Candi Plumbangan

    Candi Plumbangan berlokasi di dekat Wlingi di tengah Desa Plumbangan, Kecamatan Doko. Sebetulnya situs ini bukan candi melainkan sebuah pintu gerbang mirip candi Jedong. Candi ini terdapat penanggalan yang bertuliskan tahun saka 1312 (1390 M). Kata juru kuncinya pernah ada wihara di lokasi ini pada zaman dahulu. Candi Plumbangan mempunyai pintu masuk seperti candi-candi lainnya dan terdapat sebuah atap yang berbentuk trapezium.

Tidak banyak cerita dan sumber yang mengulas tentang candi ini mungkin bentuknya yang kurang menarik sehingga situs candi ini tidak mendapat tempat di hati para wisatawan maupun para peneliti. Disamping itu lokasi ini dikelilingi rumah-rumah dan terletak tidak jauh dari jalan raya Malang-Blitar. Menurut juru kunci yang ada di lokasi tersebut situs ini sudah tidak lagi digunakan dalam hal keagamaan. Beliau sangat senang sekali kalau ada pengunjung yang datang baik asing maupun domestik.(IvanS)

Artikel Terkait dan Artikel Lain :

Candi Badut

Candi Badut mungkin yang ada dalam pikiran anda dan saya (sebelum baca artikelnya) mungkin adalah sebuah candi yang di dalamnya terdapat patung mirip badut. Ternyata apa yang ada dalam pikiran anda tersebut tidak benar. Kata Badut di sini berasal dari bahasa sansekerta yaitu “Bha-dyut” yang mempunyai arti sorot Bintang Canopus atau Sorot Agastya. Hal itu terlihat pada ruangan induk candi yang berisi sebuah pasangan arca tidak nyata dari Siwa dan Parwati dalam bentuk lingga dan yoni. Pada bagian dinding luar terlihat relung-relung yang berisi arca Mahakal dan Nadiswara. Pada relung sebelah utara terdapat arca Durga Mahesasuramardhini. Sedangkan bagian relung timur terdapat arca Ganesha. Dan disebelah relung selatan terdapat arca Agastya yakni Syiwa sebagai Mahaguru. Akan tetapi saat ini hanya arca Durga Mahesasuramardhini saja yang masih ada.

Candi badut ini berlokasi di daerah Tidar, kota Malang. Anda ataupun para wisatawan bisa menempuh dengan kendaraan umum jurusan Tidar. Candi ini diperkirakan berusia lebih dari 1300 tahun dan disinyalir peninggalan Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruhan seperti yang tercantum dalam prasasti Dinoyo yang menunjukkan tahun 760 Masehi.

Mula-mula candi ini ditemukan pada tahun 1921 dimana bentuknya pada saat itu hanya berupa gundukan bukit batu, reruntuhan dan tanah. Orang pertama yang memberitahukan keberadaan Candi Badut adalah Maureen Brecher, seorang warga negara Belanda kebetulan ia seorang kontrolir yang tinggal di Malang. Candi Badut dibangun kembali pada tahun 1925-1927 di bawah pengawasan B. De Haan dari bagian kepurbakalaan Hindia Belanda. Dari hasil penggalian yang dilakukan pada saat itu diketahui bahwa bangunan candi telah runtuh sama sekali, kecuali bagian kaki.

Candi badut ini pernah dilakukan pemugaran yakni pada tahun 1990-1993 oleh Kanwil Depdikbud dan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur, melalui Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur, yang dilaksanakan secara bertahap. Upaya pelestarian dan pembinaan Benda Cagar Budaya ini dilakukan agar warisan budaya kita tetap lestari yang dapat menunjukkan jati diri kita sebagai bangsa yang berbudaya serta dapat menarik para wisatawan baik dalam negeri maupun manca negara. (IvanS)

Artikel Terkait dan Artikel Lain :

Candi Panataran

    Candi Panataran adalah sebuah candi peninggalan agama Hindu. Candi ini lokasinya di Jawa Timur, tepatnya di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar. Kompleks candi ini merupakan komplek candi terbesar di Jawa Timur. Candi ini mulai dibangun dari Kerajaan Kediri dan masih dipergunakan pada zaman Kerajaan Majapahit. Candi Penataran ini merupakan simbol kebesaran pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur.

Candi Penataran ini iduga adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada sekitar  tahun 1194 oleh Raja Syrenggra dengna gelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Srengalancana Digwijayottungadewa yang menguasai kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200. Candi ini diduga sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menghindar dari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus. Dalam kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan bahwa perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang menjaid raja kerajaan Majapahit antara tahun 1350 – 1389, melakukan perjalanan ke Candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapati yang berwujud Girindra (raja penguasa gunung).

Memang cerita tentang candi Panataran ini tak bisa lepas dari awal berdirinya kerajaan Singasari yaitu Ken Arok. Menurut cerita yan bergulir kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakretagama dengan nama Ken Arok yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa Candi Penataran adalah tempat pendharmaan (perabuan) Ken Arok, nama Girindra juga adalah nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain wangsa Rajasa dan wangsa Warddhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan (khodam) sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok.

Begitulah relief yang terkandung dalam candi panataran ini. Bercerita tentang tokoh yang menjadi objek dari candi itu sendiri. Selain sebagai komplek percandian terluas, Candi Penataran juga memiliki ciri khas dalam ikonografi reliefnya. Gaya reliefnya menunjukkan bentuk yang jelas berbeda dari candi-candi yang ada di Jawa Tengah dari sebelum abad ke-11 seperti Candi Prambanan. Wujud relief manusia digambarkan mirip wayang kulit. Hal ini juga bisa dijumpai pada gaya pengukiran yang ditemukan di Candi Sukuh, suatu candi dari masa akhir periode Hindu-Buddha dalam sejarah Nenek moyang kita. (IvanS)

Artikel Terkait dan Artikel Lain :

Candi Sadon

    Candi Sadon berlokasi di Dusun Sadon, Desa Cepoko, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Walaupun nama candi tersebut adalah Candi Sadon, sama dengan nama dusun tempatnya berada, namun warga setempat lebih mengenalnya dengan nama Candi Reog, karena di reruntuhan Candi Sadon terdapat Kalamakara, arca raksasa Kala yang wajahnya mirip dengan kepala harimau pada ‘dhadhakmerak’. Dhadhakmerak adalah topeng kepala harimau yang dihiasi dengan susunan bulumerak disekelilingnya. Topeng ini merupakan atribut tokoh Singabarong dalam kesenian reog. Topeng dhadak merak yang berat keseluruhannya antara 30-40 kg tersebut biasanya dikenakan oleh penari Singabarong.

Tidak banyak informasi yang mengulas atau referensi mengenai Candi Reog, walaupun bangunan kuno ini telah ditetapkan sebagai salah satu situs purbakala. Menurut cerita candi ini merupakan peninggalan Raja Airlangga, namun tidak diketahu kapan tepatnya dan untuk apa candi tersebut dibangun. Bahkan pemugaran terhadap candi ini tampaknya juga belum pernah dilakukan, melihat kondisinya yang tinggal berupa kumpulan batu reruntuhan.

Di samping itu, di areal tersebut juga didapati tiga batu bertulis. Menurut penjelasan dari salah seorang staff  Dinas Sejarah dan Purbakala Kabupaten Magetan, tulisan di ketiga batu tersebut berbunyi A-PA PA-KA-LA, SA DA PA KRA-MA dan BA DA SRI-PA SA-BA DA-HA-LA. Dari tulisannya yang berbentuk balok atau kwadrat, diperkirakan bahwa batu bertulis tersebut berasal dari masa yang sama dengan prasasti yang diketemukan di Dusun Pledokan, Kediri, Jawa Timur. (IvanS)

Artikel Terkait dan Artikel Lain :

Candi Kalicilik

Candi Cilik lokasinya ada di Desa Candirejo Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar Jawa Timur. Berada + 16 km dari pusat Kota Blitar. Bangunan Candi dengan susunan batu bata merah ini merupakan peninggalan agama candi Hindu, hal tersebut ditandai dengan jenis arsitektur bangunannya. Letaknya tepat ditepi utara jalan kampung, sebelah kanan kirinya merupakan rumah penduduk setempat. Karena merupakan candi yang berdiri sendiri, maka luas areal kompleks candinya kuranglebih 40 m2.

Sedangkan untuk memberikan pengamanan terhadap keberadan candi dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab, di sekeliling bangunan dipasang pagar kawat berbentuk persegi mengelilingi candi. Selain itu kompleks di sekitar candi terlihat bersih dan menarik dengan hamparan rumput hijau, pada bagian depan candi terdapat sebuah pos. Tidak terlalu sulit untuk menemukan candi ini, kita tinggal menepi dari jalan maka kita akan dapat melihat seluruh bentuk bangunan candi.

Sebagai situs berharga, Candi Kalicilik seharusnya dikelola dengan baik oleh PemKab Blitar sebagai salah satu tujuan wisata daerah. Dukungan fasilitas wisata seperti lahan parkir, toko souvenir dan fasilitas lainnya juga belum tersedia secara memadai di candi ini.

Itulah sebagai gambaran mengenai Candi Kalicilik untuk saat ini, memang tak ada kemegahan yang mencolok pada bangunan ini, namun kita tentu boleh bangga dengan keberadaan peninggalan bukti sejarah ini. Paling tidak candi ini memberikan bukti kuat bahwa pada zaman dahulu peradaban nenek moyang kita terbentuk dan berkembang.

Artikel Terkait dan Artikel Lain :