Gambut

Delapan Kunci Pengelolaan Kelapa Sawit Di Lahan Gambut

Lahan gambut memiliki peranan yang sangat penting ditinjau dari segi ekonomi dan ekologi. Lahan gambut menyediakan hasil hutan berupa kayu dan non kayu, penyimpanan air, pensuplai air dan pengendali banjir, serta merupakan habitat bagi keanekaragaman hayati. Dalam pengembangan pembangunan berbagai sektor, pemanfaatan lahan gambut menjadi alternatif cadangan terakhir bila tidak memungkinkan bagi pengembangan pada lahan mineral, dengan memprioritaskan hanya pada lahan gambut yang terdegradasi.  Sedangkan, untuk kawasan hutan gambut sebaiknya tetap dipertahankan sebagai hutan gambut.

Lahan gambut yang telah terdegradasi dan akan dimanfaatkan untuk melakukan budidaya kelapa sawit perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

1.     PENILAIAN KESESUAIAN LAHAN

Dalam melakukan budidaya tanaman kelapa sawit pada lahan gambut perlu dipertimbangkan dan memastikan lahan gambut sesuai untuk kelapa sawit, dalam hal ini yang paling penting adalah memastikan bahwa lokasi yang akan dipergunakanan tidak bertentangan dengan peraturan, dan layak untuk dilaksanakan usaha.

Keberhasilan dalam budidaya pada lahan gambut juga sangat tergantung pada faktor-faktor pembatas diantaranya adalah: kematangan gambut, kedalaman gambut, kedalaman lapisan pirit, frekuensi dan lama genangan. Dengan ini budidaya kelapa sawit di lahan gambut akan membutuhkan input yang sangat besar.

2.     PEMBUKAAN LAHAN YANG BAIK

Pengolahan Lahan Tanpa Bakar/zero burning  adalah hal yang harus diperhatikan juga, karena lahan gambut yang sudah kering dan terbakar akan banyak mengalami kerugian, baik kehilangan unsure hara yang terkandung dalam bahan organik, kehilangan musuh alami hama, dan secara umum akan terjadi pelepasan karbon dalam bentuk asap.

Dampak kebakaran di lahan gambut adalah

a.  Terdegradasinya kondisi lingkungan

• Penurunan kualitas fisik gambut

• Terganggunya proses dekomposisi tanah gambut

• Menurunkan keanekaragaman hayati

• Rusaknya siklus hidrologi

• emisi gas karbon-dioksida dalam jumlah besar.

b.  Kesehatan manusia

Kebakaran hutan dan lahan gambut telah menimbulkan asap yang berakibat terjadinya pencemaran udara sehingga akan menimbulkan penyakit pernapasan, asma, bronchitis, pneumonia, kulit dan iritasi mata.

c.   Hilangnya kesempatan ekonomi bagi masyarakat

Dampak langsung kebakaran bagi masyarakat yaitu berupa hilangnya sumber mata pencaharian masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya pada hutan (berladang, beternak, berburu/menangkap ikan)serta terganggunya transportasi.

Kegiatan pembukaan PLTB dapat dilakukan dengan Pemotongan pohon, Pemancangan jalur tanam, perumpukan searah jalur tanam, Pembuatan jalan dan saluran tata air, Desain kebun dan Penanaman cover crops

3.     TATA AIR (WATER MANAGEMENT)

Tata air merupakan hal yang harus diperhatikan karena sifat tanah gambut yang sudah kering tidak dapat lagi menjadi basah. Beberapa tujuan mengelola air adalah

§  Mengatur muka air, dipertahankan pada 50-75cm (ruang akar)

§  mencegah pengeringan dan penurunan muka gambut

§  mencegah oksidasi pirit (tanah sulfat masam)

§  mencegah akumulasi garam (salinitas) – mencuci zat yang meracun

Bagian bagian yang dipergunakan untuk terlaksananya tata air adalah:

Benteng berfungsi untuk menahan air pasang, sepanjang laut- sungai- parit

Parit berfungsi untuk mengumpulkan- menyalurkan air keluar kebun

Pintu air berfungsi untuk mempertahankan muka air, menahan air pasang

4.     PEMADATAN GAMBUT

Bertujuan untuk pamadatan gambut sehingga daya topang terhadap tanaman meningkat dan tanaman tidak mudah doyong

5.    PEMBANGUNAN DAN PENINGKATAN KUALITAS JALAN

§  Pemasangan gambangan dari batang kayu

§  Membran geoteks (optional)

§  Penimbunan dengan tanah mineral (20-30cm)

§  Perataan dan pemadatan

§  Pengerasan dengan pasir dan kerikil/batu

6.     PELAKSANAAN KULTUR TEKNIS YANG BAIK

§  Upaya penggalian produksi

§  Masa TBM dan TM

§  Penunasan

§  Pengendalian gulma

§  Pengendalian hama dan penyakit (Integrated Pest Management)

§  Pemeliharaan jalan

§  Perbaikan kualitas panen

§  Perawatan sarana panen

7.     PEMUPUKAN

Pada gambut subur, jenis dan dosis pupuk hampir sama dengan pada tanah mineral. sedangkan pada gambut dgn kadar ca dan mg relatif lebih tinggi dibanding k, 1) tidak perlu pengapuran, dan 2) aplikasi dosis kcl 3,0 – 5,0 kg/phn/thn, Pupuk mikro wajib diberikan (Cu, Zn, Fe, B)

8.    WASPADA TERHADAP API

Antisipasi terjadinya kebakaran lahan dan kebun diperlukan beberapa hal diantaranya adalah pembangunan menara pengawas api, penyiapan sarana dan prasarana pemadam api, perlunya marka tingkat bahaya api dan pembuatan organisasi pengendalian kebakaran.

Oleh: Tulus Tri Margono, SP

Sumber:

Stranas Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan di Indonesia.
Pemanfaatan Gambut Untuk Kelapa Sawit Dalam Pembangunan Berkelanjutan, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.
Sumber internet :

http://ditjenbun.deptan.go.id

Pupuk Untuk Kelapa Sawit di Lahan Gambut

pupuk khusus sawit di lahan gambut

Hi Kay Plus 13.6.27.4 0,65B adalah Pupuk NPK Compound yang lengkap dan mengandung unsur hara yang berimbang serta sangat sesuai untuk tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM).
Manfaat dan keuntungan :
1. Lengkap : Karena mengandung semua unsur hara untuk tanaman menghasilkan.
2. Berimbang : semua nutrient (unsur hara) yang ada dalam proporsi yang berimbang.
3. Kaya Nutrient : kaya akan unsur hara dengan total nutrient 50,65% dan menghemat biaya pemupukan.
4. Aplikasi cukup 2,5 kg x 3 x aplikasi/pokok/tahun (tidak perlu tambahan pupuk lain lagi)

Berita/Artikel Menarik Lain Yg Wajib Dibaca :

Tidak Ada Perbedaan Ph Lahan Gambut

 OTDANEWS.COM, Jakarta – Pakar pendayagunaan gambut Balai Penelitian Pertanian Tanah Rawa Muhammad Noor mengatakan, hasil survei menunjukkan tidak ada perbedaan tingkat keasaman antara lahan terbakar dan tidak terbakar pada area milik PT SPS di Kabupaten Nagan Raya, Aceh.

“Hasil survei menunjukkan tingkat keasaman (PH) tanah/gambut (fresh) PT SPS antara 4,0-4,7, dan tidak ada perbedaan PH yang nyata antara lahan yang terbakar dan tidak terbakar,” kata Muhammad Noor dalam media gathering penjelasan kebakaran lahan pada Kab Nagan Raya di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, hal tersebut menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut yang terjadi di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, tidak sempurna. Kedalaman lahan gambut yang terbakar tidak ada data karena survei tidak ditujukan untuk mengamati hal tersebut.

“Namun, dari foto yang diambil di 29 titik tidak terlihat abu yang tebal seperti foto kebakaran lahan di kalimantan Selatan pada 1997,” kata dia.

Menurut Prof Azwar Maas, lanjutnya, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, pembakaran sebanyak satu m3 (lebar satu meter, panjang satu meter, dan dalam atau tebal satu meter) lahan gambut murni tanpa campuran mineral hanya menghasilkan 5 kg abu yang setara dengan 5 kg kapur maupun dolomit.

Jadi pengaruh kebakaran atau pembakaran terhadap PH sangat kecil. PH tanah ideal untuk tanaman kelapa sawit adalah 5 hingga 6.

Ia menjelaskan untuk meningkatkan PH (karena PH tanah pada lahan tersebut 4,0-4,7), diperlukan pemberian kapur pertanian (kaptan) atau dolomit. Kapur yang diperlukan sebanyak 0,5-5,0 ton/ha.

“Kapur tersebut lalu disebar untuk per pohon dapat dikonversi dengan jumlah populasi per hektar,” ujar dia.

Namun, pemberian kaptan bukan untuk meningkatkan sampai pH 6,0 karena dapat menimbulkan dampat negatif (overliming) apabila dilakukan secara berlebihan seperti menimbulkan tidak tersedianya hara-hara seperti P, K dan lainnya. Kelebihan kapur juga dapat merusak sifat fisik gambut dan mempercepat dekomposisi.

Menurut dia, lahan yang terbakar tidak sampai menimbulkan abu yang tebal terbakar. Lahan yang tidak terbakar masih hijau karena tanaman masih hidup, sedang yang terbakar hanya hangus. Keadaan ini berbeda dengan lahan gambut Kalsel, yang terbakar sempurna pada 1997 (El Nino) sehingga menyisakan abu setebal 20-30 cm.

“Kebakaran lahan gambut atau cara bakar dalam pembukaan area di lahan gambut dapat menimbulkan beberapa kerugian. Pertama, hilangnya lapisan humus yang membuat tanah kehilangan kesuburan,” ujar dia.

Kedua, kata dia, berubahnya sifat hydrophilic (suka air) dari gambut menjadi hydrophobic (benci/anti air). Gambut yang kering hanya dapat menyerap air tinggal 50 persen dan tidak lagi dapat menyimpan hara dengan baik.

“Ketiga, terjadi amblasan (subsidence), yaitu penurunan muka tanah sehingga menyulitkan proses penyiapan lahan,” ujarnya.

Sebelumnya, Dekan Fakultas Kehutanan sekaligus Kepala Laboratorium Kebakaran Hutan dan Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo mengatakan kesengajaan pembakaran lahan gambut, bisa karena upaya penghematan biaya pembukaan lahan.

Hal tersebut terkait dengan kebakaran lahan gambut di Nagan Raya, Aceh pada Maret lalu.

“Kandungan asam tinggi pada gambut tidak menguntungkan untuk tanaman sawit. Hasil pembakaran berupa abu dan arang kayu mampu menurunkan kadar keasaman gambut tersebut sehingga makin menyuburkan lahan,” kata Bambang di Nagan Raya, Jumat (4/5).

Sesuai aturan, lanjut dia, semestinya penurunan keasaman gambut itu dengan kapur.

Data Walhi menunjukkan luas kawasan hutan di wilayah Tripa, Aceh pada 2011 lalu masih seluas 12.666 hektare, sementara data terakhir September 2012 lalu kawasan hutan tersebut tinggal seluas 10.521 hektare. (ANTARA)

Sumber :

http://www.otdanews.com

Pupuk Khusus Lahan Gambut : PUGAM-A

"Pupuk khusus untuk lahan gambut"

Pupuk khusus untuk lahan gambut

Potensi pertanian untuk lahan gambut baik untuk tanaman pangan dan perkebunan sangat luas. Hal ini merupakan potensi pasar yang besar sekaligus untuk meningkatkan produktivitas. Pupuk Lahan Gambut atau yang lebih dikenal PUGAM telah dihasilkan para peneliti Balai Penelitian Tanah dalam upaya mendukung pengelolaan lahan gambut yang lestari, meningkatkan produktivitas tanah, menekan emisi gas rumah kaca (GRK), meningkatkan propduksi tanaman maupun perkebunan.

Luas lahan gambut di Indonesia sekitar 33,4 juta ha yang sebagian tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Gambut tergolong pada lahan sub-optimal dengan kendala kesuburan tanah rendah dan sifat fisik tanah yang rapuh. Dalam pengelolaan dan penggunaan lahan gambut sebagai tempat ekstensifikasi pertanian, perlu memperhatikan keberkelanjutan dan aspek-aspek konservasi yang ada didalamnya.

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanah telah menghasilkan beberapa formula pupuk khusus untuk lahan gambut (PUGAM), salah satunya yang sudah teruji adalah PUGAM-A. Pupuk PUGAM-A yang telah dilisensikan kepada PT. Polowijo Gosari adalah pupuk khusus lahan gambut yang diformulasikan dari bahan terak baja dan diperkaya dengan fosfat serta bahan lain yang aktif sebagai senyawa pengkhelat.

PUGAM-A adalah pupuk slow release berbentuk granul yang berperan untuk mensuplai hara tanaman, juga berfungsi sebagai amelioran untuk mengurangi pengaruh buruk asam organik beracun, mengurangi pencucian hara P dan efektif menekan menekan emisi CO2. PUGAM-A efektif mengurangi pencucian P karena PUGAM-A memiliki sifat slow release dan membentuk tapak jerapan positif pada gambut sehingga mampu menahan pencucian P.

Dosis optimum PUGAM-A untuk tanaman pangan adalah 600 – 725 kg/ha. Untuk tanaman berikutnya, dosis PUGAM-A yang diperlukan hanya separuh tanaman pertama yaitu antara 300 – 365 kg/ha. Pemupukan untuk tanaman perkebunan (khususnya kelapa sawit) : TBM umur 1 – 3 th diperlukan 2-3 kg/tanaman/th, untuk tanaman menghasilkan (TM) sekitar 4 – 5 kg/tanaman/tahun.

Sumber :

http://www.litbang.deptan.go.id/

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 3)

Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian*

Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 3 dari 5 Tulisan)

Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

(Bagian 3 dari 5 Tulisan)

III. Hasil-Hasil Penelitian Tentang Tanah Gambut

Dari luasan total lahan gambut di dunia sebesar 423.825.000 ha, sebanyak 38.3 17.000 ha terdapat di wilayah tropika. Sekitar 50% dari luasan lahan gambut tropika tersebut terdapat di Indonesia yang tersebar di pulau-pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua, sehingga Indonesia menempati urutan ke-4 dalam hal luas total lahan gambut sedunia, setelah Kanada, Uni Soviet, dan Amerika Serikat.

Diperkirakan sedikitnya 20% dari luasan lahan gambut di Indonesia telah dimanfaatkan dalam berbagai sektor pembangunan meliputi pertanian, kehutanan, dan penambangan (Rieley et al, 1996). Karena wataknya yang sangat rapuh, luasan lahan gambut di Indonesia cenderung mengalami penurunan, diperkirakan yang masih tersisa tidak lebih dari 17 juta hektar (Kurnain, 2005). Bahkan dari data yang telah dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat tahun 2002, luasan lahan gambut di Indonesia hanya tersisa 13,203 juta hektar dari 16,266 juta hektar tahun 1997.

Dari itu semua dan dari banyak publikasi yang telah dirilis baik melalui pertemuan ilmiah maupun laporan ilmiah, penelitian tentang pemanfaatan tanah gambut untuk lahan pertanian dan perkebunan telah banyak dilakukan diantaranya:

Jagung merupakan komoditas pangan kedua setelah padi. Kendala yang dihadapi untuk meningkatkan produksi jagung di antaranya persaingan lahan dan tanaman padi sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Untuk itu perlu lahan altematif yang potensial seperti lahan gambut untuk budidaya tanaman jagung. Tanah gambut merupakan tanah marjinal yang memiliki kesuburan rendah yang dicirikan oleh pH rendah (3.0 – 5.0), kandungan dan ketersediaan unsur N, P, K, Mg, Zn, B, Ca, Mo dan Mn rendah dan kandungan air yang tinggi. Namur demikian lahan gambut masih memberikan harapan untuk dijadikan lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang sesuai seperti paket teknologi tampurin. Penerapan paket teknologi Tampurin yang merupakan singkatan dari Tata Air, Mikroba, Pupuk yang seimbang dan kapur serta proses inkubasi bahan amelioran (IPPTP, 1997; Widarjanto, 1997). Dengan penelitian mampu meningkatkan produksi tanaman jagung hingga mampu meningkatkan pendapatan petani (Gonggo et al, 2004).

Penelitian Widodo ( 2004), tentang budidaya tanaman padi gogo di lahan gambut telah dilakukan. Kendala utama dalam meningkatkan produksi padi gogo adalah rendahnya kesuburan tanah dan juga kandungan bahan organik dalam tanah. Altematif untuk mengatasi kendala pada tanah gambut untuk tanaman padi gogo dilakukan dengan memberikan pupuk urea dan kombinasi media tanam. Ukuran urea tidak memberikan perbedaan yang nyata pada peubah yang diamati, demikian juga interaksi antara ukuran urea dan media tanam tidak terjadi. Pada perlakuan media tanam memberikan beda nyata pada peubah jumlah dawn, bobot pupus, jumlah malai, bobot bulir bemas dan indeks panen dan nilai tertinggi untuk peubah: jumlah dawn: 45,19, bobot pupus 10,53, jumlah malai 7,59, bobot bulir berms 12,62 g, dan indeks panen 1,12.

Pengembangan budidaya tanaman melon pada lahan gambut melalui penerapan sistem pertanian berwawasan lingkungan maka sistem budidaya inovatif, yaitu sistem budidaya yang menggunakan tanah gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah berpengaruh positif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman melon varietas Action 434. Hal itu didukung oleh berbagai hal sebagaimana tercantum dalam butir-butir di bawah ini. 1. Abu serbuk gergaji dan pupuk organik padat Powernasa secara sinergis dapat meningkatkan panjang tanaman dan bobot buah per tanaman. Panjang tanaman terpanjang dan bobot buah terberat diperoleh pada pemberian abu serbuk gergaji dengan dosis 22,5 ton ha-1 dan pemberian pupuk organik padat Supernasa dengan dosis 15 kg ha-1, masing-masing 149,0 cm dan 1166,7 g per tanaman. 2. Dosis pupuk kalium dan pupuk organik padat Powernasa yang memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik masing-masing adalah 250 kg ha-1 dan 15 kg ha-1 menghasilkan panjang tanaman 135,3 cm dan bobot buah 1530,0 g per tanaman (Asie E R, 2003).

Penelitian tentang tanaman perkebunan juga dilakukan pada tanah gambut. Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/Permentan/PL.110/2/2009 Tahun 2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit, lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit harus memenuhi kriteria:

1. Berada pada kawasan budidaya

Kawasan budidaya dimaksud dapat berasal dari kawasan hutan yang telah dilepas dan/atau areal penggunaan lain (APL) untuk usaha budidaya kelapa sawit.

2. Ketebalan lapisan gambut kurang dari 3 (tiga) meter

Lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit:

(2.1) dalam bentuk hamparan yang mempunyai ketebalan gambut kurang dari 3 (tiga) meter; dan

(2.2) proporsi lahan dengan ketebalan gambutnya kurang dari 3 (tiga) meter minimal 70% (tujuh puluh prosen) dari luas areal yang diusahakan.

3. Lapisan tanah mineral di bawah gambut

Substratum menentukan kemampuan lahan gambut sebagai media tumbuh tanaman. Lapisan tersebut tidak boleh terdiri atas pasir kuarsa dan tanah sulfat masam.

4. Tingkat kematangan gambut

Areal gambut yang boleh digunakan adalah gambut matang (saprik) dan gambut setengah matang (hemik) sedangkan gambut mentah dilarang untuk pengembangan budidaya kelapa sawit.

5. Tingkat kesuburan tanah

Tingkat kesuburan tanah dalam kategori eutropik, yaitu tingkat kesuburan gambut dengan kandungan unsur hara makro dan mikro yang cukup untuk budidaya kelapa sawit sebagai pengaruh luapan air sungai dan/atau pasang surut air laut. (hukmas dj bun).

Dari pembukaan lahan yang telah dilakukan pada tanah gambut untuk tanaman kepada sawit mampu memproduksi kelapa sawit sebesar 12 – 24 ton/ha dalam satu tahunnya.

· Analisis Usahatani Komoditas Di Lahan Gambut

Padi

Produksi rata-rata padi unggul 2,3 ton/ha dengan kisaran 2 – 2,5 ton/ha dan padi lokal rata-rata 1,8 ton/ha dengan kisaran 1,5 – 2,4 ton/ha. Secara ekonomi pengusahaan padi dilahan gambut cukup menguntungkan.

Nilai keuntungan dari padi lokal sebesar Rp 1.270.000/ha sementara pada padi unggul sebesar Rp 1.144.743/ha. Hal ini diikuti pula dengan nilai R/C yaitu pada usahatani padi lokal sebesar 1,38 dan padi unggul 1,32. Pengembalian tenaga kerja pada usahatani padi unggul lebih tinggi sebesar 28,7% dibanding padi lokal, hal ini karena tenaga kerja yang digunakan pada padi unggul lebih sedikit atau pada kegiatan pengolahan tanah menggunakan handtraktor, sementara pada usahatani padi lokal umumnya petani melakukan secara manual yaitu tebas-angkut (Riza AR, 2006)

Sistem usahatani berbasis padi dapat dilihat dari besarnya kontribusi usahatani tani dalam menyumbang pendapatan rumah tangga petani. Dari sistem usahatani berbasis padi di Desa Petak Batuah Kecamatan Kapuas Murung wilayah UPT Dadahup A 2 Proyek Lahan Gambut Sejuta hektar menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan usahatani padi sebesar 47% terhadap pendapatan rumah tangga petani sebesar Rp 9.516.314,- per tahun (Riza AR, 2006).

Sayuran

Sayuran yang diusahakan petani adalah kacang panjang, gambas, pare dan cabai Rawit (varietas Tiung). Sayuran umumnya untuk konsumsi rumah tangga, namun tidak sedikit petani yang menjual ke pasar desa. Berdasarkan analisis biaya dan pendapatan menunjukkan bahwa sayuran cabai rawit, pare dan gambas cukup efisien diusahakan di lahan gambut.

Hasil dari pelaksanaan demplot oleh Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa sayuran tomat dan bawang daun cukup menguntungkan untuk diusahakan di lahan gambut dengan nilai R/C masing-masing 3,37 dan 2,22. (Riza AR, 2006) Demikian juga dengan tanaman sayuran yang diusahakan di lahan gambut Desa Siantan Hulu Kalimantan Barat menunjukkan bahwa komoditas bawang daun memiliki R/C tertinggi (3,36) dibanding sayuran lainnya, namun demikian semua jenis sayuran yang diusahakan cukup layak untuk dikembangkan karena R/C > 1. (Noorginayuwati et al, 2006)

Sistem usahatani berbasis sayuran di lahan gambut menunjukkan bahwa kontribusi sayuran cukup besar terhadap pendapatan total rumah tangga petani. Hasil penelitian Noorginayuwati et al, (2006) menunjukkan bahwa kontribusi sayuran sebesar 39 % terhadap pendapatan total rumah tangga petani sebesar Rp 8.214.674 per tahun.

Dalam istilah yang tepat, konsep pertanian berkelanjutan pada lahan gambut sebenarnya bukan merupakan istilah yang tepat dikarenakan adanya daya menyusut dan adanya subsidence selama penggunaannya untuk usaha pertanian. Akan tetapi, hal tersebut bisa dikurangi dalam arti memperpanjang ‘life span’ dengan meminimalkan tingkat subsidence dengan cara mengadopsi beberapa strategi pengelolaan yang benar mengenai air, tanah dan tanaman.

Penggunaan sistem surjan merupakan suatu cara pengelolaan tanah dan air yang disesuaikan den kondisi gambut <> dapat dilakukan pada lahan gambut dangkal yang marginal . Namun yang perlu diperhatikan dalam menggunakan sistem ini adalah penerapan pola tanam tumpang (multicroping) yang berkelanjutan dan produktif dalam waktu lama. Hal ini misalnya terlihat dari adanya pola suksesi dari pertanaman padi menjadi tanaman perkebuna kelapa atau kebun karet atau pohon buah-buahan dan perikanan.

Dengan penerapan sistem surjan, maka lahan akan menjadi lebih produktif , karena pada lahan tersebut akan tersedia dua tatanan lahan, yaitu: ( 1) Lahan tabukan yang tergenang (digunakan untuk menanam padi atau digabungkan dengan budidaya ikan/minapadi) ; da (2) Lahan guludan/tembokan/baluran sebagai lahan kering (digunakan untuk budidaya palawija, buah-buahan, tanaman tahunan/perkebunan).

Keuntungan dan Kerugian Sistem Surjan

Keuntungan

· Dapat menanam aneka ragam jenis tanaman dengan umur panen yang berbeda­sehingga pendapatan petani dapat berlanjut

· Pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman lebih mudah

· Memperkecil resiko kegagalan panen karena jenis tanaman yang ditanam berma macam

· Dapat ditanami padi sawah sebanyak 2 kali musim tanam.

Kerugian

· Biaya pembuatan surjan maha dan membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga ker

· Diperlukan pengaturan/ pengawasan air yang lebih ba

· Lapisan gambut akan lebih cepat dangkal karena sering diolah, sehingga menimbulkan lapisan pirit yang dapat meracuni tanaman. Untuk mengatasi hal demikian, maka perlu dilakukan pemilihan jen tanaman yang tepat (misal jen tanaman tahunan atau hortikultura tertentu yang tidak memerlukan pengolaha tanah secara intensif).

Tahapan-tahapan P embuatan Surjan

Pemilihan lokas

Identifikasi terlebih dahulu loka dan karakteristik lahan yang ak digunakan menjadi lahan pertanian dengan sistem surjan apakah layak secara fisik dan memenuhi nilai-nilai sosial ekonomi. Dalam kegiatan ini, beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi, kedalaman dan kematangan gambut, serta kedalaman permukaan air tanah.

Kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi

Lahan berhutan akan lebih sulit untuk diolah dibandingkan denga lahan yang sudah terbuka atau semak belukar . Hutan setelah dibuka harus dibiarkan selama du tahun untuk proses pencucian, pengeringan dan pematangan tanah. Sedangkan semak beluka dan rerumputan akan lebih mudah dan relatif dapat digunakan.

Kedalaman dan kematangan gambut

Tanah gambut yang baik untuk usaha pertanian adalah lahan bergambut (

Kedalaman permukaan air tanah

Kegiatan budidaya tanaman di laha gambut sangat ditentukan oleh kedalaman muka/paras air tanah d lamanya periode genangan. Jenis-jeni tanaman yang berbeda memiliki toleransi yang berbeda pula terhadap tinggi muka air tanah dan genangan (lihat Tabel 1), sehingga pola surjan ya akan dibangun harus pula memperhatikan aspek muka air tanah untuk kelangsungan hidup jenis-jenis tanaman yang akan ditanam diatasnya.

Pembuatan surjan

Menata/mengolah lahan dengan sistem surjan, terutama pada lahan yang telah lama ditinggalkan (seperti semak belukar) memerlukan waktu pengolahan lebih lama dan tenaga memerlukan waktu pengolahan lebih lama dan tenaga ke lebih banyak daripada lahan yang seri dikerjakan sebagai lahan usaha.

Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:

Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.

Sumber :

http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.