Beranda

Pelageya (Cerpen Mikhail Zoshchenko)

Pelageya adalah seorang perempuan yang buta huruf. Bahkan menulis namanya sendiripun ia tidak bisa.

Di lain pihak, suaminya adalah seorang pegawai Sovyet yang bertanggung jawab. Meskipun dulunya hanya seorang petani biasa yang sederhana, namun setelah tinggal selama lima tahun di kota pria itu telah belajar banyak. Bukan hanya bagaimana menulis namanya sendiri tapi juga banyak hal‑hal lainnya.

Dan pria itu sangat malu memiliki seorang istri yang buta huruf.

“Kau, Pelageyushka, paling tidak harus bisa menulis namamu sendiri,” katanya kepada Pelageya. “Nama terakhirku pun cukup mudah. Hanya dua suku kata, Kuch‑kin. Namun kau tetap tak bisa menulisnya. Payah.”

Namun Pelageya tak pernah peduli. “Tak ada gunanya bagiku mempelajarinya sekarang ini, Ivan Nikolaevich,” begitulah jawa­bannya selalu. “Umurku makin tua. Jari‑jariku semakin kaku. Untuk apa aku belajar membuat huruf‑huruf itu sekarang? Biar yang muda‑muda saja yang belajar. Biarlah di usiaku ini aku apa adanya begini saja.”

Suami Pelageya adalah seorang yang amat sibuk sehingga tidak dapat membuang banyak waktu untuk meladeni istrinya. Ia hanya menggeleng‑gelengkan kepalanya seakan berkata, “Oh, Pela­geya, Pelageya!” Akan tetapi mulutnya tetap diam.

Namun suatu hari Ivan Nikolaevich membawa pulang sebuah buku kecil yang istimewa.

“Ini, Polya,” katanya, “adalah buku latihan membaca metode CBSA terbaru, berdasar metode yang paling up‑to‑date. Akan kua­jari caranya.”

Pelageya tertawa dalam hati, diambilnya buku itu, dibalik lalu disembunyikannya di lemari rias, seakan berkata, “Biarlah dia di situ. Barangkali cucu‑cucu kita kelak memerlukannya.”

Tapi pada suatu hari Pelageya sedang duduk bekerja. Ia harus menambal jaket Ivan Nikolaevich yang lengannya berlobang.

Pelageyapun duduk di depan meja. Ia mengambil jarum dan meletakkan tangannya di bawah jaket ketika mendengar ada sesuatu yang bergemerisik.

“Mungkin uang,” pikir Pelageya.

Dia mencari‑cari lalu menemukan sepucuk surat. Surat yang cantik beramplop manis. Ada tulisan tangan yang kecil‑kecil dan rapi, dari kertasnya pun tercium bau parfum yang wangi.

Jantung Pelageya tersentak.

“Mungkinkah Ivan Nikolaevich menipuku?” batinnya. “Mungkin­kah ia bertukar surat‑surat cinta dengan para wanita terpelajar dan melecehkan istrinya yang bodoh dan buta huruf ini?”

Pelageya memperhatikan amplop itu, mengeluarkan suratnya dan membuka lipatannya. Tapi karena buta huruf maka tak satu katapun yang dapat dibacanya. Baru kali inilah seumur hidupnya ia merasa menyesal karena tak dapat membaca.

“Meskipun ini barangkali surat orang lain,” pikirnya, “aku tetap harus tahu apa isinya. Barangkali seluruh hidupku akan berubah dan aku akan kembali ke desa dan bekerja sebagai petani.”

Pelageya menangis dan mulai berpikir bahwa Ivan Nikolaevich telah berubah akhir‑akhir ini. Ia kini lebih rajin merawat ku­misnya dan lebih sering mencuci tangannya. Pelageya duduk sambil memperhatikan surat itu dan mendengking seperti seekor babi yang sedang dibunuh dengan cara ditusuk. Tapi apa daya ia tak dapat membaca surat itu. Sementara kalau menunjukkannya kepada orang lain ia merasa malu.

Pelageya menyembunyikan surat tadi di dalam lemari rias, lalu menyelesaikan pekerjaan menjahitnya dan menunggu Ivan Niko­laevich pulang ke rumah.

Namun ketika suaminya telah tiba ia sama sekali tidak menunjukkan bahwa telah terjadi sesuatu. Sebaliknya, ia justru berbicara kepada suaminya dengan nada suara yang tenang dan bahkan mengisyaratkan bahwa ia tidak berkeberatan untuk belajar sedikit dan merasa sudah jenuh menjadi orang awam yang bodoh dan buta huruf.

Ivan Nikolaevich sangat gembira mendengarnya. “Bagus!” katanya. “Nanti akan kutunjukkan bagaimana caranya.”

“Baik, ayolah!” sahut Pelageya.

Dan iapun memandang lekat‑lekat ke arah kumis tipis Ivan Nikolaevich yang terpangkas rapi.

Selama dua bulan Pelageya berlatih membaca setiap hari. Dengan sabar diejanya kata‑kata, belajar membuat huruf‑huruf, dan menghafalkan kalimat‑kalimat. Dan setiap sore diambilnya surat simpanan itu dari lemari rias dan berusaha menguraikan rahasia makna‑maknanya.

Tapi hal itu tidak gampang. Barulah pada bulan ketiga kemampuan Pelageya lancar.

Pada suatu pagi ketika Ivan Nikolaevich telah pergi beker­ja, Pelageya mengambil surat itu dari lemari rias dan mulai membacanya.

Ia mengalami kesukaran memahami tulisan tangan yang kecil‑kecil, namun bau parfum yang hampir hilang dari kertas itu telah memacunya untuk terus. Surat itu dialamatkan kepada Ivan Nikolae­vich. Pelageya membaca:

Kepada Kamerad Kuchkin,

Kukirimkan buku latihan membaca yang dulu kujanjikan. Kurasa istrimu bisa menguasai pengetahuan yang luas ini dalam waktu dua atau tiga bulan. Berjanjilah kepadaku untuk membujuknya, Bung. Buat dia mengerti betapa sialnya menjadi seorang perempuan awam yang buta huruf.

Untuk merayakan ulang tahun Revolusi, kita sedang mengha­puskan buta huruf di seluruh Republik dengan segala cara. Namun karena sesuatu hal kita justru lupa terhadap orang‑orang yang dekat dengan kita.

Aku yakin kamu pasti bisa, Ivan Nikolaevich.

Salam komunis

Maria Blokhina

Pelageya membaca seluruh isi surat itu dua kali. Lalu dengan perasaan sedih ia menekankan kedua bibirnya dan entah bagaimana diam‑diam merasa terhina. Tiba‑tiba air matanya jatuh berlinang.

MIKHAIL ZOSHCHENKO (1895‑1958) adalah salah seorang penulis humor paling populer di Rusia selain Chekov. Tulisan‑tulisannya yang tajam mengenai gambaran kehidupan di Soviet kadang‑kadang membawa kesulitan bagi dirinya dengan para penguasa. Cerita ini disadur dari terjemahan Bahasa Inggrisnya oleh Syafruddin HASANI.

Matinya Seorang Pegawai Negeri (Anton Chekov)

SATU malam yang baik, seorang pegawai pemerintah yang berkecukupan bernama Ivan Dmitritch Tchervyakov duduk di baris kedua dari warung, menatap melalui kaca opera di Cloches de Corneville. Dia menatap dan merasa di puncak kebahagiaan. Tapi tiba-tiba. . . . Dalam cerita-cerita yang begitu sering bertemu dengan “Tapi tiba-tiba.” Para penulis benar: hidup ini begitu penuh kejutan! Tapi tiba-tiba wajahnya mengerut, matanya menghilang, napasnya ditangkap. . . ia mengambil gelas opera dari matanya, membungkuk dan. . . “Aptchee!” ia bersin seperti yang Anda rasakan. Hal ini tidak tercela bagi siapa saja untuk bersin di mana saja. Petani bersin dan begitu pengawas polisi, dan bahkan kadang-kadang anggota dewan jamban. Semua pria bersin. Tchervyakov itu tidak sedikit bingung, ia mengusap wajahnya dengan saputangan, dan seperti orang sopan, melihat sekeliling untuk melihat apakah ia terganggu oleh salah satu bersin nya. Tapi kemudian ia diliputi kebingungan. Ia melihat bahwa seorang pria tua yang duduk di depannya di baris pertama dari kios-kios dengan hati-hati menyeka kepala botaknya dan lehernya dengan sarung tangan dan bergumam sesuatu untuk dirinya sendiri. Pada pria tua, Tchervyakov diakui Brizzhalov, seorang jenderal sipil bertugas di Departemen Transportasi.

“Saya telah terpercik kepadanya,” pikir Tchervyakov, “dia bukan kepala departemen saya, tapi tetap saja canggung. Saya harus minta maaf.”

Tchervyakov memberi batuk, membungkuk seluruh dirinya ke depan, dan berbisik di telinga sang jenderal.

“Maaf, Yang Mulia, saya terpercik Anda secara tidak sengaja ….”

“Sudahlah, tidak apa-apa.”

“Untuk kebaikan demi alasan saya, saya … Saya tidak bermaksud.”

“Oh, silakan, duduk! Biarkan aku mendengarkan!”

Tchervyakov malu, dia tersenyum bodoh dan jatuh ke menatap panggung. Dia menatap itu tapi perasaan tidak lagi kebahagiaan. Dia mulai terganggu oleh kegelisahan. Dalam interval, ia pergi ke Brizzhalov, berjalan di sampingnya, dan mengatasi rasa malunya, bergumam:

“Aku terpercik Anda, Yang Mulia, maafkan aku … kau lihat … Aku tidak melakukannya untuk ….”

“Oh, itu sudah cukup … aku lupa itu, dan Anda terus tentang hal itu!” kata umum, bergerak bibir bawahnya sabar.

“Dia telah lupa, tapi ada lampu jahat di matanya,” pikir Tchervyakov, melihat curiga pada umumnya. “Dan dia tidak ingin berbicara. Aku harus menjelaskan kepadanya … bahwa saya benar-benar tidak berniat … bahwa itu adalah hukum alam atau dia akan berpikir aku bermaksud meludahi Dia. Dia doesn ‘t berpikir begitu sekarang, tapi dia akan berpikir begitu nanti! ”

Pada mendapatkan rumah, Tchervyakov mengatakan kepada istrinya pelanggaran nya sopan santun. Terlintas bahwa istrinya butuh waktu terlalu sembrono pandangan insiden; dia sedikit takut, tapi ketika dia belajar bahwa Brizzhalov berada di departemen yang berbeda, dia meyakinkan.

“Namun, Anda sebaiknya pergi dan meminta maaf,” katanya, “atau dia akan berpikir Anda tidak tahu bagaimana berperilaku di depan umum.”

“Itu hanya itu! Aku minta maaf, tapi ia mengambil entah bagaimana queerly … dia tidak mengatakan kata-kata rasa. Tidak ada waktu untuk berbicara dengan benar.”

Hari berikutnya Tchervyakov mengenakan seragam baru, telah memotong rambutnya dan pergi ke Brizzhalov untuk menjelaskan, pergi ke ruangan resepsi jenderal ia melihat ada beberapa pemohon dan di antara mereka umum sendiri, yang mulai mewawancarai mereka. Setelah mempertanyakan beberapa pemohon umum mengangkat matanya dan memandang Tchervyakov.

“Kemarin di Arcadia, jika Anda mengingat kembali, Yang Mulia,” yang kedua mulai, “aku bersin dan … sengaja terpercik … Exc ….”

“Omong kosong …. Ini melampaui apa pun! Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda,” kata jenderal menangani pemohon berikutnya.

“Dia tidak akan berbicara,” pikir Tchervyakov, pucat, “itu berarti bahwa dia marah …. Tidak, tidak bisa dibiarkan seperti ini …. Aku akan menjelaskan kepadanya.”

Ketika umum selesai pembicaraannya dengan yang terakhir dari pemohon dan beralih ke apartemen batinnya, Tchervyakov mengambil langkah ke arahnya dan bergumam:

“Yang Mulia! Jika saya berani mengganggu Yang Mulia, itu hanya dari perasaan saya dapat mengatakan penyesalan! … Itu tidak disengaja jika Anda anggun akan percaya padaku.”

Jenderal membuat wajah berlinang-linang, dan melambaikan tangannya.

“Kenapa, Anda hanya mengolok-olok saya, Pak,” katanya sambil menutup pintu di belakangnya.

“Dimana kesenangan membuat di dalamnya?” pemikiran Tchervyakov, “tidak ada yang semacam itu! Dia adalah seorang jenderal, tapi dia tidak bisa mengerti. Jika itu adalah bagaimana itu saya tidak akan meminta maaf kepada pembual itu lagi! Iblis membawanya. Aku akan menulis surat kepadanya, tapi aku tidak akan pergi. By Jove, aku tidak akan. ”

Jadi pemikiran Tchervyakov saat dia berjalan pulang, dia tidak menulis surat kepada umum, ia merenung dan merenung dan tidak bisa membuat surat itu. Dia harus pergi hari berikutnya untuk menjelaskan secara pribadi.

“Saya memberanikan diri untuk mengganggu Mulia kemarin,” gumamnya, ketika sang jenderal mengangkat mata bertanya kepadanya, “tidak membuat menyenangkan karena Anda senang untuk mengatakan. Aku minta maaf karena telah terpercik Anda dalam bersin …. Dan aku tidak bermimpi mengolok-olok Anda. Haruskah saya berani mengolok-olok Anda, jika kita harus ambil untuk mengolok-olok, maka tidak akan ada rasa hormat terhadap orang, akan ada …. ”

“Pergilah!” teriak umum, mengubah tiba-tiba ungu, dan gemetar seluruh.

“Apa?” tanya Tchervyakov, dengan bisikan balik mati rasa ngeri.

“Pergilah!” diulang umum, stamping.

Sesuatu sepertinya memberi jalan dalam perut Tchervyakov itu. Melihat apa-apa dan mendengar apa-apa ia terhuyung-huyung ke pintu, keluar ke jalan, dan pergi mengejutkan sepanjang. . . . Mencapai rumah mekanis, tanpa melepas seragamnya, ia berbaring di sofa dan meninggal.

Pesan Kakek Untuk Para Pria

Pesan kakek untuk para pria:
1. Kakek berkata, Hargai istrimu sebagaimana menghargai ibumu. Berlaku adillah ke 2 pihak sebab istrimu juga seorang ibu dari anak-anakmu.
2. Kakek berkata, jika marah boleh tidak memberi uang, boleh tidak berbicara dengan istrimu, tapi jangan bertengkar dengan istrimu (membentaknya, memukulnya).
3. Kakek berkata, jantung rumah adalah seorang istri. Jika hati istrimu tidak bahagia maka seisi rumah akan tampak seperti neraka. (Tidak ada canda tawa, manja, perhatian) maka sayangi istrimu agar dia bahagia. Maka engkau akan merasa seperti di surga.
4. Kakek berkata, besar kecilnya gajimu, seorang istri tetap ingin diperhatikan. Maka istrimu akan selalu menyambutmu pulang dengan kasih sayang.

5. Kakek berkata, 2 orang tinggal 1 atap (Menikah) tidak perlu gengsi, bertingkah, siapa menang siapa kalah. karena bukan untuk bertanding melainkan teman hidup selamanya.
6. Kakek berkata, di luar banyak wanita idaman melebihi istrimu. Mereka mencintaimu atas dasar apa yang kamu punya sekarang. Bukan apa adanya seperti istrimu. Saat kamu menemukan masa sulit, maka wanita tersebutpun meninggalkanmu / punya pria idaman lain di belakangmu.
7. Kakek berkata, banyak istri yang baik. Tapi di luar sana banyak pria yang ingin mempunyai istri yang baik dan mereka tidak mendapatkannya. (Mencintai mereka bukan materi) Mereka akan menawarkan perlindungan terhadap istrimu. Maka jangan biarkan istrimu meninggalkan rumah karena kesedihan, sebab itu akan sulit sekali untuk kembali.
***

Lima Menit Lagi

Pada suatu hari, tampak seorang ayah sedang berdiri di taman, menemani anaknya yang sedang gembira bermain ayunan. Agaknya waktu serasa cepat berlalu, sambil sesekali melirik pada jam di tangannya, si ayah tahu, saatnya bermain telah selesai, karena masih ada pekerjaan yang menunggu untuk segera diselesaikan.

“Sebentar Ayah, lima menit lagi yaaaah, pliiiisss,” suara kecil itu terdengar memelas. Ayahnya dengan spontan menjawab, “Oke, lima menit lagi!” Si kecil berlari ke ayunannya dan kembali bermain dengan gembira sedangkan si ayah mengamati dari kejauhan dengan senyuman senang.

Lima menit berlalu dengan cepat, saat si ayah mengingatkan kepada puteranya. “Pliiiissss, lima menit lagi, Yah. Lima menit terakhiiir deh. Janji, setelah ini udahan. Oke, Yah?” suara memohon disertai tatapan mata yang penuh harap membuat si ayah tidak tega dan kembali mengabulkan permintaan si kecil.

Seorang ibu yang sedari tadi mengamati kejadian itu di sebelahnya berkomentar, “Wah… Bapak hebat sekali, sabar dengan anak-anaknya ya, Pak.” Dengan tersenyum si ayah berkata, “Iya Bu, belajar sabar. Saya pernah kehilangan anak saya yang sulung karena terjatuh saat naik sepeda. Sampai sekarang, masih terasa kekecewaan dan penyesalan di dalam hati ini. Saat mereka ada, saya terlalu sibuk dan tidak berusaha lebih keras menyisihkan waktu untuk keluarga hingga kemudian harus kehilangan salah satunya. Saat sibuk dengan pekerjaan, saya berpikir, toh yang saya lakukan untuk membahagiakan mereka, untuk memenuhi kebutuhan mereka juga. Dan saya salah. Uang yang saya kumpulkan seberapa banyak pun, ternyata tidak pernah bisa membeli kebahagiaan itu,” ujarnya dengan nada duka.

“Sejak saat itu saya berjanji dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan saat si kecil merengek minta ‘lima menit’, sesungguhnya, bukan dia yang meminta waktu kepada saya, tetapi dia justru sedang memberi tambahan waktu kepada saya untuk menikmati kegembiraan bersamanya,” papar si ayah sambil melontarkan pandangan sayang kepada putranya yang sedang asyik bermain.

***

By: Andrie Wongso

Kumpulan Cerita & Kisah Menarik lain ada di bawah ini :

Setiap Kemenangan Butuh Kesabaran

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…“Ada apa?” tanya sang ayah…

“Aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! Aku capek, sangat capek…

Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek, sangat capek…

Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung… Aku ingin jajan terus!

Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedang teman-temanku seenaknya saja bersikap kepadaku…

Aku capek ayah, aku capek menahan diri… Aku ingin seperti mereka… Mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka, Ayah!” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata “Anakku, ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? Aku suka! Aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah,” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

“Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah?”

“Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

“Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu.”

“Ooh… berarti kita orang yang sabar ya, yah? Alhamdulillah!”

“Nah, akhirnya kau mengerti.”

“Mengerti apa? Aku tidak mengerti.”

“Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi. Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melewati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga dan akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa-apa, anakku. Oleh karena itu, bersabarlah, anakku!”

“Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar.”

“Aku tahu, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda harus kuat dan tetap tabah karena ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tahu akhirnya kan?”

“Ya ayah, aku tahu… Aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini… Sekarang aku mengerti… Terima kasih ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar.” Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

Sumber: www.resensi.net

Hama Tanaman Jagung

Hama utama pada tanaman Jagung meliputi :
ULAT TANAH (Agrotis ipsilon)
ULAT GRAYAK (Spodoptera liptura)
LALAT BIBIT (Atherigona sp)
PENGGEREK BATANG (Ostrinia furnacalis)
PENGGEREK TONGKOL (Helicoverpa armigera)
BELALANG DAUN (Locusta migratoria)ULAT TANAH (Agrotis ipsilon)

Ciri-ciri hama : Larva biasa berada dalam tanah, berwarna coklat kehitaman, mempunyai tujuh pasang kaki.

Serangan : Hama  ini  menyerang  tanaman umur  1-3 minggu, dengan cara menyerang dan memotong pangkal batang pada waktu   malam   hari, siang hari ulat  bersembunyi  dalam  tanah.

ULAT GRAYAK (Spodoptera liptura)

Ciri-ciri hama :
• Ngengat dengan sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan, aktif pada malam hari.
• Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25 – 500 butir) tertutup bulu seperti beludru.
• Larva mempunyai warna yang bervariasi, yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok.
• Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2 – 4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari).

Serangan :
• Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab).
• Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja, sedang larva berada di permukaan bawah daun.
• Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.
• Serangan umumnya terjadi pada musim kemarau.
• Tanaman Inang Hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat, kubis, dan tanaman lainnya.LALAT BIBIT (Atherigona sp)

Ciri-ciri hama :
• Imago sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah.  Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari dimana betina hidup dua kali lebih lama dari pada jantan. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5 mm sampai 4,5 mm.
• Telur mulai diletakkan oleh Imago betina tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun.
• Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap.

Serangan :
• Serangan terjadi pada tanaman yang baru tumbuh (1-2 minggu setelah tanam).
• Larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati.PENGGEREK BATANG (Ostrinia furnacalis)

Ciri-ciri hama :
• Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan beberapa generasi pertahun, umur imago/ngengat dewasa 7-11 hari.
• Telur diletakkan berwarna putih, berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9.
• Larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari.
• Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.

Serangan :
• Hama menyerang tanaman menjelang berbunga dengan menggerek dalam batang, tanda terjadi serangan yaitu adanya serbuk berwarna putih berserakan di sekitar permukaan daun dan bunga jantan patah.
• Kerusakan yang ditimbulkan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, dan tumpukan tassel yang rusak.PENGGEREK TONGKOL (Helicoverpa armigera)

Ciri-ciri hama :
• Telur diletakkan pada rambut jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan.
• Larva terdiri dari lima sampai tujuh instar. Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24 – 27,2°C adalah 12,8 – 21,3 hari. Larva memiliki sifat kanibalisme. Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah.
• Pupa umumnya terbentuk pada kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35°C dan sampai 30 hari pada suhu 15°C.

Serangan :
• Imago betina akan meletakkan telur pada rambut jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan.
• Serangan serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung.BELALANG DAUN (Locusta migratoria)

Ciri-ciri hama : Belalang muda berwarna hijau, dan belalang dewasa berwarna coklat bercorak hitam

Serangan : Belalang memakan daun tanaman, serangan yang parah bisa menghabiskan seluruh daun tanaman dan batang-batang muda. Serangan bisa melibatkan ribuan belalang.
.
.
.
Sumber : http://www.tanindo.com/index.php?option=com_content&view=section&layout=blog&id=37&Itemid=40

Daftar Buku Perkebunan Sektor Industri Agromedia

Daftar Buku Perkebunan sektor Industri Agromedia (Industri)

No

Tahun

Judul Buku

Pengarang

Harga

1 2002 MENGEBUNKAN JATI UNGGUL INVESTASI YANG PRESPEKTIF* NIA TINI/KHAIRUL  Rp17,000
2 2003 BUDIDAYA KELAPA SAWIT SELARDI S  Rp16,500
3 2005 PETUNJUK LENGKAP BUDIDAYA KARET IR. DIDIT HERU  Rp30,000
4 2006 PETUNJUK BUDIDAYA JARAK PAGAR* RAMA PRIHANDANA & ROY HENDROKO  Rp25,000
5 2007 PETUNJUK PRAKTIS BUDIDAYA & PENGOLAHAN KELAPA SAWIT IR. SUNARKO. M SI.  Rp19,000
6 2008 PANDUAN LENGKAP PENGELOLAAN KEBUN DAN PABRIK KELAPA SAWIT MARUTI PARDAMEAN  Rp50,000
7 2008 PETUNJUK LENGKAP BUDIDAYA KARET (ED REVISI) IR DIDIT HERU S & DRS AGUS ANDOKO  Rp42,000
8 2009 BUDIDAYA & PENGELOLAAN KELAPA SAWIT DENGAN SISTEM KEMITRAAN IR SUNARKO M SI  Rp45,000
9 2011 UNTUNG BESAR DARI USAHA PEMBIBITAN KAYU GUNAWAN, S.HUT  Rp45,000
10 2011 MENGERUK UNTUNG DARI BISNIS KOPI LUWAK EDY PANGGABEAN  Rp42,500
11 2011 PANDUAN LENGKAP BISNIS DAN BERTANAM KAYU JABON DADAN MULYANA, CENG ASMARAHMAN & IDHAM FAHMI  Rp54,500
12 2011 BUKU PINTAR KELAPA SAWIT RUSTAM EFFENDI LUBIS & AGUS WIDANARKO, SP  Rp77,500
13 2012 19 PELUANG INVESTASI KAYU, TANAMAN PERKEBUNAN DAN TANAMAN BUAH REDAKSI AGROMEDIA  Rp38,000
14 2012 PETUNJUK PRAKTIS PEMBIBITAN KARET IR. MUDJI LASMININGSIH, MS & HENDRA H. SIPAYUNG, SP., MM  Rp22,500
15 2012 KAYA DARI INVESTASI JATI BAROKAH DRS. PASEH MAWARDI  Rp32,000

 

 

Struktur Organisasi Perangkat Daerah

Struktur Organisasi Perangkat Daerah biasanya terdiri antara lain :

  1. Sekretariat Daerah
  2. Sekretariat DPRD
  3. Dinas Pendidikan
  4. Dinas Kesehatan
  5. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura
  6. Dinas Peternakan dan Perikanan
  7. Dinas Kehutanan dan Perkebunan
  8. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga
  9. Dinas Pekerjaan Umum
  10. Dinas Pertambangan, Energi dan Pertanahan
  11. Dinas Sosial dan Tenaga Kerja
  12. Dinas Perindustrian dan Perdagangan
  13. Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
  14. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
  15. Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika
  16. Dinas Pendapatan
  17. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
  18. Badan Kepegawaian Daerah
  19. Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat
  20. Badan Ketahanan Pangan, Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan
  21. Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan
  22. Badan Lingkungan Hidup
  23. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa
  24. Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan
  25. Inspektorat Kabupaten
  26. Rumah Sakit Umum Daerah
  27. Kantor Arsip Daerah
  28. Kantor Perpustakaan Daerah
  29. Satuan Polisi Pamong Praja
  30. Kecamatan
  31. Kelurahan

Informasi-informasi Lain dapat dilihat di :