Sastra

Surat Dari Ibu (Asrul Sani)

 

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas !
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas !
Selama hari belum petang

dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang kesarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku !

Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam !
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”

 

Angin Bercakap-cakap Dengan Air (Ahmad D. Rajiv)

tentang cahaya terakhir yang terbit lalu tenggelam di matamu
apakah setiap sungai memiliki muara
begitupun airmata?

Cahaya bulan mengetuk jendela
ada kabar duka jika tiba-tiba pagi meninggal dunia
dan aku akan terperangkap di dalam khayalmu
selamanya

Lantas bergunakah dendam?
jika toh nyiur tak lagi melambai
dan warna bajumu perlahan samar dari ingatan
butir-butir pasir bersorak-sorai

Aku akan tiba tanpa cinta di belakangku
hanya namamu yang tetap berwarna
pelangi luntur dan daun-daun menua
matahari mendengkur terlelap di pangkuanku

————

Sumber  : http://puisiabadi.tumblr.com/

Ayesha (Ahmad D. Rajiv)

Aku mengenalmu Ayesha
Ketika bulan menanggalkan malam
Dan fajar menyeduh matahari
Kau berbisik sebentar dan berlalu
Kembali ke masa lalu
Kau meninggalkan cintamu
Di sana lalu beragam
Kisah berwarna dan berpendar
Hingga kau tiba berpayung ungu
Sedang langit
Masih memeluk biru
Kau masuk ke dalam buku catatanku
Lalu menjelma puisi-puisi
Kau masuk ke dalam mimpiku
Lalu menjelma secercah pagi

Aku mengenalmu Ayesha
Ketika musim berubah haluan
Daun-daun hijau
Terbang rendah dan hinggap
Di pucuk-pucuk pohon yang bersorak
Kau memohon bintang agar tertawa
Selama-lamanya
Agar kau dapat melalui dingin ini
Dengan penuh cinta
Sampai sang merpati kembali
Dan kau pun pergi

Sumber : http://puisiabadi.tumblr.com/

Sembahyang Rumputan (Ahmadun Yosi Herfanda)

walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang

:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin


topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan

walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu
aku rumputan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang

:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam

pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan
di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya

: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah

aku rumputan
kekasih tuhan
seluruh gerakku
adalah sembahyang

1992

Dan (Mardi Luhung)

Aku turun ke tepi laut. Mendekatkan telinga ke permukaan
ombaknya. Cuma ingin mendengar: “Apa dan siapa yang
menggulung-gulungkan arah di dedasaran sana?” Dan ada ruang,
cahaya-remang, juga ganggang-ganggang yang menjulur seperti
rumbai. Juga yang selalu suntuk tertunduk. Dengan kening yang
menukik ke bawah. Seperti tak ingin menengadah. Hanya
geseran lumpur, koral dan karang-lembut-pucat yang ingin
ditatapnya. Selebihnya, memang untuk senyap dan lenyap.

Dan aku bergegas ke dataran bukit. Mendekatkan telinga ke
dedaunan dan bebunganya. Cuma ingin mendengar: “Apa dan
siapa yang senerik itu leluasa menyanyikan lagu hijau dan
merah?” Lagu yang meniupkan kerjap-butiran-embun. Kerjap
yang nanti akan merambat pelan di kerongkongan si jenazah
yang terpilih. Si jenazah yang ingin sekali merentangkan
langannya. Sambil berseru (meski tak mungkin), tentang
punggung langit, jembatan gaib dan kenaikan yang lebih ke atas.

Dan aku beranjak ke rahang jurang. mendekatkan telinga
ke nganga dalamnya. Cuma ingin mendengar: “Apa dan siapa yang
mencelupkan ujung-ujung jari ke udara? Terus memancurkan air
dari ujung-ujung jari yang telah dicelupkan itu?” Banyangan
mana lagi yang akan menadahinya. Dan kenapa juga, gaung itu
ingin terbang dan menyeruak. Seperti seruakan gaun teja yang
berkilau. Gaun teja yang segera berguguran, ketika rahang
jurang sedikit menyunggingkan hasrat malu-malunya?

Dan di antara bolak-balik semacam ini, betapa tak terduganya,
apa dan siapa yang ingin didengar oleh telinga.

(Gresik, 2013)

Sumber : http://puisikompas.wordpress.com/

Majenun Hijau (Mardi Luhung)

Panggil saja aku si hijau. Hijau seperti rumput segar di rahang
kuda. Dan hijau seperti jarak pandangan yang terulur sampai ke
matahari. Dan menjadikan para terusik itu mengibas.

Dan menyangka, jika aku telah mengawinkan sorga dan neraka
di balik lembah. Sambil menuduh: “Bagaimana majenun ini
mengaku dirinya benar? Bagaimana pula kita jadi terlena?
Bagaimana pula, dia gampang menyebut kita tak becus?”

Memang, panggil saja aku si hijau. Hijau yang terbentang luas
Mengemuli angkasa. Hijau yang terentang lebar menutupi
lautan. Dan hijau yang bersembunyi di balik jubah. Seperti
anak-anak yang bersembunyi dari mata jahat. Ketika aku

digelandang dan diteriaki:

“Mata-mata, Mata-mata, butakan saja matanya!” Dan ya, aku
tersenyum ketika ditimpuk batu. Tapi mengaduh ketika diusap
setangkai mawar. Sebab, salib itu, untukku, bukan?

Memang, geser ladam, sepatu serdadu serta ujung tombak dan
pinggiran tameng di cadas jalan adalah irama yang membuat aku
menari. Adalah saat ketika semua yang ada terperangah. Terus
menimpal:

“Kemarin, salib itu kita beri warna hitam. Sebab ada bekas
darah si sebelumnya. Kemarin, salib itu kita tancapkan tanpa
apa-apa, kenapa kini dirambati dedaunan? Dedaunan yang hijau!
Hijau!”

Ya, ya, sekali lagi, panggil saja aku si hijau. Hijau yang
melimpah!

(Gresik, 2013)

Sumber : http://puisikompas.wordpress.com/

Daun basah (Nurzaimi)

Daun hijau ..

basah..

lalu jatuh menyentuh bumi..

deras hujan..

membawa lari daun hijauku


hati..

butiran air mata..

jatuh di atas sajadah..

ku menerka dalam menangis..

ke menanti dalam diam..

adakah dia pilihan hati..

melabuh kasih ..

seperti yang aku rasai..

Sumber : http://www.jendelasastra.com/karya/puisi/daun-basah

Hijau dengan atau Tanpa Daun (Norma Rahmawati)

Hijau…
Hijau itu… menarik
Hijau itu… menyejukkan
Melihat hijau… seperti melihat kehidupan
Melihat hijau… merasa damai
Aku suka hijau
Baju hijau
Celana hijau
Tas hijau
Sepatu hijau
Semua hijau
Tapi bukan lemper
Tembok hijau
Lantai hijau
Sepeda hijau
Kasur hijau
Semua hijau
Tapi bukan lumutan
Hanya saja hijau itu… warna favorit
Sawah hijau
Taman hijau
Hutan hijau
Bukit hijau
Hijau dengan atau tanpa daun
Aku suka memakai hijau melihat hijau :)

Sumber : http://fiksi.kompasiana.com