Gambut

Pemanfaatan Lahan Gambut Perlu Pertimbangkan Dampak Lingkungan

Pemanfaatan Lahan Gambut Perlu Analisa Dampak Lingkungan

Pemanfaatan Lahan Gambut Perlu Analisa Dampak Lingkungan

28 Juni 2012
PEKANBARU, KOMPAS.com -
 Indonesia perlu mengubah pendekatan pembangunan di lahan gambut agar disesuaikan dengan konsep ekonomi hijau demi mempertahankan perannya yang besar dalam mencegah emisi karbon dan terjadinya perubahan iklim.

“Stok karbon di lahan gambut sangat besar, menyedihkan sekali kalau lahan gambut kita lenyap,” kata pakar gambut dari Universitas Riau Haris Gunawan pada Seminar Nasional “Dari Rio untuk Riau” yang diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), di Pekanbaru, Kamis (28/6/2012).

Haris mengatakan, pemanfaatan lahan gambut bagi perkebunan kelapa sawit yang di Riau diperkirakan mencapai 500 ribu ha harus mulai mempertimbangkan sistem tata air dengan memperbaiki kanalisasinya.

“Perkebunan sawit harus ketat terhadap stok air dimana tinggi muka air di lahan gambutnya harus lebih dari 50 cm. Jadi kanalisasinya harus diperbaiki dengan banyak membangun kanal air untuk mengatur muka air,” katanya

Menurut dia, lahan gambut yang rusak tak bisa lagi diperbaiki dengan teknologi apapun, karena itu lahan gambut yang dimanfaatkan menjadi kebun sawit jangan sampai mengubah karakteristiknya.

Ia menyayangkan masyarakat justru menginginkan lahan gambut segera habis agar mendapatkan tanah yang bagus untuk ditanami.

Hasil studi di blok Bukit Batu, salah satu dari lima blok hutan rawa gambut Riau yang tersisa, menunjukkan stok karbon hutan Riau rata-rata 82 juta ton per ha dan cadangan karbon bawah tanah ditaksir 4.970 juta ton per ha.

“Kedalaman gambut Riau ditaksir rata-rata 7,5 meter, tergolong gambut sangat dalam. Tapi ada bukti bahwa lahan gambut di beberapa kabupaten Riau menyusutkan kedalamannya karena kerusakan dan kebakaran,” katanya.

Selain kelapa sawit, Riau juga memiliki hutan tanaman industri berupa akasia untuk industri bubur kertas, yang separuhnya memanfaatkan lahan gambut, ujarnya.

Pada 1985 provinsi Riau tercatat sebagai provinsi yang memiliki hutan alam paling luas dengan cakupan 6,9 juta ha atau 28 persen dari total luas hutan alam Sumatera, pada 2007 berkurang drastis menjadi tinggal 4,3 juta ha.

Sumber :
ANT
Editor :
Benny N Joewono

Lahan Gambut Bukan untuk Kebun Sawit

24-09-2012
Ekspansi perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan yang tidak seharusnya dijadikan lahan perkebunan semakin sulit terbendung. Lahan gambut yang memiliki fungsi sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, tak luput dari ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab. Lebih dari 62.000 hektare lahan gambut tripa di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, sekitar 40.000 hektare kini berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Di tengah besarnya ancaman bencana, mata publik harus diperlihatkan kepada fakta bahwa bahaya kerusakan lahan gambut akan sangat merugikan karena itu, tidaklah tepat jika perkebunan kelapa sawit dibiarkan beroperasi di lahan gambut.

Hal tersebut dikemukakan oleh Adji Darsoyo, selaku Communication & Fundraising Coordinator PAN Eco – Yayasan Ekosistem Lestari kepada MedanBisnis. Menurutnya, saat ini terjadi ancaman yang sangat besar terhadap keberadaan lahan gambut khususnya yang berada di Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Dikatakannya, kerusakan hutan rawa tripa yang merupakan lahan gambut sudah sangat parah. Dari total luasan lahan gambut yang mencapai lebih dari 62.000 hektare, tak kurang dari  40.000 hektarenya sudah berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit yang beroperasi sejak tahun 1990-an yang mana setiap perusahaan memiliki konsesi puluhan ribu hektare.

“Mengubah lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit akan sangat mengancam keseimbangan ekosistem. Akan sangat banyak kerugian yang harus ditanggung jika lahan gambut itu rusak,” katanya.

Ia mengungkapkan, kerusakan lahan gambut tripa disebabkan oleh beroperasinya 5 perusahaan besar yang menyulapnya menjadi perkebunan kelapa sawit. Padahal, lahan gambut merupakan suatu kawasan yang berfungsi sebagai pelindung dari terjadinya bencana tsunami, habitat ribuan satwa langka dan dilindungi, kawasan resapan air yang mengatur ketersediaan sumber air sekitar.

Di sisi lain, lahan gambut juga merupakan kawasan yang jika terbakar akan sangat sulit untuk dipadamkan. “Dampak dari keberadaan perkebunan kelapa sawit hingga sekarang sudah dirasakan oleh masyarakat, dengan terjadinya banjir yang sebelum adanya perkebunan tidak pernah terjadi,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, hingga kini, tingkat deforestasi atau berkurangnya fungsi gambut di kawasan tersebut sudah mencapai 70%. Dengan demikian menuntut tindakan yang cepat untuk menghentikan perusakan lahan gambut agar tidak berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

“Lahan gambut ini juga sebagai buffer atau pelindung dari masuknya gelombang tsunami ke darat, berdasarkan peta satelit, di salah satu kawasan yang sudah menjadi perkebunan kelapa sawit dan perusahaannya membuat kanal ke laut, ternyata saat terjadi tsunami tahun 2004 lalu, gelombang tsunami sangat jauh masuk ke daratan, pintunya dari kanal yang dibuat oleh perusahaan tersebut,” katanya.

Sebenarnya, lanjut Adji, Kabupaten Nagan Raya merupakan salah satu daerah yang ditetapkan oleh pemerintah terdahulu sebagai daerah transmigrasi. Masyarakat transmigran menjadikan lahan gambut sebagai tempat untuk mencari penghidupan. Hasil hutan dan laut yang diperoleh semisal rotan, ikan lokan (lele raksasa), madu hutan dan lainnya. Namun seiring beroperasinya perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, menjadikan pendapatan masyarakat menurun karena tidak bisa memperoleh hasil dari hutan rawa gambut lagi. “Bahkan di saat hujan sebentar saja langsung kebanjiran,” katanya.

Sebagian masyarakat yang melihat potensi perkebunan, kemudian terdorong untuk ikut bekerja di perkebunan kelapa sawit atau memulai menanamnya di depan rumahnya. Menurutnya, jika hal tersebut dibiarkan tanpa adanya perhatian agar melindungi lahan gambut, maka dalam waktu yang tidak lama lahan gambut akan semakin habis. Dengan demikian harus masyarakat harus ditunjukkan kepada fakta bahwa jika lahan gambut dirusak dan dialihkan fungsinya menjadi perkebunan kelapa sawit maka akan sangat banyak kerugian yang akan dialami oleh masyarakat.

Begitu juga harus ditunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit bisa akan jauh lebih baik jika ditanam di darat dan bukannya di lahan gambut.

Ia menerangkan, untuk itu, pihaknya kemudian membuat proyek percontohan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang tidak menggunakan lahan gambut melainkan memanfaatkan lahan tidur dan memberdayakan petani. Maka kemudian dipilihlah lahan tidur yang  berdekatan di rawa tripa, tepatnya di Desa Lamie dan Dusun Gagak Kabupaten Nagan Raya dengan total areal mencapai 100 hektare. “Secara rincinya di Lamie seluas 67 hektare dan Dusun Gagak 23 hektare, lahan tersebut dibagi dalam 71 kavling yag dikelola oleh 60 petani, 48 orang petani di Lamie dan 12 orang di Gagak,” katanya.

Tujuan utama dari proyek percontohan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan tersebut tidak lain adalah menunjukkan kepada publik bahwa tidak seharusnya kelapa sawit ditanam di lahan gambut. Selain itu bahwa lahan gambut akan sangat bermanfaat jika dibiarkan sesuai dengan fungsinya. Dengan demikian lahan gambut tripa bisa terbebas dari ancaman perkebunan kelapa sawit dan masyarakat bisa lebih memanfaatkan lahan tidur yang selama ini tidak dimanfaatkan.

Menurutnya, pihaknya menemukan bahwa di luar perusahaan yang mengubah lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit juga ada sekelompok masyarakat yang ingin mengusahakan kelapa sawit. Namun dorongan tersebut utamanya disebabkan karena tidak bisa memanfaatkan lahan tidur yang dimilikinya sementara keinginan untuk meningkatkan pendapatan juga tidak mungkin dihindari. “Intinya adalah, jika memang menghendaki perkebunan kelapa sawit silakan tapi tidak di lahan gambut,” ungkapnya. ( dewantoro)

Sumber : http://www.medanbisnisdaily.com

Pembakaran Lahan Gambut Disengaja Perusahaan

Pembakaran Lahan Gambut di duga oleh Perusahaan

04-05-2012
NAGAN RAYA, KOMPAS.com —
 Dugaan adanya pembakaran secara sengaja sekitar 1.100 hektar lahan gambut di Rawa Tripa, Kecamatan Darul Makmur, Kecamatan Nagan Raya, Aceh, makin menguat setelah melibatkan penelitian dua ahli kehutanan dari Institut Pertanian Bogor.

Ada kejanggalan, seperti pemisahan dengan batas lahan milik pihak lain, diduga untuk menghindari penjalaran kebakaran.

“Ada kejanggalan, seperti pemisahan dengan batas lahan milik pihak lain, diduga untuk menghindari penjalaran kebakaran,” kata Dekan Fakultas Kehutanan sekaligus Kepala Laboratorium Kebakaran Hutan dan Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo di Nagan Raya, Jumat (4/5/2012).

Bersama ahli kehutanan lain, Basuki Wasis, dari Laboratorium Pengaruh Hutan Bagian Ekologi Hutan IPB, dia mengumpulkan berbagai sampel dari lokasi kebakaran, kemarin.

Menurut Bambang, sesuai dengan ketentuan yang berlaku, pengendalian lahan sawit dari ancaman kebakaran sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan. “Kebakaran lahan gambut untuk pengalihan fungsi sebagai kebun sawit baik disengaja maupun tidak disengaja tetap melanggar hukum,” kata Bambang.

Kesengajaan pembakaran lahan gambut, lanjutnya, bisa karena upaya penghematan biaya pembukaan lahan. Kandungan asam tinggi pada gambut tidak menguntungkan untuk tanaman sawit. Hasil pembakaran berupa abu dan arang kayu mampu menurunkan kadar keasaman gambut tersebut sehingga makin menyuburkan lahan.

“Sesuai aturan, semestinya penurunan keasaman gambut itu dengan kapur,” kata Bambang.

Pemimpin proyek PT Surya Panen Subur (SPS), Zakaria Lubis, yang bertangung jawab terhadap pengelolaan lahan tersebut membantah bahwa adanya pembakaran secara sengaja. Kebakaran terjadi pada 19 Maret 2012 lalu dan berlangsung selama tiga hari.

Sumber :
Kompas.com