Kelapa Sawit

Tabel Informasi Harga TBS Sawit 18-24 Oktober 2013 Prop. Jambi

Harga buah sawit naik sekitar 20-an rupiah per kilogram

Daftar/Tabel Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Tanggal 18-24 Oktober 2013 berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Jambi :

Umur

Harga  TBS
(Rp/Kg)

3 Tahun

 1.348

4 Tahun

 1.426

5 Tahun

 1.449

6 Tahun

 1.556

7 Tahun

 1.596

8 Tahun

1.628

9 Tahun

 1.661

10 – 20 Tahun

 1. 710
 21-24 Tahun  1.658
25  Tahun ke Atas  1.586

Sumber : Dinas Perkebunan Jambi

  • Harga rata-rata CPO               =  Rp 7.839 /Kg
  • Harga rata-rata Inti Sawit   =  Rp 3.866/Kg
  • Indeks “K”                                     =     89,16 %
Dapatkan informasi harga tandan buah segar pada periode lain dan daftar harga sawit di beberapa wilayah lain, lewat :

“Informasi harga Buah Sawit”

Tabel Informasi Harga TBS Sawit 11-17 Oktober 2013 Prop. Jambi

Harga buah sawit mengalami kenaikan tipis.

Daftar/Tabel Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Tanggal 11-17 Oktober 2013 berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Jambi :

Umur

Harga  TBS
(Rp/Kg)

3 Tahun

 1.327

4 Tahun

 1.404

5 Tahun

 1.470

6 Tahun

 1.532

7 Tahun

 1.571

8 Tahun

1.603

9 Tahun

 1.636

10 – 20 Tahun

 1. 683
 21-24 Tahun  1.633
25  Tahun ke Atas  1.556

Sumber : Dinas Perkebunan Jambi

  • Harga rata-rata CPO               =  Rp 7.706 /Kg
  • Harga rata-rata Inti Sawit   =  Rp 3.855/Kg
  • Indeks “K”                                     =     89,16 %
Dapatkan informasi harga tandan buah segar pada periode lain dan daftar harga sawit di beberapa wilayah lain, lewat :

“Informasi harga Buah Sawit”

Tabel Harga TBS Sawit 04-10 Oktober 2013 Propinsi Jambi

Daftar/Tabel Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Tanggal 04-10 Oktober 2013 berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Jambi :

Umur

Harga  TBS
(Rp/Kg)

3 Tahun

 1.321,27

4 Tahun

 1.397,62

5 Tahun

 1.462,87

6 Tahun

 1.524,70

7 Tahun

 1.563,32

8 Tahun

1.595,49

9 Tahun

 1.627,59

10 – 20 Tahun

 1. 675,21
 21-24 Tahun  1.624,73
25  Tahun ke Atas  1.548,33

Sumber : Dinas Perkebunan Jambi

  • Harga rata-rata CPO               =  Rp 7.692,77 /Kg
  • Harga rata-rata Inti Sawit   =  Rp 3.923,56/Kg
  • Indeks “K”                                     =     88,67 %
Dapatkan informasi harga tandan buah segar pada periode lain dan daftar harga sawit di beberapa wilayah lain, lewat :

“Info Lengkap harga Buah Sawit”

Transmigrasi, Supri Meraup Rezeki dari Buah Sawit

KONOTASI sawit merusak lingkungan perlu diubah. Sawit tak sekadar berguna bagi hajat hidup manusia tetapi mampu mengubah status ekonomi. Adalah Suprianto yang menikmati berkah buah sawit. Petani sawit kelahiran Tulungagung, Jawa Timur pada 1963 ini menceritakan kisah suksesnya. Ia mengenyam pendidikan sampai SMP. Supri menyebutnya S-2 “Bukan sarjana lho, tapi SD dan SMP,” ujarnya ketawa.

Setelah dewasa ia bekerja sebagai kuli bangunan, lantas meningkat jadi tukang bangunan. Kenalan dengan gadis asal Trenggalek, Jawa Timur, bernama Miasih, saat mereka sama-sama main di sebuah lapangan bola di Trenggalek. Mereka pun berpacaran. Pada 1988 Supri-Miasih menikah secara sederhana di rumah orang tua Miasih di Trenggalek. “Perayaannya sederhana sekali. Hanya dihadiri keluarga dan sebagian teman kami,” kata Supri mengenang.

Miasih yang mendampingi Supri saat wawancara, tersenyum memandang suaminya yang sedang bercerita. Ia menimpali, “Waktu itu saya masih umur 16,” katanya. Meski penghasilan Supri tidak stabil, tapi pengantin baru ini tetap bahagia. “Kalau saya dapat garapan (pekerjaan) membangun rumah, kami bisa makan enak. Kalau sepi garapan, kami makan seadanya.”

Tapi, ketika anak pertama mereka, Mawan Haryanto, lahir pada 5 Mei 1990, keluarga muda ini mulai gelisah. “Kalau hidup begini terus, bagaimana membiayai sekolah anak, Pak?” kata Miasih pada suaminya. Mereka mulai galau. Supri diberitahu tetangganya, bahwa ada empat transmigran di Riau yang balik kampung, meninggalkan rumah jatah transmigrasi. “Tanpa banyak pikir, saya berniat menggantikannya. Kebetulan, istri mendukung niat ini,” katanya.

Tapi, ada biaya administrasi untuk itu. Besarnya Rp350 ribu. “Saya berusaha sana-sini, akhirnya dapat uang segitu. Maka, kami sekeluarga berangkat.” Apa saja yang dibawa dari desa? “Pakaian, sedikit perabot dapur, alat pertukangan dan sepeda kumbang yang biasa saya pakai,” jawabnya. Mawan saat itu masih bayi lima bulan. Mereka diangkut kapal menuju Riau. Tiba di lokasi, Supri dan istrinya kaget. “Kondisinya sepi di tengah hutan. Jarak dengan tetangga sangat jauh, tidak seperti di Tulungagung.”

Alkisah, sesuai aturan, transmigran mendapat jatah tanah garapan dua hektare, selain setengah hektare pekarangan rumah. Namun, jatah tanah garapan Supri baru dia terima dua tahun kemudian. Sejak itulah, lahan dua hektare digarap maksimal. “Saya tanami sawit, sebab hasil panen langsung dibeli PT Sari Lembah Subur (SLS). Bibitnya juga pinjam dari SLS,” katanya.

Ekonomi keluarga Supri jadi membaik dengan menjadi petani sawit. Pada 1993 lahirlah anak kedua, Rini Widowati (kini masih kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, sementara Mawan sudah lulus dari almamater yang sama dan bertugas sebagai dokter di Jember, Jatim). Tak puas menjadi petani sawit, Supri membuka usaha pembuatan bahan rumah tangga dari kayu. Produknya pintu, jendela, kusen, lemari, meja, kursi.

Ini sejalan dengan keahliannya sebagai tukang bangunan. Awalnya dia membuka usaha di halaman rumahnya, pada 2004 dengan empat karyawan. Setahun kemudian dia membuka cabang di Air Molek dengan empat karyawan juga. Ditanya, berapa omzet usahaitu? Supri tersenyum, enggan menyebut angka. Sedangkan penghasilan dari kebun sawit berapa? Lagi-lagi, ia enggan menyebutkan angka. Apakah anda punya investasi? “Saya punya kebun sawit 50 hektare di Kalimantan,” jawabnya.

Pengelolaanya ia percayakan kepada saudaranya. Total penghasilan Supri sebenarnya melebihi gaji direksi bank swasta tingkat menengah. Kesejahteraan keluarga Supri terukur ketika ia memperbaiki rumahnya. Pada 2005 (15 tahun sejak dia masuk Riau) Supri sudah punya tabungan lebih dari Rp30 juta. “Waktu merehab rumah ini (2005), tabungan istri saya Rp28 juta buat beli bahan bangunan,” kenangnya. Itu belum termasuk ongkos kerja yang ia kerjakan dibantu beberapa tukang dari Jawa Timur. Juga tidak termasuk perabotan kayu yang diproduksi sendiri. Hasilnya, bangunan rumah berlantai dua itu memang tampak megah.

Bagaimana kinerja Supri sebagai pemasok sawit ke PT SLS? “Yang tahu persis sebenarnya pihak KUD Amanah,” jawab Administratur PT SLS, Nyoman Pande Sutantra. “Tapi, melihat kesuksesan dia, mestinya kinerja dia bagus,” tambahnya. Menurut Nyoman, rata-rata petani pemasok sawit ke PT SLS berkinerja bagus. Kriterianya teruji melalui kualitas sawit yang dipasok ke PT SLS. Jika petani menanam bibit sawit berkualitas bagus, pasti hasilnya bagus juga. n

Sumber : http://www.jurnas.com/halaman/10/2013-05-30/248847

Baca juga kisah-kisah sukses petani lainnya, berita dan harga sawit di bawah ini :

Sukses di Kebun Sawit, Syarif Raup 8-17 Juta Perbulan

ENAM tahun lalu, Syarif (40) adalah petani yang menanam singkong, kelapa, dan kakao. Kini, ia adalah salah satu petani kelapa sawit yang sukses. Mulai tahun lalu, Syarif telah menikmati panen sawit dari kebun yang luasnya sekitar 8 hektare di Desa Margamulya, Kecamatan Bumiagung, Lampung Timur. Lahan tersebut terletak di tengah areal perladangan di atas perbukitan.

Dari kebunnya, setiap bulan, Syarif bisa panen 7–8 ton. Tanaman itu sendiri sudah mulai panen sejak umur tiga tahun, tapi saat itu hasilnya belum memuaskan. More