Perawatan Sawit

Burung Hantu, Predator Tikus di Areal Tanaman Perkebunan

Written by Administrator
Wednesday, 02 May 2012 00:00

Tikus merupakan salah satu hama utama yang dapat menimbulkan kerusakan ada tanaman kelapa sawit dan tebu di Indonesia.  Pada kelapa sawit, bagian yang dirusak adalah pelepah sampai titik tumbuh pada tanaman muda, bunga dan buah pada tanaman yang menghasilkan. Pada  tanaman tebu muda, tikus merusak batang tebu sehingga daun menjadi layu.  Pada tanaman tebu tua, tikus merusak pangkal batang di dalam tanah, batang di atas permukaan tanah, dan pucuk tebu.  Spesies tikus yang sering dijumpai pada tanaman perkebunan adalah tikus belukar (Rattus tiomanicus), tikus ladang (Rattus exulans), tikus sawah (Rattus argentiventer) dan tikus rumah (Rattus rattus diardii).

Pada kelapa sawit, seekor tikus belukar dapat menghabiskan sekitar 6 sampai 14 gram daging buah per hari dan membawa brondolan (buah lepas matang) ke dalam tumpukan pelepah sebanyak 30 sampai 40 kali lipat dari konsumsinya.  Jika populasi tikus dalam 1 hektar berkisar antara 183–537 ekor dan berfluktuasi sangat lambat, maka dapat ditaksir menyebabkan kehilangan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) minimal antara 828–962 kg/ha/tahun, tidak termasuk brondolan.   Selain itu, tandan buah yang luka akibat keratan tikus dapat memacu peningkatan asam lemak bebas pada minyak sawit.   Pada daerah pengembangan baru perkebunan kelapa sawit dapat menimbulkan kematian tanaman muda hingga mencapai 20–30% (Sipayung dkk, 1996).

Pada tebu, serangan tikus umumnya terjadi pada musim kemarau panjang.  Tikus memiliki daya rusak yang besar karena merusak tanaman dalam waktu yang singkat, yaitu merusak berbagai stadia tanaman, mampu bereaksi atau merespon terhadap setiap tindakan pengendalian, mempunyai mobilitas yang tinggi dan menimbulkan  kehilangan hasil dalam jumlah yang besar walaupun hanya dilakukan oleh beberapa ekor tikus saja. Eksplosi tikus di Indonesia dilaporkan pada tahun 1962/1963 yang menimbulkan kerusakan tanaman tebu seluas 70.000 hektar sehingga mengakibatkan penurunan rendeman gula nasional (Direktorat Bina Perlintan, 1994).  Akhir-akhir ini serangan tikus terjadi pada pertanaman tebu di Kabupaten Cirebon seluas 168,3 hektar, dari total luasan pertanaman tebu sekitar 9.150 hektar.

Pada umumnya pengendalian serangan tikus di perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan racun tikus (rodentisida). Namun cara ini banyak memiliki kelemahan yaitu dapat menimbulkan pencemaran bahan kimia beracun terhadap lingkungan (air, tanah dan udara);  menimbulkan bau bangkai tikus disekitar kebun; menimbulkan jera  umpan terhadap tikus; dan membutuhkanpengawasan yang ketat terhadap penyebaran umpan dan pengamatan terhadap umpan yang dimakan oleh tikus pada tiga hari setelahperlakuan. Pada tebu, selain penggunaan umpan racun, tikus juga dikendalikan dengan cara gropyokan.

Salah satu strategi pengendalian hama tikus yang mengacu pada prinsip pengendalian hama terpadu (PHT) yaitu pengendalian secara biologis dengan menggunakan predator burung hantu (Tyto alba). Pengendalian ini  cukup efektif diterapkan pada tikus di perkebunan kelapa sawit dibandingkan dengan pengendalian tikus di perkebunan tebu.  Burung hantu merupakan predator tikus yang sangat potensial pada perkebunan kelapa sawit dan mampu menurunkan serangan tikus pada tanaman muda hingga di bawah 5%. Biaya pengendalian serangan tikus dengan burung hantu hanya berkisar 50% dibandingkan penanggulangan tikus secara kimiawi (Dunia Kebun, 2011).

Persiapan dan pembuatan sangkar burung hantu

Sebelum sangkar burung hantu (gupon) dibuat, terlebih dahulu perlu diketahui keberadaannya di dalam kawasan yang akan dikembangbiakkan.  Untuk mengetahui keberadaannya dapat dilakukan antara lain: mendengarkan kicauan-kicauan suaranya pada malam hari; mencari kotoran/pellet di sekitar bangunan atau tempat yang diduga sebagai tempat bertengger; dan mencari tempat bersarang di plafon bangunan yang diperkirakan ditempati burung hantu (Sipayung dkk, 1996).  Menurut Dhamayanti (2005) bahwa gupon burung hantu dibuat dari bahan tripleks 90 mm dan atap seng, berukuran panjang 90 cm, lebar 45 cm dan tinggi 50 cm.

Penempatan sangkar burung hantu

Gupon ditempatkan dibawah kanopi pohon kelapa sawit yang menunjukkan gejala serangan tikus yang baru dengan tinggi tiang kurang lebih 4 m (disesuaikan dengan tinggi pohon kelapa sawit). Setiap areal kelapa sawit seluas 30 ha dipasang satu gupon burung hantu (Dhamayanti, 2005).  Pada perkebunan tebu, gupon dengan tinggi 3–4 m ditempatkan pada areal pertanaman tebu muda seluas 1–5 ha.  Penggunaan burung hantu di perkebunan tebu disarankan pada areal pertanaman tebu yang masih muda karena burung hantu masih bisa melihat pergerakan tikus (Etik, 2012).

Perkembangbiakan burung hantu

Burung hantu  dewasa yang diperoleh ditempatkan pada gupon-gupon secara berpasangan dan setiap hari disediakan makanan berupa tikus sawah atau mencit.  Tergantung besarnya tikus, tiap burung memerlukan 2–4 ekor/hari.  Setelah ± 1 bulan, mereka dilepaskan dan dibiarkan hidup bebas di alam.  Pada hari-hari biasa, burung hantu biasanya tidak tinggal dalam gupon tetapi di pohon-pohon besar di sekitar gupon.  Pada saat bertelur, burung hantu akan kembali ke gupon dan akan tinggal dalam gupon  sampai anaknya cukup besar (Sipayung dkk, 1996).  Jumlah telur yang dihasilkan     bervariasi antara 4- 11 butir /betina tergantung pada jumlah makanan yang tersedia. Ukuran telur panjang 44 mm, lebar 31 mm. Masa bertelur dapat mencapai 15-24 hari, karena peletakan telur 1-3 hari sekali.  Telur mulai dierami pada saat telur ketiga atau keempat dan menetas setelah 30 hari. Pada umur 2.5 – 3 bulan, anak-anak burung hantu mulai belajar terbang dan meninggalkan induknya untuk mencari gupon yang baru (Dhamayanti, 2005).

Penutup

Burung hantu selain bermanfaat sebagai predator dalam pengendalian biologis tikus, juga memberikan nilai tambah dalam budidaya kelapa sawit, yaitu: (i) tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan kebun (air, tanah, udara); (ii) biaya pengendalian dapat ditekan sampai 50% daripada penggunaan rodentisida; (iii) tidak memerlukan tenaga kerja yang khusus untuk pengawasan; (iv) efektif sepanjang tahun; (v) Burung hantu sebagai satwa langka dapat dilindungi dan dikembangkan populasinya.  Penggunaan burung hantu kiranya dapat diimplementasikan pada perkebunan kelapa sawit yang merupakan daerah endemis tikus.

(Direktorat Perlindungan Perkebunan)

PEMELIHARAAN PENUTUP TANAH PADA KELAPA SAWIT YANG BELUM MENGHASILKAN

Tanaman penutup tanah pada kebun kelapa sawit pada kelapa sawit yang belum menghasilkan berfungsi menahan air yang masuk ke dalam tanah lebih lama, sehingga kelembaban tanah terjaga dengan baik. Tanaman penutup tanah yang dapat ditanam di lokasi perkebunan kelapa sawit adalah jenis tanaman kacang-kacangan , diantaranya Centrosema pubescens, Peuraria javanica, dan Collopogonium mucunoides.

Biasanya penanaman tanaman kacangan ini dilakukan tercampur (tidak hanya satu jenis). Setiap hektar lahandapat ditanami tanaman penutup tanah sebanyak 4 kg Peuraria javanica, 8 kg Centrosema pubessent dan 8 kg Collopogonium muconoides.

Penanamannya dilakukan dengan cara membuat larikan sebanyak 5 – 7 setiap gawangan, kemudian biji ditaburkan dalam larikan dan ditutup. Sebelum ditanam, biji kacang-kacangan dicampur dulu dengan pupuk Agrophos dengan perbandingan 1 : 1. Penanaman tanaman kacang-kacangan ini sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.Rotasi/pergiliran pemeliharaan penutup tanah dilakukan 2 – 3 minggu.

Penanaman tanaman kacang-kacangan untuk penutup tanah pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi dan mempertahankan kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma. Pengendalian gulma pada tanaman penutup tanah kacangan ini bertujuan untuk mempertahankan kondisi areal kebun sawit agar tetap murni kacangan dengan cara menyingkirkan semua jenis gulma yang tumbuh di areal kacangan tersebut.

Teknik Pengendalian Gulma
Teknik pengendalian gulma pada areal kacangan yang ada di perkebunan sawit dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Mencabut atau membersihkan semua gulma yang tumbuh di antara tanaman penutup tanah kacangan dengan rotasi yang teratur dengan memakai garuk.
2. Membersihkan semua gulma yang tumbuh di piringan pohon secara teratur dengan alat garuk sehingga piringan pohon selalu bersih dan tidak mengganggu perakaran tanaman pokok.
3. Membalik dengan tangan atau memotong sulur akcangan yang amsuk ke piringan atau yang membelit daun dan pohon kelapa sawit.
4. Mendongkel gulma berkayu yang tumbuh pada areal penutup tanah kacangan.

Tingkat Penyiangan Gulma
Berbagai tingkat penyiangan gulma yang dikenal adalah sebagai berikut :
1. Po : Penyiangan yang dilakukan dengan menyingkirkan semua gulma dari permukaan tanah, sehingga tanah benar-benar bersih dari tanaman selain tanaman pokok. Pekerjaan ini dilaksanakan sesaat akan membangun tanaman penutup tanah.
2. P1 : Penyiangan dilaksanakan dengan mencabut semua gulma yang tumbuh di antara penutup tanah kacangan sehingga akan diperoleh areal penutup tanah akcangan 100 %. Dilaksanakan pada umur tanaman 0 – 6 bulan dengan rotasi 2 minggu.
3. P2 : Penyiangan yang dilaksanakan dengan mencabut gulma yang tumbuh di antara penutup tanah kacangan sampai keadaan penutup tanahnya terdiri campuran kacangan ± 85 % dan rumput lunak ± 15 %. Dilaksanakan pada umur tanaman 7 – 12 bulan dengan rotasi 3 minggu.
4. P3 ; Penyiangan yang dilakukan dengn mencabut gulma yang tumbuh di antara penutup tanah/kacangan dan menyingkirkan rumput-rumputan lunak lainnya yang tumbuh menggerombol di antara penutup tanah, sampai keadaan penutup tanah terdiri dari tanaman kacangan ± 70 % dan rumput lunak ± 30 %. Dilaksanakan pada umur tanaman 7-12 bulan apabila P2 tidak dapat dilaksanakan dengan rotasi 3 minggu.

5. P4 : Penyiangan dengan mencangkul atau mendongkel gulma perdu (Mikania, Euphatorium, Mimosa dll) yang tumbuh diantara tanaman kacang-kacangan penutup tanah yang telah yang telah bercampur dengan rumput lunak. Dilaksanakan pada umur tanaman 13 – 30 bulan dengan rotasi 4 minggu.
6. P5 : Penyiangan yang dilaksanakan dengan membabat sampai batas tinggi yang dikehendaki (± 30 cm) di atas permukaan tanah segala jenis gulma kecuali alang-alang yang perlakuannya tetap di-wiping serta mendongkel sampai ke akar-akarnya, tumbuhan liar perdu yang berkayu keras. Dalam kondisi ini terlihat bahwa penutup tanah kacangan yang tinggal sedikit sekali bercampur dengan rumput lunak

Wiping alang-alang dilakukan secara rutin agar areal tanaman selalu dalam kondisi bebas alang-alang. Wiping alang-alang menggunakan herbisida glyphosat dengan konsentrasi 0,5 %. Areal bebas alang-alang dosis pemakaian herbisida 6 – 10 cc/ha/rotasi

Untuk melaksananak wiping alang-alang bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Larutkan herbisida yang digunakan glyphosat konsentrasi 0,5 %.
2. Kain lap dicelupkan ke larutan, diperas sedikit sebelum diangkat dari ember agar tidak terlalu banyak larutan yang menetes terbuang ke tanah.
3. Kain lap diperas sedikit pada pangkal batang alang-alang tersebut. Selanjutnya kain lap ditarik ke atas untuk membasahi daun alang-alang.
4. Untuk menandai alang-alang yang sudah diwiping, ujung daun alang-alang dipotong sedikit.
5. Rotasi wiping alang-alang pada suatu areal harus terjamin ketepatan waktunya.
6. Pengawasan yang teliti menjadi faktor penting untuk keberhasilan pengendalian alang-alang (Muchdat Widodo)

Sumber :
1. Mukti Sardjoko dkk. Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Sawit. Direktorat Jenderal Perkebunan, jakarta 2006
2. Kiswanto, jamhari Hadi Purwanta dan bambang Wiajayanto. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, jBogor 2008.
3. Ir.Sunarko,M.Si. Petunjuk Praktis Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit.P.T Agro Media Pustaka, Jakarta 2007.
4. Kementerian Pertanian Badan Penyuluhan dan pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian.

Kastrasi Kelapa Sawit

Kastrasi Tanaman Kelapa Sawit

Kastrasi Tanaman Kelapa Sawit

Kastrasi Tanaman Kelapa Sawit atau bisa disebut juga dengan ablasi adalah pekerjaan dengan melakukan pemotongan atau pengkebirian/pengebirian pada bunga jantan dan bunga betina yang masih muda yang dilakukan pada tahap tanaman sawit mulai berbunga atau pada awal TBM, yaitu saat berumur 14 hingga 20 bulan.

Kastrasi merupakan salah satu pekerjaan yang penting sebelum tanaman beralih dari tahap TBM ke tahap TM.

Tanaman kelapa sawit sudah mulai berbunga yakni ketika berumur 14 bulan.           Namun juga tergantung saat proses  pertumbuhannya : tingkat kesuburan tanah, pemupukan, kualitas bibit dsb. Pada saat itu, bunga-bunga tanaman sawit tersebut masih belum sempurna membentuk buah hingga tanaman mencapai umur sekitar 23 bulan. Sebelum itu, buah yang dihasilkannya tidak ekonomis untuk diolah. Karena itulah maka semua bunga maupun buah yang  dihasilkan hingga mencapai umur 23 bulan ini perlu dibuang atau dikastrasi.

Kastrasi adalah membuang semua produk generatif dari tanaman sawit, yaitu mulai dari bunga jantan, bunga betina hingga seluruh buah yang berguna untuk mendukung pertumbuhan vegetatif kelapa sawit.  Kastrasi terakhir dilakukan 6 bulan sebelum buah dipanen.

Tujuan kastrasi diperkubunan kelapa sawit adalah:

a) Mengalihkan nutrisi untuk produksi buah yang belum bernilai ekonomis  agar terserap pada pertumbuhan vegetatif. Sehingga pada saat tanaman sudah menghasilkan, fisik tanaman sudah kokoh dan kuat.

b) P0hon-pohon sawit yang telah dikastrasi biasanya lebih kuat dan seragam dalam bentuk pertumbuhannya.

c) Buah yang dihasilkan tanaman menjadi lebih besar, berbobot dan seragam beratnya.

d) Menjaga sanitasi tanaman, sehingga  tanaman menjadi lebih bersih, dengan demikian bisa menghambat atau mengurangi kemungkinan perkembangan hama dan penyakit seperti : Tirathaba, Marasmius, tikus dan sebagainya.

Kastrasi sebaiknya dilakukan jika lebih dari 50% pohon  kelapa sawit telah mengeluarkan bunga jantan dan bunga betina.  Yakni ketika tanaman kelapa sawit mulai memasuki usia antara 14  hingga 20 bulan sejak mulai di tanam.

Kastrasi dilaksanakan setiap 2 (dua) bulan sekali hingga tanaman sawit mencapai umur 23 bulan, sebab jika terlambat maka ada bunga betina yang akan menjadi buah sehingga pupuk yang diberikan akan digunakan oleh tanaman pada buah, padahal buah yang dihasilkan masih belum produktif dan belum layak untuk dijual.

Alat yang digunakan untuk proses kastrasi adalah chisel atau Irhotools, yaitu dodos dengan lebar mata 8 cm yang di ujungnya terdapat pengait kecil. Bunga yang sudah dipotong dengan dodos ini kemudian ditarik dengan kait kecilnya.  Pemakaian tenaga kerja selama proses kastrasi ini adalah 7 HOK/ha. Setiap bulan seorang pekerja mampu menyelesaikan 50 ha. Dalam melakukan kastrasi harus dijaga agar pelepah daun jangan sampai terluka atau terpotong. Tandan bunga yang dipotong kemudian dikumpulkan ke dalam goni, kemudian dipen dam dalam tanah.

(PiS, dari berbagai sumber)

Informasi Tentang Sawit dan Berita lainnya Bisa Dibaca di Bawah ini :

 

 

Kendalikan Rayap Dengan Biokontrol

Intisari-Online.com - Rayap hingga kini dikenal sebagai musuh kayu dan bangunan yang menakutkan. Diperkirakan kerugian akibat serangan rayap di Indonesia setiap tahunnya mencapai sekitar Rp 250 miliar.

Organisme perusak kayu yang hidup sejak 300 juta tahun yang lalu ini, selain populasinya yang tinggi, juga mempunyai daya jelajah yang cukup jauh. Tak hanya di Indonesia, kerugian akibat serangan rayap juga dialami Malaysia. Kerugiannya mencapai 50 juta ringgit Malaysia. Sedangkan di dunia menyentuh angka AS$ 22 miliar.

Hingga kini usaha untuk mengurangi kerugian akibat serangan rayap masih dilakukan masyarakat dengan menggunakan bahan-bahan berbahaya. Nah, LIPI mencoba mencari alternatif cara mengendalikan rayap secara alami yang ramah lingkungan yaitu dengan biokontrol.

Dulu metode yang digunakan untuk menanggulangi rayap adalah dengan proses pengawetan kayu. Pengawet yang digunakan berasal dari bahan kimia. Sekarang penelitian berubah, bukan kayu yang diapa-apakan tapi rayap yang dikendalikan.

Menurut Sulaeman Yusuf, peneliti UPT Balai Litbang Biomaterial LIPI, pengendalian rayap dibagi tiga bagian yaitu pengendalian secara kimiawi, biologis, dan fisik. Dari yang berbahaya sampai ramah lingkungan.

Pengendalian rayap dengan cara fisik tidak menggunakan bahan kimia tapi partikel alami, sehingga pasti akan ramah lingkungan. Hanya saja kendalanya konstruksi rumah agak berbeda.

Kini, ada satu alternatif cara mengendalikan rayap secara alami yang ramah lingkungan yaitu dengan biokontrol. Misalkan dengan menggunakan jamur yang ditemukan di dalam tanah yang diisolasi. Jamur tersebut menimbulkan kematian pada rayap karena mengganggu metabolism rayap. Jamur tersebut masuk ke dalam kulit dan medegradasi enzim yang mengakibatkan metabolisme rayap terganggu.

Selain jamur, ada lagi ekstrak bintaro yang juga dapat mematikan rayap. Ada lima jenis tanaman seperti tembakau, nimba, bintaro, cengkeh, raja sereh. Dari puluhan tanaman ke lima ekstrak tanaman tersebut lebih tinggi dari yang lain. Mungkin akan dikembangkan lagi jenis tanaman baru seperti putri malu.

Metode pengendalian rayap ini meliputi threat, treat, and release. Threat yaitu menangkap beberapa rayap kemudian treat yakni rayap tersebut disemprot dengan bahan kimia kemudian release, rayap tersebut dilepas dengan harapan mereka akan menularkan bahan kimia tersebut kepada koloninya.

Penggunaan jamur dosisnya sendiri tidak terlalu menjadi faktor utama. Jamur yang menempel dalam tubuh rayap akan berkembang. Walaupun berkembang, jamur yang berasal dari tanah tidak membahayakan lingkungan. Tapi kalau dengan proses kimia memang harus dibatasi. Tergantung dari bahan kimia yang digunakan sendiri.

“Kita ingin berusaha bekerjasama dengan wiraswsta untuk mengembangkan teknologi pengendalian rayap yang ramah lingkungan yang saya kira sangat baik untuk masyarakat,” ujar Sulaeman Yusuf, seperti dilansir laman ristek.

Sumber :

http://intisari-online.com/read/kendalikan-rayap-dengan-biokontrol-