Kelapa Sawit

Greenpeace Desak India Beli Sawit RI yang Ramah Lingkungan

Indonesia melakukan ekspansi kebun sawit yang berujung pada kehancuran hutan.

Greenpeace mendesak agar perusahaan-perusahaan di India menghentikan pembelian produk-produk yang dihasilkan dari merusak hutan.India adalah pengimpor kelapa sawit terbesar di dunia.

Demikian disampaikan juru kampanye hutan Greenpeace Southeast Asia – Indonesia, Mohammed Iqbal Abisaputra,  saat meluncurkan laporan terbaru mereka, Frying the Forest, di Jakarta, hari ini.

Dalam laporan Greenpeace yang juga dirlis bersamaan di India tersebut, perusahaan-perusahaan raksasa India, seperti Ruchi Soya, Adani-Wilmar, ITC, dan Britannia, akan berhenti membeli kelapa sawit dari perusahaan di Indonesia yang melakukan penghancuran hutan.

“India merupakan negara pengimpor kelapa sawit di dunia, setidaknya 90 persen, diikuti oleh China. Kebutuhan sawit mereka mencapai 7,2 juta ton per tahun, dan sekitar 5,8 juta ton berasal dari Indonesia,” kata Iqbal.

Menyikapi tingginya permintaan tersebut, kata dia, Indonesia melakukan ekspansi kebun sawit yang berujung pada kehancuran hutan.

Greenpeace Country Representative untuk Indonesia, Nur Hidayati, menambahkan kampanye tersebut berbeda dari sebelumnya yang menyasar langsung pada perusahaan-perusahaan.

“Kampanye ini memang pertama dilakukan antara South to Southkarena kami ingin memberikan informasi kepada negara-negara berkembang untuk tidak membeli barang-barang yang berkontribusi terhadap penghancuran hutan,” kata Nur.

Greenpeace tidak pernah mendesak boikot terhadap produk-produk Indonesia. Pihaknya hanya ingin agar perusahaan-perusahaan dari India melihat rantai suplier mereka. ‘Termasuk berhenti kalau mengetahui barang yang dibeli memang tidak baik,” jelas Nur.

Lebih lanjut, Nur mengatakan praktik perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan justru bisa ditiru dari perkebunan rakyat skala kecil. “Kami ada contoh Desa Dosan di Riau yang menerapkan perkebunan kelapa sawit sustainable dan tidak merusak lingkungan,” tandasnya.

Sementara, untuk perkebunan sawit skala besar, Mohammed mengatakan Golden Agri Resources (GAR), perusahaan raksasa sawit berbasis di Singapura, telah menyatakan komitmen untuk menerapkan ‘nol deforestasi’ dalam kegiatan mereka.

“GAR sudah mulai terapkan kebijakan menghindari areal-areal yang memiliki cadangan karbon yang tinggi, tidak akan buka hutan yang memiliki nilai keanekaragaman hayati yang tinggi,” lanjutnya.

Penulis: Fidelis E. Satriastanti/ Whisnu Bagus
Sumber : www.beritasatu.com

Eropa Diminta Naikkan Pembelian Sawit Ramah Lingkungan

Metrotvnews.com, Jakarta: Uni Eropa diminta untuk meningkatkan pembelian minyak sawit ramah lingkungan yang sudah bersertifikat (certified sustainable palm oil). Sebab, penyerapannya masih kecil, padahal produksi terus meningkat.

“Saat ini pembelian minyak sawit ramah lingkungan di dunia baru sekitar 50 persen dari produksi yang ada, dengan Uni Eropa sebagai pembeli terbesar,” kata Head of Sustainability Grup Musim Mas Dr Gan Liang Tiong di Jakarta, Selasa (17/7).

Uni Eropa menjadi salah satu negara yang mendorong para produsen di Indonesia dan Malaysia maupun negara lain memproduksi minyak sawit ramah lingkungan melalui Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) yang beranggotakan antara lain para pembeli, produsen, dan kalangan lembaga swadaya masyarakat.

Gan menjelaskan saat ini total produksi minyak sawit dunia yang telah memiliki sertifikat ramah lingkungan dari RSPO telah mencapai enam juta ton. Sebanyak tiga juta ton di antaranya dihasilkan dari para produsen minyak sawit di Indonesia.

Ia mengharapkan komitmen negara-negara Uni Eropa maupun negara lainnya untuk mendorong pemakaian CSPO teralisasi dalam bentuk peningkatan pembelian produk tersebut. Namun diakuinya, di tengah krisis keuangan yang melanda sejumlah negara di Uni Eropa, kemungkinan kawasan itu meningkatkan penyerapan CSPO semakin kecil.

Namun sebagai salah satu produsen CSPO yang besar di Indonesia dengan produksi sebesar 477 ribu ton, Grup Musim Mas berharap perusahaan-perusahaan Eropa yang memiliki banyak basis di luar negeri terus meningkatkan pembelian minyak sawit ramah lingkungan.

“Kami menyambut positif langkah Carrefour Indonesia yang memulai pembelian CSPO untuk minyak goreng Ecoplanet mereka,” kata Gan.

Hal itu, lanjutnya, akan mendorong perkembangan permintaan minyak sawit ramah lingkungan di dunia.

Menurut dia, Carrefour sebagai salah satu peritel besar asal Prancis berkomitmen untuk membeli CSPO dan memasarkannya ke sejumlah negara seperti India, China, dan Taiwan, serta Malaysia. “Sebagai langkah awal kami memasok 30 ton minyak sawit ramah lingkungan ke Carrefour Indonesia,” ujar Gan.

Minyak goreng berbasis kelapa sawit dari perkebunan dan pabrik yang sudah mendapat sertifikat dari RSPO tersebut diluncurkan kemarin di Carrefour, Lebak Bulus, Jakarta.(Ant/BEY)

Harga Sawit dan Karet Minggu Ini Turun

harga-jual-beli-tbs-kelapa-sawit

Berdasarkan Rapat Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Dinas Perkebunan Provinsi Riau mengenai harga komoditi perkebunan untuk sepekan ke depan, khusus harga TBS kelapa sawit 29 Agustus-4 September 2012, tim menetapkan turun sebesar Rp 36,24 per kg. Sementara itu, harga karet lagi-lagi turun dari Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per kg menjadi Rp 19.000 hingga Rp 20.000 per kg.

“Khusus harga TBS kelapa sawit di Riau, minggu ini mengalami penurunan hampir dua bulan,” terang Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Riau, Ir Ferry HC MSi, kepadariaubisnis.com, Selasa (28/8/2012) di kantornya.

Untuk harga TBS kelapa sawit usia 3 tahun dihargai Rp 1.102,06 per kg dan pada minggu lalu 1.127,93 per kg. Usia 4 tahun dihargai Rp 1.231,70 per kg kalau minggu lalu Rp 1.260,70 per kg. Sementara itu, untuk umur 5 tahun dihargai Rp 1.318,45 per kg sedangkan minggu lalu Rp 1.349,51 per kg. Untuk usia 6 tahun tim menetapkan Rp 1.356,28 per kg kalau pekan lalu Rp 1.368,18 per kg.

Untuk harga TBS sawit usia 7 tahun dipatok harga Rp 1.408,33 per kg sementara pada pekan lalu Rp 1.441,47 per kg. Sedangkan umur 8 tahun dihargai Rp 1.452,17 per kg kalau minggu lalu Rp 1.486,34 per kg.

Kemudian, untuk umur 9 tahun sekarang dipatok Rp 1.498,21 per kg kalau minggu lalu Rp 1.533,42 per kg. Dan umur 10 tahun, pekan ini dihargai Rp 1.540,48 per kg sedangkan minggu lalu dipatok Rp 1.576,72 per kg.

Sementara itu, harga bahan olahan karet (bokar) pada periode 27 Agustus-1 September 2012, di pabrik-pabrik karet di Riau ditetapkan harga Rp 19.000 hingga Rp 20.000 per kg sebelumnya dari Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per kg.

Khusus di pabrik karet PT Tirta Sari Surya dan PT Andalas Agrolestari ditapkan harga Rp 19.000 per kg. Lalu, PT Rickry Pekanbaru menetapkan harga Rp 19.500 per kg. Sedangkan PT P & P Bangkinang tetap dengan harga Rp 20.000 per kg.

Tim juga menetapkan harga kelapa butiran dan kopra untuk periode 28 Agustus 2012, harga kelapa bulat licin Rp 816,66 per kg kalau minggu lalu Rp 600 per kg. Lalu, harga kopra mutu kering (100 persen) Rp 4.200 per kg dan pekan lalu Rp 4.000 per kg. Khusus kopra mutu basah (80 persen) sekarang Rp 2.150 per kg sebelumnya tetap Rp 2.150 per kg. Dan kopra mutu basah (60 persen) dihargai tetap dengan minggu lalu, yakni Rp 2.000 per kg.

Lalu, harga crude palm oil (CPO) untuk sepekan ke depan harganya Rp 7.207,90 per kg, kalau minggu lalu Rp 7.409,18 per kg. Sedangkan harga kemel ditetapkan Rp 3.575,27 per kg sementara pada minggu lalu Rp 3.592,19 per kg.(*)

Parlindungan | Edited by Rbc
Sumber : http://riaubisnis.com

Proses Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Sawit

Berikut ini adalah metode penelitian mengenai Proses Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Sawit berdasarkan penelitian yang dilakukan Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2006.

Bahan bakar diesel, selain berasal dari petrokimia juga dapat disintesis dari ester asam lemak yang berasal dari minyak nabati. Bahan bakar dari minyak nabati (biodiesel) dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan, tidak mencemari udara, mudah terbiodegradasi, dan berasal dari bahan baku yang dapat diperbaharui. Pada umumnya biodiesel disintesis dari ester asam lemak dengan rantai karbon antara C6-C22. Minyak sawit merupakan salah satu jenis minyak nabati yang mengandung asam lemak dengan rantai karbon C14-C20, sehingga mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku biodiesel. Pembuatan biodiesel melalui proses transesterifikasi dua tahap, dilanjutkan dengan pencucian, pengeringan dan terakhir filtrasi, tetapi jika bahan baku dari CPO maka sebelumnya perlu dilakukan esterifikasi.

Transesterifikasi

Proses transesterifikasi meliputi dua tahap. Transesterifikasi I yaitu pencampuran antara kalium hidroksida (KOH) dan metanol (CH30H) dengan minyak sawit. Reaksi transesterifikasi I berlangsung sekitar 2 jam pada suhu 58-65°C. Bahan yang pertama kali dimasukkan ke dalam reaktor adalah asam lemak yang selanjutnya dipanaskan hingga suhu yang telah ditentukan. Reaktor transesterifikasi dilengkapi dengan pemanas dan pengadukSelama proses pemanasan, pengaduk dijalankan. Tepat pada suhu reactor 63°C, campuran metanol dan KOH dimasukkan ke dalam reactor dan waktu reaksi mulai dihitung pada saat itu. Pada akhir reaksi akan terbentuk metil ester dengan konversi sekitar 94%. Selanjutnya produk ini diendapkan selama waktu tertentu untuk memisahkan gliserol dan metil ester. Gliserol yang terbentuk berada di lapisan bawah karena berat jenisnya lebih besar daripada metil ester. Gliserol kemudian dikeluarkan dari reaktor agar tidak mengganggu proses transesterifikasi II. Selanjutnya dilakukan transesterifikasi II pada metil ester. Setelah proses transesterifikasi II selesai, dilakukan pengendapan selama waktu tertentu agar gliserol terpisah dari metil ester. Pengendapan II memerlukan waktu lebih pendek daripada pengendapan I karena gliserol yang terbentuk relatif sedikit dan akan larut melalui proses pencucian.

Pencucian

Pencucian hasil pengendapan pada transesterifikasi II bertujuan untuk menghilangkan senyawa yang tidak diperlukan seperti sisa gliserol dan metanol. Pencucian dilakukan pada suhu sekitar 55°C. Pencucian dilakukan tiga kali sampai pH campuran menjadi normal (pH 6,8-7,2).

Pengeringan

Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan air yang tercampur dalam metil ester. Pengeringan dilakukan sekitar 10 menit pada suhu 130°C. Pengeringan dilakukan dengan cara memberikan panas pada produk dengan suhu sekitar 95°C secara sirkulasi. Ujung pipa sirkulasi ditempatkan di tengah permukaan cairan pada alat pengering.

Filtrasi

Tahap akhir dari proses pembuatan biodiesel adalah filtrasi. Filtrasi bertujuan untuk menghilangkan partikel-partikel pengotor biodiesel yang terbentuk selama proses berlangsung, seperti karat (kerak besi) yang berasal dari dinding reactor atau dinding pipa atau kotoran dari bahan baku. Filter yang dianjurkan berukuran sama atau lebih kecil dari 10 mikron.

Referensi :

Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2006. Biodiesel Berbahan Baku Minyak Kelapa Sawit. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. p 3.

Sumber : http://perpustakaan.or.id

Kebakaran Hutan Gambut Berbak Meluas

Kebakaran Hutan Gambut

05-09-2012
JAMBI, KOMPAS.com - 
Kebakaran hutan gambut di Taman Nasional Berbak, Jambi, terus meluas hingga lebih dari 100 hektar. Api merambat cepat karena angin yang kencang, ditambah udara yang kering belakangan ini.

Kepala Bidang Tata Usaha Taman Nasional Berbak (TNB), Nukman, Rabu (5/9/2012), mengatakan, kebakaran hutan sudah berlangsung sejak hampir sepekan terakhir. Kebakaran sebelumnya berlangsung di kebun masyarakat yang berbatasan dengan taman nasional, namun terus meluas hingga ke kawasan Berbak.

Kondisi lahan gambut yang kering juga memudahkan penyebaran api. Asap terus membumbung pada sejumlah titik, utamanya di wilayah Desa Remau dan Desa Sungai Sayang, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

“Luasnya kini sudah lebih dari 100 hektar, khusus di wilayah TNB saja,” ujar Nukman.

Editor :
Agus Mulyadi
Sumber :
Kompas.com

Sawit Ancaman Utama Lahan Gambut Kalteng

13 Desember 2009
PALANGKARAYA–Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyatakan jutaan haktare lahan gambut di provinsi itu terancam musnah akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri yang terus meningkat.

“Dari 3,1 juta hektare kawasan gambut, lebih 35 persen di antaranya sudah rusak dan perlu direhabilitasi,” kata Direktur Eksekutif Walhi Kalteng Arie Rompas dalam peringatan “Global day of action on climate” atau hari aksi global untuk isu perubahan iklim, di Palangkaraya, Sabtu.

Penyebab utama kerusakan kawasan gambut di Kalimantan Tengah, kata Arie, dipicu aktivitas pembukaan proyek eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektare, serta pembukaan kawasan gambut untuk sawit dan hutan tanam industri (HTI).

Pembukaan gambut untuk sawit dan HTI menjadi ancamaan utama karena merupakan salah satu model ekonomi pertumbuhan mengingat dua sektor usaha itu memproduksi komoditas ekspor utama untuk memenuhi kebutuhan negara maju.

“Padahal akibat kerusakan gambut, Kalimantan Tengah juga menjadi penyumbang pelepasan emisi yang besar akibat kebakaran hutan dan gambut setiap tahun,” kata Arie.

Dengan luasnya potensi lahan gambut serta ancaman yang ada, Arie menilai, Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah yang memiliki peran penting dalam mencapai solusi bagi masalah perubahan iklim dengan potensi hutan dan ekosistem gambut yang banyak menyimpan karbon.

Sementara itu, Koordinator “Save Our Borneo” Nordin mendesak pemerintah daerah setempat segera menutup pemberian izin pembukaan perkebunan kelapa sawit di wilayah itu untuk melindungi jutaan hektare areal hutan setempat dari kerusakan yang lebih parah.

“Kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini adalah pembukaan perkebunan sawit begitu banyak menghancurkan hutan tropis dan gambut di Kalteng sehingga harus segera distop sekarang juga,” kata Nordin.

Nordin mengemukakan, dalam 10 tahun terakhir diperkirakan sebanyak 1,2 hingga 1,4 juta hektare hutan alam di Kalimantan Tengah dikonversi dalam berbagai kegiatan, terutama untuk perkebunan sawit.

Padahal hutan tropis dan gambut tersebut merupakan kawasan pencegah banjir utama, pengatur tata air, dan penyeimbang keberagaman ekosistem alam di wilayah setempat.

“Selain itu pembangunan perkebunan sawit yang membabat jutaan hektare areal hutan juga mengabaikan hak-hak masyarakat setempat yang sebenarnya memiliki hak ulayat atas tanah sehingga sering terjadi konflik,” ujarnya.

Meski kran perizinan distop saat ini juga, ia memperkirakan, dibutuhkan waktu sekitar 50 tahun untuk memulihkan kondisi hutan di Kalteng agar berfungsi sebagaimana mestinya.

Karena itu, bila kebijakan menutup kran perizinan perkebunan sawit diberlakukan, pemerintah juga harus menindaklanjutinya dengan langkah peningkatan rehabilitasi hutan dari kemampuan saat ini yang hanya 50 ribu hektare per tahun.

Nordin menyesalkan kebijakan pemerintah daerah setempat yang selama ini lebih memberikan izin pembukaan perkebunan sawit di wilayah hutan atau yang masih berhutan daripada ke lahan kritis yang ada.

“Bagi pengusaha memang lebih suka membuka lahan sawit di areal hutan karena akan lebih menguntungkan dengan memanfaatkan kayu hasil land clearing untuk jalan, perumahan karyawan, jembatan, dan patok batas tanpa keluar biaya,” ujarnya. ant/ahi

Sumber: Republika Online

Pemanfaatan Lahan Gambut Perlu Pertimbangkan Dampak Lingkungan

Pemanfaatan Lahan Gambut Perlu Analisa Dampak Lingkungan

Pemanfaatan Lahan Gambut Perlu Analisa Dampak Lingkungan

28 Juni 2012
PEKANBARU, KOMPAS.com -
 Indonesia perlu mengubah pendekatan pembangunan di lahan gambut agar disesuaikan dengan konsep ekonomi hijau demi mempertahankan perannya yang besar dalam mencegah emisi karbon dan terjadinya perubahan iklim.

“Stok karbon di lahan gambut sangat besar, menyedihkan sekali kalau lahan gambut kita lenyap,” kata pakar gambut dari Universitas Riau Haris Gunawan pada Seminar Nasional “Dari Rio untuk Riau” yang diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), di Pekanbaru, Kamis (28/6/2012).

Haris mengatakan, pemanfaatan lahan gambut bagi perkebunan kelapa sawit yang di Riau diperkirakan mencapai 500 ribu ha harus mulai mempertimbangkan sistem tata air dengan memperbaiki kanalisasinya.

“Perkebunan sawit harus ketat terhadap stok air dimana tinggi muka air di lahan gambutnya harus lebih dari 50 cm. Jadi kanalisasinya harus diperbaiki dengan banyak membangun kanal air untuk mengatur muka air,” katanya

Menurut dia, lahan gambut yang rusak tak bisa lagi diperbaiki dengan teknologi apapun, karena itu lahan gambut yang dimanfaatkan menjadi kebun sawit jangan sampai mengubah karakteristiknya.

Ia menyayangkan masyarakat justru menginginkan lahan gambut segera habis agar mendapatkan tanah yang bagus untuk ditanami.

Hasil studi di blok Bukit Batu, salah satu dari lima blok hutan rawa gambut Riau yang tersisa, menunjukkan stok karbon hutan Riau rata-rata 82 juta ton per ha dan cadangan karbon bawah tanah ditaksir 4.970 juta ton per ha.

“Kedalaman gambut Riau ditaksir rata-rata 7,5 meter, tergolong gambut sangat dalam. Tapi ada bukti bahwa lahan gambut di beberapa kabupaten Riau menyusutkan kedalamannya karena kerusakan dan kebakaran,” katanya.

Selain kelapa sawit, Riau juga memiliki hutan tanaman industri berupa akasia untuk industri bubur kertas, yang separuhnya memanfaatkan lahan gambut, ujarnya.

Pada 1985 provinsi Riau tercatat sebagai provinsi yang memiliki hutan alam paling luas dengan cakupan 6,9 juta ha atau 28 persen dari total luas hutan alam Sumatera, pada 2007 berkurang drastis menjadi tinggal 4,3 juta ha.

Sumber :
ANT
Editor :
Benny N Joewono

Lahan Gambut Potensial Jadi Kebun Kelapa Sawit

Lahan Gambut Potensial Jadi Kebun Kelapa Sawit
JAKARTA–MICOM: Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Winarna mengungkapkan lahan gambut memiliki potensi yang baik untuk dimanfaatkan bagi pengembangan kelapa sawit.

Dari hasil penelitian diketahui potensi kelapa sawit padai berbagai tipe gambut cukup tinggi antara 12-27 ton ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare pertahun, katanya, di Jakarta, Kamis (15/3).

Sedangkan rata-rata rendemen minyak sawit berkisar antara 21-23 persen atau 2 persen lebih rendah dibandingkan tanah mineral. “Tanaman kelapa sawit juga toleran terhadap sifat-sifat gambut,” katanya dalam seminar “Lahan Gambut: Maslahat atau Mudharat?” yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan).

Dikatakannya, saat ini sekitar 20 juta hektar lahan gambut tersebar di Indonesia terutama di Sumatra dan Kalimantan. Dari luasan tersebut, lanjutnya, baru sekitar 700-800 ribu ha  yang dimanfaatkan untuk budidaya kelapa sawit dari total luas perkebunan kelapa sawit Indonesia 7,8 juta ha.

Winarna mengakui, pemanfaatan lahan gambut untuk kelapa sawit memiliki berbagai kendala terkait sifat-sifat gambut yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman.

“Oleh karena itu diperlukan penerapan ‘best management practices’ untuk pengembangan kelapa sawit di gambut yang berkelanjutan,” katanya.

Menurut dia, tata air yang efektif merupakan kunci memperoleh produktivitas kelapa sawit yang tinggi pada lahan gambut. Selain itu, lanjutnya, harus didukung infrastruktur jalan dan jembatan, pemupukan serta kultur teknis standar.

Guru Besar Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultan Pertanian IPB, Prof Dr Supiandi Sabiham menyatakan, optimalisasi pengembangan kebun dan industri minyak sawit pada lahan gambut telah memberikan kesempatan kerja sebanyak satu orang per empat hektare.

Dengan demikian, lanjutnya, dari 1,2 juta hektare perkebunan kelapa sawit mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 300 ribu orang, belum termasuk untuk lapangan pekerjaan penunjangnya.

“Selain itu pengembangan pertanian di lahan gambut telah memberikan sumber pendapatan yang cukup signifikan khususnya dari sayuran dan buah-buahan serta tanaman perkebunan terutama kelapa sawit,” katanya.

Dikatakannya, dari luasan lahan gambut sekitar 15 juta hektare sektiar 9 juta hektare sesuai syarat untuk usaha pertanian. Namun demikian, lanjutnya, yang sudah dibuka dan dikembangkan baru sekitar 0,5 juta hektare untuk tanaman pangan yang dikelola petani transmigran serta 1,2 juta hektare untuk perkebunan khususnya kelapa sawit. (Ant/OL-2)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com