Berita Kelapa Sawit

Gapsi Tolak Perpanjangan Moratorium Sawit di Lahan Gambut

BALIKPAPAN - Dua tahun pemberlakuan moratorium sawit oleh pemerintah pusat dinilai telah merugikan kalangan pengusaha sawit Indonesia. Kebijakan ini justru memperlambat ekspansi sawit sehingga keunggulan Indonesia sebagai negara penghasil CPO terbesar di dunia dapat ditelikung oleh negara-negara lain seperti Malaysia.

Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapsi) menolak tegas perpanjangan moratorium sawit yang sudah berlangsung sejak Mei 2011 lalu itu. “Kita tolak perpanjangan oratorium, sebab lebih banyak kerugian yang kita alami dibandingkan keuntungan dari moratorium,” ujar Juru Bicara Gapsi Topan dalam media gathering PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) di Balikpapan, Selasa (7/5/2013).

Moratorium muncul setelah adanya Letter of Inten (LoI) antara pemerintah Indonesia dengan Norwegia yang sepakat menghentikan kegiatan di hutan produksi dan lahan gambut.

“Dari kebijakan ini kita akan dapat USD1 miliar, namun hingga kini belum jelas apa yang diperoleh Indonesia. Jika dibandingkan dengan kerugian yang dialami perusahaan sawit yang pertumbuhan terhambat ini besar sekali potensi lose-nya,” tandasnya.

Pada Mei 2013 ini, moratorium tersebut akan berakhir namun aktivis lingkungan Green Peace telah melakukan kampanye antisawit Indonesia di sekitar pintu masuk kawasan Cikeas dengan memasang baliho raksasa.

”Mereka pasang baliho besar dua sisi dengan foto SBY. Sangat besar tulisan dan fotonya, yakni melanjutkan moratorium hutan merupakan jaminan bagi masa depan generasi. Iklan besar itu  biar dilihat oleh SBY saat melintas,” katanya.

Moratorium ini diyakni akan jauh merugikan Indonesia karena Malaysia dapat menyodok poissi satu Indonesia sebagai penghasil CPO di dunia. Upaya penolakan ini, tambah Topan sudah dikomunikasikan ke berbagai pihak termasuk kalangan DPR dan diyakni moratorium tidak akan dilanjutkan.

Upaya yuridis formal dengan menggugat kebijakan moratorium belum pernah ditempuh. “Kita seperti itu belum pernah kita tempuh,” ujarnya. (wdi)

Sumber : http://economy.okezone.com/read/2013/05/07/320/803547/gapsi-tolak-perpanjangan-moratorium-sawit-di-lahan-gambut

Baca juga kisah-kisah sukses petani lainnya, berita dan harga sawit di bawah ini :

RAM Pandawa Diduga Tampung Buah Sawit Curian

Rantau Prapat-andalasRAM (gudang penimbangan dan penampungan buah sawit) Pandawa yang berada di Jalan By Pass tepatnya di samping Wisma By Pass Rantau Prapat, diduga menampung buah sawit curian.  T Napitupulu, warga Pelita III Rantau Prapat, kepada andalas, Selasa (30/7) mengatakan, pada tanggal 26 Juli 2013 sekira pukul 19.45 WIB, petugas pengaman PTPN III Janji Rantau Prapat, berada di RAM Pandawa.

“Saat itu dalam keadaan hujan deras, petugas yang berpakaian seragam TNI sedang menangkap beca motor (betor) yang tengah mengkut buah sawit diduga hasil curian. Tapi pengemudi betor tersebut melarikan diri,” terang T Napitupulu yang diamini rekannya PM Simangunsong (29).

Ditambahkannya, kegiatan tersebut sudah sering terjadi, dengan cara mengumpulkan buah sawit hasil curian milik PTPN III di RAM Pandawa dengan menggunakan bettor. Setelah buah sawit terkumpul di RAM Pandawa, kemudian pelaku memuat sawit yang telah dikumpulkan tersebut ke mobil jenis pick up.

“Tidak mungkin pihak RAM tidak curiga dengan keberadaan sawit itu, selesai dikumpul lalu dimuat lagi ke mobil pick up kemudian ditimbang lalu dimuat lagi ke tronton,” ungkap T Napitupulu.

Sementara itu, Ijal (24), kerani timbang RAM Pandawa ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya terkait penagkapan satu unit bettor beserta sawit diduga hasil curian mengatakan, dia tidak tahu kejadian itu. “Saya nggak tahu. Terkadang hanya memuat saja di sini dan menjualnya ke RAM yang lain, cuma pernah beberapakali mereka (pelaku-red) memuat di sini dan menjual ke RAM ini,” tutur Ijal.

Sementara itu, Perwira Pengaman (Papam) PTPN III Janji, Pelda Azwar Siregar mengatakan, bahwa kejadian ini sudah sering terjadi. “Pelaku memang melarikan diri, dan masalah ini sudah kita serahkan ke pihak kepolisian dengan surat laporan No. Pol : STPLP/855/VII/2013/SU/RES/-LBH yang ditandatangani Aiptu Surahman beserta barang bukti berupa satu unit betor jenis Suzuki Smash BK 3884 ZU dan lima tros sawit.

“Untuk itu, bagi oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab terhadap aset-aset PTPN III, kami akan berkoordinasi dengan seluruh instansi penegak hukum sampai tuntas,” tegasnya.

Sumber : http://harianandalas.com/Ragam/RAM-Pandawa-Diduga-Tampung-Buah-Sawit-Curian

Baca juga kisah-kisah sukses petani lainnya, berita dan harga sawit di bawah ini :

Kisah Sukses Pengusaha Sawit Tjandra Mindharta Gozali

Tjandra Mindharta Gozali (59) bukanlah nama asing di dunia usaha Indonesia. Kemampuannya mengintip dan mampu memanfaatkan peluang menjadi kuncinya dalam berbisnis. Keotodidakannya mengantarkan Tjandra menjadi salah satu pebisnis sukses.

Di usianya yang hampir memasuki kepala enam, Tjandra Gozali –begitu ia biasa disapa– menjabat Presiden Direktur (Presdir) PT Gozco Plantation Tbk, sebuah perusahaan kelapa sawit yang kini terus melakukan ekspansi bahkan merambah hingga bisnis gas alam.

Ia juga memimpin PT Fortune Mate Indonesia Tbk., perusahaan properti yang memiliki lahan beribu-ribu hektare di Surabaya.

Tjandra mengawali bisnis sawit pada tahun1999. Ia melihat sawit mempunyai potensi besar dan Indonesia adalah satu dari sedikit negara tropis di dunia yang kondisi iklim dan tanahnya cocok untuk pengembangan kelapa sawit berskala luas. Terlebih, kelapa sawit memiliki banyak produk turunan dan bisa memenuhi beragam keperluan, dari makanan, bahan pokok berbagai industri, hingga sumber energi berupa biodiesel dan dapat terus diproduksi.

Selain itu, menurut Tjandra, pekerjaan di bisnis sawit tidak terlalu ngoyo. “Orang seperti saya, kalau nanti sudah mencapai usia 70 atau 80 tahun, berharap masih bisa kerja di kebun dengan santai. Sawit itu sekali tanam, selama 20 tahun tinggal memetik terus. Yang harus dilakukan hanya pemupukan dan perawatan. Nah ini cocok buat orang tua seperti saya. Itu awal mula idenya,” ujar Tjandra.

Awal bisnis ini, pria yang dipercaya menjadi konsul kehormatan Mongolia untuk Surabaya dan Jakarta ini mengambil alih sekitar 4 ribu hektare lahan di Muara Enim dari salah satu rekannya. Muara Enim dinilainya cocok karena syarat untuk tanaman sawit adalah curah hujan di atas 220 mm per tahun dan sinar matahari yang kuat, sehingga yang terbaik adalah di wilayah garis khatulistiwa.

Untuk investasi di bisnis sawit ini, Tjandra harus merogoh kocek hingga Rp 70 miliar ditambah menanggung utang kredit macet perusahaan yang dibelinya itu di BNI sekitar Rp 180 miliar.

Hingga tahun 2003, bisnis sawitnya belum berkembang, bahkan sempat terjadi pencurian pupuk, dan sebagainya.

“Waktu itu saya tidak bisa konsentrasi penuh, karena masih memikirkan soal sepatu yang jumlah karyawannya mencapai ribuan. Padahal karyawan saya sudah banyak yang menyarankan untuk menutup usaha sepatu itu karena rugi terus. Sampai 2003 merugi terus, tiap bulan ruginya berkisar Rp 2-3 miliar,” papar Tjandra.

Sekedar diketahui, sebelum beralih ke bisnis sawit dan turunannya, Tjandra pernah menekuni bisnis sepatu.

Pada tahun 1989, banyak industri sepatu dari Taiwan yang melakukan relokasi karena biaya produksi di sana mahal. Tjandra pun melihat peluang baru di bisnis sepatu. Ia mendapat kontak pengusaha Taiwan yang ingin merelokasi usahanya. “Waktu itu cukup ramai, kami sampai buka dua pabrik. Pabriknya berada di Tambak Sawah Sidoarjo,” ujarnya.

Tjandra mengatakan industri sepatu sedikit berbeda karena sifatnya yang padat karya. Saat itu, cerita pria yang juga besan pengusaha kaya Eddy William Katuari, pihak Taiwan berperan di bidang pengembangan, pemasaran dan penjualan, sedangkan Tjandra di bagian keuangan, manajemen dan produksi. “Produksi paling puncak kami pernah ekspor hingga 2,5 juta pasang per bulan,” ujarnya.

Bisnis sepatu tersebut kian berkembang dan Tjandra menggunakan bendera PT Fortune Mate Indonesia Tbk. (FMII), PT Tong Chuang Indonesia, PT Surya Intrindo Makmur(SIM) dan PT Shoe Link Indonesia. Besarnya kepemilikan Tjandra di perusahaan sepatu tersebut bermacam-macam, mulai 30% hingga 70%.

“Pihak Taiwan menyerahkan semua kepada kami untuk operasional. Kamilah yang paling tahu dan mengerti soal karyawan yang kebanyakan perempuan. Jumlah karyawan kami pernah mencapai puncaknya yakni 30 ribu orang,” katanya.

Sayang, tahun 2003, ia terpaksa menutup usaha sepatunya. Pasalnya, perusahaan Taiwan tersebut memutuskan beralih ke China dan Vietnam karena biaya buruh yang lebih murah. Tjandra pun melihat bisnis sepatu di Indonesia tidak lagi kompetitif karena mahalnya biaya buruh akibat adanya Keputusan Menteri No. 13 tentang Pesangon, yang membuat beban pengusaha semakin berat. Di tahun 2003 itu, Tjandra mem-PHK-kan lebih dari 20 ribu karyawannya dengan pesangon lebih dari Rp 180 miliar. “Kami pikir waktu itu kami ada kas dan jangan sampai kami tetap jalan terus kemudian berada dalam kondisi rugi. Itu malah berisiko. Tanggung jawab kami harus dituntaskan. Begitu pasar mulai merosot dan harga kalah bersaing, kami putuskan untuk berhenti,” tutur Tjandra.

Sejak 2008, semua perusahaan tersebut sudah tidak lagi beroperasi di bisnis sepatu. Dan, setelah tidak lagi menjalankan usaha produksi alas kaki, FMII mengubah bisnis inti ke bidang properti dengan mengakuisisi dua perusahaan real estate, yaitu PT Masterin dan PT Multi Bangun di tahun 2008. Kini, FMII memiliki lahan di sekitar Osowilangun, Benowo seluas sekitar 800 ha, dalam waktu dekat akan dibangun menjadi perumahan dan kawasan komersial.

Selain itu, FMII juga mulai mengerjakan kluster seperti Taman Sari. “Di Lamong Bay, milik Pelindo, jalan menuju pantai berasal dari kami. Rencana kami selanjutnya, tanah di sekitar situ untuk mendukung pelabuhan. Ekspedisi Muatan Kapal Laut, gudang, dan sebagainya,” ujar Tjandra.

Singkat  cerita setelah menuntaskan semua kewajibannya pada karyawan, Tjandra pun mulai bisa konsentrasi penuh ke bisnis sawit. Dan, kebetulan di tahun 2003 itu putra sulung Tjandra, Krisna D Ghozali baru kembali dari sekolah di Amerika Serikat. Sebelumnya, sewaktu di AS ia sudah bekerja di Deutschebank, tetapi ingin pulang dan membantu meneruskan usaha ayahnya.

Kepada putranya, Tjandra menceritakan prospek bisnis sawit lebih bagus daripada sepatu. “Sawit tidak dimiliki oleh semua negara. Apalagi di masa mendatang, akan dijadikan sebagai energi alternatif seperti biodiesel dan sebagainya,” kata Tjandra

Ia juga menekankan pada Krisna bisnis sepatu sudah mulai turun dan struktur organisasi di perusahaan sepatu saat itu sudah lengkap. Sementara di kebun sawit, Krisna benar-benar harus berjuang dari bawah.

Dengan gambaran ini, Krisna berani mencoba tantangan baru dengan mengembangkan bisnis sawit ayahnya, tinggal di perkebunan sawit, menanam sawit, dan merangkul semua pihak di sekitar perkebunan. “Setelah satu tahun, dia senang, karena bisa mengembangkan usaha sawit itu. Dalam waktu dua-tiga tahun, dia sudah menguasai medan. Ketika sudah berkembang, kami mulai mengakuisisi perusahaan lain,” tutur Tjandra.

Ke depan, Tjandra mengaku akan fokus di bisnis sawit dan properti, sedangkan bisnis banknya lebih merupakan bisnis pendukung. Sekedar diketahui, di struktur organisasi Bank Yudha Bhakti yang didirikan sejak 1990, Tjandra masih tercatat salah satu pemegang saham bank umum yang termasuk dalam golongan aset Rp 1-10 triliun, dan berasas prudent banking. Menurutnya, Yudha Bhakti selama 1997-2010 mencatatkan prestasi yang gemilang dan membagikan dividen tahunan. Namun, ia menegaskan, tidak pernah menggunakan uang dari Yudha Bhakti untuk mengembangkan usahanya yang lain.

Bagi Tjandra, yang terpenting mampu bangkit dan berjalan lagi setelah tersandung dan jatuh. Pada awal menjalani usaha, karena masih kurang pengalaman dan jejaring, Tjandra pernah mengalami jatuh-bangun bahkan sampai kondisi yang cukup parah, tetapi akhirnya ia mampu bangkit kembali. “Satu-satunya kunci untuk hal itu adalah menyelesaikan semua kewajiban yang ada. Dengan demikan rekan bisnis yakin akan goodwill kami, sehingga dalam waktu yang pendek semua bisa pulih untuk bangkit lagi. Demikian pula dengan kewajiban pada bank, semua kewajiban harus diselesaikan, kami harus bertanggung jawab. Pedoman itu harus dipegang dan dijalankan,” tuturnya menegaskan.

Ia selalu mengutamakan kredibilitas, keterbukaan dan komitmen dalam berbisnis. Dalam budaya Cina, kredibilitas adalah dasar utama dari semua hubungan, termasuk hubungan bisnis. Bila seseorang memiliki kredibilitas yang baik di mata orang lain atau pelaku usaha, akan lebih mudah baginya menjalin hubungan bisnis baru dan mengembangkan bisnis yang sudah ada. Selain itu, keterbukaan dengan rekan bisnis atau calon rekan bisnis juga penting, termasuk kejujuran, serta kewajaran dalam menilai dan memutuskan segala sesuatu. Dan, komitmen pun harus menyertai semua yang sudah diputuskan, yang berarti jika telah berkomitmen harus menjalankan dengan sepenuh hati, tidak menganaktirikan rencana yang sudah tersusun dan fokus pada tujuan yang sudah ditetapkan di awal.

Terasah Sejak Kecil

Tjandra yang juga tak lain adalah kakak kandung Henry J. Gunawan, pemilik PT Surya Inti Permata memang memiliki jiwa kewirausahaan seperti orangtuanya yang perjalanan hidupnya sarat dengan pengalaman dan jatuh-bangun di kancah bisnis.

Ia mengakui, dirinya adalah tipe orang yang tidak bisa diam dan harus selalu ada yang dikerjakan. Setelah dewasa, kebiasaaan itu terarah pada bisnis, dan yang pertama membuatnya tertarik dan terjun ke dunia wirausaha adalah contoh dan didikan orang tuanya.

Ayah Tjandra, Gunawan Poernomo, pernah mendirikan kongsi bisnis gula bernama PT Argad, bersama dengan Irawan, rekanan dari Jakarta. Argad adalah perusahaan yang menjadi anggota sindikasi pengadaan gula di bawah Departemen Perdagangan. Tahun 1969, Tjandra ditunjuk oleh orang tuanya sebagai wakil di perusahaan itu. Saat itu di Indonesia hanya ada 12 anggota sindikasi, dan Irawan adalah orang yang cukup dekat dengan Menteri Perdagangan Soemitro Djojohadikusumo. “Saat itu saya masih belajar. Kami mendapat target mendistribusikan gula 40-60 ribu ton per bulan. Kami distribusikan ke pedagang besar, menengah dan seterusnya. Tapi Argad bubar karena penyaluran gula saat itu diteruskan oleh Bulog,” ujar anak ketiga dari 8 bersaudara ini.

Sebenarnya, Tjandra telah mulai mencari uang sendiri di tahun 1967. Saat itu ia menjalankan usaha fotografi di tempat asalnya, Jember. Setelah penutupan SMP Tiong Hoa, tempatnya bersekolah, Tjandra –yang memang hobi fotografi – berusaha mengisi waktu dan mengambil peluang usaha jasa foto untuk KTP. “Saat itu banyak penduduk yang belum ber-KTP. Mereka harus foto, sementara toko foto belum banyak dan tidak murah, maka saya mengambil kesempatan mencari tambahan uang saku buat membeli peralatan foto yang memang dibutuhkan buat menunjang hobi saya,” cerita ayah tiga anak ini.

Tjandra menjemput bola keliling desa, menghubungi kelurahan untuk mendapat order foto, hingga ia mendapat pesanan menangani 12 desa. “Waktu penyelesaiannya lumayan lama, hampir dua tahun,” kenangnya.

Pria yang hobi olahraga dan membaca ini memulai usahanya sendiri secara resmi dengan mendirikan Express, perusahaan yang membidangi ekspor-impor barang kebutuhan rumah tangga (houseware), seperti panci dan sebagainya dari Taiwan dan Hong Kong tahun 1974. Saat itu Tjandra melihat ada salah satu temannya yang sudah masuk di bisnis ini dan ia pun tertarik bergabung. “Sebenarnya, sejak 1972 saya sudah minta izin orangtua untuk meninggalkan Jakarta karena ingin bikin usaha sendiri. Tapi baru diizinkan pada 1974. Kami coba cari channel di luar, lalu dapat. Merek Maspion dulu memang ada, tapi masih kecil. Lebih banyak yang impor,” ujarnya.

 Ia tidak mengambil barang dari China karena saat itu barang dari China masih kalah dibanding Taiwan. Di sinilah jiwa kewirausahaan Tjandra terasah. Dari Surabaya, ia langsung ke Taiwan mencari pemasok. Ini tergolong nekat mengingat dirinya tidak memiliki kenalan dan teman di Taiwan. Sesampainya di hotel, ia mencari nomor kontak pemasok di Yellow Pages lalu dihubunginya nomor demi nomor. “Bahasa yang saya gunakan campuran antara Cina, Inggris dan Kantonis. Dulu di sana, bahasa Cina masih dianggap hina,” kata Tjandra. Setelah sekitar seminggu berada di Taiwan, ia menelepon dan mendatangi para pemasok. Dengan perlahan tetapi pasti, kemudian Tjandra menemukan pemasok yang cocok dalam hal harga dan sesuai dengan kebutuhan. Ia mengaku menjalani bisnis ini hingga 1977.

Selanjutnya, tidak puas hanya dengan trading, Tjandra memulai lagi langkah inovatifnya, masuk ke bidang manufaktur dengan memproduksi kaleng cat. Ia memasok ke Atlantic Paint, Avian, Emco, dan lain-lain.

Berdasarkan pengalamannya ke luar negeri dan berhadapan dengan banyak pedagang lain, Tjandra menjadi tahu soal kualitas mesin dan jumlah modal yang dibutuhkan untuk memproduksi kaleng. Ia pun membeli mesin bekas untuk kebutuhan plong dan tekuk.

Tahun 1980, perusahaannya mulai melakukan modernisasi. Dengan menggunakan bendera Indocan, ia membeli lahan di Surabaya Industrial Estate Rungkut, dan mengimpor mesin dari Taiwan. “Mesinnya merek Ching Ie dan mampu menghasilkan hingga 50 kaleng per menit,” katanya.

Tahun 1981, kembali dilakukan modernisasi dengan mendatangkan mesin dari Jerman, merek Rieckerman, yang mampu memproduksi hingga 200 kaleng per menit. Akhirnya, bisnis kaleng yang ia tekuni mampu memproduksi hingga jutaan kaleng per bulan. Ia juga memiliki lima klien besar untuk produk mur dan bautnya, seperti Grand Master, Rakuda, dan tiga perusahaan lain yang tidak ia sebutkan namanya.

Menurut Tjandra, semua detail mengenai operasional bisnis tersebut ia pelajari dari lapangan. “Jika kami ikut dalam operasional, kami akan tahu masalahnya, penyakitnya, dan sekaligus cara menanganinya. Semua itu dari pengalaman di lapangan,” ujarnya lugas.

Dalam hal permodalan, ia menggunakan dana dari koceknya sendiri dan keuntungan yang ia peroleh dari bisnis sebelumnya, serta pinjaman bank. Tjandra tidak meminta bantuan modal dari orang tua ataupun memanfaatkan jejaring yang ia miliki saat bekerja di perusahaan ayahnya.

Usia yang masih muda saat itu membuat Tjandra ingin mencoba berbagai peluang bisnis. Begitu melihat peluang yang lebih baik, ia segera mencobanya. Ia pun beralih ke bisnis manufaktur mur baut di tahun 1982, serta karung plastik anyaman atau sak, yang biasa digunakan untuk kemasan pupuk di tahun 1983. Sementara bisnis kaleng Indocan dilanjutkan oleh adiknya. Ia memproduksi mur baut untuk industry pendukung. Peluang ini ada, karena biasanya pabrik harus mengimpor dengan kuantitas deran syarat tertentu, dan ada masalah delivery time yang membuat waktu kedatangan produk mur baut tidak tentu.

Ia mengimpor mesin untuk memproduksi mur baut dari Taiwan. Tjandra tidak ingat nilai investasinya, yang pasti lebih mahal dibanding mesin kaleng. Adapun mesin produksi karung plastik ia datangkan dari Jepang. Ia juga mengimpor biji plastik dari Jepang. Tjandra memasok karung plastik ke Petrokimia dan Pusri. (diolah dari Swa Online)

Sumber : http://www.surabayapost.co.id/

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Pendapatan Petani Sawit PT Letawa Rp30 Juta/Bulan

 Mamuju Utara, Sulbar (ANTARA News) – Pendapatan petani sawit binaan perusahaan PT Letawa yang beroperasi di Kecamatan Tikke Raya Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat mencapai Rp30 juta per bulan.

Salah seorang petani di Kecamatan Tikke Raya, Hadi, di Mamuju Utara (Matra), Sabtu, mengaku memperoleh penghasilan Rp30 juta per bulan dari hasil penjualan sawit yang dikelolanya ke perusahaan PT Letawa.

Ia mengaku, keuntungan yang didapatkan dari hasil penjualan sawitnya ke PT Letawa yang merupakan anak perusahaan PT Astra Agro Lestari Tbk yang merupakan perusahaan sawit terbesar di Sulbar, sekitar Rp30 juta per bulan, itu diperoleh dari lahan perkebunan sawit yang dikelolanya seluas delapan hektare.

“Lahan sawit kami seluas delapan hektare mampu menghasilkan 15 ton sawit, yang bila dijual maka kami akan diperoleh keuntungan bersih sekitar Rp30 juta per bulan,” katanya.

Menurut dia, dengan penghasilan dari lahan perkebunan sawit yang dikembangkannya sejak tahun 2002 itu dirinya menjadi salah satu petani sawit sukses di Kabupaten Matra yang penghasilannya sudah mampu meningkatkan kesejahteraannya.

Ia berterima kasih kepada PT Letawa yang selama ini telah membina petani plasma seperti dirinya, hingga kesejahteraannya dapat meningkat dari sebelumnya, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.

“Dulu kami hidup dalam keadaan serba sulit tetapi karena sawit yang kami kembangkan ini, maka kami merasa lebih sejahtera, itu semua berkat PT Letawa yang membantu dengan membina petani sawit plasma mengembangkan sawitnya di Matra,” katanya.

Sementara itu Head Of Public Relation PT Astra Agro Lestari Tbk, Topan Mahdi mengatakan, tingginya penjualan hasil produksi sawit petani di Matra membuat kesejahteraan petani lebih tinggi dari kesejahteraan karyawan perusahaan PT Letawa yang hanya mendapatkan gaji di atas upah minimun provinsi Sulbar sebesar Rp1,1 juta.

Ia mengatakan, dengan kesejahteraan petani sawit maka perusahaan sawit PT Letawa yang memiliki luas lahan perkebunan sekitar 7.499 hektare berdasarkan hak guna usaha yang dimilikinya, telah memberikan andil bagi pertumbuhan ekonomi daerah. (T.KR-MFH/F003)

COPYRIGHT © 2011

Sumber : http://makassar.antaranews.com

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Dari Perotan, Kini Berpenghasilan Rp10 Juta Perbulan (Kisah Petani Sawit)

PERKEBUNAN Inti rakyat (PIR) kelapa sawit menyisahkan cerita panjang bagi petani dan buruhnya. Dari mulai cerita sedih, gagal dan harus menjual lahan selalu sering mengemuka. Tetapi, tidak sedikit petani dan buruh tani sawit perlahan taraf kehidupannya membaik akibat PIR. Benarkah kisah sukses para petani ini karena keteguhannya? Atau karena keuletannya? Berikut Mercusuar menyusuri dataran Toili – lahan terbesar yang banyak petani plasma dengan perkebunan kelapa sawit PT Kurnia Luwuk Sejati.

Oleh: Andono Wibisono/ Aji Suriansyah

Wilayah Kecamatan Toili dan Toili Barat Kabupaten Banggai kini mulai ditumbuhi kelapa sawit. Di areal dataran ini, sesuai dengan Izin usaha tetap dari BKPMD Sulteng ke PT KLS seluas 9.081,52 hektar dengan Hak Guna Usaha (HGU) Nomor : 15/HGU/2000-BPN Pusat tanggal 11 Oktober 2000 lalu. Belum lagi dengan keterlibatan plasma (lahan petani) yang memang merupakan fatsun dari pola inti rakyat, lahan kelapa sawit mulai banyak di sepanjang jalan yang tim susuri.

Adalah Sawal (38) sejak tahun 1986 ia adalah perotan masuk ke luar hutan. Umumnya semua warga yang laki-laki berprofesi perotan. Sawal yang berasal dari Desa Balingara, Kecamatan Ampana Kabupaten Tojo Unauna (Touna) akhirnya mencoba pindah ke Toili tahun 1998. ‘’Masih merotan waktu itu. Tanah di sini (desanya) masih berhutan,’’ akunya yang masih nampak kotor pakaiannya usai membersihkan lahannya.

Kini, sawal dapat bernafas lega. omset perbulannya telah mencapai Rp10 juta. ‘buah’ kerja kerasnya menjadi plasma sawit tak sia-sia dengan areal lahan yang kini telah dimiliki enam hektar. Awalnya, sawal memperoleh aral konversi dari pemerintah tahun 2004. dengan modal lahan dan ketekunan ia berniat menjadi petani plasma KLS. ‘’Jadi saya sendiri bermohon waktu itu,’’ ungkap Sawal sambil menyeruput rokok di tangannya. Tidak benar kalau dirinya dipaksa menjadi plasma kala itu oleh KLS.

Cerita memilukan juga diungkap Raida (55) ketika ditemui di Desa Samalore Kecamatan Toili, Jum’at (19/3). ‘’Itu rumah gubuk saya dulu,’’ ujarnya sambil menunjuk sebuah bangunan gubuk dari kayu dan pitate bambu. Perempuan setengah abad ini mengaku mulanya ia dan suaminya hanya berkebun coklat dan tanaman keras lainnya.

‘’Dengan modal empat hektar waktu itu masih murah harganya, saya bermohon menjadi plasma di Kurnia. Awalnya memang sulit. Banyak cobaan dan harus selalu dengan sabar waktu itu. Makan apa adanya,’’ ungkapnya dengan bibir gemetaran menahan rasa kesedihan. Keuletan perempuan perokok ini berbuah segar bak buah tandan buah segar. Kini, raida telah memiliki 15 hektar lahan sawit dengan status plasma murni. ‘’Saya dibantu bank perkreditan rakyat Cipta Dana Prima untuk menambah lahan. Sejak tahun 2008 sudah lunas, dan kini ia telah memperoleh kucuran dana lagi dari BPR itu sebanyak Rp50 juta. ‘’Alhamdulillah saya bisa membeli tanah untuk lahan sawit dan sekarang sudah memiliki rumah bangunan permanent ini Pak,’’ ungkapnya sambil menyuguhkan minuman bersoda ke Mercusuar di rumahnya yang permanent dengan sofa merah jambu.

Kisah keduanya juga dialami anak muda yang juga sukses membangun keuletannya di Samalore. Dialah Ardin Ambo Ai (33). Berawal dari lahan konversi satu setengah hektar (2004), Ardin kini telah memiliki delapan hektar lahan sawit dengan status plasma. Diceritakannya, ia dengan petani lainnya dengan membentuk Kelompok Tani Sinar Kayuku mengajukan ke KLS menjadi peserta plasma. Setelah dikabulkan, ia dengan kelompoknya selalu bertekad untuk dapat meraih sukses. ‘’Buktinya saya sekarang tiap bulan bisa pegang uang empat sampai lima juta rupiah. Delapan hektar lahan yang saya peroleh kini masih saya cicil dengan cara kredit di BPR Cipta Dana Prima,’’ tuturnya bangga.

Lantas mengapa ada pula petani yang gagal. Atau menolak perkebunan kelapa sawit? Kata Ardin, ’’Yang tidak tahan dan ulet pasti menjual lahannya. Ada yang ke perusahaan ada juga yang ke masyarakat. Sekarang kami sudah mulai memetik hasilnya, mereka mulai iri dan dengki. Waktu itu saya sudah katakana, janganlah dijual lahan. Karena itu satu-satunya milik kita,’’ ungkap anak muda dua anak ini.

Senada dengan Ardin, Sawal dan Raida pun turut menimpali. ‘’Mereka itu orang-orang yang menyesal sebenarnya. Kami juga kasihan. Tapi sebenarnya, kalau mereka demo itu tidak betul. Karena mereka bukan lagi petani sawit. Yang petani hanya satu orang yang kita kenal,’’ ujar Sawal tegas. Raida pun juga mengangguk-anggukkan kepalanya. ‘’Lihat itu daeng. Sekarang sudah berhasil dan bisa beli mobil truk dua. Saya juga kepingin begitu tapi tetap kerja dan harus mau susah-susah dulu,’’ akunya sambil malu-malu menghirup rokok di depan Mercusuar.

Dari mulut ketiganya juga keluar kata-kata keprihatinan. Ketiganya berharap, apa yang ‘diteriakkan’ para pendemo segera dicarikan jalan keluarnya oleh pemerintah daerah Kabupaten Banggai. ‘’Kalau saya Bupati, banyak lahan masih tak terolah, beri mereka lahan dan konversi secepatnya. Silahkan lagi jadi petani. Ini hanya karena penyesalan mereka (pendemo) tak lagi memiliki lahan atau faktor lainnya,’’ ungkap Ardin.

Berplasma, kata ketiganya, juga diajarkan bagaimana menjaga dan merawat serta mengolah hasilnya. Setiap bulan dilakukan monitoring baik berkaitan dengan pupuk dari PPKS Medan. Kala mengambil hasil panen TBS (tandan buah segar), petani sawit juga memperoleh ‘chek’ dari tim perusahaan. ‘’Kami selalu diarahkan. Kurang pupuklah, kurang tebangan dan lain-lainnya. Kami selalu diarahkan agar panen lebih baik lagi,’’ aku Rasida.

Sebagai komoditas andalan sebagai sumber devisa negara non migas, kelapa sawit menciptakan peluang kerja, dan pelestarian lingkungan hidup sesuai dengan hasil riset Pusat Penelitian Kelapa Sawit (Indonesian Oil Palm Reserch Intitute). Olehnya, perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga didorong untuk melakukan pabrik atau pengolahan kelapa sawit (PKS), baik dari CPO dan PKO.
KLS sendiri, kata Manager Pabriknya, Ir Klimun S masih mengolah CPO, dan kualitasnya masih rendah. ‘’Ya karena rotasi panen plasma belum dapat dijaga. Terlebih plasma di perkebunan kita hamper 70 persen. Kalau sudah dijaga maka kami yakin kualitas CPO kita sangat baik. Di sini peran pemerintah sebenarnya yang terpenting,’’ tandas putra Jawa kelahiran Sumatera Barat itu.

KLS juga kini sedang mengembangkan hasil olahan TBS yaitu berupa tandan kosong untuk dijadikan kompos (pupuk). Direncanakan pula, KLS akan mengembangkan hasil pangkasan daun dan batang sawit untuk pakan ternak. ‘’Alatnya sudah mulai disiapkan. Bila sudah siap maka akan diolah hasil pangkasan dan dicampur urea sudah jadi pakan ternak,’’ terang Klimun yang menambahkan bahwa kualitas olah pabrik (PKS) PT KLS kualitasnya sama dengan pabrik-pabrik lainnya di wilayah Sumatera. ****

Sumber : http://www.harianmercusuar.com/?vwdtl=ya&pid=2710&kid=all

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Berita dan harga sawit ada di bawah ini :

Kisah Sukses Sugiharti, Petani Berprestasi Nasional 2012

SUGIHARTI merupakan Ketua pada kelompok tani Tunas Karya, Jorong Kurnia Kamang, Nagari Kamang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, terlahir pada tanggal 23 Februari 1969 di Padang Panjang.

Kelompok tani ini juga telah bergabung pada Gapoktan Kerukunan Tani Mandiri. Pendidikan terakhir beliau adalah S1 Ekonomi. Memiliki 3 orang anak dari suami yang bekerja sebagai seorang petani sawit.

Kegiatan yang dilakukan Sugiharti sehari-harinya adalah menjalankan tugas sebagai pengelola usaha tani kelapa sawit seluas 4 ha dengan produktivitas mencapai 5 ton/ha/bulan, kakao seluas 0.5 ha dengan produksi 40 kg/bulan, pinang berjumlah 100 pohon dengan produksi 100 kg/bulan, ternak sapi berjumlah 15 ekor dengan luas kandang 400 m², ternak ayam buras berjumlah 100 ekor dengan luas kandang 48 m², dan ternak itik berjumlah 250 ekor dengan luas kandang 1.600 m².

Ternak sapi beliau juga berintegrasi dengan kebun kelapa sawit miliknya, sehingga dapat saling menguntungkan antara lain kotoran sapinya dapat menjadi pupuk organic di areal kebun kelapa sawit sehingga dapat memperbaiki struktur tanah dan menambah unsur hara tanah, pengendalian gulma pada kebun kelapa sawit dapat berkurang dengan adanya sapi yang memakan rumput-rumputan, sapi dapat digunakan sebagai alat angkut hasil panen buah kelapa sawit melalui gerobak yang ditarik.

Kemudian kebun kelapa sawit dapat menjadi ladang makanan bagi sapi untuk penggemukannya. Selain di bidang pertanian, Sugiharti juga mengelola kolam ikan antara lain ikan lele berjumlah 29.600 ekor dengan luas kolam 296 m², ikan nila berjumlah 8.700 ekor dengan luas kolam 580 m², ikan patin berjumlah 10.000 ekor dengan luas kolam 500 m², dan ikan gabus berjumlah 250 ekor dengan luas kolam 500 m².

Tidak hanya di hulu, Sugiharti juga mengelola industri hilir berupa pengolahan ikan lele asap (salai) dengan produksi 150 kg/bulan. Dalam bidang kehutanan, Sugiharti juga menanam pohon mahoni dan pohon jati masing-masing sebanyak 100 pohon yang ditanam pada sekeliling batas kebun miliknya. Sugiharti dalam mengelola unit usahanya dibantu juga oleh suami dan karyawan yang berjumlah 8 orang.

Dari segi permodalan, Sugiharti pada tahun 1998 mendapatkan kredit dari KKPA (Kredit Koperasi Primer Anggota) sebanyak Rp. 6.500.000,-. Kemudian pada tahun 2008, beliau mendapatkan kredit dari Bank Pembangunan Daerah (Bank Nagari) sebanyak Rp. 50.000.000,-. Selanjutnya pada tahun 2010 mendapatkan pinjaman dari Bank Mandiri sebanyak Rp. 330.000.000,-.

Semua pinjaman tersebut digunakan oleh Sugiharti untuk modal bagi usaha taninya seperti yang telah diuraikan di atas. Dalam perjalanannya, Sugiharti terus bersemangat dalam mengembangkan usaha taninya, terbukti dengan telah banyaknya warga masyarakat lain termasuk di luar daerah yang telah mengikuti jejaknya untuk berkolam ikan.

Saat ini Sugiharti telah mencoba untuk mengembangkan hasil olahan ikan berupa dendeng ikan, abon ikan, crispy ikan, bakso ikan, kerupuk ikan, dan pakan ikan. Pemerintah Daerah melalui Instansi terkait juga memberikan perhatian yang cukup besar kepada Sugiharti dengan mengirim beliau untuk mengikuti pelatihan-pelatihan baik di bidang budidaya pertanian, perikanan maupun hasil olahannya.

Selain itu, hasil olahan yang diusahakan oleh beliau juga selalu diikutkan pada pameran-pameran yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. (M. Iwan Kurniawan, SP – PP Kab. Sijunjung)

Sumber :

http://budidaya-ikan.com/kisah-sukses-sugiharti-petani-berprestasi-nasional-2012/

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Dari Sepeda Kumbang ke Toyota Fortuner (Kisah Sukses Petani Sawit dari Hutan Pelelawan)

 SEPEDA kumbang tua tergantung di dinding. Warnanya kusam, terbalut karat.

“Inilah harta saya satu-satunya saat saya meninggalkan desa, bertransmigrasi ke sini tahun 1990,” kata Suprianto, petani sawit di Kecamatan Pangkalan Lesung, Pelelawan, Riau, kemarin.

Kini, Supri (panggilan akrabnya) ke mana-mana mengendarai Toyota Fortuner yang dibelinya tahun lalu seharga Rp420 juta. Dua mobilnya yang lain digunakan untuk mengangkut hasil panen sawit. Bahkan, dua mobilnya yang lain lagi, diberikan kepada dua anaknya yang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya.

Supri kini jadi simbol petani sukses. Dia menjadi mitra PT Sari Lembah Subur, produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) anak perusahaan PT Astra Agro Lestari (Grup Astra Internasional). PT Sari Lembah Subur memiliki dua pabrik pengolahan CPO di Pelelawan. Pabrik 1 memproduksi 60 ton CPO per jam, pabrik 2 kapasitasnya 30 ton per jam.

Rumah Supri tampak megah senilai sekitar Rp900 juta di Pangkalan Lesung, Riau, mempertegas kesuksesannya. Rumah dua lantai itu kelihatan moncer di tengah kebun sawit. Padahal, rumah itu pada 1990 sangat sederhana, sebagaimana umumnya rumah untuk para transmigran.

Ditanya wartawan, apa kiat suksesnya? Supri tak segera menjawab. Matanya memandang kebun sawit, seolah ia berusaha mengingat-ingat. “Apa, ya,” gumamnya. “Pokoknya, saya kerja terus, pantang menyerah,” katnya.

Supri kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, 1963. Ia mengenyam pendidikan sampai SMP. Dia menyebutnya S-2 “Bukan sarjana, lho, tapi SD dan SMP,” ujarnya ketawa.

Setelah dewasa dia bekerja sebagai kuli bangunan, lantas meningkat jadi tukang bangunan. Kenalan dengan gadis asal Trenggalek, Jawa Timur, bernama Miasih, saat mereka sama-sama main di sebuah lapangan bola di Trenggalek. Mereka pun berpacaran.

Tahun 1988 Supri-Miasih menikah secara sederhana di rumah orang tua Miasih di Trenggalek. “Perayaannya sederhana sekali. Hanya dihadiri keluarga dan sebagian teman kami,” kenang Supri.

Miasih yang mendampingi Supri saat wawancara, tersenyum memandang suaminya yang sedang bercerita. Dia menimpali, “Waktu itu saya masih umur 16,” katanya.

Meski penghasilan Supri tidak stabil, tapi pengantin baru ini tetap bahagia. “Kalau saya dapat garapan (pekerjaan) membangun rumah, kami bisa makan enak. Kalau sepi garapan, kami makan seadanya,” kenang Supri.

Upaya Mengubah Nasib

Tapi, ketika anak pertama mereka, Mawan Haryanto, lahir pada 5 Mei 1990, keluarga muda ini mulai gelisah. “Kalau hidup kita begini terus, bagaimana membiayai sekolah anak kita, Pak?” kata Miasih pada suaminya. Mereka mulai galau.

Supri diberitahu tetangganya bahwa ada empat transmigran di Riau yang balik kampung, meninggalkan rumah jatah transmigrasi. “Tanpa banyak pikir, saya berniat menggantikannya. Kebetulan, isteri mendukung niat ini,” kenangnya.

Tapi, ada biaya administrasi untuk itu. Besarnya Rp350.000. “Saya berusaha sana-sini, akhirnya dapat uang segitu. Maka, kami sekeluarga berangkat,” ceritanya.

Apa saja yang dibawa dari desa? “Pakaian, sedikit perabot dapur, alat pertukangan, dan sepeda kumbang yang biasa saya pakai,” jawabnya. Mawan saat itu masih bayi lima bulan. Mereka diangkut kapal menuju Riau.

Tiba di lokasi, Supri dan isterinya kaget. “Kondisinya sepi di tengah hutan. Jarak dengan tetangga sangat jauh, tidak seperti di Tulungagung,” ceritanya. Supri membawa oblik (lampu minyak) sebab sudah diberitahu bahwa belum ada listrik.

Rumah jatah transmigrasi itu ukuran 5 x 7 meter di atas lahan setengah hektare. Ada satu kamar, ruang tamu, dan dapur. Atap seng, dinding papan, lantai tanah. Di dalam kamar ada balai kayu untuk tempat tidur. Oleh Supri diberi alas tikar untuk tidur mereka.

“Selama seminggu kami tidak bisa tidur nyenyak, sebab tiap malam anak saya selalu nangis, digigit nyamuk,” kenangnya. Siang harinya si bayi tetap tidak bisa tidur, sebab atap seng membuat suhu dalam rumah terasa panas.

“Sampai saya akali dengan membuat bentangan plastik di atas tempat tidur, supaya tidak terlalu panas. Dengan begitu anak saya bisa tidur,” tuturnya.

Bagaimana makanan? “Ada jatah beras dan ikan asin. Tapi, sejak hari kedua saya sudah mulai menanam padi, jagung, palawija di pekarangan. Bibitnya, minta tetangga,” jawabnya.

Kemudian pekerjaan bertanam diserahkan ke isterinya, sedangkan Supri mencari pekerjaan (sebagai tukang bangunan) di Air Molek, sekitar 25 kilometer dari rumahnya. “Saya berangkat pagi buta, numpang truk yang lewat. Pulangnya sore, numpang truk juga,” katanya.

Rejeki dari buah sawit

Sesuai aturan, transmigran mendapat jatah tanah garapan dua hektar, selain setengah hektar pekarangan rumah. Namun, jatah tanah garapan Supri baru dia terima dua tahun kemudian.

Sejak itulah, lahan dua hektar digarap maksimal. “Saya tanami sawit, sebab hasil panen langsung dibeli PT Sari Lembah Subur (SLS). Bibitnya juga pinjam dari SLS,” katanya.

Ekonomi keluarga Supri jadi membaik dengan menjadi petani sawit. Pada 1993 lahirlah anak kedua, Rini Widowati (kini masih kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, sementara Mawan sudah lulus dari almamater yang sama dan bertugas sebagai dokter di Jember, Jatim).

Tak puas menjadi petani sawit, Supri membuka usaha pembuatan bahan rumah tangga dari kayu. Produknya pintu, jendela, kusen, lemari, meja, kursi. Ini sejalan dengan keahliannya sebagai tukang bangunan. Awalnya, dia membuka usaha di halaman rumahnya, pada 2004 dengan empat karyawan. Setahun kemudian dia membuka cabang di Air Molek dengan empat karyawan juga.

Ditanya, berapa omzet usaha usaha itu? Supri tersenyum, enggan menyebut angka. Sedangkan penghasilan dari kebun sawit berapa? Lagi-lagi, ia enggan menyebutkan angka.

Apakah anda punya investasi? “Saya punya kebun sawit 50 hektare di Kalimantan,” jawabnya. Pengelolaanya dia percayakan kepada saudaranya. Total penghasilan Supri sebenarnya melebihi gaji direksi bank swasta tingkat menengah.

Kesejahteraan keluarga Supri terukur ketika dia memperbaiki rumahnya. Pada 2005 (15 tahun sejak dia masuk Riau) Supri sudah punya tabungan lebih dari Rp30 juta.

“Waktu merehab rumah ini (2005), tabungan isteri saya Rp28 juta buat beli bahan bangunan,” kenangnya. Itu belum termasuk ongkos kerja yang dia kerjakan dibantu beberapa tukang dari Jawa Timur. Juga tidak termasuk perabotan kayu yang diproduksi sendiri. Hasilnya, bangunan rumah berlantai dua itu memang tampak megah.

Bagaimana kinerja Supri sebagai pemasok sawit ke PT SLS? “Yang tahu persis sebenarnya pihak KUD Amanah,” jawab Administratur PT SLS, Nyoman Pande Sutantra. “Tapi, melihat kesuksesan dia, mestinya kinerja dia bagus,” tambahnya.

Menurut Nyoman, rata-rata petani pemasok sawit ke PT SLS berkinerja bagus. Kriterianya teruji melalui kualitas sawit yang dipasok ke PT SLS. Jika petani menanam bibit sawit berkualitas bagus, pasti hasilnya bagus juga.

Di kalangan tetangga, Supri dikenal dermawan. “Kalau ada tetangga yang kesulitan, Pak Supri tidak segan-segan membantu,” kata salah seorang tetangganya.

Namun, tidak ada keluarga Supri yang melanjutkan jadi petani sawit. Dua anaknya bakal sama-sama praktek dokter di Jawa Timur, kota kelahiran orang tuanya. Jika Supri sudah tua, tak ada lagi yang melanjutkan usahanya sebagai petani.

Kendati begitu, bagi Supri itu tidak masalah. “Justru bagus. Bapak-ibunya petani, anak-anaknya jadi dokter. Saya bersyukur pada Allah atas semua karunia-Nya ini,” katanya. (iz)

Sumber :

http://harian-pelita.pelitaonline.com/cetak/2013/05/30/dari-sepeda-kumbang-ke-toyota-fortuner

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Jadi Petani Sawit Bisa Beli Fortuner & Land Rover, Wow…!

Zulfi Suhendra – detikfinance

Riau – Kehidupan ekonomi petani kelapa sawit di Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan, Riau tergolong cukup sejahtera. Hanya berkebun kelapa sawit, mereka bisa membangun rumah dan membeli kendaraan roda empat kelas atas seperti Toyota Fortuner, Land Rover dan lain-lain.

“Alhamdulillah saya sudah bisa bangun rumah, banyak juga yang beli kendaraan, Innova, Land Rover, Fortuner, saya sendiri beli Innova, semua dari sawit,” ungkap salah satu petani di Ukui, Riau Sunaryo kepada detikFinance, Rabu (2/5/12).

Sunaryo mengakui dengan menjadi petani sawit, hidupnya lebih sejahtera dibanding pekerjaan sebelumnya petani padi. Ia beralasan dengan berkebun sawit, dalam sebulan ia bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp 16 juta.

“Saya garap 8 hektar, dalam satu hektar rata-rata taruh lah Rp 1,5-2 juta, jadi rata-rata bisa Rp 16 juta,” tutur Sunaryo.

Sunaryo yang telah menggarap sawit selama 24 tahun ini pun telah menunaikan ibadah haji berkali-kali. Ia mengaku, sampai sekarang telah 2 kali pergi haji ke Tanah Suci.

“Alhamdulillah saya sudah naik haji 2 kali, Insya Allah tahun 2013 dengan bapak ibu saya, waktu pertama saya sendiri, kedua saya sama istri dan mertuanya. Bahkan musim haji kemarin, desa ini memberangkatkan 22 kepala keluarga untuk pergi haji, semuanya petani sawit,” sambungnya.

Bahkan, dia telah mampu menyekolahkan anaknya sampai jenjang kuliah. Kenyataan ini bagi kebanyakan petani sawit di Ukui, merupakan hal yang lumrah. “Saya bisa menyekolahkan anak, anak saya kuliah di Semarang. Untuk anak petani disini semua yang sudah tamat SMA , pasti masuk kuliah,” kata Sunaryo.

Berdasarkan pengamatan detikFinance, rata-rata taraf hidup perekonomian penduduk sekitar Ukui, Riau terlihat sangat berkecukupan. Hal ini ditandai dengan banyaknya rumah mewah tegak berdiri milik petani yang berdampingan dengan luasnya perkebunan sawit.

Sumber : http://finance.detik.com

-

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”