Sukses di Kebun Sawit, Syarif Raup 8-17 Juta Perbulan

ENAM tahun lalu, Syarif (40) adalah petani yang menanam singkong, kelapa, dan kakao. Kini, ia adalah salah satu petani kelapa sawit yang sukses. Mulai tahun lalu, Syarif telah menikmati panen sawit dari kebun yang luasnya sekitar 8 hektare di Desa Margamulya, Kecamatan Bumiagung, Lampung Timur. Lahan tersebut terletak di tengah areal perladangan di atas perbukitan.

Dari kebunnya, setiap bulan, Syarif bisa panen 7–8 ton. Tanaman itu sendiri sudah mulai panen sejak umur tiga tahun, tapi saat itu hasilnya belum memuaskan. More

Petani Sawit dari Semarang, Sukses Lewat Transmigrasi

Sawit-centre.com, Sumatera Barat-Banyak cara untuk mecapai kesuksesan. Termasuk Pujiyono penduduk asal Semarang, Jawa Tengah yang lebih memilih menjadi petani sawit di Desa Sungai Pulai, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat untuk menggapi kesuksesan.

Pujiyono petani sawit asal Sumatera Barat ini mulai menampakan hasilnya setelah menjadi petani sawit transmigran selama 20 tahun lamanya. Mulanya menjadi petani transmigran dengan mendapatkan lahan seluas 2,5 hektar.

Tapi ternyata lahan yang didapatkannya adalah lahan gambut, sehingga tak heran jika lahan yang digarap sulit untuk dijadikan lahan pertanian. “Tanah gambut sulit diolah karena airnya berwarna coklat, bahkan kita mandi airnya pun berwarna coklat,” keluh pujiyono.

Walhasil untuk menutupi kebutuhan hidup, sehari-harinya masih mengadahkan tangan dari pemerintah seperti beras, gula, minyak goreng, telur ayam, dan lain-lain.

Namun sebagai seorang transmigran tidak boleh patah arang. Hingga akhirnya di tahun 1997, mendapat kesempatan mengikuti program kredit untuk menanam dan mengembangkan benih kelapa sawit yang dikeluarkan Bank BRI. Terbukti tanaman sawit yang ditanam di lahan gambut hasilnya lebih baik daripada tanaman lainnya.

“Hasilnya saya dapat menyekolahkan dua anak saya. Saya juga sudah dapat membeli mobil dan rumah pribadi untuk keluarga,” ungkap Pujiyono.

Kesuksesan tidak sampai disitu saja. Di tahun 2012 dicobanya untuk mendaftar menjadi seorang Wali Nagari karena pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan memekarkan beberapa wilayah di perbatasan dengan provinsi Bengkulu menjadi 10 Nagari. Ternyata berhasil terpilih untuk masa jabatan 2012-2018.

“Saat ini saya membawahi 135 kepala keluarga atau sekitar 1600 jiwa di Nagari Sungai Pulai. Mereka berasal dari beberapa kabupaten di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan sekitar 20% warga lokal,” pungkas Pujiyono.

Sumber :
http://www.sawit-centre.com/index.php?option=com_content&view=article&id=348&catid=25&Itemid=27

Baca juga kisah-kisah sukses petani lainnya, berita dan harga sawit di bawah ini :

Harga TBS Sawit Bulan Oktober 2013 Sumatera Utara

  • Harga TBS di tingkat petani di Sumatera Utara pada bulan Oktober 2013 rata-rata : Rp   1.200 /Kg

Sumber : Teman-teman di Facebook DaunHijau.

Untuk Daftar Lengkap Informasi Harga TBS kelapa sawit di wilayah Indonesia klik di bawah ini :

“Info Harga Buah Kelapa Sawit”

Suripno, Petani Nanas Sukses dari Desa Meskom

Kebun Nanas ada di Dusun V Simpang Ayam Desa Meskom Bengkalis

Kebun Nanas ada di Dusun V Simpang Ayam Desa Meskom Bengkalis

Berbekal pengalaman yang dimilikinya, Suripno nekat membangun kebun nanas di tengah perkebunan sawit. Dia pernah dibilang orang gila.
Perjalanan menuju Desa Meskom dari Kota Bengkalis butuh waktu sekitar 1,5 jam. Lamanya waktu bukan cuma penghalang, karena sampai di Desa Meskom, Bengkalis, jalan tanah harus dilalui dari Jalan Selangat yang merupakan jalan utama di Desa Meskom.
Struktur tanah gambut yang lembek dan berlumpur kala musim hujan membuat perjalanan makin tak mudah. Lantas terbersit dalam pikiran, orang gila mana yang buat kebun nanas di tanah seperti ini. Jauh dari pemukiman dan berada di tengah-tengah kebun sawit. Setelah melewati jalan setapak sekitar 5 KM, pemandangan unik pun terlihat. Sebuah areal kebun nanas terhampar di tengah himpitan kebun sawit.
Adalah Suripno, warga Dusun V Simpang Ayam Desa Meskom Kecamatan  Bengkalis yang sejak 2000 lalu membuka areal kebun nanas itu. Bersama teman-temannya dia juga mendirikan Kelompok Petani Rantau Bertuah yang kini mengelola kebun nanas di Desa Meskom.

“Dulu ini hutan belantara, lahan ini dulu lahan buangan, makanya tak ada yang mau ngolah, tahun 2000 saya datang kesini saya buka lahan sampai jadi seperti ini,” kata Suripno seraya mempersilahkan masuk ke gubuknya.

Petani Nanas Sukses - Suripno

Petani Nanas Sukses – Suripno

Suripno bercerita, awalnya keputusan dia membuat kebun nanas dicibir kerabatnya. Bahkan istrinya pun menentang karena dianggap kerja sia-sia. Maklum, lahan yang mau dibuat kebun nanas adalah hutan belantara yang tak ada satu orang pun mau mengolahnya dan dikepung areal perkebunan sawit PT Agro Sarimas.

“Orang-orang bilang saya gila, buka hutan cuma untuk makan babi sama beruk yang lapar. Saya pikir daripada tanah tu semak resam (tumbuh ilalang) lebih baik semak pemakan (buah yang tumbuh) karena saya cuma punya ilmu tanam nanas ya saya tanam saja nanas di tanah ini,” kenangnya.

Suripno memang tunak di nanas. Sejak 1984 dia sudah bekerja di sebuah perkebunan nanas di Malaysia. Tahun 1990 dia balik ke Riau tapi tetap bekerja sebagai petani nanas di Desa Kualu, kecamatan Tambang, Kampar. Kemudian ia memutuskan pulang ke Desa Meskom, Bengkalis tahun 2000.

Meski orang-orang mencibirnya, Suripno tetap teguh. Dia kerja keras dari pagi sampai sore hari membuka lahan. Pepohonan dan semak belukar pun diterabasnya. Setelah lahan bersih, dia tanam bibit nanas yang dibeli dari Wonosari Barat, Bengkalis dengan uang Rp 7 juta yang juga untuk beli pupuk.

Setelah 3 tahun, kebun seluas 2 hektar itu pun menampakkan hasil. Kini dari kebun nanasnya itu Suripno mampu memanen rata-rata 6 ribu buah perbulannya. Bahkan tahun lalu Suripno pernah panen hingga 46 ribu buah nanas mulai bulan 6 sampai bulan 11.
Harga nanas dia patok Rp 2 ribu perbuah, tergantung ukurannya. Alhasil pendapatan Suripno bisa mencapai Rp 12 juta sebulan, atau sekitar Rp 6-8 juta jika sudah dikeluarkan biaya pupuk dan upah pekerja.

Berkat kebun nanasnya, Suripno kini berjasa kepada penduduk sekitar karena mampu membuka lapangan kerja. Total ada 9 pekerja yang menggantungkan hidup dari kebun nanas Suripno. Meski sudah erhitung sukses. “Sekarang kalau ada yang tanya kok bisa berhasil, saya jawab kalau gak gila saya gak akan berhasil,” ucap bapak 3 anak ini seraya tertawa.

Meski sudah terhitung sukses, Suripno tak pelit berbagi ilmu dengan para koleganya. Dia juga rela membuat akses jalan sendiri ke kebunnya meski harus habiskan uang Rp 4 juta dari koceknya sendiri.

“Saya buka jalan sendiri sekitar 1 KM pakai papan untuk keluarkan nanas saya ke Jalan Selangat. Saya gak mau dibilang masayarakat dapat duit dari kebun tapi biarkan jalan rusak saya mau masyarakat juga nikmati hasil kebun nenas saya ini, siapa saja boleh lewat jalan saya ini yang terbuat dari papan.

Soal pemasaran nanasnya, Suripno tak ambil pusing. Jauh hari sebelum dipanen sudah banyak para pedagang pasar di Bengkalis, bahkan dari Batam juga Malaysia memesan nanasnya.
Pernah permintaan 4 ribu nanas dalam seminggu dengan sistem kontrak ditolaknya karena khawatir tak sanggup memenuhinya.
Kini, untuk makin membesarkan areal kebunnya, Suripno mengajak masyarakat sekitar bergabung dengan membentuk Kelompok Petani Rantau Bertuah.
Kisah sukses Suripno mengelola kebun nanas membuat orang—orang berduit datang menawarinya untuk bekerja sama.

“Memang banyak donatur yang mau biayai, tapi saya tak mau terikat.Saya tak mau waktu orang kampung sini butuh nanas saya tak bisa kasih. Pernah saya ditawari kelola kebun sama toke tapi saya tak mau karena saya mau mengabdikan ilmu saya sama adik-adik di kampung ini, biarlah saya hidup sederhana disini asalkan ilmu saya bisa diturunkan untuk orang disini,” tuturnya.

Kepada Pemerintah dia berpesan agar petani seperti dirinya, diberikan pembinaan untuk mengelola usaha. Baginya, bantuan pembinaan manajemen usaha sangat dibutuhkan supaya petani lokal bisa menembus pasar global.

“Memang saya pernah dibantu Pemda Bengkalis berupa pupuk sebanyak 6 ton, saya ucapkan terima kasih banyak. Tapi itu saja tidak cukup untuk membesarkan petani. Kalau mau besar, petani harus dibina, diarahkan karena petani seperti saya ini kan tahunya ada orang beli ya saya jual.

(sumber: http://riaubisnis.com/index.php/profile-allnews/profile-blognews/6149-suripno-petani-sukses-dari-desa-meskom)

Kisah Sukses Para Petani : Mandiri berkat Kelapa Sawit

Mohammad Hilmi Faiq

Belasan petani kelapa sawit berkumpul di rumah Aziz Purba (52) di Desa Banjaran Godang, Kecamatan Kotarih, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Minggu (18/12). Mereka tengah berdiskusi dan mencari solusi agar para petani kelapa sawit terus maju. Aziz adalah salah satu contoh petani kelapa sawit yang sukses.

Dia berbagi tips dan strategi bertani kelapa sawit (Elais guineensis jacq).

Aziz mengenal tanaman dengan pelepah berduri ini sejak 1987 ketika dia bekerja sebagai pegawai di perkebunan kelapa sawit milik pengusaha berdarah China. Tahun 1997, dia mulai berupaya mandiri dengan membeli lahan seluas 2 hektar seharga Rp 20 juta.

Lahan ini masih berupa belantara yang ditumbuhi semak, rumput, dan ilalang. Dia lantas membersihkannya dan menanaminya dengan bibit kelapa sawit.

Empat tahun kemudian, kebunnya mulai berbuah dan panennya melimpah. Hasilnya mencapai 3 ton sampai 4 ton per bulan.

Kebun ini tergolong produktif untuk ukuran kebun kelapa sawit petani. Rata- rata kebun kelapa sawit petani hanya menghasilkan 1,5 ton per bulan. Padahal potensinya dapat mencapai 2,5 ton-3 ton per bulan.

”Kalau pupuknya bagus, hasilnya juga bagus,” kata Aziz, yang menerapkan pemberian pupuk minimal 2 kilogram per tahun per pohon.

Dari hasil panen yang melimpah itu, Aziz menambah investasinya dengan memperluas lahan kebun kelapa sawit. Sejak 2008, lahannya telah mencapai 12 hektar dengan hasil panen rata-rata 1,5 ton per bulan per hektar.

Untuk mengembangkan usahanya, Aziz merangkap sebagai tengkulak tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dari petani. Setidaknya dia memperoleh keuntungan Rp 30 per kilo- gram dengan omzet mencapai 300 ton per hari.

Awal tahun depan, Aziz membangun gudang TBS di atas lahan seluas 1.200 meter persegi persis di samping rumahnya. Bapak tiga anak ini telah menyiapkan modal Rp 700 juta yang antara lain untuk membeli mesin timbang dan bangunan fisik gudang. ”Kalau ada gudang, TBS bisa saya simpan beberapa hari seandainya pabrik kelapa sawit telah memenuhi kuota,” ujarnya.

Sudarto (47) mencoba mengikuti langkah sukses Aziz. Lima tahun lalu dia membeli 3 hektar lahan kelapa sawit seharga Rp 75 juta. Kebetulan saat itu ada pembagian bibit kelapa sawit dari sebuah partai politik yang tengah berkampanye. Sudarto memperoleh jatah 250.000 bibit. Bibit lainnya dia upayakan dengan cara membeli secara mandiri.

Sekarang dia sudah mulai panen dengan hasil 4,5 ton sampai 6 ton per bulan. Sebagian uang hasil panen dia gunakan untuk menutupi kebutuhan seharai- hari. Sisanya dia tabung untuk memperluas lahan kelapa sawitnya. ”Semoga saja bisa sesukses Pak Aziz,” kata Sudarto.

Sunardi (47), warga yang tinggal di Desa Dolok Menampang, Kecamatan Dolok Masihul, pun sukses berkebun kelapa sawit. Awalnya dia hanya menyewa lahan seluas 2 hektar sejak 1988. Tahun 1999, pemilik lahan memintanya untuk membeli lahan yang disewa itu.

Usahanya terus berkembang dan kini Sunardi memiliki 60 hektar kebun kelapa sawit di tiga tempat berbeda. Nilai asetnya itu mencapai Rp 12 miliar. Beberapa pengusaha berniat membeli kebun itu, tetapi Sunardi menolaknya. ”Saya menjaganya agar anak-anak saya nanti hidupnya enak,” ujarnya.

Tak banyak bantuan

Di Serdang Bedagai terdapat 11.865,86 hektar lahan kelapa sawit milik petani. Sebanyak 9.495,48 hektar merupakan kebun produktif (menghasilkan). Sisanya, seluas 2.551,51 hektar tidak produktif lantaran sudah terlalu tua atau terlalu muda usia tanamannya.

Data Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Serdang Bedagai menunjukkan, jumlah petani kelapa sawit mencapai 12.409 jiwa. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Kabupaten Serdang Bedagai, Mohammad Sofyan Daulay, memperkirakan, 1.700 petani di antaranya telah sukses. Salah satu indikasinya, mereka memiliki lebih dari 5 hektar kebun kelapa sawit per orang.

Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Serdang Bedagai Mega Hadi menjelaskan, pihaknya tidak memberikan bantuan finansial kepada petani kelapa sawit. Bantuan yang mereka berikan berbentuk pelatihan dan penyuluhan tentang pola bertani yang benar dan produktif. Dananya Rp 200 juta per tahun.

Pelatihan dan penyuluhan yang mereka gelar sejak tiga tahun terakhir itu efektif untuk membentengi petani dari penjualan bibit ataupun pupuk palsu. Sebelumnya, banyak kebun kelapa sawit petani yang produksinya tidak maksimal lantaran bibit dan pupuknya palsu.

Bantuan lainnya berupa rekomendasi. Petani yang hendak membeli bibit dari perusahaan besar, seperti PT Socfindo, misalnya, mendapat rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serdang Bedagai. Berbekal surat rekomendasi itu, petani memperoleh fasilitas pemotongan harga bibit sebesar 10 persen.

”Bantuan lain kami berikan untuk membangun infrastruktur perkebunan, seperti pembangunan jalan produktif. Jumlahnya Rp 2 miliar per tahun dari dana Bantuan Daerah Bawahan Provinsi Sumatera Utara,” ujarnya.

Dengan pembangunan jalan produktif itu, petani bisa langsung mengangkut hasil panennya menggunakan truk. Mereka tidak perlu lagi membawa kereta dorong yang lebih memakan waktu dan tenaga.

Pajak lancar

Dia menambahkan, Pemkab Serdang Bedagai tidak membebani retribusi atau pajak bagi petani kelapa sawit. Oleh karena itu, tak ada pendapatan asli daerah dari sektor kelapa sawit. Namun, peningkatan kesejahteraan para petani kelapa sawit ini langsung berdampak pada kelancaran pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan di Kabupaten Serdang Bedagai. Saat hasil panen melimpah, petani taat pajak. Begitu juga sebaliknya.

Sumber : http://nasional.kompas.com

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”