Pupuk

Pupuk DI Grow

Kembali saya browsing tentang pupuk, saya mulai tertarik dengan pupuk ini sewaktu saya browsing dengan kata kunci tentang “agar pohon sawit jantan bisa berbuah”. Ada kesaksian yang menyatakan pupuk ini bisa merangsang pertumbuhan sawit jantan yang selama ini tidak menghasilkan apa-apa hingga akhirnya bisa menghasilkan buah.

Benar atau tidaknya saya statemen atau kesaksian petani tersebut, saya sendiri belum mencobanya, tapi bila ada teman2 di Riau, terutama di lahan gambut yang sudah mencobanya mohon konfirmasi. Dan kalau ada yang ingin mencobanya silahkan membaca cuplikan artikel-artikel dari situs yang membahas pupuk yang bersangkutan :

Berikut ini adalah artikel tentang pupuk DI Grow tsb :

DI Grow adalah pupuk organik cair terbuat dari rumput laut (seaweed) yang merupakan formula terbaik dari USA, mengandung unsur hara lengkap, baik unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) maupun Mikro (Fe, Zn, Cu, Mo, Mn, B, Cl), Zat perangsang tumbuh (auksin, sitokinin, dan giberellin), Asam humik dan fulfic, yang mampu meningkatkan pertumbuhan, perkembangan, dan produksi tanaman secara optimal.

FUNGSI DI GROW:

 1. Sebagai Pupuk Pelengkap

Walaupun DI Grow mengandung unsur hara makro dan mikro lengkap, tetapi jumlahnya sangat kecil terutama hara makro, sehingga masih membutuhkan pupuk dasar yang diberikan lewat tanah, hanya dosisnya dikurangi 30% dari dosis.

 2. Sebagai Zat Perangsang Tumbuh,

mempercepat pertumbuhan vegetatif tanaman, merangsang pembungaan/pembuahan dan mencegah bunga dan buah tidak mudah rontok (kandungan ZPT:Auksin, Sitokinin dan Giberellin).

 3. Sebagai Bahan Pembenah Tanah (Soil Conditioner)

perbaikan sifat fisik tanah agar tanah menjadi gembur kembali secara bertahap (Kandungan asam organiknya).

Fungsi utama DI Grow adalah sebagai pupuk pelengkap, bukan sebagai obat pembasmi/pestisida, namun pemberian DI Grow membuat tanaman lebih sehat. DI Grow  hanya bersifat mengurangi serangan hama dan penyakit dan tidak menghilangkannya sama sekali
 
KEUNGGULAN PUPUK DI GROW:
  1. Diproduksi oleh pabrik sendiri, berskala INTERNATIONAL
  2. Alami, organik, tidak beracun  dan ramah lingkungan
  3. Memilki R & D centre di Lembah Senai, Johor, Malaysia
  4. Sudah lulus Uji Mutu dan Uji Efektifitas, sesuai ketentuan Departemen Pertanian RI
  5. Kandungan nutrisinya lengkap dan seimbang
  6. Mengandung Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) alami
  7. Berbentuk ion, sehingga mudah  dan cepat diserap oleh mulut daun (stomata)
  8. Praktis dan Ekonomis
  9. Cocok untuk semua jenis tanaman
  10. Jaminan kualitas dan harga terjangkau
MANFAAT PENGGUNAAN DI GROW:
  • Merangsang Pembentukan Akar dan Meningkatkan Efisiensi Pupuk Dasar
  • Memperbesar Ukuran Daun dan Memperpanjang Umur Produktif Daun
  • Meningkatkan Penimbunan Bahan Fotosintesa dalam Bentuk Buah/Umbi
  • Merangsang Pembentukan Bunga
  • Menurunkan Tingkat Kerontokan Bunga/Buah
  • Memperpanjang Umur Produktif Tanaman
  • Meningkatkan Daya Tahan terhadap Serangan Hama/Penyakit

Baca tentang : Sawit Jantan Akhirnya Bisa Menghasilkan Buah

Sumber : http://diamondindonesia.com/index.php?m=61&id=17

Pemanfaatan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) Untuk Pupuk Organik (Kompos) dengan Bioaktivator Tricoderma sp di Kebun Sawit

 Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), atau sering disebut juga tankos adalah limbah dari pengolahan pabrik kelapa sawit (PKS). Setelah melalui perebusan tandan sawit akan dirontokkan buah-buahnya. Sisanya adalah tandan yang sudah kosong buahnya. TKKS ini masih diperas lagi untuk mengambil sisa-sisa minyak yang masih ada di dalamnya. Kemudian melalui konveyor TKKS diangkut ke tampat penampungan TKKS. Tankos yang dihasilkan dalam proses pengolahan tandan buah segar cukup berlimpah.
Pengolahan atau pemanfaatan TKKS oleh PKS masih sangat terbatas, sebagian besar TKKS ditimbun menjadi mulsa di perkebunan kelapa sawit,cara lain dapat diolah menjadi kompos yang digunakan sebagai pupuk organik sehingga mampu menggantikan atau mengefektifkan pupuk kimia (anorganik) sehingga biaya pembelian pupuk dapat ditekan. Namun dalam pembuatan TKKS menjadi kompos mengalami beberapa kendala diantaranya waktu pengomposan, fasilitas yang harus disediakan dan biaya pengolahan TKKS tersebut. Dengan cara konvesional dekomposisi TTKS menjadi kompos dapat berlangsung dalam waktu 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Lamanya waktu ini berimplikasi pada luas lokasi, tenaga kerja, dan fasilitas yang diperlukan untuk pengomposan TKKS tersebut. Agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat dapat ditambahkan activator pengomposan yang berbahan aktif mikroba decomposer dalam mempercepat proses pengomposan.
Salah satu mikroba yang sering digunakan dalam pengomposan diantaranya Tricoderma sp. Mikroba ini menghasilkan enzim yang dapat mendegradasi senyawa lignoselulosa secara cepat,dan dengan mikroba ini tidak memerlukan proses pembalikan lagi dalam proses pengomposan asalkan activator yang diberikan secara merata, sehingga mengurangi biaya dan tenaga kerja dalam pengomposan. Disamping sebagai decomposer, jamur Tricoderma sp dapat berperan sebagai jamur antagonis yang bersifat preventif (pencegahan) terhadap serangan penyakit tanaman diantaranya penyakit jamur akar (ganoderma)

Sumber : http://dr-plant.blogspot.com/2012/07/pemanfaatan-tandan-kosong-kelapa-sawit.html

Limbah Cair Pabrik Kelapa sawit Sebagai Pengganti Pupuk

Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (LC PKS) bisa bermanfaat sebagai Substitusi Pupuk (Pengganti Pupuk) :

Karakteristik LCPKS secara umum disajikan pada Tabel di bawah ini :

Tabel Karakteristik LCPKS Mentah (Raw Effluent )

Karakteristik LCPKS Mentah (Raw Effluent ) No

Parameter

Satuan

Nilai

1

PH

-

4.0 – 6.0

2

Suhu

°C

60 – 80

3

Total Padatan

mg/l

30,000 – 70,000

4

Total Padatan Tersuspensi

mg/l

15,000 – 40,000

5

Total Padatan Terlarut

mg/l

15,000 – 30,000

6

BOD

mg/l

20,000 – 60,000

7

COD

mg/l

40,000 – 120,000

8

Minyak dan lemak

mg/l

6,500 – 15,000

9

Total N

mg/l

500 – 900

10

Total P

mg/l

90 – 140

11

Total K

mg/l

260 – 400

12

Total Ca

mg/l

1,000 – 2,000

13

Total Mg

mg/l

250 – 350

Sumber : PPKS, dalam IPB (2000)

Komposisi kimia yang terkandung dalam LC PKS sangat bervariasi bergantung dengan jenis limbah. Pengolahan Limbah cair PKS (LCPKS) untuk memenuhi bakumutu seperti disyaratkan dalam Kep Men LH. 51/MENLH/10/1995 dalam kenyataannya sulit dilakukan dan memerlukan biaya mahal, sementara berdasarkan hasil penelitian, LCPKS dengan BOD (Biological Oxygen Demand) tertentu terbukti dapat dimanfaatkan sebagai substitusi dan atau suplemen pupuk serta air irigasi di perkebunan kelapa sawit. Pemanfaatan LCPKS ini dikenal dengan istilah Aplikasi Lahan (Land Application). Land Application sebagai suatu alternatif pemanfaatan limbah diakui secara formal dalam peraturan pemerintah No. 82 Tahun 2000, ttg pengendalian pencemaran air.

Sumber : ejurnal.bppt.go.id/index.php/JTL/article/view/347/579

Kombinasi Pupuk Kimia dan Organik

DASAR PERTIMBANGAN

Prinsip Pemupukan adalah dengan biaya semenimal mungkin nutrisi tanaman dapat terpenuhi sesuai dengan yang dibutuhkan. Prinsip tersebut yang menyebabkan terjadinya perbandingan antar beberapa jenis pupuk, mana yang menghasilkan biaya paling rendah. Tentunya jika pemupukan dilahan mineral, pupuk kimia atau pupuk organik yang digunakan tidak jadi masalah asalkan menghasilkan biaya yang paling rendah.

Pada kelapa sawit pupuk organik biasanya digunakan pada tanah-tanah marginal. Abu janjangan dan abu boiler biasanya digunakan untuk menaikkan pH tanah pada tanah gambut. Pada tanah berpasir kombinasi janjangan kosong, solid (DDS) dan pupuk kimia sangat baik untuk memulihkan keadaan tanaman yang mengalami defisiensi nutrisi berat. Tetapi untuk lahan normal seperti tanah mineral bertopografi datar kombinasi pupuk kimia dan pupuk organik sangat baik digunakan selama biayanya masih ekonomis.

Point pentingnya adalah sebelum menggunakan pupuk organik harus diketahui berapa kandungan nutrisi yang terkandung didalamnya dan berapa lama nutrisi yang terkandung didalamnya tersebut dapat diserap oleh tanaman. Hal demikian sangat penting agar tidak terjadi kesalahan dalam perhitungan kebutuhan nutrisi tanaman. Selanjutnya harus disusun jadwal pemupukan yang sedemikian rupa agar ketersediaan nutrisi bagi tanaman tersedia sepanjang tahun. Dasar pengaturan jadwal pemupukan adalah dengan memperhatikan berapa lama kandungan nutrisi dalam pupuk organik dapat diserap oleh tanaman dan curah hujan tahunan.

CONTOH
Karena kebun Pak James dekat dengan Pabrik Kelapa Sawit, Pak James bermaksud menggunakan solid sebagai pupuk organiknya. Setelah dihitung-hitung ternyata biaya pemupukan yang dibutuhkan jika menggunakan solid lebih murah dibanding dengan menggunakan pupuk kimia. Karena baru pertama kali menggunakan solid, Pak James bermaksud menggunakan kombinasi solid dengan pupuk kimia. Dosis solid yang dipakai Pak James adalah 100 kg/pokok/tahun. Maka Dosis pupuk kimia yang harus ditambahkan Pak James adalah sebagai berikut :

Bila menggunakan pupuk kimia 100%, maka dosis pupuknya adalah :

  •     Urea = 2,5 kg/pokok/tahun
  •     Rock Phospat = 1 kg/pokok/tahun
  •     MOP = 3,5 kg/pokok/tahun
  •     Dolomit = 2 kg/pokok/tahun

Nutrisi yang terkandung dalam solid 100 kg dengan Kadar Air 70 % (anggap kualitas paling rendah) setara dengan :

  • Urea 1,62 kg
  • Rock Phosphat 0,46 kg
  • MOP 2,04 kg
  • Dolomit 0,63 kg

Maka pupuk kimia yang harus ditambahkan adalah :

  • Urea  = 2,5 kg/pokok/tahun – 1,62 kg = 0,88 = 1 kg/pokok/tahun
  • Rock Phosphat = 1 kg.pokok/tahun – 0,46 kg = 0,54 = 0,5 kg/pokok/tahun
  • MOP = 3,5 kg/pokok/tahun – 2,04 kg = 1,496 = 1,5 kg/pokok/tahun
  • Dolomit = 2 kg/pokok/tahun – 0,63 kg = 1,37 = 1,5 kg/pokok/tahun

Jadwal pemupukan kebun Pak James adalah sebagai berikut, dengan asumsi data curah hujan seperti pada Tabel 2 sub judul Aplikasi pupuk

KOMBINASI PUPUK KIMIA DAN ANORGANIK

KOMBINASI PUPUK KIMIA DAN ANORGANIK

APLIKASI SOLID DAN JANJANGAN KOSONG

Pada kelapa sawit TBM dimana ujung pelepah antara satu tanaman dengan tanaman yang lainnya belum bersentuhan solid dan janjangan kosong biasanya diaplikasikan didalam piringan. Pada tanah marginal seperti areal berpasir solid dan janjangan kosong juga diaplikasikan didalam piringan. Pada kelapa sawit TM atau tanaman yang sudah tua, dimana ujung pelepah satu tanaman dengan tanaman yang lainnya sudah bersentuhan aplikasi solid dan janjangan kosong diletakkan pada gawangan mati. Point prntingnya adalah jika aplikasi janjangan kosong didalam piringan, maka areal aplikasinya dimulai dari 50 cm dari pangkal batang sedangkan aplikasi solid didalam piringan dapat dimulai dari pangkal batang. Jika aplikasi solid dan janjangan kosong dilakukan didalam piringan, maka sebaiknya pupuk Urea tidak digunakan. Pupuk urea dapat digantikan dengan pupuk Majemuk. Teknis aplikasi solid dan janjangan kosong seperti pada Gambar 1.

Aplikasi Solid dan Janjangan Kosong Pada kelapa sawit TBM

Aplikasi Solid dan Janjangan Kosong Pada kelapa sawit TBM

Sumber :

http://rpks31.blogspot.com/2011/03/pupuk-kimia-dan-anorganik.html

Daftar Bacaan yang berhubungan dengan pupuk :

Katalog Artikel Pupuk

Pemanfaatan Limbah Sawit

Berbagai penelitian telah dilakukan menunjukkan bahwa limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Berikut akan dijelaskan manfaat limbah kelapa sawit.

1. TKKS untuk pupuk organik

Tandan kosong kelapa sawit daoat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman. Tandan kosong kelapa sawit mencapai 23% dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut sebagai alternatif pupuk organik juga akan memberikan manfaat lain dari sisi ekonomi.

Ada beberapa alternatif pemanfaatan TKKS yang dapat dilakukan sebagai berikut :

a. Pupuk Kompos

Pupuk kompos merupakan bahan organik yang telah mengalami proses fermentasi atau dekomposisi yang dilakukan oleh micro-organisme. Pada prinsipnya pengomposan TKSS untuk menurunkan nisbah C / N yang terkandung dalam tandan agar mendekati nisbah C / N tanah. Nisbah C / N yang mendekati nibah C / N tanah akan mudah diserap oleh tanaman.

b. Pupuk Kalium

Tandan kosong kelapa sawit sebagai limbah padat dapat dibakar dan akan menghasilkan abu tandan. Abu tandan tersebut ternyata memiliki kandungan 30-40%, K2O, 7%P2O5, 9%CaO, dan 3%MgO. Selain itu juga mengandung unsur hara mikro yaitu 1.200ppmFe, 1.00 ppm Mn, 400 ppmZn, dan 100 ppmCu. Sebagai gambaran umum bahwa pabrik yang mengolah kelapa sawit dengan kapasitas 1200 ton TBS/ hari akan menghasilkan abu tandan sebesar 10,8%/hari. Setara dengan 5,8 ton KCL; 2,2 ton kiersit; dan 0,7ton TSP. dengan penambahan polimer tertentu pada abu tandan dapat dibuat pupuk butiran berkadar K2O 30-38% dengan pH 8 – 9.

c. Bahan Serat

Tandan kosong kelapa sawit juga menghasilkan serat kuat yang dapat digunakan untuk berbagai hal, diantaranya serat berkaret sebagai bahan pengisi jok mobil dan matras, polipot (pot kecil, papan ukuran kecil dan bahan pengepak industri.

2. Tempurung buah sawit untuk arang aktif
Tempurung kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak. Arang aktif juga dapat dimanfaatkan oleh berbagai industri. Antara lain industri minyak, karet, gula, dan farmasi.

3. Batang dan tandan sawit untuk pulp kertas

Kebutuhan pulp kertas di Indonesia sampai saat ini masih dipenuhi dari impor. Padahal potensi untuk menghasilkan pulp di dalam negeri cukup besar. Salah satu alternatif itu adalah dengan memanfaatkan batang dan tandan kosong kelapa sawit untuk digunakan bahan pulp kertas dan papan serat.

4. Batang kelapa sawit untuk perabot dan papan artikel

Batang kelapa sawit yang sudah tua tidak produktif lagi, dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai tinggi. Batang kelapa sawit tersebut dapat dibuat sebagai bahan perabot rumah tangga seperti mebel, furniture,atau sebagai papan partikel. Dari setiapbatang kelapa sawit dapat diperoleh kayu sebanyak 0.34 m3.

5. Batang dan pelepah sawit untuk pakan ternak

Batang dan pelepah dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada prinsipnya terdapat tiga cara pengolahan batang kelapa sawit untuk dijadikan pakan ternak, yaitu pertama pengolahan menjadi silase, kedua dengan perlakuan NaOH dan yang ketiga adalah pengolahan dengan menggunakan uap.

Sumber :

http://id.shvoong.com/business-management/entrepreneurship/1929400-pemanfaatan-limbah-sawit/

Pupuk Untuk Kelapa Sawit di Lahan Gambut

pupuk khusus sawit di lahan gambut

Hi Kay Plus 13.6.27.4 0,65B adalah Pupuk NPK Compound yang lengkap dan mengandung unsur hara yang berimbang serta sangat sesuai untuk tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM).
Manfaat dan keuntungan :
1. Lengkap : Karena mengandung semua unsur hara untuk tanaman menghasilkan.
2. Berimbang : semua nutrient (unsur hara) yang ada dalam proporsi yang berimbang.
3. Kaya Nutrient : kaya akan unsur hara dengan total nutrient 50,65% dan menghemat biaya pemupukan.
4. Aplikasi cukup 2,5 kg x 3 x aplikasi/pokok/tahun (tidak perlu tambahan pupuk lain lagi)

Berita/Artikel Menarik Lain Yg Wajib Dibaca :

PUGAM : Pupuk Rendah Emisi GRK untuk Lahan Gambut

Balai Penelitian Tanah (Balittanah) berhasil membuat formula pupuk khusus untuk lahan gambut. Selain dapat meningkatkan produktivitas lahan dan efisiensi pemupukan, Pugam mampu menekan laju emisi gas rumah kaca (GRK), khususnya karbon dioksida, dan meningkatkan stabilitas gambut.

Indonesia memiliki lahan gambut tropis 18,6 juta ha, 6 juta ha di antaranya potensial untuk pertanian. Lahan gambut tergolong  marginal dan rapuh sehingga pemanfaatannya harus hati-hati.

Lahan gambut juga dikenal memegang peran penting  sebagai pengatur hidrologi dan penyimpan karbon dalam jumlah sangat besar, yang potensial menjadi sumber emisi karbon. Oleh karena itu, pemerhati lingkungan menghendaki agar ekosistem gambut dikonservasi untuk menghindari pemanasan global. Namun di lain pihak, petani dan pelaku pertanian di beberapa daerah sangat bergantung pada lahan gambut sebagai sumber kehidupan. Lahan gambut dimanfaatkan untuk usaha tani tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Saat ini 1,7 juta ha perkebunan kelapa sawit berada di lahan gambut yang produktivitasnya tidak kalah dengan lahan mineral. Oleh karena itu, harus ada win win solution agar dua kepentingan tersebut, yaitu aspek lingkungan dan ekonomi, dapat berjalan selaras.

Usaha memitigasi laju emisi GRK di lahan pertanian dapat dilakukan melalui pengembangan inovasi teknologi pengelolaan lahan, yang meliputi pengelolaan air, ameliorasi, dan pemupukan yang tepat. Tindakan yang sama juga ditujukan untuk memperbaiki  pertumbuhan dan produktivitas tanaman di lahan gambut. Namun, sering kali teknologi yang baik untuk memperbaiki pertumbuhan dan produktivitas tanaman akan menghasilkan emisi GRK yang tinggi. Demikian pula, teknologi yang baik untuk menekan emisi GRK, berdampak buruk terhadap pertumbuhan tanaman. Hal ini sangat berkaitan dengan karakteristik gambut dan aktivitas mikroba perombak.

Tanah gambut memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan tanah mineral. Oleh karena itu, teknologi yang baik untuk tanah mineral, belum tentu baik untuk tanah gambut.

Pemanfaatan lahan gambut untuk budi daya tanaman hortikultura dan perkebunan kelapa s a w i t .

Pemanfaatan lahan
gambut untuk budi
daya tanaman
hortikultura dan
perkebunan kelapa
s a w i t .

Demikian pula sebaliknya, perlakuan yang buruk untuk tanah mineral belum tentu buruk untuk tanah gambut.

Dengan mempelajari karakteristik yang khas dari tanah gambut dan menday agunakan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, Balai Penelitian Tanah di Bogor berhasil membuat formula pupuk yang spesifik untuk lahan gambut. Formula pupuk tersebut disebut “Pugam”, akronim dari pupuk gambut. Saat ini, dua formula Pugam, yaitu Pugam A dan Pugam T telah melewati pengujian di laboratorium, rumah kaca, dan di lapangan dengan hasil yang memuaskan.

Pugam A dan Pugam T adalah pupuk majemuk yang mengandung fosfat (P), magnesium (Mg), dan silikat (Si). Ketiga unsur ini sangat penting bagi tanaman. Selain tiga unsur tersebut, Pugam juga mengandung besi (Fe), aluminium (Al), seng (Zn), dan tembaga (Cu), unsur yang selain dibutuhkan tanaman juga penting untuk mengikat asamasam organik beracun agar tidak mengganggu pertumbuhan akar tanaman. Terikatnya asam-asam organik menjadi khelat membuat bahan organik lebih stabil dan emisi karbonnya berkurang.

Untuk memproduksi secara massal dan memasarkan Pugam, Balai Penelitian Tanah menjalin kerja sama dengan PT Polowijo Gosari dan PT Krakatau Steel. Pada tahap awal akan dibangun pabrik mini Pugam A berkapasitas 100.000 t/tahun. Pupuk Pugam diperuntukkan bagi tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Pasar potensial adalah perkebunan kelapa sawit, terutama yang berada di lahan gambut, yang akhirakhir ini mendapat sorotan dunia internasional. Penggunaan pupuk Pugam diharapkan dapat meredam isu-isu lingkungan dalam kaitannya dengan pemanasan global.

Bahan Baku Pugam

Pugam A dibuat dengan memanfaatkan limbah industri baja PT Krakatau Steel (KS), yang berupa terak baja (slag). Saat ini PT KS menghasilkan sekitar 300.000 ton terak baja per tahun yang pemanfaatannya masih sangat terbatas karena tergolong limbah B3. Produksi slag bisa meningkat menjadi 600.000 t/tahun bila PT KS berproduksi sesuai kapasitas terpasangnya. Bila slag dimanfaatkan sebagai bahan baku Pugam, hal ini akan membantu beban perusahaan  dalam mengelola limbahnya.

Bahan baku lainnya adalah fosfat alam grade C yang mengandung sesquioksida (oksida Fe dan Al) tinggi. Fosfat alam ini mengandung hara fosfat cukup tinggi (> 28%), tetapi tergolong kualitas rendah sehingga harganya lebih murah. Jenis fosfat alam ini banyak ditemukan di Christmas Island sehingga disebut CIRP. Bahan baku lainya seperti dolomit banyak tersedia di Indonesia. Semua bahan dicampur dan dibentuk granul sehingga mudah diaplikasikan.

Efektivitas Pugam

Pugam mengandung hara P, Ca, Mg, Si, unsur mikro, dan kation polivalen. Pugam memiliki sifat higroskopis rendah sehingga dapat disimpan di tempat terbuka dalam waktu lama, tanpa mengalami perubahan fisik.

Efektivitas Pugam dalam menekan emisi GRK dan pencucian hara diuji di rumah kaca dengan menggunakan pot yang diisi gambut ombrogen. Dosis pemupukan Pugam setara dengan 90 kg P2O5/ha mampu menekan emisi GRK 47%. Hal ini karena asam-asam organik monomer saling berikatan melalui jembatan kation polivalen sehingga tidak mudah mengalami degradasi. Pupuk konvensional bisa memicu aktivitas mikroba sehingga memicu dekomposisi dan emisi gas rumah kaca. Pugam juga mampu menekan pencucian hara P karena bersifat lepas lambat (slow release ) dan membentuk muatan positif pada kation polivalen yang mengikat ion fosfat sehingga tidak mudah tercuci. Jumlah hara yang tercuci jika menggunakan pupuk SP36 20 kali lebih besar dibandingkan dengan P u g a m .

Pengaruh Pugam pada tanaman jagung di rumah kaca.

Percobaan menggunakan tanaman jagung di rumah kaca menunjukkanPugam berpengaruh sangat signifikan. Biomassa kering tanaman jagung meningkat lebih dari 30 kali lipat dibandingkan  dengan menggunakan pupuk NPK konvensional. Bila menggunakan pupuk konvensional (urea, SP36, dan KCl), tanaman jagung tidak berkembang dan menunjukkan defisiensi hara yang parah, baik N, P maupun K. Dosis optimum pupuk Pugam untuk tanaman jagung adalah 600-725 kg/ha.

Serapan hara N, P, K, Ca, Mg, dan S juga meningkat tajam sebagai akibat membaiknya media perakaran tanaman. Hal ini juga terlihat dari biomassa akar yang meningkat sangat signifikan dengan perlakuan P u g a m .

Gambut tropis mengandung asam-asam organik fenolat yang beracun bagi tanaman. Pugam dalam hal ini berfungsi sebagai amelioran. Kation-kation polivalen yang ada dalam Pugam akan mengkompleks asam-asam organik beracun tersebut dengan membentuk khelat yang tidak beracun dan tidak mudah diuraikan oleh mikroorgan i s m e .

Pengujian Pugam pada tanaman kacang tanah

Pengujian pada tanaman kacang tanah yang ditanam setelah tanaman jagung, juga menunjukkan Pugam lebih unggul dibandingkan pupuk konvensional. Dengan pupuk NPK konvensional, tanaman kacang tanah tidak dapat membentuk polong (steril), sedangkan bila dipupuk Pugam, tanaman dapat membentuk polong cukup banyak. Sebagian besar polong berisi penuh dan hanya sebagian kecil yang hampa. Pada saat panen, daun masih terlihat hijau sehingga potensial untuk pakan ternak

Pengujian efektivitas Pugam di lapangan telah dilakukan di empat provinsi melalui kegiatan Indonesian Climate Change Trust Fund (ICCTF) sektor pertanian, yaitu di Kalimantan Selatan, Kalimantan  Tengah, Riau, dan Jambi. Hasil penelitian menunjukkan, pemberian Pugam mampu mengurangi emisi CO2 antara 20-30%. Pugam yang diaplikasikan pada tanaman sela  jagung di perkebunan karet dan kelapa sawit mampu meningkatkan hasil jagung secara signifikan. Pada tanaman pokok kelapa sawit umur tiga tahun, aplikasi Pugam meningkatkan produksi tandan buah segar. Pada perlakuan kontrol, tandan buah tidak bisa membentuk buah karena kemungkinan bunga jantan steril. Dengan aplikasi Pugam, tandan buah berhasil membentuk
buah dengan baik (I G.M. S u b i k s a ) .

Informasi lebih lanjut hubungi:
Balai Penelitian Tanah
Jalan Tentara Pelajar No. 12
Bogor 16114
T e l e p o n : ( 0 2 5 1 ) 8 3 2 3 0 1 2
8 3 3 6 7 5 7
F a k s i m i l e : (0251) 8321608
E – m a i l :
b a l i t t a n a h @ l i t b a n g . d e p t a n . g o . i d
i g m _ s u b i k s a @ y a h o o . c o . i d

Sumber :

http://pustaka.litbang.deptan.go.id

Pupuk Khusus Lahan Gambut : PUGAM-A

"Pupuk khusus untuk lahan gambut"

Pupuk khusus untuk lahan gambut

Potensi pertanian untuk lahan gambut baik untuk tanaman pangan dan perkebunan sangat luas. Hal ini merupakan potensi pasar yang besar sekaligus untuk meningkatkan produktivitas. Pupuk Lahan Gambut atau yang lebih dikenal PUGAM telah dihasilkan para peneliti Balai Penelitian Tanah dalam upaya mendukung pengelolaan lahan gambut yang lestari, meningkatkan produktivitas tanah, menekan emisi gas rumah kaca (GRK), meningkatkan propduksi tanaman maupun perkebunan.

Luas lahan gambut di Indonesia sekitar 33,4 juta ha yang sebagian tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Gambut tergolong pada lahan sub-optimal dengan kendala kesuburan tanah rendah dan sifat fisik tanah yang rapuh. Dalam pengelolaan dan penggunaan lahan gambut sebagai tempat ekstensifikasi pertanian, perlu memperhatikan keberkelanjutan dan aspek-aspek konservasi yang ada didalamnya.

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanah telah menghasilkan beberapa formula pupuk khusus untuk lahan gambut (PUGAM), salah satunya yang sudah teruji adalah PUGAM-A. Pupuk PUGAM-A yang telah dilisensikan kepada PT. Polowijo Gosari adalah pupuk khusus lahan gambut yang diformulasikan dari bahan terak baja dan diperkaya dengan fosfat serta bahan lain yang aktif sebagai senyawa pengkhelat.

PUGAM-A adalah pupuk slow release berbentuk granul yang berperan untuk mensuplai hara tanaman, juga berfungsi sebagai amelioran untuk mengurangi pengaruh buruk asam organik beracun, mengurangi pencucian hara P dan efektif menekan menekan emisi CO2. PUGAM-A efektif mengurangi pencucian P karena PUGAM-A memiliki sifat slow release dan membentuk tapak jerapan positif pada gambut sehingga mampu menahan pencucian P.

Dosis optimum PUGAM-A untuk tanaman pangan adalah 600 – 725 kg/ha. Untuk tanaman berikutnya, dosis PUGAM-A yang diperlukan hanya separuh tanaman pertama yaitu antara 300 – 365 kg/ha. Pemupukan untuk tanaman perkebunan (khususnya kelapa sawit) : TBM umur 1 – 3 th diperlukan 2-3 kg/tanaman/th, untuk tanaman menghasilkan (TM) sekitar 4 – 5 kg/tanaman/tahun.

Sumber :

http://www.litbang.deptan.go.id/