Penyakit Pohon Kelapa Sawit

Penyakit Busuk Umbut (Bud rot, Pudricion del cogollo)

Penyakit busuk umbut (Bud rot, Pudricion del cogollo)

Penyakit ini merupakan penghambat utama pengembangan perkebunan kelapa sawit di Amerika Tengah dan Selatan. Kerusakan berat akibat penyakit ini sering dilaporkan di beberapa kebun sawit, sebagai contoh pada tahun 1990 luas perkebunan kelapa sawit di Suriname 5.425 ha tetapi pada tahun 2000 tinggal 40 ha, di Ekuador gejala penyakit ini muncul pada tahun 1992-1993 di tanaman muda di kebun Shushufindi (5000 ha) dan Huashito (5000 ha) dan pada tahun 2000 kedua kebun tersebut telah porak-poranda akibat penyakit ini (Franqueville, 2001). Kerusakan akibat penyakit ini dapat bersifat: mematikan (lethal) terutama dijumpai di Ekuador, Brasil dan Suriname dan yang bersifat tidak mematikan (non-lethal) dimana tanaman kelapa sawit yang menderita akibat penyakit ini dapat pulih kembali, gejala ini dijumpai di Kolombia.

Gejala penyakit. Penelitian untuk mengidentifikasi penyebab penyakit ini telah dilakukan sejak 25 tahun yang lalu tetapi hingga kini penyebab penyakit ini belum diketahui.  Kontroversi mengenai penyebab penyakit apakah disebabkan oleh faktor biotik (patogen) atau abiotik (gangguan fisiologis) masih terus berlangsung terutama adanya gejala yang bersifat mematikan (lethal) yang diduga disebabkan oleh patogen dan gejala yang bersifat tidak mematikan (non-lethal) dimana dengan perbaikan drainase dan pemupukan berimbang tanaman dapat sembuh kembali (Gomez et al., 2005). Gejala penyakit pertama kali ditandai klorosis pada daun-daun muda yang belum membuka (Swinburne, 1993) kemudian disusul dengan pembusukan daun-daun tersebut dengan tesktur busuk basah yang merambat mengarah pada jaringan meristem titik tumbuh. Bila pembusukan tidak sampai pada titik tumbuh, tanaman dapat bertahan dan sembuh kembali yang ditandai munculnya daun-daun baru yang kerdil.

Potensi resiko. Dalam kasus penyakit busuk umbut yang hingga kini belum dapat ditentukan penyebab penyakitnya namun penyakit ini mempunyai pola penyebaran mirip layaknya penyakit yang disebabkan oleh patogen sehingga penyakit ini perlu selalu diwaspadai penyebarannya.

Penyakit Layu Pembuluh Fusarium (Fusarium vascular wilt disease)

Layu pembuluh Fusarium disebabkan oleh Fusarium oxysporium f.sp. elaeidis merupakan penyakit yang mematikan pada tanaman kelapa sawit di negara-negara Afrika Barat dan Afrika Tengah seperti Pantai Gading, Ghana, Benin, Nigeria, Kamerun dan Kongo, tetapi penyakit ini telah menyebar dan menyerang tanaman kelapa sawit di Brasil pada tahun 1983 (Van de Lande, 1984), di Ekuador tahun 1986 (Renard and Franqueville, 1989) dan mungkin telah menyebar ke Kolombia dan Suriname.

Gejala penyakit. Pada tanaman muda daun tampak berwarna kuning kecoklatan pada salah satu daun di tengah tajuk kemudian menyebar pada daun disebelahnya dan selanjutnya ke daun-daun di bawahnya. Tanaman kemudian total mengering dan mati dalam waktu 2 bulan setelah gejala pertama tadi terlihat. Pada tanaman tua ada dua tipe gejala, pertama gejala akut (typical) dimana daun-daun bagian bawah mengering dan pelepah daun patah pada bagian tengah atau pada sepertiga dari batang. Pertumbuhan daun-daun muda sangat lambat dan berwarna kekuningan. Kedua dengan gejala kronis, gejala ini yang sering dijumpai di lapang dimana daun-daun bagian bawah mengering dan patah sehingga tinggal 2-4 daun pucuk yang tidak membuka. Gejala internal ditujukkan dengan bercak-bercak coklat kehitaman  bila batang tanaman sakit dibelah, hal ini karena penyumbatan jaringan xilem akibat tilosis dan pembentukan ”gum” sehingga aliran air dan nutrien sangat terganggu, pada serangan berat bercak-bercak tersebut ditemukan sampai pada pelepah (Franqueville dan Diabate, 2005).

Potensi resiko. Di Afrika, kehilangan produksi akibat penyakit ini dapat mencapai 30 % pada tanaman yang berumur 15-20 tahun, sedangkan di Pantai Gading pada varietas-varietas kelapa sawit yang rentan tiap tahunnya terjadi kematian tanaman hingga 10.000 pohon (Desmier de Chenon et al., 2005). Jamur ini dapat membentuk struktur spora berdinding tebal yang dikenal sebagai klamidospora dimana spora ini tahan terhadap kekeringan dan dapat bertahan di tanah selama bertahun-tahun. Klamidospora ini dapat terbawa angin dan dapat menempel pada benih kelapa sawit maupun paking benih kelapa sawit, karena itu untuk benih impor, karantina antara diperlukan selain untuk men”treatment” benih juga untuk mengganti paking. Kontaminasi benih kelapa sawit dengan spora jamur ini telah dilaporkan pertama kali oleh Locke and Colhoun (1973), kemudian Flood et al (1990) menemukan bahwa selain pada permukaan luar benih, jamur ini juga ditemukan di dalam benih, tepatnya pada permukaan inti sawit (kernel) selain itu tepung sari (pollen) bisa juga terkontaminasi oleh jamur ini. Untuk mengeradikasi benih dari penyakit ini dapat dilakukan dengan metoda ”vaccum infiltration” dengan captafol atau prochloraz plus carbendazim (Flood et al., 1994), hal ini penting untuk program pemuliaan tanaman kelapa sawit di Asia Tenggara yang kadang-kadang masih memerlukan plasmanutfah dari daerah asal (Afrika).

Berjangkitnya penyakit Fusarium wilt ini di Brasil dan Ekuador memberi indikasi bahwa penyakit ini bisa ditularkan lintas benua dan bersifat seed-borne. Penyebab penyakit di Amerika selatan ini mempunyai sifat kemiripan genetis dengan tempat asal benih yaitu Pantai Gading yang dibuktikan dengan uji restriction fragment length polymorphism (RFLP) dan ”vegetative compatibility” (Flood et al., 1992). Dua hipotesis dapat dikemukan tentang perpindahan penyakit ini ke Amerika Selatan, yaitu melalui benih kelapa sawit langsung (Flood, 2005) atau terbawa benih Pueraria javanica yang terkontaminasi spora jamur ini (Franqueville dan Diabate, 2005) yang pada tahun 1970an diimpor dalam skala besar oleh kedua negara di Amerika Selatan ini, karena bukan benih utama diperkirakan ”treatment” terhadap benih kacangan ini kurang diperhatikan.

Penyakit kelapa sawit oleh Phytoplasma

Penyakit kelapa sawit oleh Phytoplasma

Penyakit Lethal wilt. Lethal wilt merupakan penyakit baru yang menyerang tanaman kelapa sawit di Kolombia bagian timur dengan gejala penyakit yang berbeda dari gejala penyakit yang pernah ada di Amerika selatan. Penyakit ini dilaporkan pertama kali pada tahun 1999 meskipun bukti-bukti awal munculnya penyakit ini telah terdeteksi pada tahun 1994. Untuk menghindari meluasnya penyakit ini, areal pertanaman kelapa sawit seluas 400 ha telah dieradikasi. Tanaman yang terinfeksi menunjukkan gejala yang komplek dimana pada daun-daun muda terjadi klorosis, sedangkan daun-daun bagian tengah dan bawah mengering dengan cepat serta terjadi pembusukan pada tandan buah dan akar (Acosta et al., 2001). Perkembangan penyakit ini sangat cepat dimana tanaman akan mati dalam waktu 3-6 bulan setelah gejala awal tampak. Cenipalma (Pusat Penelitian Palma, Kolombia) telah meneliti penyebab penyakit ini dan mengarah pada dua kemungkinan penyebab penyakit yaitu bakteri pembusuk akar dan Phytoplasma-like organism. Peneliti lain, Alvarez dan Claroz (2004) telah berhasil mengisolasi penyebab penyakit ini dan menyimpulkan bahwa penyebab penyakit ini adalah Phytoplasma yang diklasifikasikan dalam 16 SrI grup aster yellows dimana hasil sekuensing partial dari bagian ribosomal 16Sr Phytoplasma tersebut telah didepositkan di NCBI (GenBank) dengan Accession Number AY739023 dan AY739024.

Penyakit Kerala wilt. Di India, penyakit ini merupakan penyakit endemik pada tanaman kelapa di propinsi Kerala. Penyebab penyakit Kerala wilt adalah Phytoplasma dimana penyakit ini telah ditularkan dan menyerang tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan di Kerala melalui vektor serangga Proutista moesta (Homoptera:Derbidae) dan Stephanitis typica(Heteroptera:Tingidae). Gejala awal terlihat pada daun termuda yang mengalami klorosis kemudian diikuti nekrosis pada daun muda tadi, janur yang muncul membusuk dan ukuran daun lebih kecil dari normal, selain itu munculnya pembungaan tertahan sehingga produktivitas turun secara drastis. Penyakit ini di propinsi Kelara telah mematikan sebanyak 15.000 tanaman kelapa sawit dan hingga saat ini tanaman yang terinfeksi penyakit ini tidak dapat diselamatkan (Rethinam, 2000). Untuk menghindari penyebaran penyakit ini lebih lanjut ke daerah lain di India telah dikeluarkan peraturan untuk melarang membawa keluar tanaman palma dari propinsi Kerala. Selain menyerang tanaman kelapa sawit, penyakit kerala wilt terbukti juga menyerang tanaman pinang.

Penyakit Kalimantan wilt. Pada tahun 1933, Muller telah melaporkan terjadinya ledakan penyakit layu pada tanaman kelapa di Kalimantan barat dekat Pontianak dimana pada waktu itu penyakit layu (wilt) tersebut telah mematikan sebanyak 30.000 tanaman kelapa. Gejala serupa juga dilaporkan terjadi di Kalimantan Tengah di daerah Samuda dan Sampit, di antara ketiga daerah tersebut, penyebab penyakit layu pada kelapa yang telah diidentifikasi sebagai Phytoplasma adalah yang berasal dari daerah Samuda dimana Phytoplasma penyebab penyakit layu tersebut diklasifikasikan dalam 16 SrXI dalam grup rice yellow dwarf (Jones and Warokka, 2004). Hingga kini penyakit ini belum dilaporkan dapat menyerang tanaman kelapa sawit, tetapi tidak tertutup kemungkinan penyakit ini akan pindah ke tanaman sawit. Untuk itu, para pekebun kelapa sawit yang berdekatan dengan ketiga daerah tersebut agar memonitor ada tidaknya gejala penyakit yang tidak umum pada tanaman kelapa sawit, hal ini untuk mengantisipasi pada kasus penyakit Kerala wilt yang dapat menyerang tanaman sawit.

Potensi resiko. Kelapa sawit sebagai tanaman ”tamu” yang dibudidayakan di habitat baru, dalam proses adaptasinya di daerah baru,  kelapa sawit kerapkali mendapat serangan penyakit ”lokal” yang berasal dari tanaman palma terutama tanaman kelapa. Salah satu jenis penyakit kelapa oleh Phytoplasma yang telah diteliti secara intensif adalah lethal yellowing (LY) yang terdapat di Amerika Tengah dimana penyakit kelapa ini terbukti dapat juga menyerang berbagai jenis palma lain sebanyak 35 spesies palma (Harrison et al., 1999). Penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa phytoplasma penyebab penyakit LY ini telah ditemukan pada jaringan embrionik benih kelapa (Cordova et al., 2003). Mengingat luasnya kisaran inang penyakit LY, tidak tertutup kemungkinan tanaman kelapa sawit juga dapat tertular penyakit LY ini.

Karat Daun

Penyakit karat daun disebabkan oleh alga Cephaleuros virescen. Gejala penyakit berupa pembentukan karat berwarna kemerahan pada pelepah-pelepah tua (bagian bawah).

Gejala tanaman terserang karat daun

Gejala tanaman terserang karat daun

Gambar 1. Gejala tanaman terserang karat daun

Permukaan daun kelapa sawit yang tertutup karat daun yang dilihat secara makroskopis (A) dan karat daun yang tampak tumbuh individual apabila dilihat secara mikroskopis (B)

Gambar 2.  Permukaan daun kelapa sawit yang tertutup karat daun yang dilihat secara makroskopis (A) dan karat daun yang tampak tumbuh individual apabila dilihat secara mikroskopis (B)

Penampang mikroskopik

Gambar 3. Penampang mikroskopik C. virescens. (A) sporangium C. virescens; (B) sporangiofor C. virescens; (C) lubang keluar spora pada sporangium; (D) penampang membujur epidermis daun kelapa sawit sakit  karat daun yang tidak tertembus oleh  C. virescens; (E) penampang melintang epidermis daun kelapa sawit yang bagian atasnya rusak akibat C. virescens

Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan diantaranya:

  • Menunas pelepah secara teratur dan benar
  • Melakukan penyemprotan dengan fungisida tembaga dengan dosis 2,5- 5 gram / 2 liter air dengan interval penyemprotan satu minggu

Busuk Tandan

Busuk tandan

Penyakit busuk tandan disebabkan oleh Marasmius palmivorus.

Tandan busuk terserang M. palmivorus.

Tandan busuk terserang M. palmivorus.

Gambar 1. Tandan yang terserang M. palmivorus.

Perbedaan buah sawit  terserang (A) dan buah sehat (B)

Perbedaan buah sawit terserang (A) dan buah sehat (B)

Gambar 2. Perbedaan buah terserang (A) dan buah sehat (B)

Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan untuk penyakit busuk tandan diantaranya:

  • Mengurangi kelembapan udara dengan penunasan secara teratur
  • Membuang tandan yang telah busuk
  • Menyemprotkan dengan fungisida sikloheksimid, kaptafol dengan konsentrasi 0,1-0,2% dan dengan dosis 300 liter/ ha.

Busuk Pupus

Penyakit busuk pupus disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora. Tanaman terserang akan mengalami pembusukan pada bagian pucuk yang dapat menyebabkan patahnya pucuk tanaman. Pada tanaman muda, pucuk yang busuk mudah dicabut dan terdapat massa bakteri berwarna keputihan (berlendir).

Tanaman kelapa sawit dewasa terserang busuk pupus

Gambar 1. Tanaman dewasa yang terserang busuk pupus

Gambar 2. Pangkal pucuk yang terserang busuk pupus pada tanaman muda

Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan diantaranya:

  • Menuangkan campuran formulasi fungisida dan bakterisida (antibiotik)
  • Untuk tanaman yang baru pulih disarankan memberi ekstra pupuk N dan Mg sebesar 25%
  • Mengendalikan kumbang moncong (Rhynchoporus sp) secara manual atau kimiawi

Busuk Pangkal Batang

Ganoderma boninense pada batang pohon kelapa sawit

Ganoderma boninense pada batang pohon kelapa sawit

Biologi

Penyakit ini memiliki banyak nama di seluruh dunia, tetapi selalu menjadi penyakit yang mematikan pada kelapa sawit. Busuk pangkal batang kelapa sawit disebabkan oleh jamur Ganoderma. Jamur Ganoderma lebih dikenal sebagai obat herbal di China, Korea dan Jepang. Ganoderma tergolong dalam kelas Basidiomycetes, penyebab utama penyakit akar putih pada tanaman berkayu dengan menguraikan lignin yang mengandung selulosa dan polisakarida. Ganoderma dapat tumbuh dengan baik pada media buatan dengan memproduksi organ somatif. Pengisolasiannya dapat dilakukan dengan menanam jaringan sakit atau bagian dari jaringan korteks basidiokarp. Ganoderma yang ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar) dapat tumbuh lebih baik daripada yang ditumbuhkan di media MA (Malt Agar), MEA (Malt Extract Agar), CMA (Corn Meal Agar), dan CDA (Czapek’s Dox Agar). Media LBA (Lima Bean Agar) lebih baik dibandingkan RDA (Rice Dextrose Agar), sama dengan PDA.

Gambar 1. Tubuh buah Ganoderma boninense

Basidiospora akan berkecambah 30 jam setelah dipindahkan dari permukaan tubuh buah dengan tingkat germinasi sekitar 31.5 – 64%. Ganiderma boninense dapat tumbuh lebih baik jika pada media ditambahkan sumber karbon seperti dekstrosa, fruktosa, galaktosa, sakarosa, maltose, laktosa dan selulosa. Pertumbuhannya juga dipengaruhi dengan sumber nitrogen yang digunakan. Setiap isolat memberikan respon yang berbeda terhadap perbedaan sumber nitrogen diantaranya NaNO2, NaNO3, NH4NO3, (NH4)2HPO4, asparagin, glisin, dan pepton. Suplemen biotin dapat meningkatkan perkecambahan basidiospora. Miselia G. boninense dapat tumbuh dan membentuk basidiokarp pada media serbuk batang kelapa sawit, serbuk batang kelapa sawit + biotin, potongan akar kelapa sawit, dan potongan akar kelapa sawit + biotin. Bakal basidiokarp mulai terbentuk 30 hari setelah inokulasi, dan tumbuh sempurna setelah 90 hari.

Di Indonesia, Ganoderma boninense dapat tumbuh pada pH 3-8.5 dengan temperature optimal 30oC dan terganggu pertumbuhannya pada suhu 15oC dan 35oC, dan tidak dapat tumbuh pada suhu 40oC (Abadi dan Dharmaputra, 1988; Dharmaputra et al., 1993). Penyebab busuk pangkal batang pada kelapa sawit berbeda di tiap negara. Di Afrika Selatan, busuk pangkal batang disebabkan oleh G. lucidum Karst. sedangkan di Nigeria disebabkan oleh G. zonatum, G. encidum, G. colossus, dan G. applanatum. Di Malaysia, 4 spesies teridentifikasi sebagai penyebab busuk pangkal batang yaitu G. boninense, G. miniatocinctum, G. zonatum dan G. tornatum. Jamur yang paling sering ditemukan umumnya ialah G. boninense, sementara G. tornatum hanya ditemukan tumbuh di pedalaman dan dataran tinggi dengan curah hujan tinggi. Di Indonesia, G. boninense teridentifikasi sebagai spesies yang paling umum menyerang (Abadi, 1987; Utomo, 2002).

Jamur Ganoderma tergolong ke dalam kelas basidiomycetes. Famili ganodermataceae telah dikenal luas sebagai patogen di banyak tanaman termasuk kelapa sawit. Jamur lignolitik umumnya termasuk dalam jamur busuk putih yang digolongkan ke dalam basidiomycetes. Karena itulah, jamur ini lebih aktif menghancurkan lignin dibandingkan golongan lainnya. Komponen pembentuk dinding sel tanaman adalah lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Dengan demikian, untuk menyerang tanaman, jamur harus menghancurkan ketiga komponen tersebut dengan enzim ligninase peroxidase, selulose dan hemiselulose. Beberapa spesies Ganoderma memproduksi enzim amylase, ekstraseluler, oksidase, invertase, koagulase, protease, renetase, pektinase, dan selulose. Berdasarkan mekanisme infeksi, Ganoderma diklasifikasikan kedalam jamur busuk putih. Jamur busuk putih ini diklasifikasikan berdasarkan kecepatan dan produksi dari enzim lignolitik (Ward et al., 2004).

G. lucidum memproduksi manganese peroksidase (MnP), dan lakase; sama dengan enzim dari G. boninense yang menyerang kelapa sawit tetapi masih memerlukan penelitian lebih lanjut (Corley dan Tinker, 2003). Jamur busuk putih memproduksi sistem lignolitik yang tidak spesifik terdiri dari peroksidase dan lakase (phenol oksidase: LAC), yang melakukan proses oksidasi (Peterson, 2007). Tiga peroksidase telah diobservasi yaitu: LIP, MnP dan versatile peroksidase (VP). Biodegradasi dari komponen selulosa tidak berbeda nyata untuk dibandingkan dengan yang dibentuk oleh b-1,4-glucosidic, ikatan sederhana dari glukosa. Miller et al. (2000) mengemukakan bahwa Ganoderma merupakan ‘saprobic’ dan hanya menyerang tanaman inang yang lemah, sehingga dikategorikan sebagai parasit atau patogen sekunder. Penjelasan lain dari jamur ialah sebagai saprofit fakultatif. Ganoderma juga hidup sebagai endofit dalam kelapa (Abdullah, 2000).

Gejala Penyakit

Ganoderma berakibat  fatal pada daun tombak dan pengeringan pelepah

Ganoderma berakibat fatal pada daun tombak dan pengeringan pelepah

Gambar 2. Akumulasi daun tombak dan pengeringan pelepah

Gejala awal penyakit sulit diidentifikasi dikarenakan perkembangannya yang lambat dan dikarenakan gejala eksternal berbeda dengan gejala internal. Sangat mudah untuk mengidentifikasi gejala di tanaman dewasa atau saat telah membentuk tubuh buah, konsekuensinya, penyakit jadi lebih sulit dikendalikan. Gejala utama BSR adalah terhambatnya pertumbuhan, warna daun menjadi hijau pucat dan busuk pada batang tanaman (Gambar 2 dan 3). Pada tanaman belum menghasilkan, gejala awal ditandai dengan penguningan tanaman atau daun terbawah diikuti dengan nekrosis yang menyebar ke seluruh daun. Pada tanaman dewasa, semua pelepah menjadi pucat, semua daun dan pelepah mengering, daun tombak tidak membuka (terjadinya akumulasi daun tombak) dan suatu saat tanaman akan mati (Purba, 1993).

Tanaman kelapa sawit tumbang karena serangan Ganoderma

Ganoderma menyebakan tumbangnya tanaman kelapa sawit

Gambar 3. Tanaman kelapa sawit yang tumbang karena Ganoderma

Gejala ditandai dengan mati dan mengeringnya tanaman dapat terjadi bersamaan dengan adanya serangan rayap. Dapat diasumsikan jika gejala pada daun terlihat, maka setengah batang kelapa sawit telah hancur oleh Ganoderma. Pada tanaman belum menghasilkan, saat gejala muncul, tanaman akan mati setelah 7 sampai 12 bulan, sementara tanaman dewasa akan mati setelah 2 tahun. Saat gejala tajuk muncul, biasanya setengah dari jaringan didalam pangkal batang sudah mati oleh Ganoderma. Sebagai tambahan, gejala internal yang ditandai dengan busuk pangkal batang muncul. Dalam jaringan yang busuk, luka terlihat dari area berwarna coklat muda diikuti dengan area gelap seperti bayangan pita, yang umumnya disebut zona reaksi resin (Semangun, 1990).

Secara mikroskopik, gejala internal dari akar yang terserang Ganoderma sama dengan batang yang terinfeksi. Jaringan korteks dari akar yang terinfeksi berubah menjadi coklat sampai putih. Pada serangan lanjutan, jaringan korteks menjadi rapuh dan mudah hancur. Jaringan stele akar terinfeksi menjadi hitam pada serangan berat (Rahayu, 1986). Hifa umumnya berada pada jaringan korteks, endodermis, perisel, xilem dan floem. Klamidospora sering dibentuk untuk bertahan hidup pada kondisi ekstrim. Tanda lain dari penyakit ialah munculnya tubuh buah atau basidiokarp pada pangkal batang kelapa sawit (Gambar 4).

Gejala penyakit Ganoderma di lahan gambut memiliki perbedaan dengan di lahan mineral. Perbedaan ekologi antara tanah gambut dengan tanah mineral, keistimewaan dan karakteristik lahan menentukan perbedaan keistimewaan, karakteristik dan mekanisme persebaran Ganoderma. Tingginya kemunculan penyakit Ganoderma pada lahan gambut kemungkinan besar disebabkan oleh basidiospora sebagai agen penyebar, dan lahan gambut umumnya cocok untuk perkembangan Ganoderma. Pola kemunculan gejala pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut juga berbeda. Gejala serangan buruk batang atas lebih sering terjadi, bahkan sampai lebih dari 63%. Fakta ini terlihat dari sampel yang diambil dari Labuhan Batu, dengan perbandingan BSR:USR sebesar 37%:63% (Susanto et al., 2008). Perbandingan busuk pangkal batang dan busuk batang atas sangat berhubungan dengan jenis lahan gambut dan tergenang atau tidaknya dalam satu tahun. Saat tanah gambut mulai mendekati tanah mineral, busuk pangkal batang akan meningkat, sebaliknya busuk batang atas akan menurun. Lahan tergenang akan menyebabkan Ganoderma mati dan memperkuat mekanisme busuk batang atas. Pola penyebaran basidiospora melalui udara membuat busuk batang atas sebagai gejala penyakit Ganoderma.

Arti Ekonomi

Penyakit busuk pangkal batang adalah penyakit penting yang menyebabkan kerugian besar di perkebunan kelapa sawit (Semangun, 1990; Treu, 1998), terutama di Indonesia dan Malaysia (Turner, 1981; Darmono, 1998b). Di beberapa perkebunan di Indonesia, penyakit ini telah menyebabkan kematian tanaman sampai lebih dari 80% dari seluruh populasi kelapa sawit, dan menyebabkan penurunan produk kelapa sawit per unit area (Susanto, 2002; Susanto et al., 2002b). Dahulu G. boninense dipercaya hanya menyerang tanaman tua, namun demikian, saat ini telah dipahami bahwa patogen ini juga menyerang tanaman tanaman belum menghasilkan (< 1 tahun). Gejala penyakit muncul lebih cepat dan lebih berat pada generasi ketiga dan keempat (Gambar 6). Insiden penyakit di tanaman belum menghasilkan pada generasi pertama, kedua, ketiga dan keempat berturut-turut adalah 0, 4, 7 dan 11%. Sedangkan insiden penyakit di tanaman menghasilkan pada generasi pertama, kedua dan ketiga secara berturut-turut adalah 17, 18 dan 75% (Susanto et al., 2002a). Tingginya insiden penyakit menyebabkan banyak pekebun lebih cepat melakukan tanam ulang walaupun tanaman masih berusia 17 tahun (tanaman sehat sebenarnya masih produktif hingga berusia 25-30 tahun).

Kerugian yang disebabkan oleh Ganoderma dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kerugian secara langsung berupa rendahnya produksi sampai kematian tanaman, sedangkan kerugian tidak langsung berupa penurunan bobot batang terhadap tandan kelapa sawit. Tanaman terserang Ganoderma akan menderita akibat menurunnya bobot batang sehingga tanaman akhirnya tidak mampu memproduksi tandan. Untuk membantu menggambarkan kerugian yang disebabkan penyakit ini, pada perkebunan seluas 200.000 hektar yang memasuki generasi penanaman ke tiga dan ke empat, 1000 tanaman mati atau sekitar 6 hektar tidak menghasilkan. Kerugian akan semakin besar tahun demi tahun secara akumulasi. Sebagai contoh, saat tahun pertama terserang 6 hektar; tahun kedua terserang 12 hektar; dan seterusnya. Karena itu, potensi kerugian meningkat seiring semakin tuanya tanaman, dan semakin produktifnya tanaman.

Saat ini, pertumbuhan penyakit Ganoderma di perkebunan kelapa sawit terutama dipicu oleh generasi perkebunan. Semakin tinggi generasi perkebunan, semakin parah serangan penyakit hingga menyerang tanaman belum menghasilkan. Pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut, perkembangan infeksi Ganoderma cenderung meningkat (Tabel 1), yang disebabkan oleh mekanisme pemencaran melalui basidiospora.

Spesies Ganoderma yang bersifat patogenik pada kelapa sawit memiliki kisaran inang yang luas. Pada habitat alaminya di hutan, jamur ini dapat menyerang tanaman berkayu. Selain menyerang E. guineensis dan Albizia sp., G. boninense dapat menyerang anggota palem-paleman seperti Cocos nucifera, Livistona subglobosa, Casuarina tolurosa, dan Areca spp (Gambar 8). Di daerah pesisir, dua spesies palem-paleman, dikenal dengan nibung (Oncosperma filamentosa) dan serdang (Livistona cochichinensis), juga terserang penyakit. Telah dilaporkan juga bahwa G. boninense dapat menyerang Acacia mangium. Berdasarkan pengamatan, jamur ini juga dapat tumbuh pada tunggul tanaman karet dan kakao.

Penyakit busuk pangkal batang terutama menyebar melalui kontak akar dari tanaman sehat dengan sumber inokulum yang dapat berupa akar atau batang sakit. Selain batang kelapa sawit, akar yang terinfeksi merupakan inokulum utama penyakit Ganoderma pada kelapa sawit (Hasan, 2005). Mekanisme ini didukung oleh pola persebaran penyakit yang mengelompok. Tanaman sakit biasanya dikelilingi oleh tanaman sakit dengan gejala lebih ringan. Banyak sekali kelapa sawit yang mati akibat busuk pangkal batang ketika sistem under planting digunakan. Di sisi lain, basidiospora juga telah dinyatakan memainkan peranan penting dalam menyebarkan penyakit (Sanderson et al., 2000; Pilotti et al., 2003; Sanderson, 2005). Basidiospora tidak selalu membentuk miselium sekunder dan tubuh buah karena memerlukan tipe perkawinan yang sama.                 Percobaan kesesuaian vetetatif dan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) dapat menunjukkan bahwa Ganoderma pada area tertentu memiliki perbedaan tipe perkawinan (Pilotti et al., 2003). Begitu juga dengan agen pembeda molekuler (PCR). Jika disebabkan oleh kontak akar, Ganoderma yang tumbuh pada tanaman yang berdekatan seharusnya memiliki tipe yang sama. Basidiospora dibebaskan dan menyebar secara besar-besaran pada pukul 22.00-06.00, dan lebih sedikit pada pukul 12.00-16.00. Pemencaran ini juga dibantu oleh kumbang Oryctes rhinoceros yang larvanya umum ditemukan pada batang kelapa sawit yang busuk. S. nigrescens memainkan peranan paling penting dalam membantu penyebarannya di Indonesia.

Perkebunan yang banyak tunggul tanaman karet, kelapa sawit, kakao atau tanaman hutan lainnya rawan terhadap penyakit ini. Tunggul dapat menjadi sumber inokulum Ganoderma yang potensial. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memindahkan tunggul seluruhnya pada saat melakukan tanam ulang. Lahan budidaya sebelum tanam ulang juga mempengaruhi penyakit ini. Semakin tua tanaman, semakin besar kerusakan yang disebabkan oleh penyakit ini. Kerugian yang meningkat berhubungan dengan peningkatan siklus penanaman di perkebunan, yang menunjukkan bahwa substrat semakin melimpah atau populasi inokulum semakin banyak. Lokasi perkebunan tidak terlalu penting karena penyakit ini dapat ditemukan pada daerah pesisir dan pedalaman. Ganoderma  dapat menyerang tanaman di seluruh tipe tanah seperti podsolik, hidromorfik, alluvial, dan gambut. Luka dapat disebabkan oleh beberapa faktor biologi seperti gigitan tikus, tupai, babi hutan dan serangga. Faktor kedua adalah luka mekanik yang disebabkan oleh parang, cangkul atau alat berat.

Tindakan Pengendalian

Teknik Budidaya dan Mekanis

Untuk menurunkan serangan Ganoderma, pangkal batang kelapa sawit perlu ditimbun dengan tanah. Hal ini untuk mencegah infestasi basidiospora ke batang kelapa sawit. Penggalian tanah disekeliling tanaman terinfeksi dapat megurangi terjadinya kontak akar antara tanaman sakit dengan tanaman sehat. Penimbunan dapat memperpanjang usia produksi sampai lebih dari 2 tahun (Ho dan Hashim, 1997). Pendekatan ini dapat menemui kegagalan dikarenakan letak akar terinfeksi tidak diketahui. Pengurangan jumlah sumber inokulum di perkebunan dilakukan dengan mengoleksi dan membakar tubuh buah Ganoderma. Sebelum penanaman tanaman baru, batang kelapa sawit lama dihancurkan secara mekanis ataupun secara kimiawi (Chung et al., 1991).

Pengendalian Kimiawi

Pengendalian kimiawi telah dilakukan di perkebunan kelapa sawit dengan metode adsorpsi atau penyiraman tanah. Berdasarkan hasil di laboratorium, hampi semua fungisida dapat menekan G. boninense, tetapi tidak pada aplikasi lapangan. Fungisida golongan triazole yang meliputi triadimenol, triadimefon dan tridemorph efektif dalam menekan pertumbuhan miselia G. boninense pada konsentrasi 5, 10 dan 25 g/ml. Fungisida hexaconazol dengan aplikasi bertekanan tinggi tidak dapat mengendalikan pertumbuhan Ganoderma. Hasil pemeriksaan membuktikan bahwa fungisida hanya efektif untuk menunda serangan Ganoderma, tetapi kemampuannya untuk mengatasi permasalahan penyakit ini di perkebunan kelapa sawit masih harus diteliti.

Pengendalian Hayati

Turner (1981) menyatakan bahwa Trichoderma sp., Pennicilium sp., dan Gliocladium sp. bersifat antagonis terhadap Ganoderma dan memiliki potensi untuk dijadikan sebagai agen pengendali hayati. Keefektifan Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. dalam menekan pertumbuhan beberapa penyakit tanaman telah dilaporkan, terutama untuk patogen tular tanah. Trichoderma spp. telah banyak digunakan sebagai agen pengendali hayati untuk penyakit layu Fusarium oxysporum pada tomat, melon dan kapas. Selain itu juga digunakan untuk mengendalikan Rhizoctonia solani, Phytium ultimum, Sclerotium rolfsii, Verticillium dahlia, Altenaria, dan Armillaria mellea. Gliocladium sp. sebagai agen pengendali hayati telah digunakan untuk menekan pertumbuhan R. solani, Sclerotinia sclerotiorum, dan S. rolfsii (Campbell, 1989; Papavizas, 1992).

Trichoderma spp. dan Gliocladium spp. diuji secara in-vitro dan in-vivo pada batang kelapa sawit untuk menekan pertumbuhan G. boninense. Kedua agen hayati memiliki potensi yang bagus dalam pengendalian G. boninense (Abadi, 1987; Dharmaputra 1989; Hadiwiyoni et al., 1997; Abdullah dan Ilias, 2004). Di Indonesia, kelapa sawit memiliki kadar oksigen yang rendah pada akar yang menyebabkan penggunaan Trichoderma menjadi kurang efektif (Widyastuti, 2006). Meskipun demikian, Soepena et al. (2000) berhasil memformulasikan fungisida hayati menggunakan Trichoderma koningii untuk mengendalikan BSR pada kelapa sawit. Akhir-akhir ini, Trichoderma telah digunakan untuk mengendalikan Ganoderma di lapangan walaupun hasilnya belum konsisten (Susanto et al., 2005).

Pengendalian Penyakit Terpadu

Sistem lubang dalam lubang (sistem menggali lubang di dalam lubang [panjang 3.0m x lebar 3.0m x dalam 0.8m] dengan lubang tanam standard [0.6m x 0.6m x 0.6m] didalamnya (Gambar 10)) ditambah aplikasi Trichoderma spp. sebagai agen pengendali hayati (400g per lubang) dan aplikasi tandan kosong (400kg per lubang per tahun) dapat digunakan sebagai tindakan pengendalian untuk mengurangi tingkat infeksi Ganoderma (Susanto, 2002). Hal ini dikarenakan sumber inokulum berupa akar sakit telah dipindahkan karena pada dasarnya akar tanaman kelapa sawit hanya tumbuh sampai kedalaman 80cm, dan sisa dari penyakit BSR pada lubang tanam akan dihancurkan oleh agen pengendali hayati Trichoderma spp. Sistem ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kontak akar. Bagaimanapun juga, sumber infeksi potensial masih dapat ditemukan dari tanaman hidup yang berupa jaringan akar, bonggol dan batang (Flood et al., 2000).

Penanaman ulang dengan sistem lubang dalam lubang bertujuan untuk meningkatkan hasil kelapa sawit di tanah mineral yang kurang nutrisi dan bercurah hujan rendah atau karena lahan tersebut telah terexploitasi. Martoyo et al. (1996) melaporkan bahwa penggunaan sistem ini mampu memberikan peningkatan produktivitas yang nyata.

Insiden penyakit BSR pada sistem lubang dalam lubang lebih rendah (Tabel 3) dibandingkan sistem tanam dengan lubang standard (0.73%, 2003; 0.73%, 2004; dan 1.37%, 2005) pada usia tanaman 10 tahun. Pada pengamatan tahun 2003, insiden penyakit BSR mencapai 0.29%. Pengamatan di tahun 2004 dan 2005 juga menunjukkan nilai yang sama dengan pengamatan di tahun 2003. Insiden penyakit mencapai 0.29% dan 0.86% berturut-turut (Susanto et al., 2006). Di lokasi penanaman lain juga menunjukkan hasil yang sama (Prasetyo et al., 2008).

www.kliniksawit.com

Busuk Daun

Antraknosa

Gejala antraknosa yang disebabkan oleh jamur Botryodiplodia sp

Gejala antraknosa yang disebabkan oleh jamur Botryodiplodia sp

Penyakit antraknosa merupakan sekumpulan nama infeksi pada daun bibit-bibit muda, yang disebabkan oleh 3 genera jamur patogenik, yaitu Botryodiplodia spp., Melanconium elaeidis dan Glomerella cingulata. Spora dihasilkan di dalam piknidia atau aservuli, menyebar dengan bantuan angin atau percikan air siraman atau hujan (Turner, 1971 dan 1981 ; Barnet dan Hunter, 1972 ; Domsch, Gams dan anderson, 1980). Penyakit ini telah dilaporkan terdapat di berbagai perkebunan kelapa sawit di Indonesia (Turner, 1981 ; Purba dan Sipayung, 1986 ; Purba, 1996d, 1996f, 1997d dan 1999a).

Gejala

Terutama menyerang bibit pada umur ³ 2 bulan. Kadang-kadang dijumpai bersamaan dengan gejala transplanting shock(cekaman pindah tanam). Gejala biasanya dijumpai pada bagian tengah atau ujung daun, berupa bintik terang yang selanjutnya melebar dan menjadi kuning dan coklat gelap. Jaringan sakit selanjutnya nekrosis, bercak meluas dengan batas antara bercakdengan jaringan sehat berwarna kuning.Bercak kadangkala memanjang sejajar tulang daun.

Gambar 1. Gejala antraknosa yang disebabkan oleh jamur Botryodiplodia sp.

Faktor pendorong

Jarak antar bibit yang terlalu rapat (< 90cm). Keadaan pembibitan yang terlalu lembab.Kelebihan air siraman dan naungan di PA. Pemindahan bibit dari PA ke PU dan penggemburan tanah yang kurang hati-hati.

Pengendalian

Mengurangi penyiraman dan naungan di pembibitan awal, sehingga mengurangi kelembaban. Pemindahan bibit dan penggemburan tanah harus dilakukan dengan hati-hati. Menjarangkan letak bibit menjadi ³ 90 cm. Mengisolasi dan memangkas daun-daun sakit dengan gejala ringan-sedang, selanjutnya disemprot dengan fungisida ziram, thiram, kaptan atau triadimenol dengan konsentrasi 0,1-0,2% dengan pusingan 7-10 hari, atau dengan thibenzol dengan konsentrasi 0,1% dengan pusingan 10-14 hari, daun-daun pangkasan harus dibakar. Memusnahkan bibit yang terserang berat.

www.kliniksawit.com