak-detik waktu yang terahasiakan
mengucap ayat pada sembah yang panjang
atau mungkin mantra pekasih
lantaran cinta yang ditanam tak juga menjelma mawar
tapi sehelai sajadah yang menampung guntingan rindu
pasti akan selalu menjadi cahaya
danmengantarnya ke ujung rambut di belah tujuh
untuk menjadi penghuni taman
di mana khuldi pernah tertanam
Purwokerto, 2012
Sumber :

Perihal Kehilangan (Puisi Dewi ketujuh)

Satu pohon besar kehilangan dedaunnya.
Tidak bersedih ia
Sudah biasa, katanya.

Satu daun hijau
melepaskan diri dari pohon besar.
Melepaskan diri.
Terlepaskan.

Daun hijau menyesal.
Pohon besar menyesal.

Daun hijau sedih sebentar
Pohon besar
selamanya merasa kehilangan.

Sumber : http://dewiketujuh.wordpress.com/2012/06/29/perihal-kehilangan/