Kelapa Sawit

Standard Atau Kriteria Kematangan Buah Sawit

Ada beberapa kriteria atau standar kematangan buah kelapa sawit,  yang biasanya dipakai oleh pabrik (PKS) agar mendapatkan buah yang benar-benar berkualitas, antara lain :

  1. Buah immature : Buah immature digolongkan sebagai buah yang masih hitam dan keras.  Buah immature ditandai dengan tidak adanya berondolan yang lepas dan mengandung sangat sedikit minyak.
  2. Buah mentah (unripe bunch) : Buah  mentah adalah kurang dari 10 berondolan yang lepas. (Tergantung peraturan dari pihak PKS, pabrik biasa nya yang menentukan kriteria buah yang masak, ada yang mengatakan, 10 biji berondolan yang telah terlepas (terjatuh dari TBS) itu bisa dikatakan “buah siap panen/buah masak”)
  3. Buah mengkal (underripe bunch) : Buah mengkal dengan kurang dari 25 berondolan yang lepas. {tergantung peraturan dari pihak PKS}
  4. Buah masak (normal ripe) :  Buah masak dengan lebih dari 25 berondolan yang lepas dari janjangan. {tergantung peraturan dari pihak PKS}
  5. Buah lewat masak (over ripe) :  Buah yang lewat masak dengan berondolan lepas lebih dari 50% tetapi masih tertinggal 10%. {hampir seperti janjang kosong yang masih ada buah sawit nya, namun hanya sedikit, tidak seperti TBS yang baru di panen}.
  6. Buah busuk (rotten bunch) : Buah busuk dengan sebagian  janjangan atau seluruhnya telah lembek/ menghitam warnanya, busuk dan atau berjamur. Buah lewat masak dan buah busuk (termasuk juga berondolan) mempengaruhi kualitas minyak, juga berakibat kehilangan minyak dalam pemrosesan TBS/buah sawit tadi. Kadar ALB  minyak  akan naik dan nilai Bleachability minyak akan turun karena buah lewat masak dan buah  busuk berisi berondolan  memar dan teroksidasi.
  7. Janjangan kosong (empty bunch) : Janjangan kosong dengan lebih dari 90% berondolan yang lepas.
  8. Tangkai janjangan (long stalk) : Tangkai janjangan yang panjangnya lebih dari 2.5 cm adalah Janjangan Panjang {tergantung peraturan dari pihak PKS}. Tangkai janjangan tidak mengandung minyak. Tangkai ini hanya menambah berat pada waktu penimbangan buah sawit tetapi menyerap minyak pada saat proses sterilisasi  dan threshing. Tangkai ini sangat tidak diharapkan dan panjang dari tangkai harus sependek mungkin.  Suatu praktek yang baik adalah dengan memotong tangkai dan membuat bentuk V  pada ujung bawah tangkai.

Loading Ramp

Loading ramp berfungsi sebagai tempat penimbunan/pengumpulan sementara dan penyortiran kualitas buah sawit dari kebun sendiri atau buah sawit pembelian dari petani sebelum buah sawit diolah. Dengan adaya stok bahan baku diloading ramp tentu akan menjamin kelanjutan proses pengolahan walaupun buah sawit yang dikirim dari lapangan tidak konstan.

Loading ramp menjadi tempat pertama buah sawit diperlakukan secara fisik, sehingga perlakuan yang kasar akan merusak lapisan paling luar buah sawit, padahal lapisan paling luar inilah kandungan minyak paling tinggi. Perlakuan kasar yang dimaksud adalah menumpukkan buah dengan bantuan alat berat (wheel loader) yang dapat mengakibatkan berondolan/buahsawit akan tergilas roda dan mengalami luka bahkan pecah. Jika daging buah sudah pecah akan mempercepat terbentuknya asam lemak bebas, keluarnya minyak dari daging buah yang pecah kelantai loading ramp dan meningkatkan lossis dikondensat sterilizer serta di tandan kosong. Namun kadang kala pemakaian alat berat diloading ramp tidak dapat dihindari karena pada kondisi tertentu buah sawit yang dioalah lebih kecil dibanding dengan buah sawit yang masuk. Misalnya pada saat panen puncak, pabrik stagnasi dan kegiatan sortasi buah sawit pembelian.

Seperti kondisi gambar diatas potensi kehilangan minyak cukup tinggi seperti berondolan yang masuk kesaluran air, telindas roda truk pengangkut buah dan alat berat, terpijak oleh pekerja dsb.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa losis minyak akan terjadi diloading ramp dan tidak akan bisa dicegah kecuali diminimalisir.

Usaha untuk meminimalisir losis minyak dilakukan dengan cara:

  • Pengaturan jam olah yang tepat, sehingga buah sawit tidak harus menumpuk dulu kemudian pabrik mulai mengolah. Selama proses berlangsung kurangi stagnasi dengan mengawasi operasional pabrik dengan baik sehingga tingkat kerusakan alat (jika tidak bisa dihindari) tidak terlalu parah dan perbaikan tidak memakan waktu yang lama
  • Memaksimalkan pengisian lori (namun tidak melebihi kapasitas lori) dam mempercepat perbaikan lori jika ada lori yang rusak.
  • Sortasi terhadap mutu panen buah sawit dari kebun sendiri dilakukan secara sampling dan sedekat mungkin dengan bays loading ramp.(kecuali buah sawit pembelian dari petani harus disortasi setiap tandan setiap truk)
  • Mengisi bays loading ramp sesuai kapasitas dan menyediakan ruang untuk berondolan.
  • Merawat kondisi lantai loading ramp agar tidak berlubang/pecah-pecah.

Sortasi buah sawit

Sortasi buah sawit mutlak dilakukan untuk mengetahui mutu panen yang dilakukan di afdeling/kebun dan memilih buah sawit pembelian dari petani yang akan diterima/ditolak. Tempat melakukan sortasi dilakukan dilantai kerja loading ramp.

Aktifitas sortasi buah sawit ini harus benar-benar diikuti oleh Mill Assistant mengingat akan menentukan kualitas buah sawit yang bagaimana yang akan diolah dan sarat dengan kecurangan. Kecurangan yang terjadi adalah kesengajaan menerima buah sawit mentah karena telah diimingi sejumlah uang oleh pemasok buah.

Sebelum nya mari kita bahas cara penentuan kriteria matang panen buah sawit, kriteria matang panen sebenarnya ditentukan oleh manajemen untuk menjadi tolak ukur keberhasilan cara panen di afdeling untuk setiap tandannya. Tingkat kematangan buah sawit berkaitan erat dengan kandungan minyak, semakin matang buah sawit, semakin tinggi potensi rendemen minyak sawit. Tingkat kematangan buah sawit dapat diwakili dengan jumlah buah yang lepas dari tandan (berondolan), semakin banyak yang memberondol semakin matang buah sawit tersebut. Namun kadar asam lemak bebas juga semakin tinggi didalam buah yang lebih matang. Selain faktor asam lemak bebas (ALB), kefektifan pengutipan berondolan juga harus menjadi perhatian, semakin banyak jumlah berondolan dipiringan/kebun tentu potensi kehilangan berondolan juga tinggi.

Dengan demikian penentuan kriteria matang panen ditentukan oleh ketetapan capaian rendemen minyak sawit, kefektifan panen dan produktifitas ton per hektar per tahun.

Misalnya ketetapan panen disyaratkan 5 berondolan segar dipiringan (piringan adalah bagian tanah yang dibentuk melingkar di bagian bawah pohon sawit) maka buah sawit tersebut boleh dipotong/panen, untuk fungsi kontrol dipabrik, ketetapan berondolan harus lebih besar dari 5 butir, misalnya 15 butir berondolan segar. Artinya jika dijumpai di loading ramp buah sawit telah memberondol sebanyak 15 butir maka pemanen diafdeling telah melakukan ketentuan kriteria matang panen. Demikian sebaliknya.

Buah sawit yang dipanen disusun oleh pemanen di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) dan akan diperiksa oleh petugas pemeriksa buah, jika ada buah mentah diberi tanda silang sedangkan yang matang tidak diberi tanda silang. Jika buah mentah telah disilangi maka denda mutu panen sudah dibebankan ke pemanen saja (jika ada denda mutu panen buah mentah), namun jika ada buah mentah yang tidak diberi tanda silang dijumpai di loading ramp maka buah mentah tersebut ditambahkan ke jumlah denda panen mulai dari Assisten tanaman hingga pemanen. Hal ini juga menggambarkan petugas pemeriksa buah tidak menyortir semua tandan yang dipanen.

Petugas sortasi di pabrik/loading ramp mencatat buah mentah yang disilang dan buah mentah yang tidak disilang. Dengan metode sampling diloading ramp maka data jumlah buah mentah di afdeling harus lebih besar dari data buah mentah di pabrik, jika sama atau bahkan lebih besar, ini mengindikasikan sistem panen tidak berjalan dengan baik dan manajemen perlu melakukan evaluasi menyeluruh.

Karena pentingnya data sortasi tersebut, petugas sortasi di pabrik didampingi oleh petugas saksi dari bagian tanaman/afdeling untuk bersama-sama melihat buah sawit yang disortir.

Buah sawit yang telah disortir disisihkan ke bagian tepi lantai loading ramp untuk dapat dilihat oleh Assisten Tanaman/petugas saksi tanaman dan setelah diketahui, buah mentah tersebut boleh diolah.

Sumber : http://mypalmoilindustry.blogspot.com/2011/10/loading-ramp.html

Manfaat Limbah Kelapa Sawit

Limbah sawit terdiri dari kulit serat luar, kulit biji (yang keras), dan sisa (ampas) biji, serta bahan pendukung seperti air yang bercampur dengan limbah tersebut.

Berbagai penelitian telah dilakukan menunjukkan bahwa Limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Berikut akan dijelaskan manfaat limbah kelapa sawit.

1. TKKS untuk pupuk organik

Tandan kosong kelapa sawit daoat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan kosong kelapa sawit mencapai 23% dari jumlah Pemanfaatan Limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi.

Ada beberapa alternatif Pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan sebagai berikut :

a. Pupuk Kompos
Pupuk kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses fermentasi atau dekomposisi yang dilakukan oleh micro-organisme. Pada prinsipnya pengomposan TKSS untuk menurunkan nisbah C / N yang terkandung dalam tandan agar mendekati nisbah C / N tanah. Nisbah C / N yang mendekati nibah C / N tanah akan mudah diserap oleh tanaman.

b. Pupuk Kalium
Tandan kosong kelapa sawit sebagai limbah padat dapat dibakar dan akan menghasilkan abu tandan. Abu tandan tersebut ternyata memiliki kandungan 30-40%, K2O, 7%P2O5, 9%CaO, dan 3%MgO. Selain itu juga mengandung unsur hara mikro yaitu 1.200ppmFe, 1.00 ppm Mn, 400 ppmZn, dan 100 ppmCu. Sebagai gambaran umum bahwa pabrik yang mengolah kelapa sawit dengan kapasitas 1200 ton TBS/ hari akan menghasilkan abu tandan sebesar 10,8%/hari. Setara dengan 5,8 ton KCL; 2,2 ton kiersit; dan 0,7ton TSP. dengan penambahan polimer tertentu pada abu tandan dapat dibuat pupuk butiran berkadar K2O 30-38% dengan pH 8 – 9.

c. Bahan Serat
Tandan kosong kelapa sawit juga menghasilkan serat kuat yang dapat digunakan untuk berbagai hal, diantaranya serat berkaret sebagai bahan pengisi jok mobil dan matras, polipot (pot kecil, papan ukuran kecil dan bahan pengepak industri.

2. Tempurung buah sawit untuk arang aktif

Tempurung kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak. Arang aktif juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai industri. Antara lain industri minyak, karet, gula, dan farmasi.

3. Batang dan tandan sawit untuk pulp kertas

Kebutuhan pulp kertas di Indonesia sampai saat ini masih dipenuhi dari impor. Padahal potensi untuk menghasilkan pulp di dalam negeri cukup besar. Salah satu alternatif itu adalah dengan memanfaatkan batang dan tandan kosong kelapa sawit untuk digunakan bahan pulp kertas dan papan serat.

4. Batang kelapa sawit untuk perabot dan papan artikel

Batang kelapa sawit yang sudah tua tidak produktif lagi, dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai tinggi. Batang kelapa sawit tersebut dapat dibuat sebagai bahan perabot rumah tangga seperti mebel, furniture,atau sebagai papan partikel. Dari setiapbatang kelapa sawit dapat diperoleh kayu sebanyak 0.34 m3.
kelapa sawit

5. Batang dan pelepah sawit untuk pakan ternak

Batang dan pelepah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada prinsipnya terdapat tiga cara pengolahan batang kelapa sawit untuk dijadikan pakan ternak, yaitu pertama pengolahan menjadi silase, kedua dengan perlakuan NaOH dan yang ketiga adalah pengolahan dengan menggunakan uap.

Sumber : http://carabudidaya.com/manfaat-limbah-kelapa-sawit/

Lidi Sawit Yang Bermanfaat dan Bisa Menambah Penghasilan

Cukup banyak manfaat yang bisa diperoleh dari lidi Sawit untuk keperluan hidup manusia, beberapa manfaat yang sering kita dapat antara lain adalah : sapu lidi dan kipas angin.

Manfaat lidi sawit lebih banyak dari itu, untuk lebih lengkap lagi, berikut ini adalah manfaat lidi sawit :

  • sapu lidi
  • kipas angin
  • bahan campuran pembuatan karpet
  • bahan campuran pembuatan asbes
  • bahan campuran di pabrik kertas

Negara-negara yang mengeksport lidi sawit ini antara lain adalah :

  • Pakistan
  • Malaysia

Masyarakat yang bekerja di perkebunan sawit, terutama kaum wanita (ibu-ibu) mencoba membantu ekonomi keluarga dengan meluangkan waktu untuk mengumpulkan  lidi-lidi sawit ini yang kemudian dijual kepada pengumpul.

Karena bertujuan untuk dieksport, maka secara umum ada syarat yang diminta para pengumpul ketika membeli lidi sawit tersebut antara lain :

  • Panjang +- 90 cm sd 100 cm (1/3 bagian tengah pelepah)
  • Diambil dari pelepah/pruning yang baru ditebas
  • Kondisi kering. Setelah diraut langsung dijemur kering kuning selama satu hari dalam kondisi matahari penuh.
  • Jangan kena air hujan
  • Jangan ditutup atau diterpal
  • Fresh, tidak berbau apek atau masih harum
  • Tidak berjamur, tidak lapuk dan tidak berwarna hitam
  • masih lentur
  • minimal penjemputan 1.000 kg
  • waktu maksimal penjemputan antar 7 hingga 10 hari

Rata-rata para pengumpul lidi sawit membelinya sekitar Rp 1.000 – 1.700 /kilo, ini semua tergantung pada kualitas, pengepakan dan jauh-dekat alamat pengrajin lidi sawit tersebut.

Saingan utama lidi sawit adalah lidi nipah, yang harganya bisa dua kali lipat dari harga lidi sawit.

(by : IvanMangunsong, 2013)

Manfaat Abu Janjang

Abu janjang adalah hasil pengabuan secara perlahan-lahan dari janjangan kosong di dalam incinerator.  Produksi abu janjang adalah sekitar 0.5% dari TBS.  Abu janjang mempunyai kandunganhara Kalium (K) yang tinggi dan dapat dipakai sebagai pengganti pupuk MOP.  Satu kilo gram abu janjang setara dengan 0.6 kg MOP.
Aplikasi abu janjang bertujuan untuk menggantikan pupuk MOP dan sebagai bahan pengapuran untuk menaikkan pH tanah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan dengan abu janjang di tanah gambut lebih efektif dibanding dengan pemupukan MOP.

Sifat-sifat dari  abu janjang yaitu :

  • Sangat alkalis (pH = 12).
  • Sangat higroskopis (mudah menyerap uap air dari udara).
  • Mengiritasi tangan karyawan (menyebabkan gatal-gatal dan memperparah luka).
  • Hara yang terkandung di dalamnya amat mudah larut di dalam air.

karena sifat-sifat abu janjang tersebut, maka abu janjang harus cepat diaplikasikan (tidak boleh disimpan lama), penyimpanannya harus baik (dalam kantong plastik, tidak langsung dalam karung goni) dan selalu diperlakukan dengan hati-hati.

Aplikasi abu janjang diprioritaskan untuk areal gambut/tanah masam.  Pada tanah gambut, selain pada TM abu janjang juga diberikan pada TBM tahun ke-2 dan ke-3.  Pada tanah mineral, abu janjang hanya diberikan pada TM.

Untuk tanah gambut dan tanah masam acid-sulphate, abu janjang diberikan tiap tahun.  Untuk daerah tanah masam bukan acid-sulphate (pH 4-5), abu janjang hanya diberikan sekali saja dalam 5 tahun.  Kalau diberikan terlalu sering maka ada resiko kenaikan pH tanah yang terlalu tinggi (> 5.5).

Sumber :

http://intisawit.blogspot.com/2012/12/manfaat-abu-janjang.html

Suara dan Seruan dari Daerah Menanti Perpanjangan Moratorium

Oleh Andi Fachrizal, Christopel Paino dan Indra Nugraha,  May 8, 2013 6:07 am

Bekas hutan di Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Tahun lalu kawasan ini masih hutan dengan pohon-pohon kokoh berdiri. Kini, sudah siap digarap menjadi kebun sawit. Jadi, moratorium hutan dan lahan perlu dilanjutkan dengan penguatan perbaikan tata kelola kehutanan, tak hanya setop pemberian perizinan. Foto: Sapariah Saturi

“Menghitung hari, detik demi detik…Masa kunanti apa kan ada.” Kutipan lirik lagu yang dibawakan Krisdayanti ini tampaknya senada dengan penantian banyak pihak akan keberlangsungan moratorium hutan dan lahan yang bakal berakhir 20 Mei 2013. Waktu tinggal menghitung hari, tetapi belum ada tanda-tanda Presiden SBY akan mengeluarkan instruksi Presiden (inpres) perpanjangan ini. Desakan datang dari berbagai pihak, baik di pusat maupun daerah.

Di Kalimantan Barat (Kalbar), sejumlah lembaga swadaya masyarakat mendesak moratorium hutan dan lahan di Indonesia, segera dilanjutkan. Jika tidak, khawatir membuka peluang bagi pemanfaatan hutan menjadi ajang konsolidasi sumber daya finansial oleh berbagai aktor dalam persiapan momentum politik 2014. “Ini sangat rentan,”  kata M Hermayani Putera, Manajer Program Kalbar WWF-Indonesia, di Pontianak, Minggu(5/5/2013).

Dia mengatakan, komitmen moratorium itu sangat penting terlebih hingga saat ini, finalisasi RTRW masih belum selesai. Dari aspek spasial,  seperti ini menjadi masa sangat krusial. “Bisa kita lihat hasil akhir koordinasi antar-sektor terkait upaya mempertahankan hutan yang masih ada versus usulan melepaskan kawasan hutan untuk kepentingan berbagai sektor.”

Untuk itu, fungsi pemantauan hutan, baik oleh lembaga yang diberi mandat di tingkat pemerintahan maupun yang diinisiasi berbagai pihak di luar pemerintah, perlu diperkuat.

Hal senada dikemukakan Sekretaris Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Kalbar Agus Sutomo.  Dia menilai, pernyataan Menteri Kehutanan (Menhut) terkait komitmen moratorium itu tidak memiliki kekuatan apapun, selain hanya cuap-cuap. “Jika memang betul, Menhut harus bisa membuktikan pernyataan melalui tindakan lebih nyata melalui kebijakan Presiden RI,” ucap dia.

Menurut Sutomo, jika komitmen memperpanjang moratorium kawasan hutan ini terlambat, maka akan menjadi peluang investasi politik dari pemerintahan yang korup. “Mereka akan kembali menjarah hutan dan merusak kawasan hutan.

Hendrikus Adam, Koordinator Devisi Riset dan Kampanye Walhi Kalimantan Barat (Kalbar), mengatakan, Inpres Moratorium sesungguhnya perintah yang tidak wajib karena tidak ada kekuatan bersifat memaksa.

Namun, perpanjangan moratorium sebagai upaya penyelamatan ekologi khusus hutan dan manusia di sekitar kawasan itu, penting. Dengan moratorium ini, diharapkan tak hanya menekan deforestasi dan degradasi hutan—yang belum terlihat pada moratorium sesi pertama—juga penyelesaian konflik-konflik agraria. “Sampai saat ini  belum terlihat progres penyelesaian sengketa agraria yang menempatkan warga sebagai korban kebijakan pembangunan.

Suara meminta perpanjangan juga datang dari Koalisi LSM yang tergabung dalam Relawan Pemantau Hutan Kalimantan (RPHK). Mereka mendesak pemerintah agar hutan alam di luar kawasan konservasi yang masih tersisa di Kalbar tetap dipertahankan. Mereka mengingatkan, kondisi hutan tanaman industri (HTI) di Kalbar berdasarkan data Balai Pemantauan Pemafaatan Hasil Hutan Produksi (BP2HP) Wilayah X sudah mencapai 2.429.807 hektar.

Lalu, SK. 3803/Menhut-VI/BRPUK/2012 tentang penetapan peta indikatif pencadangan kawasan hutan produksi untuk usaha pemanfaatan hasil hutan kayu, di Kalbar,  sudah ditetapkan seluas 827.614 hektar untuk HTI. Ke depan, Kalbar akan memiliki 3.257.421 hektar HTI. Angka ini 23 persen dari luas daratan Kalbarr. “Dari hasil analisis tutupan lahan pada kawasan yang dicadangkan Menhut, kawasan HTI masih banyak yang di hutan alam,” kata Baruni Hendri, juru bicara RPHK.

Selain pada hutan alam, HTI yang akan dikembangkan ada di tengah-tengah dan sekitar permukiman. Ke depan, harus menjadi perhatian pemerintah, baik provinsi dan kabupaten untuk tidak mudah memberikan rekomendasi pengembangan HTI. “Pemprov dan pemkab jangan mudah merekomendasi kawasan, terutama di lokasi yang masih memiliki hutan alam dan di tengah-tengah pemukiman. Ini dikawatirkan memicu konflik baik lingkungan maupun sosial,”  ujar Baruni.

Sulhani, Koordinator RPHK, menambahkan, hasil pantauan RPHK di beberapa lokasi HTI di Kalbar, masih ditemukan perusahaan yang mengabaikan aspek kelestarian lingkungan dan hak-hak masyarakat di sekitar. “Walapun HTI itu legal, tapi aspek kelestarian masih dipertanyakan. Kita masih menemukan peredaran ilegal satwa yang dilindungi seperti orangutan dan bekantan yang dipicu pengembangan kawasan untuk HTI.”

Di Kalbar, masih ada hutan alam di luar kawasan konservasi yang memiliki nilai penting bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. Untuk itu, RPHK mendesak pemerintah me-review kembali kriteria dan indikator dalam menentukan kawasan yang akan dikembangkan untuk pembangunan HTI di dalam SK. 3803/Menhut-VI/BRPUK/2012.

Di Sulawesi juga menyuarakan hal sama. Ahmad Pelor, Walhi Sulawesi Tengah (Sulteng) mendesak pemerintah segera memperpanjang  kebijakan moratorium ini. Menurut dia, moratorium semestinya tidak diukur dengan waktu dua tahun, empat tahun, atau lima tahun. “Moratorium diukur dengan hasil, yaitu tata kelola kehutanan membaik dan rehabilitasi kawasan-kawasan hutan kritis secara terencana, sistematis, serta melibatkan rakyat sekitar atau di dalam hutan.”

Ahmad Pelor mengungkapkan, Walhi Sulteng mendukung kebijakan moratorium pengeluaran izin baru di kawasan hutan. Namun, dalam konteks Sulteng atau Sulawesi, kebijakan ini, tidak disertai komitmen kuat dan pengawasan efektif pada level implementasi.

Akibatnya, kebijakan seperti tidak tidak menjadi acuan bagi pemerintah daerah. Terbukti, banyak aktivitas pertambangan mineral tetap berlangsung di kawasa hutan, seperti di Morowali bahkan sampai masuk dalam kawasan konservasi  yaitu Cagar Alam Morowali.

“Selain itu kami juga menduga, perusahaan perkebunan sawit, seperti PT Sawindo Cemerlang di Kabupaten Banggai, Sulteng, terus mengkonversi ilegal kawasan hutan menjadi perkebunan,” katanya kepada Mongabay, Jumat (3/5/13).

Dia mengatakan, jika ada jeda menuju waktu perpanjangan cukup mengkhawatirkan. Bisa jadi,  masa ini menjadi momentum bagi Kementerian Kehutanan buru-buru mengeluarkan izin pengelolaan hutan baru bahkan izin penggunaan kawasan hutan bagi pertambangan dan perkebunan skala besar.  “Apalagi kita tahu saat ini, hampir seluruh pemerintah daerah mengusulkan perubahan kawasan hutan, jika ditaksir angka mencapai jutaan hektar melalui revisi rencana tata ruang wilayah provinsi, kabupaten dan kota.”

Senada diungkapkan Ketua Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) Gorontalo, Ahmad Bahsoan. Menurut dia, ada kecurigaan besar jika sampai 20 Mei belum ada perpanjangan. Sebab, ada permintaan pemerintah daerah yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan agar menyisakan waktu bagi pemberian izin pelepasan kawasan hutan.

Dalam konteks Gorontalo, kata Bahsoan, meski sudah ada enam perusahaan sawit yang beraktivitas di kawasan hutan di Kabupaten Pohuwato, namun ada empat kabupaten lagi yang bergairah mengurus izin investasi sawit. Empat kabupaten itu adalah Boalemo, Gorontalo Utara, Bone Bolango, dan Kabupaten Gorontalo. “Perusahaan skala besar ini pasti akan berusaha mencari celah agar bisnis sawit masuk Gorontalo dengan cara mengubah kawasan hutan.”

Keadaan ini sangat berbahaya, jika pemerintah daerah dan perusahaan skala besar sudah bekerja sama memuluskan rencana perubahan kawasan hutan dan lahan.  Untuk itu, dia mendesak pemerintah pusat segera memperpanjang moratorium hutan dan lahan.

Suara permintaan perpanjangan juga muncul dari Jawa Barat (Jabar). Dadan Ramdan, Direktur Eksekutif Walhi Jabar mengatakan,  Inpres  Moratorium harus segera diperpanjang sebelum masa berlaku habis.  Jika tidak ada  perpanjangan waktu, pihak yang berkepentingan atas izin pengelolaan hutan akan menggunakan rentang waktu yang ada untuk mengobral izin. Akibatnyanya, masalah pengelolaan hutan akan makin bertumpuk dan kerusakan hutan terus bertambah.

Namun, dia juga mengoreksi Inpres penting yang sangat lemah dalam melindungi kawasan hutan. “Moratorium hanya terbatas pada penundaan penerbitan izin baru dan rentang waktu regulasi itu tergolong singkat, hanya dua tahun,” kata Dadan.

Untuk memperkuat Inpres,  moratorium harus berdasarkan capaian, misal, berapa banyak masalah pengelolaan hutan diselesaikan. Salah satu menyangkut proses perizinan yang melangkahi prosedur. “Kita nilai dua tahun tidak cukup dan tak menghasilkan apa-apa. Pada praktik meski tidak sebanyak sebelum moratorium, pemberian izin pengelolaan hutan masih marak.”

Jika dilihat, data statistik Kemenhut selama dua tahun ini, sudah ada izin-izin baru baik eksplorasi, eksploitasi maupun pelepasan kawasan hutan lindung. “Artinya dua tahun ini sangat kurang dari segi waktu.”

Menurut Dadan, moratorium boleh diberhentikan jika pemerintah telah mencapai capaian baik dalam menjaga hutan. “Antara lain, review dan penegakan hukum lingkungan bagi para pemegang izin yang melanggar aturan.” Perpanjangan moratorium saja tidak cukup. Pemerintah harus memperbaiki tata kelola hutan, lebih melindungi dan kontrol bagi masyarakat.

Senada dengan Dadan, Sekjen Forum Komunikasi Pecinta Alam (FKPA) kabupaten Bandung, Dani Dardani. Dia mengatakan, moratorium harus diperpanjang dengan konsep pengelolaan hutan berbasis masyarakat. “Kalau hanya perpanjang moratorium ya percuma. Pemberdayaan masyarakat perlu karena penguasaan hutan oleh lembaga pemerintah awal kerusakan.”

Jika masyarakat dilibatkan akan tumbuh rasa memiliki dan menjaga hutan. “Pengelolaaan juga harus berhubungan dengan konsep-konsep konservasi yang sesuai masyarakat,” ucap Dani.

Upaya kerja sama erat antara pemerintah dan  masyarakat untuk bersama mengelola hutan seharusnya lebih intens.“Hutan di Jabar sekitar 600 ribu hektar kritis. Itu ulah Perhutani. Siapa dulu yang mengelola hutan? Kita lalu menyalahkan siapa lagi kalau bukan Perhutani. Bukannya hutan, air dan udara dikelola oleh negara dan diperuntukkan kesejahteraan rakyat, namun praktik berbeda.”  Laporan kontributor Kalimantan Barat, Sulawesi dan Jawa Barat.

Bekas hutan di Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Tahun lalu kawasan ini masih hutan dengan pohon-pohon kokoh berdiri. Kini, sudah siap digarap menjadi kebun sawit. Jadi, moratorium hutan dan lahan perlu dilanjutkan dengan penguatan perbaikan tata kelola kehutanan, tak hanya setop pemberian perizinan. Foto: Sapariah Saturi

Sumber : www.mongabay.co.id

Pemanfaatan Limbah Sawit

Berbagai penelitian telah dilakukan menunjukkan bahwa limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Berikut akan dijelaskan manfaat limbah kelapa sawit.

1. TKKS untuk pupuk organik

Tandan kosong kelapa sawit daoat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan kosong kelapa sawit mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi.

Ada beberapa alternatif pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan sebagai berikut :

a. Pupuk Kompos

Pupuk kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses fermentasi atau dekomposisi yang dilakukan oleh micro-organisme. Pada prinsipnya pengomposan TKSS untuk menurunkan nisbah C / N yang terkandung dalam tandan agar mendekati nisbah C / N tanah. Nisbah C / N yang mendekati nibah C / N tanah akan mudah diserap oleh tanaman.

b. Pupuk Kalium

Tandan kosong kelapa sawit sebagai limbah padat dapat dibakar dan akan menghasilkan abu tandan. Abu tandan tersebut ternyata memiliki kandungan 30-40%, K2O, 7%P2O5, 9%CaO, dan 3%MgO. Selain itu juga mengandung unsur hara mikro yaitu 1.200ppmFe, 1.00 ppm Mn, 400 ppmZn, dan 100 ppmCu. Sebagai gambaran umum bahwa pabrik yang mengolah kelapa sawit dengan kapasitas 1200 ton TBS/ hari akan menghasilkan abu tandan sebesar 10,8%/hari. Setara dengan 5,8 ton KCL; 2,2 ton kiersit; dan 0,7ton TSP. dengan penambahan polimer tertentu pada abu tandan dapat dibuat pupuk butiran berkadar K2O 30-38% dengan pH 8 – 9.

c. Bahan Serat

Tandan kosong kelapa sawit juga menghasilkan serat kuat yang dapat digunakan untuk berbagai hal, diantaranya serat berkaret sebagai bahan pengisi jok mobil dan matras, polipot (pot kecil, papan ukuran kecil dan bahan pengepak industri.

2. Tempurung buah sawit untuk arang aktif
Tempurung kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak. Arang aktif juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai industri. Antara lain industri minyak, karet, gula, dan farmasi.

3. Batang dan tandan sawit untuk pulp kertas

Kebutuhan pulp kertas di Indonesia sampai saat ini masih dipenuhi dari impor. Padahal potensi untuk menghasilkan pulp di dalam negeri cukup besar. Salah satu alternatif itu adalah dengan memanfaatkan batang dan tandan kosong kelapa sawit untuk digunakan bahan pulp kertas dan papan serat.

4. Batang kelapa sawit untuk perabot dan papan artikel

Batang kelapa sawit yang sudah tua tidak produktif lagi, dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai tinggi. Batang kelapa sawit tersebut dapat dibuat sebagai bahan perabot rumah tangga seperti mebel, furniture,atau sebagai papan partikel. Dari setiapbatang kelapa sawit dapat diperoleh kayu sebanyak 0.34 m3.

5. Batang dan pelepah sawit untuk pakan ternak

Batang dan pelepah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada prinsipnya terdapat tiga cara pengolahan batang kelapa sawit untuk dijadikan pakan ternak, yaitu pertama pengolahan menjadi silase, kedua dengan perlakuan NaOH dan yang ketiga adalah pengolahan dengan menggunakan uap.

Sumber :

http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1929400-pemanfaatan-limbah-sawit/

Waspada, Bibit Sawit Palsu Beredar di Bengkulu

Sun, 29/07/2012
BENGKULU, RIMANEWS – Balai Pengawas dan Pengujian Mutu Benih (BP2MB) Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu memperkirakan saat ini banyak bibit sawit palsu beredar di daerah itu.

“Bibit sawit itu dijual oknum pedagang langsung ke rumah-rumah penduduk dengan harga rendah,” kata Kepala BP2MB Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu, Suprianto, Minggu.

Suprianto menjelaskan beberapa oknum pedagang bibit palsu itu berhasil diamankan Polres Kabupaten Kaur. Itu setelah aparat mendapat laporan warga tentang beredarnya bibit palsu tersebut.

Oknum pedagang menjual bibit sawit isi 100 biji dengan harga Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per kotak. Ia juga memperkirakan peredaran bibit sawit palsu itu tidak hanya di Kabupaten Kaur. Tapi, peredarannya diduga sudah menyebar ke berbagai kabupaten dalam Provinsi Bengkulu.

“Masyarakat kami imbau untuk berhati-hati membeli bibit sawit yang dijual murah ke desa-desa oleh pedagang tidak dikenal,” kata Suprianto.

Kabid Teknis BP2MB Bengkulu, Edi Sugiarto, mengatakan bibit asli dari pusat pembibitan resmi harganya berkisar antara Rp 7.000 – Rp 10.000 per biji. Bila ada harga bibit di bawah itu, maka bibit tersebut perlu diragukan keasliannya.

Bibit palsu bila ditanam tetap tumbuh dan berbuah. Namun, mutu buahnya sangat rendah. Bibit asli setiap hektare mampu memproduksi rata-rata di atas dua ton tandan buah segar. Sedangkan, bibit yang palsu paling tinggi 1,3 ton per hektar.(yus/MI)

Sumber :

http://www.rimanews.com/read/20120729/70908/waspada-bibit-sawit-palsu-beredar-di-bengkulu