Perawatan Pohon Kelapa Sawit

Pengertian Pasar Pikul

Pasar pikul

Pasar pikul merupakan jalan yang digunakan untuk mengantarkan buahsawit yang sudah dipanen ke Tempat Pemungutan Hasil (TPH) serta untuk memudahkan kegiatan pemeliharaaan lainnya. Fungsi pasar pikul tersebutmendorong untuk dilakukannya kegiatan pemeliharaan agar pasar pikul tetap berada dalam kondisi baik dan siap pakai. . Kegiatan pemeliharaan yang harusdilakuakan adalah membersihkan vegetasi/gulma yang berada di areal pasar pikul baik secara manual maupun secara kimia. More

Penunasan pada Kelapa Sawit

Pemeliharaan tanaman dilakukan pada saat tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM). Kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam pemeliharaan tanaman baik TBM dan TM yaitu: konsolidasi, pemeliharaan jalan, benteng, teras, parit, penyisipan tanaman, pengendalian gulma, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, kastrasi serta penunasan pelepah.

Penunasan merupakan kegiatan pembuangan daun – daun tua yangtidak produktif pada tanaman kelapa sawit. More

Standard Atau Kriteria Kematangan Buah Sawit

Ada beberapa kriteria atau standar kematangan buah kelapa sawit,  yang biasanya dipakai oleh pabrik (PKS) agar mendapatkan buah yang benar-benar berkualitas, antara lain :

  1. Buah immature : Buah immature digolongkan sebagai buah yang masih hitam dan keras.  Buah immature ditandai dengan tidak adanya berondolan yang lepas dan mengandung sangat sedikit minyak.
  2. Buah mentah (unripe bunch) : Buah  mentah adalah kurang dari 10 berondolan yang lepas. (Tergantung peraturan dari pihak PKS, pabrik biasa nya yang menentukan kriteria buah yang masak, ada yang mengatakan, 10 biji berondolan yang telah terlepas (terjatuh dari TBS) itu bisa dikatakan “buah siap panen/buah masak”)
  3. Buah mengkal (underripe bunch) : Buah mengkal dengan kurang dari 25 berondolan yang lepas. {tergantung peraturan dari pihak PKS}
  4. Buah masak (normal ripe) :  Buah masak dengan lebih dari 25 berondolan yang lepas dari janjangan. {tergantung peraturan dari pihak PKS}
  5. Buah lewat masak (over ripe) :  Buah yang lewat masak dengan berondolan lepas lebih dari 50% tetapi masih tertinggal 10%. {hampir seperti janjang kosong yang masih ada buah sawit nya, namun hanya sedikit, tidak seperti TBS yang baru di panen}.
  6. Buah busuk (rotten bunch) : Buah busuk dengan sebagian  janjangan atau seluruhnya telah lembek/ menghitam warnanya, busuk dan atau berjamur. Buah lewat masak dan buah busuk (termasuk juga berondolan) mempengaruhi kualitas minyak, juga berakibat kehilangan minyak dalam pemrosesan TBS/buah sawit tadi. Kadar ALB  minyak  akan naik dan nilai Bleachability minyak akan turun karena buah lewat masak dan buah  busuk berisi berondolan  memar dan teroksidasi.
  7. Janjangan kosong (empty bunch) : Janjangan kosong dengan lebih dari 90% berondolan yang lepas.
  8. Tangkai janjangan (long stalk) : Tangkai janjangan yang panjangnya lebih dari 2.5 cm adalah Janjangan Panjang {tergantung peraturan dari pihak PKS}. Tangkai janjangan tidak mengandung minyak. Tangkai ini hanya menambah berat pada waktu penimbangan buah sawit tetapi menyerap minyak pada saat proses sterilisasi  dan threshing. Tangkai ini sangat tidak diharapkan dan panjang dari tangkai harus sependek mungkin.  Suatu praktek yang baik adalah dengan memotong tangkai dan membuat bentuk V  pada ujung bawah tangkai.

Kumbang, Musuh Kelapa Sawit dan Penanggulangannya

PENGGUNAAN insektisida tidak bisa lepas dari pengembangan kelapa sawit yang berkualitas. Pasalnya kerugian petani sawit karena binatang pengganggu terutama kumbang (Oryctes rhinoceros) sangat besar. Sayangnya bila penggunaan insektisida ini dilakukan lebih intensif, akan makin besar gas rumah kaca yang terperangkap di dalam atmosfer bumi yang berujung pada semakin cepatnya proses pemanasan global terjadi. 

Secara sekilas bisa dibilang kumbang umumnya menyerang tanaman kelapa sawit muda. Kerusakan yang cukup merugikan ini bisa terjadi karena masa hidup kumbang yang lumayan lama. Kumbang O. rhinoceros betina hidup selama 9 bulan dan kumbang jantan hidup 6 bulan. Sepanjang stadia kumbang, hama ini merusak tanaman kelapa sawit dengan cara memakan jaringan yang lembut termasuk titik tumbuhnya. Setiap 4-5 hari kumbang tersebut hidupnya berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain. Jadi meskipun populasi kumbang ini relatif kecil, kerusakan yang ditimbulkan cukup tinggi. 

Serangan kumbang ini selain dapat menurunkan produksi tandan buah segar samapi 69 persen pada tahun pertama, juga mematikan tanaman muda hingga 25 persen. Akibatnya penyisipan tanaman kelapa sawit harus dilakukan berulang kali. Pada umumnya pengendalian hama ini dilakukan dengan pengutipan kumbang dan aplikasi insektisida yang memerlukan biaya tinggi dan risiko tinggi merusak lingkungan. Namun saat ini telah ditemukan teknik pengendalian dengan menggunakan feromon yang efektif dan aman terhadap lingkungan. Pengendalian ini juga lebih murah dibandingkan pengendalian teknik konvensional. 

Feromon merupakan bahan yang mengantarkan serangga pada pasangan seksualnya, mangsanya, tanaman inang, dan tempat berkembangbiaknya. Senyawa utama feromon kumbang O. rhinoceros adalah etil-4 metikl oktanoate. Feromon tersebut dihasilkan kumbang jantan yang bersifat agregasi. Saat ini PPKS sudah berhasil mengembangkan feromon sintentik yang dikemas dalam kantong plastik. Ember plastik beserta kantong feromon yang digantung di dalamnya dikenal dengan sebutan ferotrap. 

Setelah 4 bulan pemasangan ferotrap, kerusakan tanaman kelapa sawit akibat serangan kumbang menurun dari 117 tanaman menjadi 27 tanaman. Jumlah kumbang yang terperangkap pun menurun dari 85 menjadi 40 ekor di kebun kelapa sawit seluas 28,8 hektar. Pemasangan ferotrap juga mengakibatkan populasi kumbang menurun sampai di bawah ambang kritis. Keunggulan lain dari produk yang merupakan temuan anak bangsa ini adalah memungkinkan mengumpulkan kumbang ini sebelum kumbang merusak tanaman kelapa sawit. Hal ini berbeda dengan pengutipan kumbang dari lubang gerekan yang dilakukan setelah kerusakan terjadi. (iah/PPKS)

Sumber : http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2006/6/26/l2.htm

Berita Kelapa Sawit Lengkap dan Harga Buah Sawit bisa disimak di Bawah ini :

Alat Pengukur PH Tanah

Alat pengukur PH Tanah, sebaiknya digali dulu 50 cm sebelum dipakai

Alat pengukur PH Tanah, sebaiknya digali dulu 50 cm sebelum dipakai

-

Alat Pengukur PH Tanah

Alat Pengukur PH Tanah

-

Tampak atas alat pengukur tingkat ke asaman tanah

Tampak atas alat pengukur tingkat ke asaman tanah

Pemanfaatan Mucuna Bracteata Sebagai Tanaman Penutup Tanah

Penanaman tanaman penutup tanah (cover crop) sebelum maupun setelah bibit kelapa sawit ditanam bertujuan untuk menekan perkembangan gulma, mengurangi biaya penyiangan, mengurangi erosi, menambah bahan organik tanah, menjaga kelembaban tanah, memperbaiki aerasi dan meningkatkan cadangan unsur hara terutama melalui fiksasi Nitrogen bebas dari udara dan mentransformasikannya menjadi bentuk tersedia. Jenis tanaman penutup tanah yang memenuhi tujuan tersebut adalah tanaman jenis kacangan (Leguminosae)menjalar. Selain kacangan, dikenal pula jenis rumput lunak menjalar yang dapat menutup tanah namun fungsinya tidak sebaik jenis tanaman kacangan.

           Kacangan penutup tanah ditanam pada lahan terbuka di anatara jalur penimbunan kayu. Bahan yang digunakan yaitu beberapa jenis benih kacangan dengan daya tumbuh minimal 90%. Kacangan ditanam 2-3 baris di antara jalur tanam. Setelah 3 bulan, lahan tertutup oleh kacangan dengan tingkat penutupan 75%.
Kacang-kacangan yang digunakan sebagai tanaman penutup tanah hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
-   -   sistem perakarannya tidak mengganggu tanaman utama.
-   -   bukan merupakan pesaing berat bagi tanaman utama dalam serapan hara maupun air.
-   -   mudah diperbanyak baik secara vegetatif maupun generatif.
-   -   pertumbuhannya cepat dan berpotensi menekan gulma.
   -  menghasilkan bahan organik yang tinggi, baik pada saat mendapat sinar matahari penuh maupun di bawah naungan.
-   – tahan terhadap hama, penyakit dan kekeringan serta bukan merupakan tanaman inang bagi hama dan penyakit tanaman utama.
Pertumbuhan panjang Mucuna bracteata  mencapai 20cm setiap hari atau 1,4m setiap minggu. Hali ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman sawit pada TBM (Tanaman belum Menghasilkan).  Untuk itu perlu adanya rotasi penyiangan secara rutin agar lebih afektif dan efisien. Penyiangan  yang dilakukan dengan mambuang semua gulma dari permukaan tanah, sehingga piringan benar-benar bersih. Pengawasan yang teliti menjadi faktor penting untuk keberhasilan penyiangan.
Sumber : http://dr-plant.blogspot.com/2012/10/pemanfaatan-mucuna-bracteata-sebagai.html?utm_source=BP_recent

Manfaat Abu Janjang

Abu janjang adalah hasil pengabuan secara perlahan-lahan dari janjangan kosong di dalam incinerator.  Produksi abu janjang adalah sekitar 0.5% dari TBS.  Abu janjang mempunyai kandunganhara Kalium (K) yang tinggi dan dapat dipakai sebagai pengganti pupuk MOP.  Satu kilo gram abu janjang setara dengan 0.6 kg MOP.
Aplikasi abu janjang bertujuan untuk menggantikan pupuk MOP dan sebagai bahan pengapuran untuk menaikkan pH tanah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan dengan abu janjang di tanah gambut lebih efektif dibanding dengan pemupukan MOP.

Sifat-sifat dari  abu janjang yaitu :

  • Sangat alkalis (pH = 12).
  • Sangat higroskopis (mudah menyerap uap air dari udara).
  • Mengiritasi tangan karyawan (menyebabkan gatal-gatal dan memperparah luka).
  • Hara yang terkandung di dalamnya amat mudah larut di dalam air.

karena sifat-sifat abu janjang tersebut, maka abu janjang harus cepat diaplikasikan (tidak boleh disimpan lama), penyimpanannya harus baik (dalam kantong plastik, tidak langsung dalam karung goni) dan selalu diperlakukan dengan hati-hati.

Aplikasi abu janjang diprioritaskan untuk areal gambut/tanah masam.  Pada tanah gambut, selain pada TM abu janjang juga diberikan pada TBM tahun ke-2 dan ke-3.  Pada tanah mineral, abu janjang hanya diberikan pada TM.

Untuk tanah gambut dan tanah masam acid-sulphate, abu janjang diberikan tiap tahun.  Untuk daerah tanah masam bukan acid-sulphate (pH 4-5), abu janjang hanya diberikan sekali saja dalam 5 tahun.  Kalau diberikan terlalu sering maka ada resiko kenaikan pH tanah yang terlalu tinggi (> 5.5).

Sumber :

http://intisawit.blogspot.com/2012/12/manfaat-abu-janjang.html

Gulma

Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi.

Batasan gulma bersifat teknis dan plastis. Teknis, karena berkait dengan proses produksi suatu tanaman pertanian. Keberadaan gulma menurunkan hasil karena mengganggu pertumbuhan tanaman produksi melalui kompetisi. Plastis, karena batasan ini tidak mengikat suatu spesies tumbuhan. Pada tingkat tertentu, tanaman berguna dapat menjadi gulma. Sebaliknya, tumbuhan yang biasanya dianggap gulma dapat pula dianggap tidak mengganggu. Contoh, kedelai yang tumbuh di sela-sela pertanaman monokultur jagung dapat dianggap sebagai gulma, namun pada sistem tumpang sari keduanya merupakan tanaman utama. Meskipun demikian, beberapa jenis tumbuhan dikenal sebagai gulma utama, seperti teki dan alang-alang.

Ilmu yang mempelajari gulma, perilakunya, dan pengendaliannya dikenal sebagai ilmu gulma.

Berikut ini adalah daftar berbagai macam atau berbagai jenis gulma yang bisa ditemukan di Indonesia :

Alocasia longiloba (Araceae) Sejenis tanaman keladi hutan
Aeschynomene americana
Ageratum conyzoides (Asteraceae). Bandotan, babandotan (Sunda), wedusan (jawa)
Alocasia macrorrhiza Sente, birah
Alpinia sp. (Zingiberaceae).
Amaranthus spinosus Bayam duri, bayem cucuk, podo maduri (bugis)
Asystasia coromandeliana Ara Sungsang
Asystasia intrusa
Axonopus compressus Paitan, Papaitan, Jukut Pahit
Bauhinia lingua DC (Caesalpiniaceae) Seperti tanaman merambat, daunya berbentuk hati simetris dan dapat menutup pada malam hari.
Blechnum orientale L. (Blechnaceae).
Borreria laevicaulis
Borreria latifolia Kentangan
Borreria latifolia
Brachiaria miliformis Rumput Cori
Brachiaria mutica Sukat kelanjang, Rumput Malela
Brachiaria paspaloides
Calathea sp. (Marantaceae)
Cardiospermum halicacabum Paria gunung, [ketipes, parenan, pulungan (jawa)]
Cassia tora Ketepeng kecil, galenggang kecil
Centella asiatica Kaki kuda, pegagan, antanan, papagan (sunda)
Centotheca lappacea Rumput liar
Chloris barbata Rumput Jejarongan
Chromolaena odorata Krinyuh
Chromolaena odorata Tekelan, kirinyuh
Chrysopogon aciculatus Rumput Jarum
Cleome rutidosperma
Clidemia hirta Harendong
Coelorachis glandulosa
Coix lachryma-jobi Hanjeli
Colocasia sp. Keladi
Commelina diffusa Aur-aur, gewor lakina (sunda), brambangan (jawa)
Cordia curassavica
Costus speciosus Pacing putih
Crassocephalum crepidoides sintrong
Croton hirtus
Curculigo villosa
Cyclosorus aridus Pakis kadal
Cynodon dactylon Grintingan, Kakawatan
Cyperus aromaticus
Cyperus brevolius
Cyperus compressus
Cyperus digitarius
Cyperus distans
Cyperus iris
Cyperus kyllingia Rumput teki, Rumput kenop, wudelan
Cyperus pilosus
Cyperus rotundus Rumput teki
Cyrtococcum accrescens
Cyrtococcum oxyphyllum
Dicranopteris linearis Pakis Kawat
Digitaria fuscescens
Digitaria setigera
Digitaria sp. Genjoran
Echinochloa colona Rumput bebek, Suket tuton (jawa)
Echinocloa colonum (Poaceae). sejenis rerumputan
Echinochloa crus-galli
Eichornia crassipes Eceng gondok
Elaeis guineensis Tukulan sawit
Elephantopus scaber Tapak liman, tutup bumi
Elephantopus tomentosus
Elettariopsis curtisii
Eleusine indica Jejagoan, Rumput belulang, (jampang,carulang-sunda)
Emilia sonchifolia Temu wiyang
Eragrostis tenella
Erechthites valerianifolia Sintrong
Erigeron sumatrensis Jabung
Eupatorium odoratum L. (Asteraceae) memiliki bentuk dan struktur yang sama dengan Ageratum c.L.
Euphorbia heterophylla Kate mas
Euphorbia hirta Patikan kebo, gelang susu, nanangkaan (sunda),
Fagraeae racemosa
Ficus benjamina Beringin
Ficus elastica
Fimbristyllis globulosa
Fimbristyllis miliacea
Gleichenia linearis (Gleicheniaceae)
Globba pendula
Hedyotis corymbosa Rumput mutiara, lidah ular, bunga telor (melayu)
Hedyotis verticillata
Hyptis brevipes
Hyptis capitata (Lamiaceae) Hiptis, rumput knop
Hyptis suaveolens Gringsingan, ruku-ruku utan, basinan
Imperata cylindrica Alang-alang, ilalang
Ipomoea cairica Sri Pagi
Isachne globosa
Ischaemum indicum
Ischaemum muticum
Ischaemum timorense
Laisa spinosa Sambang
Lantana camara Tahi ayam, tembelekan, telekan
Leersia hexandra Kalamenta, suket kolomento
Leptochloa nodosa
Lipocarpha chinensis
Ludwigia adscendens Krangkong
Ludwigia hyssopifolia Cacabean
Lycopodium cernuum L. (Lycopodiaceae).
Lygodium circinatum (Schizaeaceae)
Lygodium flexuosum Paku Kembang
Lygodium microphyllum (Schizaeaceae).
Melastoma malabathricum (Melastomataceae) Senduduk, Herendong (snd)
Melochia concatenata
Melonthria affinis
Merremia umbellata (Convolvulaceae)
Mikania micrantha Mikania, sembung rambat
Mikania sp.
Mimosa invisa Kucingan, Baret, rebah bangun, putri malu besar
Mimosa pigra
Mimosa pudica (Fabaceae) Putri malu, si kejut, riyud
Momordica charantia Pare hutan
Monochoria vaginalis Eceng padi, wewehan (jawa), eceng leutik (sunda)
Nephrolepis falcata (Oleandraceae).
Nephrolepis biserrata Pakis harupat, Paku Harupat
Oldeniandia dichotoma
Ottochloa nodosa Bambonan
Panicum brevifolium
Panicum maximum
Panicum repens Rumput Lampuyangan, suket balungan
Panicum sermentosum
Panicum trigonium Parit-paritan
Paspalum conjugatum Jukut Pahit, Papaitan
Paspalum scrobiculatum
Passiflora foetida Rambusa, permot, nyomlang, ceplukan blungsung
Pennisetum polystachyon
Pennisetum purpureum Rumput gajah, rumput lembing
Phragmites karka Bayongbong, galagah asu, gumulong, kasongket.
Phyllanthus amarus
Phymatosorus scolopendria Paku Cacing, paku ular
Physallis minima Rumput meranti
Piper aduncum L. (piperaceae).
Piper betle L. (Piperaceae) Sirih
Pistia stratiotes Kiapu, ki apung, kayu apu, kayu apung
Polygonum barbatum Mengkrengan, jukut carng (sunda), salah nyowo (jawa)
Polygonum chinense Aseman
Portulaca oleraceae Gelang, Krokot
Rhynchelytrum repens
Rhynchospora corymbosa
Rubus moluccanus
Sacciolepis indica
Scirpus Grossus Bundung, lingi, reduk, walingi, wlingen,endong, penjalinan
Scirpus mucronatus
Scleria puspurascens Benth. (Cyperaceae) Sejenis rerumputan
Scleria sumatrensis
Scoparia dulcis Jaka tuwa
Selaginella sp. (Selaginellaceae).
Selaginella willdenovii (Selaginellaceae).
Sesbania sesban L. (Leguminosae).
Setaria palmifolia Rumput palem, wuluhan
Sida acuta
Sida rhombifolia
Solanum torvum (Solanaceae).
Sporolobus diander
Sporolobus indicus
Stachytarpheta indica Ekor tikus
Stenochlaena palustris Pakis Udang atau Paku Udang
Taenitis blechnoides
Tetracera indica
Tetracera scandens
Themeda arguens Rumput Merak
Themeda villosa
Toxocarpus longipetalus (Lauraceae).
Tridax procumbens
Triumfetta rhomboidea
Typha angustifolia
Urena lobata
Vitis Japonica

 Sumber :
Wikipedia.org dan dari berbagai sumber
dirangkum oleh Ivan Mangunsong