Beranda

Masjid Gede Yogyakarta

Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Gede Kauman ini terletak di sebelah barat Alun- Alun Utara. Masjid ini dibangun pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I. Arsitek yang menangani adalah K. Wiryokusumo, masjid ini mempunyai pengulu pertama yaitu Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat. Seperti halnya masjid-masjid lain di Jawa, masjid ini beratap tumpang tiga dengan mustoko, masjid ini berdenah bujur sangkar, mempunyai serambi, pawestren, serta kolam di tiga sisi masjid. Namun beberapa keunikan yang tidak dimiliki oleh masjid – masjid pada umumnya adalah mempunyai gapura depan dengan bentuk semar tinandu dan sepasang bangunan pagongan di halaman depan untuk tempat gamelan sekaten. Ini merupakan tidak bisa lepasnya antara keberadaan budaya jawa yang melekat di keraton Yogyakarta.

Masjid yang menjaid ikon masjid keraton merupakan masjid jammi’ kerajaan yang berfungsi sebagai tempat beibadah, upacara keagamaan, pusat syiar agama, dan tempat penegaan tata hukum keagamaan. Seluruh kompleks Masjid ini dikelilingi oleh pagar tembok tinggi  di mana pada bagian utara terdapat Dalem Pengulon yaitu tempat tinggal serta kantor abdi dalem pengulu, serta di sebelah barat masjid terdapat beberapa makam yang diantaranya adalah makam Nyai Ahmad Dahlan. Abdi dalem pengulu inilah yang membawahi para abdi dalem bidang keagamaan lainnya, seperti abdi dalem pamethakan, suronoto, modin,

Kawasan pemukiman yang berada di sekitar masjid merupakan kawasan pemukiman para santri ataupun ulama. Pemukiman tersebut lebih dikenal dengan nama Kauman dan Suronatan hingga sekarang. Dalam perjalanan histories Yogyakarta, kehidupan religius di kampung tersebut menjadi inspirasi dan tempat yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya gerakan keagamaan Muhammadyah pada tahun 1912 M yang dipimpin oleh K.H.A. Dahlan pendiri Muhammadiyah.

Informasi Lengkap Tentang Yogyakarta dapat dibaca di bawah ini :

Pertapa Muda dan Kepiting

Suatu ketika di sore hari yang sejuk, nampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.

Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai, sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana nampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.

Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Ia segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.

Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama bersila dan
mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya.

Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, “Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?”

“Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka, saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa mahluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,” jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.

Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya.”

“Lihat, Anak muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong mahluk lain, tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, bukan?”

Seketika itu, si pemuda tersadar. “Terima kasih, Paman. Hari ini saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang paman ajarkan.”

Mempunyai sifat belas kasih, mau memperhatikan dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada anak kita, orang tua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun. Tetapi, kalau cara kita salah, seringkali perhatian atau bantuan yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang tidak perlu.

Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu.

Sumber :  Email Robert Riau

Baca kisah-kisah menarik lainnya di :

Fin Komodo Kendaraan Lincah Untuk untuk Perkebunan

Mobil untuk jalan atau medan sulit

Mobil untuk jalan atau medan sulit

FIN KOMODO, adalah kendaraan un-conventional yang dirancang bangun khusus untuk digunakan di medan off-road sesuai dengan alam Indonesia, sebuah kendaraan multi guna, dengan dukungan spare part yang tersedia di pasaran, harga relatif terjangkau, perawatanya mudah dan murah dengan memberikan kenyamanan dan keamanan yang optimum.

Kami telah melakukan uji coba prototype dengan melakukan perjalanan di daerah pegunungan dan dataran dalam kondisi jalanan aspal, tanah, batu, berlumpur semua dilalui dengan aman dan nyaman serta sangat stabil sekali dalam pengendalianya

Untuk kondisi jalan dengan kemiringan 45° dan berlumpur dapat dilalui dengan mudah dan aman, serta tanjakan turunan yang ekstrem tidak ada masalah.  Untuk kondisi semak – semak (yang belum ada jalan), maka FIN Komodo dapat berfungsi sebagai kendaraan perintis untuk pembuka jalan, sehingga akan sangat efisien dan menghemat waktu dalam bekerja.

FIN Komodo dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan:

Perkebunan :

  1. Patroli keamanan.
  2. Survey perkebunan / pengontrolan.
  3. Perawatan jalan perkebunan
  4. Penyemprotan (dapat dilengkapi dengan power spray)
  5. Mengangkut hasil-hasil perkebunan, khususnya daerah yang tidak dapat dijangkau  oleh mobil biasa atau sepeda motor.
  6. Karena bentuk bodi yang kecil dan ringan, maka Komodo dapat manuever diiantara pepohonan yang mempunyai jarak antara 4 meter.
  7. Dapat digunakan untuk mengangkut Agro UAV, untuk tujuan pemataan dan pengontrolan via udara

Pertambangan/Proyek :

  1. Patroli keamanan
  2. Survey lokasi dan pengontrolan pekerjaan.
  3. Alat transportasi.

Rekreasi :

  1. Alat transportasi pada area resort
  2. Disewakan untuk permainan off-road / adventure
  3. Untuk dipakai sebagai kendaraan Fun Offroad
  4. Golf Car

Sumber : http://www.finkomodo.com/

Artikel lain berkaitan dengan mobil Fin Komodo :

Berlibur dengan Richard Shilling

Catatan Harian : 13 Oktober 2013

Karya Richard Shilling dari dedaunan hijau

Karya Richard Shilling dari dedaunan hijau

Hari ini adalah hari Minggu, tak banyak kegiatan memang sudah merupakan alasan dari makna liburan yang seharusnya. Kurasa akan pula menjadi sebuah keputusan yang artistik jika aku tidak bekerja atau tidak pergi ke kebun sawit meski ada keinginan berat untuk itu dengan alasan karena rasa suka bekerja keras. Tapi kali ini kurasa “tidak”, tidak untuk kali ini. Itu tak bagus, bekerja di hari libur seperti ini akan membuat pikiran orang lain yang sedang bersantai akan sedikit terganggu demi melihatku bekerja. Jadi kupikir ada keputusan yang lebih baik bahwa hari libur tak ada yang lebih baik selain menyantaikan diri. Tapi siapa tahu pula, kelak dikemudian hari, bersantai yang ini akan menghasilkan sesuatu yang jauh dari logika bahwa untuk mencari uang harus bernama bekerja.

Aku memang suka dan bisa saja bersantai namun masih dalam katalog bekerja dengan daun-daun hijau di ladangku. Tapi kali ini kutepis pikiran baik tentang itu agar waktu yang tersedia ini tidaklah selalu untuk hal-hal sejenis itu, melainkan bersantai bersama hijau-hijau lain yang bukan harafiah di alam nyata melainkan yang seni di alam maya.

Melengkapi keputusan artistik-ku itu maka aku bersantai dalam selancar web yang kemudian membawa lembar liburan hari ini menjadi terisi dengan sibakan karya-karya Richard Shilling. Seniman ini mendapat julukan “Land Artist”. Ia meletakkan nilai seni di  hatinya dengan meramu berbagai jenis-jenis daun, terutama saat musim semi. Di mana pada musim ini, banyak aneka warna daun ditemukan. Mulai dari warna hijau, kemerahan, kekuningan, coklat dan sebagainya. Dia menggabungkan kumpulan warna daun itu hingga menghasilkan gradasi warna yang  memukau bagi diriku, entah kalau dengan dirimu.

Andai kalian mau ikut  dalam galangan karya seni “Land Artis”-nya Schilling ini, mari kuajak berlabuh pada sebagian karyanya yang saya dokumentasikan dalam blog ini, dengan judul antara lain :

Untuk kali ini mungkin segitu saja dulu karya itu kutampilkan, tentu pada kesempatan lain akan kutambahkan karya Schilling lainnya. Dan lihatlah dari pagi sambung-menyambung hingga malam. Jadi, terimakasih, selamat malam… (IvanS Diary)

Richard Shilling (Land Artist) – Dedaunan

Richard Shilling adalah salah satu seniman yang suka mengabadikan keindahan dengan merangkai komponen atau bahan-bahan yang diambil dari alam. Ia berasal dari Inggris dan menyebut dirinya sebagai seorang “Land Artist”.

Bahan-bahan yang digunakan Shilling antara lain adalah :

  • daun-daunan
  • batang/dahan/ranting pohon
  • buah
  • batu

Untuk karya-karyanya dalam halaman ini adalah karya-karya yang dihasilkan dari beberapa jenis daun-daun yang berwarna hijau, oranye, merah, coklat yang kemudian digabung dengan ranting-ranting pohon. Background dan dominasi warna hijau banyak ditemukan dalam karya-karyanya di bawah ini.

Beberapa karya-karyanya :

3 Winter Sun Wheels (Richard Schilling Land Art)

3 Winter Sun Wheels (Richard Schilling Land Art)

-

4 Colour Sunwheel (Richard Schilling Land Art

4 Colour Sunwheel (Richard Schilling Land Art

47 Leaves (Richard Schilling Land Art)

47 Leaves (Richard Schilling Land Art)

-

5 Colour Drops (Richard Schilling Land Art)

5 Colour Drops (Richard Schilling Land Art)

-

5 Coloured Leaf Circles (Richard Schilling Land Art)

5 Coloured Leaf Circles (Richard Schilling Land Art)

-