Cerita dari Kebun Kelapa Sawit

Cerita sehari-hari tentang kehidupan di perkebunan kelapa sawit

Mulut dan Punggung Dibacok , Toke Sawit Dibantai Rampok

Jumat, 09 Oktober 2009
KAWANAN perampok bersenjata api (Bersenpi) jenis pistol dan bersenjata tajam (Bersajam) jenis parang kembali mengganas. Kali ini sasarannya dialami seorang toke sawit bernama Edi Krismen Laoli (35) warga Desa Talang Bersemi, Batang Cinaku, Indragiri Hulu (Inhu).

Dalam aksinya, kawanan pelaku berjumlah lima orang itu mencedrai korban dengan membacok bagian kepala, mulut dan punggung korban. Akibatnya kini, korban terpaksa terbaring lemas di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru.

Sementara kawanan pelaku yang berhasil menjarah barang berharga milik korban berupa satu unit Laptop merek Accer, satu HP merek MY G190 warna biru, satu lembar STNK Kijang Kapsul Pickup BM 8314 DC, delapan lembar surat tanah dan uang tunai Rp40 juta langsung kabur dengan mengendarai tiga sepeda motor dengan masing-masing merek Honda Mega Pro, Yamaha RX King dan Yamaha Jupiter.

Kabid Humas Polda Riau AKBP Drs Zulkifli MH ketika dikonfirmasi Pekanbaru MX mengatakan, pelaku masih dalam penyelidikan. ‘’Setelah mendapatkan laporan, jajaran Polres Inhu langsung turun kelokasi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan saksi-saksi. Hingga kini, jajaran Pores Inhu masih menyelidiki kawanan perampok tersebut,’’ ungkap AKBP Drs Zulkifli MH, Kamis (8/10).

Keterangan dihimpun Pekanbaru MX menyebutkan, sebelum peristiwa menyeramkan itu terjadi, korban bersama keluarga sedang terlelap tidur. Persisnya, Rabu (7/10) sekitar pukul 02.45 WIB, tiba-tiba lima orang kawanan pelaku perampok dengan membawa senpi laras pendek jenis pistol dan sajam jenis parang masuk kerumah korban dengan cara merusaki pintu belakang rumah korban.

Kemudian, seorang pelaku lalu menodongkan parang dan menutupi mulut istri korban. Sementara dua orang pelaku lalu memukuli korban dengan senpi dan melayangkan parang kebagian tubuh korban.

Akibatnya, bagian kepala, mulut dan punggung korban mengalami luka yang cukup serius. Melihat kondisi korban bersimbah darah dan tak berdaya, tiga orang pelaku yang lainya lalu mengobok-obok ruang tamu dan kamar korban.

Selanjutnya setelah berhasil menjarah barang berharga milik korban berupa Laptop, Hp, STNK mobil, surat tanah dan uang tunai Rp40 juta keempat pelaku langsung kabur dengan mengendarai sepeda motor. Sementara warga setempat yang mendengar jeritan minta korban dan istrinya lalu berhamburan kerumah korban.

Melihat kondisi korban mengalami luka yang cukup memprihantinkan, korban lalu diboyong ke RSUD Indra Sari Pematang Reba, Rengat, Inhu. Setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terbesar di Inhu itu, Rabu (7/10) sekitar pukul 16.00 WIB korban langsung dievakuasi ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. ***

sumber :

http://pekanbarumx.net/content/view/980/52/

Oknum Polisi Ditangkap Curi Buah Sawit

Selasa, 26 April 2011
Seorang oknum anggota polisi berinisial Briptu LS ditangkap sekuriti PT Serikat Putra (SP) karena diduga ikut mencuri buah sawit bersama empat warga di Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan. Kini oknum polisi bersama ke empat warga masing-masing BP, HT, PM,  dan seorang ibu rumah tangga (IRT) HM telah diamankan di Mapolres Pelalawan.
Kapolres Pelalawan AKBP Ari Rachman Nafarin SIK, ketika dikonfirmasi Pekanbaru MX, Senin (25/4) kemarin membenarkan adanya oknum anggotanya yang tertangkap mencuri sawit tersebut. ‘’Walau pun anggota, kalau terbukti bersalah mencuri kita proses. Kini telah kita amankan untuk menjalani pemeriksaan,’’ ujar Kapolres.

Data yang berhasil dirangkum Pekanbaru MX, menyebutkan peristiwa pencurian itu terjadi, Kamis (21/4) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Dua mobil dump truk tertangkap mengakut sawit milik PT Serikat Putra oleh sekuriti. Namun selain mengamankan barang bukti (BB) buah sawit hasil curian yang diangkut dengan truk, juga mengamankan lima orang pelaku.

Setelah diintograsi ternyata satu dari lima pelaku adalah oknum polisi yang bertugas di Polsek Pangkalan Kuras, hingga kemudian para pelaku diserahkan sekuriti ke Polsek Bunut, bersama BB dua truk sawit hasil curian. Dari hasil pemeriksaan selain melibatkan oknum polisi dalam pencurian, juga seorang IRT yang diduga sebagai otak pelaku.

Apalagi aksi pencurian di areal perkebunan sawit milik PT Serikat Putra sering terjadi, hingga petugas sekuriti memperketat pengawasan dan patroli setiap malam. Maka berkat kerja keras sekuriti saat melihat ada dua mobil mengangkut sawti langsung dicegat. Ketika dicek ternyata berisi buah sawit yang diperkirakan isi dua truk mencapai 8 ton milik perusahaan.

Maka atas penangkapan itu langsung dilaporkan ke pimpinan, seraha menyerahkan oknum polisi dan empat warga yang terlibat kasus pencurian, juga membuat pengaduan resmi, dengan kerugian materi mencapai jutaan rupiah. Setelah harga sawit terus melonjak membuat tergiur oleh oknum-oknum tertentu untuk mendapatkan sawit dengan jalan pintas, alias mengambil yang bukan haknya untuk di jual.

‘’Demi ke amanan dan melibatkan oknum polisi. Maka kasusnya kita ambil alih, setelah empat warga yang sempat ditahan di Polsek di pindahkan ke Polres. Sementara oknum polisinya sudah kita tahan sejak kemarin di Polres,’’ ungkap AKBP Ari.***

Sumber :

http://pekanbarumx.net/content/view/3313/52/

Buruh Sawit Dibunuh, Anak Gadis Dilarikan

SEORANG buruh sawit, Ferdi Laia (37) tewas mengenaskan, Ahad (14/10) pagi. Tak cukup menghabisinya secara sadis, kuat dugaan pelaku turut melarikan anak gadis korban yang masih berusia 14 tahun, Sherlina Laia.
Pembunuhan ini terungkap setelah salah seorang kerabat korban, Anton melihat darah berceceran di lantai gubuk tempat tinggal korban di Blok C KKPA Coelan Prima, Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rokan Hulu. Kondisi rumah yang berantakan membuat sang kerabat cemas, apalagi saat itu tak satu pun anggota keluarga korban berada di sana.

Dengan harap-harap cemas, Anton menelusuri seputaran kediaman korban. Betapa kagetnya ia tatkala melihat jasad korban yang sudah tak bernyawa, sekitar 100 meter dari gubuknya.

Usai menemukan mayat itu, Anton mendapati bahwa anak korban berada di rumah warga tak jauh dari sana. Ternyata anak korban Ucok Pari Laia (6) mengalami kondisi sama, menderita luka gores di bagian dada. Kabarnya Ucok sempat kabur saat pelaku menghabisi ayahnya.

Mengetahui kejadian itu, warga berusaha mencari keberadaan kakak korban. Hanya saja, sampai berita ini diturunkan, tak seorang pun tahu di mana dia berada. Kuat dugaan anak gadis korban itu dibawa kabur pelaku.

Hendri, warga sekitar mengaku turut mendengar kejadian itu. Hanya saja, saat ia bersama warga lain datang ke rumah, darah terlihat sudah berceceran. Di sana juga terdapat cangkir berisi tuak.

Selama ini korban diketahui tinggal di gubuk di seputaran lahan sawit milik H Bahtiar. Di sana Ferdi tinggal bersama dua anaknya Ucok dan Sherlina. Sementara istrinya sudah dua minggu pergi mandah ke perkebunan sawit lain.

‘’Bersama warga lainnya, kami kemudian menyisir kebun sawit H Bahtiar, tempat korban bekerja. Korban ditemukan sekitar 100 meter dari gubuknya dengan kondisi sudah tak bernyawa. Namun anak gadis korban tidak kami temukan, diduga diculik pelaku,’’ kata Hendri seraya menambahkan bahwa warga sempat mendengar suara teriakan Sherlina.

Polisi datang tak lama kemudian. Jasad korban dibawa ke RSUD Pasirpangaraian guna keperluan visum. Menurut keterangan medis, korban menderita luka tusuk di bagian rusuk yang tembus ke jantung.

Polsek Kepenuhan dibantu Polres Rohul berhasil mengidentifikasi pelaku. Kuat dugaan pelaku berinisial Da, pria pendatang. Nama ini didapat dari Ucok. Kini polisi masih melakukan pengejaran.

Informasi yang dirangkum, pembunuhan itu bermula ketika Da datang ke barak korban. Di sana mereka sempat menenggak minuman keras. Entah bagaimana, keduanya tiba-tiba terlibat pertengkaran mulut. Dari sanalah kemudian peristiwa pembunuhan sadis tersebut bermula.

Kapolres Rokan Hulu AKBP Yudi Kurniawan SIK saat dikonfirmasi Pekanbaru MX membenarkan kejadian ini. ‘’Kita masih melakukan penyelidikan,’’ singkatnya.

Ketua Persatuan Keluarga Nias Rokan Hulu (PKNR) Aro Jeluhu Laia berharap pihak kepolisian segera menangkap pelaku. ‘’Pembunuhan ini begitu sadis. Kita berharap polisi segera menangkap pelaku dan menemukan anak gadis korban,’’ harap Aro.***

Sumber :

http://pekanbarumx.net/content/view/3677/52/

Buruh Tewas Dibantai di Daerah Perkebunan Kelapa Sawit

Rabu, 03 Maret 2010
DURI—Pertengkaran dua rekan sekerja Agus Waruhu (22) dan Tumpur Pangabean (29) warga Jalan Rangau Km 5 Kelurahan Pematang Pudu Kecamatan Mandau,akhirnya berujung maut.
Korban Agus Waruhu tewas bermandikan darah setelah mengalami luka bacokan sekitar pukul 13.15 WIb, Ahad (28/2) di lahan milik M Lumban Toruan (30) di Kanal Cipto Tegar Ujung, Kelurahan Pematang Pudu,Kecamatan Mandau.

Kapolres Bengkalis AKBP Marudut Hutabarat saat dikonfirmasi Pekanbaru MX melalui Kapolsek Mandau AKP Arief Fajar Satria SH Sik didampingi Kanit Reskrim Aiptu Indra Varenal, Selasa (2/3) membenarkan adanya kasus pembunuhan tersebut.

“Tersangka berikut barang bukti (BB) telah diamankan di Mapolsek Mandau guna proses selanjutnya. Sementara sejumlah saksi-saksi telah kita mintai keterangannya terkait peristiwa tersebut,” ungkap Arief Fajar.

Dijelaskan Kapolsek, peristiwa pembunuhan tersebut terjadi Ahad (28/2) sekira pukul 13.15 WIB. Korban yang merupakan teman sekerja pelaku membersihkan lahan untuk ditanami sawit.

Salah satu saksi yang merupakan kepala kru, menyuruh  pelaku untuk mengambil labu untuk dijadikan sayur, untuk makan siang. Namun pelaku tidak mau, lalu korban Agus mengambil sendiri labu tersebut.

Setelah labu didapat sesampai di depan pelaku labur tersebut di lempatkan ke hadapan pelaku.

Perbuatan korban itu membuat pelaku tersinggung, namun pelaku  pergi meninggalkan korban sambil mengambil mesin cinsaw yang rusak guna diperbaiki.

Kepergian pelaku belum membuat korban senang. Bahkan korban terus mengejek pelaku dengan cibiran. Karena terus diejek, akhirnya pelakupun marah sehingga terjadi keributan.

Saat itu, korban sempat memukul wajah pelaku sehingga mengalami bengkak. Melihat kejadian itu beberapa teman pelaku datang melerai  dan menyuruh pelaku pulang.

Dalam perjalanan pulang menuju ke pondok pelaku masih kesal dan sakit hati. Bahkan pelaku sempat melontarkan ancaman akan membunuh korban.

Mendengar ancaman pelaku, korban pun melawan. Terpancing dengan perlawanan korban, pelaku pun langsung mengejar korban. Korban pun mencoba menghindar dari kejaran pelaku sambil melompati parit.

Saat itulah korban terjatuh. Kesempatan itu tidak disia-siakan pelaku. Pelaku yang memegang golok langsung menghayunkan beberapa kali ke arah korban sehingga mengenai betis kaki kanan sehingga robek.

Tidak hanya disitu, golok pelaku juga menebas jeri kelingking kaki kiri korban hingga putus dan tumit rubek.

Setelah puas membantai korban, tersangka lalu menyerahkan diri ke pondok yang ditempati Tampubolon. Selanjutnya saksi bersama teman-teman satu kru, membawa korban ke pondok. Saat menunggu pompong untuk membawa korban keluar, korban akhirnya menghembuskan nafas terkahirnya.***

Sumber :

http://pekanbarumx.net/content/category/5/28/52/

Pekerja Sawit Tewas Terminum Racun Rumput

Tanjungpandan – Dedi Arifianto Siregar (27), warga Sumatera Utara yang sudah beberapa tahun belakangan ini menetap di perkebunan kelapa sawit milik PT Rabinmas Jaya di dekat Desa Buluh Tumbang, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Selasa malam (24/4) sekitar pukul 23.00 Wib tewas di RSUD Tanjungpandan.
Diduga, meninggalnya pekerja sawit ini akibat salah minum ketika sedang bekerja menyemprot tanaman sawit. Akibat rasa haus yang mendera, bukan air minum diteguk Dedi melainkan racun rumput jenis Rondup. Tapi benarkah informasi itu?
Aina Budiarti (33), istri korban ketika ditemui Rakyat Pos saat menunggu jenazah suaminya di ruang mayat RSUD Tanjungpandan, mengaku tidak mengetahui persis kejadian yang menimpa Dedi. Karena pada saat itu Aina juga bekerja sebagai buruh harian perkebunan kelapa sawit PT Rabinmas Jaya. Namun diakui pada Sabtu sore (21/4/2012), suaminya memang mengeluh tidak enak badan dan terasa lemas setelah pulang bekerja.
“Suami saya memang bekerja di perkebunan kelapa sawit miliknya PT Rabinmas Jaya, namun dirinya tidak langsung dibawah naungan perusahaan tersebut melainkan PT Impian Jaya Lestari,” jelas Aina dengan logat Belitung.
Pada saat suaminya mengeluh tidak enak badan itu, Aina sempat bertanya apa penyebabnya. Karena selain melihat kondisi Dedi seperti orang yang tidak bertenaga, tubuhnya juga terlihat menggigil kedinginan.
Keesokan harinya, kondisi kesehatan Dedi tidak mengalami perubahan. Melihat itu Aina meminta
suaminya untuk tidak bekerja. Namun permintaan tersebut tidak dikabulkan sang suami. Ketika sore hari, saat mereka bersama mencari jamur setelah pulang bekerja, Aina melihat suaminya muntah-muntah. Warna muntahan yang dikeluarkan dari mulut suaminya tersebut ternyata kebiruan.
Karena penasaran dengan kondisi suaminya yang semakin melemah, Aina mencoba bertanya, kenapa kondisinya bisa ngedrop sedemikian cepat.
“Pada saat saya bertanya, suami saya hanya menyebutkan bahwa dirinya salah minum sangking kehausan, dimana ketika rasa haus itu datang, sedangkan kamp dari tempatnya bekerja sangat
jauh, dirinya berusaha mencari air yang ada di sekitar tempatnya bekerja dan ketika melihat ada sebuah gelas berwarna biru berisi air, dirinya langsung meneguknya. Dan ternyata yang diminumnya adalah air yang bercampur dengan racun rumput,” terang Aina.
Mendengar suaminya salah minum begitu, menurut Aina dirinya langsung panik, dan berniat membawa Dedi ke rumas sakit. Namun dikarenakan tidak memiliki uang banyak, langkah pertama yang diambilnya adalah membeli susu kental manis sebanyak 2 kaleng dan susu beruang satu kaleng.
“Susu itu langsung saya minumkan kepada suami saya, dan selanjutnya dirinya tertidur,” imbuhnya.
Keesokan harinya, karena kondisi Dedi semakin lemas dan tak kunjung membaik, bahkan sudah tidak bisa bangkit lagi dari pembaringan, Aina langsung mengambil keputusan untuk membawa suaminya
ke rumah sakit walaupun tanpa memiliki uang yang cukup.
“Melihat kondisi suami saya kembali bertambah parah, pada hari Senin, tanpa menunggu waktu lagi saya langsung membawa suami saya ke rumah sakit. Sayangnya kondisinya hanya bertahan dua hari, Selasa malam, suami saya meninggal dunia di ruang Murai RSUD Belitung,” tandas Aina dengan raut sedih.

Tanpa Pengaman
Sementara itu, Aina dan beberapa kerabatnya yang juga berprofesi sebagai pekerja sawit mengaku dalam bekerja menyemprot rumput di kebun kelapa sawit mereka tidak dibekali peralatan kerja dan pelindung yang di atur dalam UU Ketenagakerjaan.
Mereka mengatakan biasanya para pekerja, saat melakukan tugasnya menyemprot tidak menggunakan alat-alat pelindung tubuh seperti sarung tangan dan masker. Alat-alat tersebut tidak disediakan pihak perusahaan, kalaupun ada sebagian pekerja yang memakai peralatan membeli dengan uang sendiri.
Menanggapi apa yang diungkapkan Aina dan kerabatnya, wartawan harian ini mencoba mengkonfirmasi ke pihak perusahaan yang kebetulan datang ke RSUD. Namun ketika mencoba konfirmasi, pegawai PT Rabinmas menolak mengeluarkan stetmen. Dan menurutnya yang layak ditanya adalah Sapok dari PT Impian Jaya Lestari, perusahaan yang mengelola lahan PT Rabinmas. Alasannya korban bekerja dengan perusahaan tersebut.
“Ini anak buah Sapok, tanya ke Sapok aja,” kata pria yang menenteng tas ini sambil berlalu meninggalkan wartawan.
Sementara itu, Sapok alias Nurhadi, pimpinan PT Impian Jaya Lestari ketika hendak dikonfirmasi via telpon, sayangnya tidak berhasil dihubungi. Beberapa kali wartawan berusaha menghubunginya, selalu gagal karena nomor ponsel yang biasa dipakainya tidak aktif. (day/1)

Sumber :

http://rakyatpos.com/pekerja-sawit-tewas-terminum-racun-rumput.html