Gambut

Pupuk Untuk Kelapa Sawit di Lahan Gambut

pupuk khusus sawit di lahan gambut

Hi Kay Plus 13.6.27.4 0,65B adalah Pupuk NPK Compound yang lengkap dan mengandung unsur hara yang berimbang serta sangat sesuai untuk tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM).
Manfaat dan keuntungan :
1. Lengkap : Karena mengandung semua unsur hara untuk tanaman menghasilkan.
2. Berimbang : semua nutrient (unsur hara) yang ada dalam proporsi yang berimbang.
3. Kaya Nutrient : kaya akan unsur hara dengan total nutrient 50,65% dan menghemat biaya pemupukan.
4. Aplikasi cukup 2,5 kg x 3 x aplikasi/pokok/tahun (tidak perlu tambahan pupuk lain lagi)

Berita/Artikel Menarik Lain Yg Wajib Dibaca :

Tidak Ada Perbedaan Ph Lahan Gambut

 OTDANEWS.COM, Jakarta – Pakar pendayagunaan gambut Balai Penelitian Pertanian Tanah Rawa Muhammad Noor mengatakan, hasil survei menunjukkan tidak ada perbedaan tingkat keasaman antara lahan terbakar dan tidak terbakar pada area milik PT SPS di Kabupaten Nagan Raya, Aceh.

“Hasil survei menunjukkan tingkat keasaman (PH) tanah/gambut (fresh) PT SPS antara 4,0-4,7, dan tidak ada perbedaan PH yang nyata antara lahan yang terbakar dan tidak terbakar,” kata Muhammad Noor dalam media gathering penjelasan kebakaran lahan pada Kab Nagan Raya di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, hal tersebut menunjukkan bahwa kebakaran lahan gambut yang terjadi di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, tidak sempurna. Kedalaman lahan gambut yang terbakar tidak ada data karena survei tidak ditujukan untuk mengamati hal tersebut.

“Namun, dari foto yang diambil di 29 titik tidak terlihat abu yang tebal seperti foto kebakaran lahan di kalimantan Selatan pada 1997,” kata dia.

Menurut Prof Azwar Maas, lanjutnya, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, pembakaran sebanyak satu m3 (lebar satu meter, panjang satu meter, dan dalam atau tebal satu meter) lahan gambut murni tanpa campuran mineral hanya menghasilkan 5 kg abu yang setara dengan 5 kg kapur maupun dolomit.

Jadi pengaruh kebakaran atau pembakaran terhadap PH sangat kecil. PH tanah ideal untuk tanaman kelapa sawit adalah 5 hingga 6.

Ia menjelaskan untuk meningkatkan PH (karena PH tanah pada lahan tersebut 4,0-4,7), diperlukan pemberian kapur pertanian (kaptan) atau dolomit. Kapur yang diperlukan sebanyak 0,5-5,0 ton/ha.

“Kapur tersebut lalu disebar untuk per pohon dapat dikonversi dengan jumlah populasi per hektar,” ujar dia.

Namun, pemberian kaptan bukan untuk meningkatkan sampai pH 6,0 karena dapat menimbulkan dampat negatif (overliming) apabila dilakukan secara berlebihan seperti menimbulkan tidak tersedianya hara-hara seperti P, K dan lainnya. Kelebihan kapur juga dapat merusak sifat fisik gambut dan mempercepat dekomposisi.

Menurut dia, lahan yang terbakar tidak sampai menimbulkan abu yang tebal terbakar. Lahan yang tidak terbakar masih hijau karena tanaman masih hidup, sedang yang terbakar hanya hangus. Keadaan ini berbeda dengan lahan gambut Kalsel, yang terbakar sempurna pada 1997 (El Nino) sehingga menyisakan abu setebal 20-30 cm.

“Kebakaran lahan gambut atau cara bakar dalam pembukaan area di lahan gambut dapat menimbulkan beberapa kerugian. Pertama, hilangnya lapisan humus yang membuat tanah kehilangan kesuburan,” ujar dia.

Kedua, kata dia, berubahnya sifat hydrophilic (suka air) dari gambut menjadi hydrophobic (benci/anti air). Gambut yang kering hanya dapat menyerap air tinggal 50 persen dan tidak lagi dapat menyimpan hara dengan baik.

“Ketiga, terjadi amblasan (subsidence), yaitu penurunan muka tanah sehingga menyulitkan proses penyiapan lahan,” ujarnya.

Sebelumnya, Dekan Fakultas Kehutanan sekaligus Kepala Laboratorium Kebakaran Hutan dan Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo mengatakan kesengajaan pembakaran lahan gambut, bisa karena upaya penghematan biaya pembukaan lahan.

Hal tersebut terkait dengan kebakaran lahan gambut di Nagan Raya, Aceh pada Maret lalu.

“Kandungan asam tinggi pada gambut tidak menguntungkan untuk tanaman sawit. Hasil pembakaran berupa abu dan arang kayu mampu menurunkan kadar keasaman gambut tersebut sehingga makin menyuburkan lahan,” kata Bambang di Nagan Raya, Jumat (4/5).

Sesuai aturan, lanjut dia, semestinya penurunan keasaman gambut itu dengan kapur.

Data Walhi menunjukkan luas kawasan hutan di wilayah Tripa, Aceh pada 2011 lalu masih seluas 12.666 hektare, sementara data terakhir September 2012 lalu kawasan hutan tersebut tinggal seluas 10.521 hektare. (ANTARA)

Sumber :

http://www.otdanews.com

Pupuk Khusus Lahan Gambut : PUGAM-A

"Pupuk khusus untuk lahan gambut"

Pupuk khusus untuk lahan gambut

Potensi pertanian untuk lahan gambut baik untuk tanaman pangan dan perkebunan sangat luas. Hal ini merupakan potensi pasar yang besar sekaligus untuk meningkatkan produktivitas. Pupuk Lahan Gambut atau yang lebih dikenal PUGAM telah dihasilkan para peneliti Balai Penelitian Tanah dalam upaya mendukung pengelolaan lahan gambut yang lestari, meningkatkan produktivitas tanah, menekan emisi gas rumah kaca (GRK), meningkatkan propduksi tanaman maupun perkebunan.

Luas lahan gambut di Indonesia sekitar 33,4 juta ha yang sebagian tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Gambut tergolong pada lahan sub-optimal dengan kendala kesuburan tanah rendah dan sifat fisik tanah yang rapuh. Dalam pengelolaan dan penggunaan lahan gambut sebagai tempat ekstensifikasi pertanian, perlu memperhatikan keberkelanjutan dan aspek-aspek konservasi yang ada didalamnya.

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanah telah menghasilkan beberapa formula pupuk khusus untuk lahan gambut (PUGAM), salah satunya yang sudah teruji adalah PUGAM-A. Pupuk PUGAM-A yang telah dilisensikan kepada PT. Polowijo Gosari adalah pupuk khusus lahan gambut yang diformulasikan dari bahan terak baja dan diperkaya dengan fosfat serta bahan lain yang aktif sebagai senyawa pengkhelat.

PUGAM-A adalah pupuk slow release berbentuk granul yang berperan untuk mensuplai hara tanaman, juga berfungsi sebagai amelioran untuk mengurangi pengaruh buruk asam organik beracun, mengurangi pencucian hara P dan efektif menekan menekan emisi CO2. PUGAM-A efektif mengurangi pencucian P karena PUGAM-A memiliki sifat slow release dan membentuk tapak jerapan positif pada gambut sehingga mampu menahan pencucian P.

Dosis optimum PUGAM-A untuk tanaman pangan adalah 600 – 725 kg/ha. Untuk tanaman berikutnya, dosis PUGAM-A yang diperlukan hanya separuh tanaman pertama yaitu antara 300 – 365 kg/ha. Pemupukan untuk tanaman perkebunan (khususnya kelapa sawit) : TBM umur 1 – 3 th diperlukan 2-3 kg/tanaman/th, untuk tanaman menghasilkan (TM) sekitar 4 – 5 kg/tanaman/tahun.

Sumber :

http://www.litbang.deptan.go.id/

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 3)

Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian*

Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 3 dari 5 Tulisan)

Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

(Bagian 3 dari 5 Tulisan)

III. Hasil-Hasil Penelitian Tentang Tanah Gambut

Dari luasan total lahan gambut di dunia sebesar 423.825.000 ha, sebanyak 38.3 17.000 ha terdapat di wilayah tropika. Sekitar 50% dari luasan lahan gambut tropika tersebut terdapat di Indonesia yang tersebar di pulau-pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua, sehingga Indonesia menempati urutan ke-4 dalam hal luas total lahan gambut sedunia, setelah Kanada, Uni Soviet, dan Amerika Serikat.

Diperkirakan sedikitnya 20% dari luasan lahan gambut di Indonesia telah dimanfaatkan dalam berbagai sektor pembangunan meliputi pertanian, kehutanan, dan penambangan (Rieley et al, 1996). Karena wataknya yang sangat rapuh, luasan lahan gambut di Indonesia cenderung mengalami penurunan, diperkirakan yang masih tersisa tidak lebih dari 17 juta hektar (Kurnain, 2005). Bahkan dari data yang telah dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat tahun 2002, luasan lahan gambut di Indonesia hanya tersisa 13,203 juta hektar dari 16,266 juta hektar tahun 1997.

Dari itu semua dan dari banyak publikasi yang telah dirilis baik melalui pertemuan ilmiah maupun laporan ilmiah, penelitian tentang pemanfaatan tanah gambut untuk lahan pertanian dan perkebunan telah banyak dilakukan diantaranya:

Jagung merupakan komoditas pangan kedua setelah padi. Kendala yang dihadapi untuk meningkatkan produksi jagung di antaranya persaingan lahan dan tanaman padi sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Untuk itu perlu lahan altematif yang potensial seperti lahan gambut untuk budidaya tanaman jagung. Tanah gambut merupakan tanah marjinal yang memiliki kesuburan rendah yang dicirikan oleh pH rendah (3.0 – 5.0), kandungan dan ketersediaan unsur N, P, K, Mg, Zn, B, Ca, Mo dan Mn rendah dan kandungan air yang tinggi. Namur demikian lahan gambut masih memberikan harapan untuk dijadikan lahan produktif dengan menerapkan teknologi yang sesuai seperti paket teknologi tampurin. Penerapan paket teknologi Tampurin yang merupakan singkatan dari Tata Air, Mikroba, Pupuk yang seimbang dan kapur serta proses inkubasi bahan amelioran (IPPTP, 1997; Widarjanto, 1997). Dengan penelitian mampu meningkatkan produksi tanaman jagung hingga mampu meningkatkan pendapatan petani (Gonggo et al, 2004).

Penelitian Widodo ( 2004), tentang budidaya tanaman padi gogo di lahan gambut telah dilakukan. Kendala utama dalam meningkatkan produksi padi gogo adalah rendahnya kesuburan tanah dan juga kandungan bahan organik dalam tanah. Altematif untuk mengatasi kendala pada tanah gambut untuk tanaman padi gogo dilakukan dengan memberikan pupuk urea dan kombinasi media tanam. Ukuran urea tidak memberikan perbedaan yang nyata pada peubah yang diamati, demikian juga interaksi antara ukuran urea dan media tanam tidak terjadi. Pada perlakuan media tanam memberikan beda nyata pada peubah jumlah dawn, bobot pupus, jumlah malai, bobot bulir bemas dan indeks panen dan nilai tertinggi untuk peubah: jumlah dawn: 45,19, bobot pupus 10,53, jumlah malai 7,59, bobot bulir berms 12,62 g, dan indeks panen 1,12.

Pengembangan budidaya tanaman melon pada lahan gambut melalui penerapan sistem pertanian berwawasan lingkungan maka sistem budidaya inovatif, yaitu sistem budidaya yang menggunakan tanah gambut hanya sebagai sarana pendukung atau sebagai wadah berpengaruh positif bagi pertumbuhan dan hasil tanaman melon varietas Action 434. Hal itu didukung oleh berbagai hal sebagaimana tercantum dalam butir-butir di bawah ini. 1. Abu serbuk gergaji dan pupuk organik padat Powernasa secara sinergis dapat meningkatkan panjang tanaman dan bobot buah per tanaman. Panjang tanaman terpanjang dan bobot buah terberat diperoleh pada pemberian abu serbuk gergaji dengan dosis 22,5 ton ha-1 dan pemberian pupuk organik padat Supernasa dengan dosis 15 kg ha-1, masing-masing 149,0 cm dan 1166,7 g per tanaman. 2. Dosis pupuk kalium dan pupuk organik padat Powernasa yang memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik masing-masing adalah 250 kg ha-1 dan 15 kg ha-1 menghasilkan panjang tanaman 135,3 cm dan bobot buah 1530,0 g per tanaman (Asie E R, 2003).

Penelitian tentang tanaman perkebunan juga dilakukan pada tanah gambut. Dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/Permentan/PL.110/2/2009 Tahun 2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budidaya Kelapa Sawit, lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit harus memenuhi kriteria:

1. Berada pada kawasan budidaya

Kawasan budidaya dimaksud dapat berasal dari kawasan hutan yang telah dilepas dan/atau areal penggunaan lain (APL) untuk usaha budidaya kelapa sawit.

2. Ketebalan lapisan gambut kurang dari 3 (tiga) meter

Lahan gambut yang dapat digunakan untuk budidaya kelapa sawit:

(2.1) dalam bentuk hamparan yang mempunyai ketebalan gambut kurang dari 3 (tiga) meter; dan

(2.2) proporsi lahan dengan ketebalan gambutnya kurang dari 3 (tiga) meter minimal 70% (tujuh puluh prosen) dari luas areal yang diusahakan.

3. Lapisan tanah mineral di bawah gambut

Substratum menentukan kemampuan lahan gambut sebagai media tumbuh tanaman. Lapisan tersebut tidak boleh terdiri atas pasir kuarsa dan tanah sulfat masam.

4. Tingkat kematangan gambut

Areal gambut yang boleh digunakan adalah gambut matang (saprik) dan gambut setengah matang (hemik) sedangkan gambut mentah dilarang untuk pengembangan budidaya kelapa sawit.

5. Tingkat kesuburan tanah

Tingkat kesuburan tanah dalam kategori eutropik, yaitu tingkat kesuburan gambut dengan kandungan unsur hara makro dan mikro yang cukup untuk budidaya kelapa sawit sebagai pengaruh luapan air sungai dan/atau pasang surut air laut. (hukmas dj bun).

Dari pembukaan lahan yang telah dilakukan pada tanah gambut untuk tanaman kepada sawit mampu memproduksi kelapa sawit sebesar 12 – 24 ton/ha dalam satu tahunnya.

· Analisis Usahatani Komoditas Di Lahan Gambut

Padi

Produksi rata-rata padi unggul 2,3 ton/ha dengan kisaran 2 – 2,5 ton/ha dan padi lokal rata-rata 1,8 ton/ha dengan kisaran 1,5 – 2,4 ton/ha. Secara ekonomi pengusahaan padi dilahan gambut cukup menguntungkan.

Nilai keuntungan dari padi lokal sebesar Rp 1.270.000/ha sementara pada padi unggul sebesar Rp 1.144.743/ha. Hal ini diikuti pula dengan nilai R/C yaitu pada usahatani padi lokal sebesar 1,38 dan padi unggul 1,32. Pengembalian tenaga kerja pada usahatani padi unggul lebih tinggi sebesar 28,7% dibanding padi lokal, hal ini karena tenaga kerja yang digunakan pada padi unggul lebih sedikit atau pada kegiatan pengolahan tanah menggunakan handtraktor, sementara pada usahatani padi lokal umumnya petani melakukan secara manual yaitu tebas-angkut (Riza AR, 2006)

Sistem usahatani berbasis padi dapat dilihat dari besarnya kontribusi usahatani tani dalam menyumbang pendapatan rumah tangga petani. Dari sistem usahatani berbasis padi di Desa Petak Batuah Kecamatan Kapuas Murung wilayah UPT Dadahup A 2 Proyek Lahan Gambut Sejuta hektar menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan usahatani padi sebesar 47% terhadap pendapatan rumah tangga petani sebesar Rp 9.516.314,- per tahun (Riza AR, 2006).

Sayuran

Sayuran yang diusahakan petani adalah kacang panjang, gambas, pare dan cabai Rawit (varietas Tiung). Sayuran umumnya untuk konsumsi rumah tangga, namun tidak sedikit petani yang menjual ke pasar desa. Berdasarkan analisis biaya dan pendapatan menunjukkan bahwa sayuran cabai rawit, pare dan gambas cukup efisien diusahakan di lahan gambut.

Hasil dari pelaksanaan demplot oleh Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa sayuran tomat dan bawang daun cukup menguntungkan untuk diusahakan di lahan gambut dengan nilai R/C masing-masing 3,37 dan 2,22. (Riza AR, 2006) Demikian juga dengan tanaman sayuran yang diusahakan di lahan gambut Desa Siantan Hulu Kalimantan Barat menunjukkan bahwa komoditas bawang daun memiliki R/C tertinggi (3,36) dibanding sayuran lainnya, namun demikian semua jenis sayuran yang diusahakan cukup layak untuk dikembangkan karena R/C > 1. (Noorginayuwati et al, 2006)

Sistem usahatani berbasis sayuran di lahan gambut menunjukkan bahwa kontribusi sayuran cukup besar terhadap pendapatan total rumah tangga petani. Hasil penelitian Noorginayuwati et al, (2006) menunjukkan bahwa kontribusi sayuran sebesar 39 % terhadap pendapatan total rumah tangga petani sebesar Rp 8.214.674 per tahun.

Dalam istilah yang tepat, konsep pertanian berkelanjutan pada lahan gambut sebenarnya bukan merupakan istilah yang tepat dikarenakan adanya daya menyusut dan adanya subsidence selama penggunaannya untuk usaha pertanian. Akan tetapi, hal tersebut bisa dikurangi dalam arti memperpanjang ‘life span’ dengan meminimalkan tingkat subsidence dengan cara mengadopsi beberapa strategi pengelolaan yang benar mengenai air, tanah dan tanaman.

Penggunaan sistem surjan merupakan suatu cara pengelolaan tanah dan air yang disesuaikan den kondisi gambut <> dapat dilakukan pada lahan gambut dangkal yang marginal . Namun yang perlu diperhatikan dalam menggunakan sistem ini adalah penerapan pola tanam tumpang (multicroping) yang berkelanjutan dan produktif dalam waktu lama. Hal ini misalnya terlihat dari adanya pola suksesi dari pertanaman padi menjadi tanaman perkebuna kelapa atau kebun karet atau pohon buah-buahan dan perikanan.

Dengan penerapan sistem surjan, maka lahan akan menjadi lebih produktif , karena pada lahan tersebut akan tersedia dua tatanan lahan, yaitu: ( 1) Lahan tabukan yang tergenang (digunakan untuk menanam padi atau digabungkan dengan budidaya ikan/minapadi) ; da (2) Lahan guludan/tembokan/baluran sebagai lahan kering (digunakan untuk budidaya palawija, buah-buahan, tanaman tahunan/perkebunan).

Keuntungan dan Kerugian Sistem Surjan

Keuntungan

· Dapat menanam aneka ragam jenis tanaman dengan umur panen yang berbeda­sehingga pendapatan petani dapat berlanjut

· Pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman lebih mudah

· Memperkecil resiko kegagalan panen karena jenis tanaman yang ditanam berma macam

· Dapat ditanami padi sawah sebanyak 2 kali musim tanam.

Kerugian

· Biaya pembuatan surjan maha dan membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga ker

· Diperlukan pengaturan/ pengawasan air yang lebih ba

· Lapisan gambut akan lebih cepat dangkal karena sering diolah, sehingga menimbulkan lapisan pirit yang dapat meracuni tanaman. Untuk mengatasi hal demikian, maka perlu dilakukan pemilihan jen tanaman yang tepat (misal jen tanaman tahunan atau hortikultura tertentu yang tidak memerlukan pengolaha tanah secara intensif).

Tahapan-tahapan P embuatan Surjan

Pemilihan lokas

Identifikasi terlebih dahulu loka dan karakteristik lahan yang ak digunakan menjadi lahan pertanian dengan sistem surjan apakah layak secara fisik dan memenuhi nilai-nilai sosial ekonomi. Dalam kegiatan ini, beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi, kedalaman dan kematangan gambut, serta kedalaman permukaan air tanah.

Kondisi permukaan lahan/tutupan vegetasi

Lahan berhutan akan lebih sulit untuk diolah dibandingkan denga lahan yang sudah terbuka atau semak belukar . Hutan setelah dibuka harus dibiarkan selama du tahun untuk proses pencucian, pengeringan dan pematangan tanah. Sedangkan semak beluka dan rerumputan akan lebih mudah dan relatif dapat digunakan.

Kedalaman dan kematangan gambut

Tanah gambut yang baik untuk usaha pertanian adalah lahan bergambut (

Kedalaman permukaan air tanah

Kegiatan budidaya tanaman di laha gambut sangat ditentukan oleh kedalaman muka/paras air tanah d lamanya periode genangan. Jenis-jeni tanaman yang berbeda memiliki toleransi yang berbeda pula terhadap tinggi muka air tanah dan genangan (lihat Tabel 1), sehingga pola surjan ya akan dibangun harus pula memperhatikan aspek muka air tanah untuk kelangsungan hidup jenis-jenis tanaman yang akan ditanam diatasnya.

Pembuatan surjan

Menata/mengolah lahan dengan sistem surjan, terutama pada lahan yang telah lama ditinggalkan (seperti semak belukar) memerlukan waktu pengolahan lebih lama dan tenaga memerlukan waktu pengolahan lebih lama dan tenaga ke lebih banyak daripada lahan yang seri dikerjakan sebagai lahan usaha.

Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:

Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.

Sumber :

http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1)

Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian*

Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim***

(Bagian 1 dari 5 Tulisan)

Keterangan:

* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

** : Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

*** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah, Program Studi Ilmu Tanaman, Program Magister (S2), Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya. Palembang, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

(Bagian 1 dari 5 Tulisan)

I. Pendahuluan

Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker, seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro, 1997). Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk, 2001).

Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18.480 ribu hektar, tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan, Sumatera, Papua serta beberapa pulau Kecil. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada; Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4,61 juta ha, diikuti oleh Kalimantan Tengah, Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2,16 juta hektar, 1,70 juta hektar dan 1,48 juta hektar.

Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa, dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas, ketebalan lebih dari 0.5 m, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu lempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat-agak lekat, kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat sangat asam (pH 4,0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P, 2006).

Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut :

(1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0.1 g ml-1;

(2) 40 cm atau lebih :

(a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase;

(b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0.1 g ml-1 atau lebih.

Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan, dalam keadaan yang selalu tergenang, dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter. Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus, misalnya pada cekungan atau depresi, danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau.

Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa-rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno, 1996). Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk.

Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa, yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Tanah gambut terdapat di cekungan, depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara, dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut.

Di alam, gambut sering bercampur dengan tanah liat. Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff ,1990):

1. Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0,1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %.

2. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %.

Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981), tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. Menurut Everret (1983), suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat, (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat, dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %.

Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap), bergantung pada tahapan dekomposisinya. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering, bobot isi rendah (0.05-0.4 g cm-3), dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin-mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling, 2000). Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al, 1996). Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar.

Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists, Fibreists, Hemists, Saprists.

· Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun, ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan, kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik.

· Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi.

· Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung, dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi.

· Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut, hampir tidak berserabut, berat jenisnya besar dari 0,2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam.

Berdasarkan penyebaran topografinya, tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu:

a. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa, mempunyai ketebalan 0.5 – 16 meter, terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa, hampir selalu tergenang air, bersifat sangat asam. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra, Kalimantan dan Irian Jaya (Papua);

b. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan rawa, ketebalan 0.5 – 6 meter, bersifat agak asam, kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah), Rawa Lakbok (Ciamis, Jawa Barat), dan Segara Anakan (Cilacap, Jawa Tengah); dan

c. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng.

Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Dengan demikian,lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm.

Berdasarkan kedalamnya, lahan gambut dibagi menjadi empat tipe, yaitu:

1. Lahan gambut dangkal, yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 – 100 cm;

2. Lahan gambut sedang, yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 – 200 cm

3. Lahan gambut dalam, yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 – 300 cm

4. Lahan gambut sangat dalam, yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm.

Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. Dalam kondisi alami, lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna, sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. Menurut pengamatan di lapangan, material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah.

Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi.

Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa. Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga.

Pasalnya, di kawasan hutan gambut tropika, vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon, emisi karbon, dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya.

Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut, maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut; penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut; pengelolaan air; pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut; peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan.

Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asam-asam fenolat.

Berdasarkan tingkat kesuburan alami, gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi, reaksi gambut netral atau alkalin), oligotrofik (kandungan mineral, terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5, kandungan basa sedang). Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. Subagyo et al, (1996) membagi gambut dalam 4 kelas, yaitu dangkal (50-100 cm), agak dalam (100-200 cm), dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm).

Menurut Subagyo et al, (1996), tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin, pasir kuarsa, atau endapan liat nonmarin. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat.

Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988). Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0.075 g cm-3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0,195 g cm-3, sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0,075 sampai 0,195 g cm-3.

Berdasarkan status hara, Fleisher (1965, dikutip Driessen dan Soepraptohardjo, 1974) memilah gambut menjadi tiga golongan, yaitu (1) gambut eutropik yang subur, (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang, dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin. Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N), kalium (K), fosfor (P), kalsium (Ca), dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Kriteria kimia gambut eutropik, mesotropik, dan oligotropik menurut Fleischer

Tingkat Kesuburan Kriteria Penilaian (%)
N K2O P2O5 CaO Abu
Eutropik 2.50 0.10 0.25 4.00 10.00
Mesotropik 2.00 0.10 0.20 1.00 5.00
Oligotropik 0.80 0.03 0.05 0.25 2.00

Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974)

Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air, banyak terbentuk senyawa-senyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi. Menurut Halim dan Soepardi (1987), kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi, pH kurang dari 4; (2) sedang, pH berkisar antara 4 sampai 5; (3) rendah, pH lebih dari 5.

Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini:

Pustaka:

Madjid, A. R. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-Dasar Ilmu Tanah, (2) Kesuburan Tanah, dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri.

Sumber :

http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.