Cerita dari Kebun Kelapa Sawit

Cerita sehari-hari tentang kehidupan di perkebunan kelapa sawit

Sawit yang Melukai, tetapi Disukai

HARYO DAMARDONO dan DWI BAYU R

Kasarnya telapak tangan dan kekarnya lengan Mulyani Handoyo mengisahkan beratnya perjuangan hidup warga transmigran Biru Maju itu. Dari penjahit di Tangerang bertransformasi menjadi petani sawit. Itu pun tidak sepenuhnya sukses.

Tahun 1998 saya menemui kepala unit transmigrasi (KUT) Sampit. Setelah membayar Rp 800.000, saya mendapat tanah 2 hektar. Niat awal saya kerja tailor (penjahit) di daerah transmigrasi lalu bertani,” ujar Mulyani pada 22 Desember lalu saat ditemui di Desa Biru Maju, Kecamatan Telawang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Mulyani urung menjadi penjahit karena para transmigran jarang menjahitkan baju. Bertani kelapa sawit—sesuai tren setempat—pun dilakoninya susah payah karena lahan usaha I seluas 0,5 hektar yang diterimanya berpasir, sedangkan lahan usaha II seluas 1 hektar ternyata milik penduduk asli.

”Sungguh gila. Akhirnya hanya pekarangan seluas 0,5 hektar yang layak ditanami. KUT menetapkan lokasi tanpa melihat lapangan,” tutur Mulyani.

Berulang kali Mulyani mengaku dikhianati pemerintah. Padahal, Mulyani kini Sekretaris Desa Biru Maju. Bagaimana pula nasib rakyat biasa?

”Di suratnya ditulis TUBun, artinya transmigrasi umum perkebunan. Namun, Bun-nya hilang. Akhirnya kami usaha sendiri. Dari awal juga mbabat alas sendiri, tidak dibantu pemerintah,” kata Mulyani. Pohon-pohon sawit rakyat merupakan saksi bisu perjuangan warga Biru Maju.

Tiba-tiba pada suatu malam buta tahun 2004, sebuah perusahaan kelapa sawit membuldoser lahan warga Biru Maju. Tanpa peringatan, juga tanpa ganti rugi. Dikawal aparat, lahan seluas 640 hektar diratakan, kemudian ditanami kelapa sawit.

Mulyani dan ratusan keluarga transmigran hanya mampu menahan geram. Lahan transmigrasi mereka dicaplok begitu saja. Mimpi menjadi petani, terutama petani komoditas sawit, sirna. Sekelompok orang seperti Mulyani bertahan hingga kini, tetap bertani di lahan lain, tetap tanpa hak yang jelas. Sementara puluhan keluarga lain kembali ke Jawa dan Sumatera.

Kisah sukses

Kondisi Riau lebih baik. Sekitar 940.000 warga dari 5 juta penduduk Riau menggantungkan hidup pada kelapa sawit. Sukacita merebak saat harga tandan buah segar tinggi. Toko mobil di Riau selalu kebanjiran permintaan mobil baru. Mobil sport utility vehicle atau yang berkabin ganda ditemui hingga pedalaman.

Sebuah desa eks transmigrasi di Desa Pematang Tinggi, Kecamatan Krukut, Kabupaten Pelalawan, Riau, contohnya, nyaris tidak berbeda dengan perkotaan. Ada deretan rumah warga yang bagus dan permanen, bahkan tak sedikit warga punya gedung bertingkat.

Koperasi Unit Desa (KUD) Amanah adalah gambaran betapa sawit menyejahterakan. Setiap petani sawit yang menjadi anggota seperti pekerja kantoran. Setiap bulan mereka mengambil gaji di KUD yang menjadi unit plasma anak perusahaan PT Asian Agri.

KUD Amanah adalah salah satu koperasi terbaik di Riau yang sering dikunjungi warga dari seantero Riau, bahkan dari luar daerah, seperti Kalimantan, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Ukuran keberhasilan itu antara lain meningkatnya penghasilan anggota per bulan, rumah gedung para anggota, mobil bagus, naik haji, atau menyekolahkan anak hingga sarjana dan bersekolah di luar negeri.

Sawit memang primadona bagi sebagian besar warga Riau. Bukan hanya petani kecil, hampir seluruh pejabat di Tanah Melayu itu memiliki kebun sawit. Kunjungan akhir pekan ke kebun kelapa sawit menjadi salah satu acara wajib mereka. Bahkan, salah satu ukuran keberhasilan ditentukan oleh luasnya kebun sawit yang mereka miliki.

Aziz Purba (53), warga Desa Banjaran Godang, Kecamatan Kotarih, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, juga membuktikan kesuksesannya. Dari sekadar petani, kini dia memiliki gudang kelapa sawit berkapasitas 100 ton.

Perkenalan Aziz dengan kelapa sawit dimulai tahun 1987 saat bekerja di perkebunan milik pengusaha Tionghoa. Sepuluh tahun kemudian, dia membeli 2 hektar lahan kelapa sawit dengan sistem plasma.

Hasilnya, ia memanen 3-4 ton per bulan, di atas rata-rata 1,5 ton per hektar per bulan. Kuncinya, Aziz memberikan pupuk 2 kilogram per tahun. Dia berprinsip, jika pupuk melimpah, hasil panen bertambah.

Dari Kabupaten Sanggau, salah satu sentra kelapa sawit tertua di Kalimantan Barat, menjadi petani plasma PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII merupakan jalan menuju masa depan yang lebih baik. Tahun 2000, 88 petani di Sanjan Emberas, Desa Pandan Sebuat, Kecamatan Tayan Hulu, Kabupaten Sanggau, Kalbar, memutuskan bergabung dengan PTPN XII.

Ketua KUD Harapan Tani Makmur Sanjan Emberas Marsianus Polin menjelaskan, setelah empat tahun, mereka mendapat kapling sesuai luas lahan yang diserahkan. Untuk 7 hektar lahan yang diserahkan, petani mendapat satu kapling kebun kelapa sawit seluas 1,4 hektar. Sejak bergabung dengan perusahaan, selama empat tahun mereka menjadi buruh dengan penghasilan tetap.

Konsep plasma atau perkebunan inti rakyat sejatinya merupakan simbiosis mutualisme. Apabila dikerjakan dengan bertanggung jawab, dapat pula meminimalkan konflik. Tak heran jika Pemprov Kalteng melalui Perda Nomor 5 Tahun 2011 seolah mendesak kemitraan.

Jika ketentuan soal plasma dipatuhi, minimal 20 persen dari luas perkebunan milik perusahaan harus dialokasikan untuk plasma. Artinya, akan ada 155.200 hektar lahan di Kalteng yang pengelolaannya bermitra dengan warga sekitar. Kini realisasi baru 10 persen atau 77.600 hektar.

Menurut Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah Rawing Rambang, perusahaan yang mengajukan izin membangun perkebunan diwajibkan menerapkan ketentuan itu. ”Sebenarnya tidak harus plasma. Perusahaan, misalnya, bisa bermitra dengan menggunakan angkutan masyarakat,” tuturnya.

Sawit dapat lebih bermanfaat bagi semua andai industri hilirnya diperbanyak. Malaysia, misalnya, telah menciptakan 100 produk turunan minyak kelapa sawit mentah, sementara Indonesia baru 47 produk. Padahal, ketika industri terbangun, minimal tercipta lapangan pekerjaan untuk rakyat tanpa lahan. (A HANDOKO/SYAHNAN RANGKUTI/MOHAMMAD HILMI FAIQ)

Sumber :

http://regional.kompas.com/read/2013/01/11/02423910/Sawit.yang.Melukai.tetapi.Disukai

Kisah Sukses Sugiharti, Petani Berprestasi Nasional 2012

SUGIHARTI merupakan Ketua pada kelompok tani Tunas Karya, Jorong Kurnia Kamang, Nagari Kamang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung, terlahir pada tanggal 23 Februari 1969 di Padang Panjang.

Kelompok tani ini juga telah bergabung pada Gapoktan Kerukunan Tani Mandiri. Pendidikan terakhir beliau adalah S1 Ekonomi. Memiliki 3 orang anak dari suami yang bekerja sebagai seorang petani sawit.

Kegiatan yang dilakukan Sugiharti sehari-harinya adalah menjalankan tugas sebagai pengelola usaha tani kelapa sawit seluas 4 ha dengan produktivitas mencapai 5 ton/ha/bulan, kakao seluas 0.5 ha dengan produksi 40 kg/bulan, pinang berjumlah 100 pohon dengan produksi 100 kg/bulan, ternak sapi berjumlah 15 ekor dengan luas kandang 400 m², ternak ayam buras berjumlah 100 ekor dengan luas kandang 48 m², dan ternak itik berjumlah 250 ekor dengan luas kandang 1.600 m².

Ternak sapi beliau juga berintegrasi dengan kebun kelapa sawit miliknya, sehingga dapat saling menguntungkan antara lain kotoran sapinya dapat menjadi pupuk organic di areal kebun kelapa sawit sehingga dapat memperbaiki struktur tanah dan menambah unsur hara tanah, pengendalian gulma pada kebun kelapa sawit dapat berkurang dengan adanya sapi yang memakan rumput-rumputan, sapi dapat digunakan sebagai alat angkut hasil panen buah kelapa sawit melalui gerobak yang ditarik.

Kemudian kebun kelapa sawit dapat menjadi ladang makanan bagi sapi untuk penggemukannya. Selain di bidang pertanian, Sugiharti juga mengelola kolam ikan antara lain ikan lele berjumlah 29.600 ekor dengan luas kolam 296 m², ikan nila berjumlah 8.700 ekor dengan luas kolam 580 m², ikan patin berjumlah 10.000 ekor dengan luas kolam 500 m², dan ikan gabus berjumlah 250 ekor dengan luas kolam 500 m².

Tidak hanya di hulu, Sugiharti juga mengelola industri hilir berupa pengolahan ikan lele asap (salai) dengan produksi 150 kg/bulan. Dalam bidang kehutanan, Sugiharti juga menanam pohon mahoni dan pohon jati masing-masing sebanyak 100 pohon yang ditanam pada sekeliling batas kebun miliknya. Sugiharti dalam mengelola unit usahanya dibantu juga oleh suami dan karyawan yang berjumlah 8 orang.

Dari segi permodalan, Sugiharti pada tahun 1998 mendapatkan kredit dari KKPA (Kredit Koperasi Primer Anggota) sebanyak Rp. 6.500.000,-. Kemudian pada tahun 2008, beliau mendapatkan kredit dari Bank Pembangunan Daerah (Bank Nagari) sebanyak Rp. 50.000.000,-. Selanjutnya pada tahun 2010 mendapatkan pinjaman dari Bank Mandiri sebanyak Rp. 330.000.000,-.

Semua pinjaman tersebut digunakan oleh Sugiharti untuk modal bagi usaha taninya seperti yang telah diuraikan di atas. Dalam perjalanannya, Sugiharti terus bersemangat dalam mengembangkan usaha taninya, terbukti dengan telah banyaknya warga masyarakat lain termasuk di luar daerah yang telah mengikuti jejaknya untuk berkolam ikan.

Saat ini Sugiharti telah mencoba untuk mengembangkan hasil olahan ikan berupa dendeng ikan, abon ikan, crispy ikan, bakso ikan, kerupuk ikan, dan pakan ikan. Pemerintah Daerah melalui Instansi terkait juga memberikan perhatian yang cukup besar kepada Sugiharti dengan mengirim beliau untuk mengikuti pelatihan-pelatihan baik di bidang budidaya pertanian, perikanan maupun hasil olahannya.

Selain itu, hasil olahan yang diusahakan oleh beliau juga selalu diikutkan pada pameran-pameran yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sijunjung maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. (M. Iwan Kurniawan, SP – PP Kab. Sijunjung)

Sumber :

http://budidaya-ikan.com/kisah-sukses-sugiharti-petani-berprestasi-nasional-2012/

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Dari Sepeda Kumbang ke Toyota Fortuner (Kisah Sukses Petani Sawit dari Hutan Pelelawan)

 SEPEDA kumbang tua tergantung di dinding. Warnanya kusam, terbalut karat.

“Inilah harta saya satu-satunya saat saya meninggalkan desa, bertransmigrasi ke sini tahun 1990,” kata Suprianto, petani sawit di Kecamatan Pangkalan Lesung, Pelelawan, Riau, kemarin.

Kini, Supri (panggilan akrabnya) ke mana-mana mengendarai Toyota Fortuner yang dibelinya tahun lalu seharga Rp420 juta. Dua mobilnya yang lain digunakan untuk mengangkut hasil panen sawit. Bahkan, dua mobilnya yang lain lagi, diberikan kepada dua anaknya yang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya.

Supri kini jadi simbol petani sukses. Dia menjadi mitra PT Sari Lembah Subur, produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) anak perusahaan PT Astra Agro Lestari (Grup Astra Internasional). PT Sari Lembah Subur memiliki dua pabrik pengolahan CPO di Pelelawan. Pabrik 1 memproduksi 60 ton CPO per jam, pabrik 2 kapasitasnya 30 ton per jam.

Rumah Supri tampak megah senilai sekitar Rp900 juta di Pangkalan Lesung, Riau, mempertegas kesuksesannya. Rumah dua lantai itu kelihatan moncer di tengah kebun sawit. Padahal, rumah itu pada 1990 sangat sederhana, sebagaimana umumnya rumah untuk para transmigran.

Ditanya wartawan, apa kiat suksesnya? Supri tak segera menjawab. Matanya memandang kebun sawit, seolah ia berusaha mengingat-ingat. “Apa, ya,” gumamnya. “Pokoknya, saya kerja terus, pantang menyerah,” katnya.

Supri kelahiran Tulungagung, Jawa Timur, 1963. Ia mengenyam pendidikan sampai SMP. Dia menyebutnya S-2 “Bukan sarjana, lho, tapi SD dan SMP,” ujarnya ketawa.

Setelah dewasa dia bekerja sebagai kuli bangunan, lantas meningkat jadi tukang bangunan. Kenalan dengan gadis asal Trenggalek, Jawa Timur, bernama Miasih, saat mereka sama-sama main di sebuah lapangan bola di Trenggalek. Mereka pun berpacaran.

Tahun 1988 Supri-Miasih menikah secara sederhana di rumah orang tua Miasih di Trenggalek. “Perayaannya sederhana sekali. Hanya dihadiri keluarga dan sebagian teman kami,” kenang Supri.

Miasih yang mendampingi Supri saat wawancara, tersenyum memandang suaminya yang sedang bercerita. Dia menimpali, “Waktu itu saya masih umur 16,” katanya.

Meski penghasilan Supri tidak stabil, tapi pengantin baru ini tetap bahagia. “Kalau saya dapat garapan (pekerjaan) membangun rumah, kami bisa makan enak. Kalau sepi garapan, kami makan seadanya,” kenang Supri.

Upaya Mengubah Nasib

Tapi, ketika anak pertama mereka, Mawan Haryanto, lahir pada 5 Mei 1990, keluarga muda ini mulai gelisah. “Kalau hidup kita begini terus, bagaimana membiayai sekolah anak kita, Pak?” kata Miasih pada suaminya. Mereka mulai galau.

Supri diberitahu tetangganya bahwa ada empat transmigran di Riau yang balik kampung, meninggalkan rumah jatah transmigrasi. “Tanpa banyak pikir, saya berniat menggantikannya. Kebetulan, isteri mendukung niat ini,” kenangnya.

Tapi, ada biaya administrasi untuk itu. Besarnya Rp350.000. “Saya berusaha sana-sini, akhirnya dapat uang segitu. Maka, kami sekeluarga berangkat,” ceritanya.

Apa saja yang dibawa dari desa? “Pakaian, sedikit perabot dapur, alat pertukangan, dan sepeda kumbang yang biasa saya pakai,” jawabnya. Mawan saat itu masih bayi lima bulan. Mereka diangkut kapal menuju Riau.

Tiba di lokasi, Supri dan isterinya kaget. “Kondisinya sepi di tengah hutan. Jarak dengan tetangga sangat jauh, tidak seperti di Tulungagung,” ceritanya. Supri membawa oblik (lampu minyak) sebab sudah diberitahu bahwa belum ada listrik.

Rumah jatah transmigrasi itu ukuran 5 x 7 meter di atas lahan setengah hektare. Ada satu kamar, ruang tamu, dan dapur. Atap seng, dinding papan, lantai tanah. Di dalam kamar ada balai kayu untuk tempat tidur. Oleh Supri diberi alas tikar untuk tidur mereka.

“Selama seminggu kami tidak bisa tidur nyenyak, sebab tiap malam anak saya selalu nangis, digigit nyamuk,” kenangnya. Siang harinya si bayi tetap tidak bisa tidur, sebab atap seng membuat suhu dalam rumah terasa panas.

“Sampai saya akali dengan membuat bentangan plastik di atas tempat tidur, supaya tidak terlalu panas. Dengan begitu anak saya bisa tidur,” tuturnya.

Bagaimana makanan? “Ada jatah beras dan ikan asin. Tapi, sejak hari kedua saya sudah mulai menanam padi, jagung, palawija di pekarangan. Bibitnya, minta tetangga,” jawabnya.

Kemudian pekerjaan bertanam diserahkan ke isterinya, sedangkan Supri mencari pekerjaan (sebagai tukang bangunan) di Air Molek, sekitar 25 kilometer dari rumahnya. “Saya berangkat pagi buta, numpang truk yang lewat. Pulangnya sore, numpang truk juga,” katanya.

Rejeki dari buah sawit

Sesuai aturan, transmigran mendapat jatah tanah garapan dua hektar, selain setengah hektar pekarangan rumah. Namun, jatah tanah garapan Supri baru dia terima dua tahun kemudian.

Sejak itulah, lahan dua hektar digarap maksimal. “Saya tanami sawit, sebab hasil panen langsung dibeli PT Sari Lembah Subur (SLS). Bibitnya juga pinjam dari SLS,” katanya.

Ekonomi keluarga Supri jadi membaik dengan menjadi petani sawit. Pada 1993 lahirlah anak kedua, Rini Widowati (kini masih kuliah di Fakultas Kedokteran, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, sementara Mawan sudah lulus dari almamater yang sama dan bertugas sebagai dokter di Jember, Jatim).

Tak puas menjadi petani sawit, Supri membuka usaha pembuatan bahan rumah tangga dari kayu. Produknya pintu, jendela, kusen, lemari, meja, kursi. Ini sejalan dengan keahliannya sebagai tukang bangunan. Awalnya, dia membuka usaha di halaman rumahnya, pada 2004 dengan empat karyawan. Setahun kemudian dia membuka cabang di Air Molek dengan empat karyawan juga.

Ditanya, berapa omzet usaha usaha itu? Supri tersenyum, enggan menyebut angka. Sedangkan penghasilan dari kebun sawit berapa? Lagi-lagi, ia enggan menyebutkan angka.

Apakah anda punya investasi? “Saya punya kebun sawit 50 hektare di Kalimantan,” jawabnya. Pengelolaanya dia percayakan kepada saudaranya. Total penghasilan Supri sebenarnya melebihi gaji direksi bank swasta tingkat menengah.

Kesejahteraan keluarga Supri terukur ketika dia memperbaiki rumahnya. Pada 2005 (15 tahun sejak dia masuk Riau) Supri sudah punya tabungan lebih dari Rp30 juta.

“Waktu merehab rumah ini (2005), tabungan isteri saya Rp28 juta buat beli bahan bangunan,” kenangnya. Itu belum termasuk ongkos kerja yang dia kerjakan dibantu beberapa tukang dari Jawa Timur. Juga tidak termasuk perabotan kayu yang diproduksi sendiri. Hasilnya, bangunan rumah berlantai dua itu memang tampak megah.

Bagaimana kinerja Supri sebagai pemasok sawit ke PT SLS? “Yang tahu persis sebenarnya pihak KUD Amanah,” jawab Administratur PT SLS, Nyoman Pande Sutantra. “Tapi, melihat kesuksesan dia, mestinya kinerja dia bagus,” tambahnya.

Menurut Nyoman, rata-rata petani pemasok sawit ke PT SLS berkinerja bagus. Kriterianya teruji melalui kualitas sawit yang dipasok ke PT SLS. Jika petani menanam bibit sawit berkualitas bagus, pasti hasilnya bagus juga.

Di kalangan tetangga, Supri dikenal dermawan. “Kalau ada tetangga yang kesulitan, Pak Supri tidak segan-segan membantu,” kata salah seorang tetangganya.

Namun, tidak ada keluarga Supri yang melanjutkan jadi petani sawit. Dua anaknya bakal sama-sama praktek dokter di Jawa Timur, kota kelahiran orang tuanya. Jika Supri sudah tua, tak ada lagi yang melanjutkan usahanya sebagai petani.

Kendati begitu, bagi Supri itu tidak masalah. “Justru bagus. Bapak-ibunya petani, anak-anaknya jadi dokter. Saya bersyukur pada Allah atas semua karunia-Nya ini,” katanya. (iz)

Sumber :

http://harian-pelita.pelitaonline.com/cetak/2013/05/30/dari-sepeda-kumbang-ke-toyota-fortuner

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Jadi Petani Sawit Bisa Beli Fortuner & Land Rover, Wow…!

Zulfi Suhendra – detikfinance

Riau – Kehidupan ekonomi petani kelapa sawit di Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan, Riau tergolong cukup sejahtera. Hanya berkebun kelapa sawit, mereka bisa membangun rumah dan membeli kendaraan roda empat kelas atas seperti Toyota Fortuner, Land Rover dan lain-lain.

“Alhamdulillah saya sudah bisa bangun rumah, banyak juga yang beli kendaraan, Innova, Land Rover, Fortuner, saya sendiri beli Innova, semua dari sawit,” ungkap salah satu petani di Ukui, Riau Sunaryo kepada detikFinance, Rabu (2/5/12).

Sunaryo mengakui dengan menjadi petani sawit, hidupnya lebih sejahtera dibanding pekerjaan sebelumnya petani padi. Ia beralasan dengan berkebun sawit, dalam sebulan ia bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp 16 juta.

“Saya garap 8 hektar, dalam satu hektar rata-rata taruh lah Rp 1,5-2 juta, jadi rata-rata bisa Rp 16 juta,” tutur Sunaryo.

Sunaryo yang telah menggarap sawit selama 24 tahun ini pun telah menunaikan ibadah haji berkali-kali. Ia mengaku, sampai sekarang telah 2 kali pergi haji ke Tanah Suci.

“Alhamdulillah saya sudah naik haji 2 kali, Insya Allah tahun 2013 dengan bapak ibu saya, waktu pertama saya sendiri, kedua saya sama istri dan mertuanya. Bahkan musim haji kemarin, desa ini memberangkatkan 22 kepala keluarga untuk pergi haji, semuanya petani sawit,” sambungnya.

Bahkan, dia telah mampu menyekolahkan anaknya sampai jenjang kuliah. Kenyataan ini bagi kebanyakan petani sawit di Ukui, merupakan hal yang lumrah. “Saya bisa menyekolahkan anak, anak saya kuliah di Semarang. Untuk anak petani disini semua yang sudah tamat SMA , pasti masuk kuliah,” kata Sunaryo.

Berdasarkan pengamatan detikFinance, rata-rata taraf hidup perekonomian penduduk sekitar Ukui, Riau terlihat sangat berkecukupan. Hal ini ditandai dengan banyaknya rumah mewah tegak berdiri milik petani yang berdampingan dengan luasnya perkebunan sawit.

Sumber : http://finance.detik.com

-

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Kisah Sukses Yulianto; Waralaba Kelapa Sawit

Yulianto adalah mantan petani plasma tebu Kabupaten Pelaihari, Kalimantan Selatan. Ia kini telah menjadi pewaralaba sukses. Mitra bisnisnya telah menjangkau seluruh pulau Kalimantan, kecuali Kalimantan Barat. Kesuksesannya bukan tanpa alasan. Ia memiliki kejelian tinggi terhadap prospek bisnis waralaba bibit kelapa sawit.

Sebelumnya, ia berwirausaha di bidang komoditi tebu. Kemudian ia beralih ke kelapa sawit. Yulianto memenuhi syarat legalisasi pewaralaba dengan mengajukan permohonan kepada Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan untuk membuat TRUP.

Usahanya ini didukung juga dengan adanya bantuan pemerintah pusat kepada kelompok tani melalui sistem Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) untuk menanam bibit kelapa sawit pada tahun 2003. Yulianto bernaung di bawah bendera Koperasi Agro Berseri Pelaihari. Awalnya, ia mencoba menangkarkan bibit kelapa sawit sebanyak 180.000 batang untuk lahan seluas 1.000 hektare.

A. Modal
Modal yang dibutuhkan untuk menangkarkan bibit sebanyak 180.000 batang cukup besar, yakni sekitar 200 juta. Selain itu, dana APBN baru akan cair pada bulan Juli—Agustus 2003, sedangkan pekerjaan harus dimulai pada bulan Januari 2003.

Namun, Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan bersedia memfasilitasi program waralaba (bibit siap tanam) kelapa sawit dari PPKS. Akhirnya, penangkaran tetap dimulai dengan 180.000 batang pada tahun 2003.

Selama empat tahun berikutnya, jumlah bibit bertambah menjadi 200.000 batang. Usaha pembibitan memiliki keuntungan yang besar. Keuntungan tersebut digunakan untuk memperluas lahan dan menambah modal kerja hingga skala usaha menjadi bertambah besar. Selain itu, kerja keras dan disiplin dalam pengelolaan keuangan juga menjadi faktor berkembangnya usahanya.

B. Pemasaran.
Banyak petani yang datang memesan sendiri dikarenakan kebun pembibitannya memang dekat dengan wilayah pertanaman kelapa sawit milik petani. Yulianto mencoba untuk mengikuti tender pengadaan bibit dari Pemerintah Kalimantan Selatan.

Konsumen menginginkan bibit yang kondisinya bagus. Pasalnya, kepuasan konsumen adalah kunci keberhasilan usaha. Setelah konsumen merasa puas, biasanya akan datang konsumen baru.
Konsumen baru, umumnya mendapatkan informasi dari konsumen yang telah terlebih dahulu membeli bibit. Pemasaran bibit dari Yulianto saat ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan wilayah Kalimantan Selatan. Namun, hingga ke Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, baik untuk keperluan proyek pemerintah, perkebunan rakyat, maupun perkebunan besar swasta.

Dengan keberanian dan kerja keras, Anda bisa mengikuti jejak Yulianto. Anda tinggal mengikut berbagai pola dan teknisnya secara mudah dalam buku “Meraup Untung dari Bisnis Waralaba Bibit Kelapa Sawit”.
Di dalam buku yang diterbitkan AgroMedia Pustaka ini dibahas mengenai waralaba secara umum, bentuk, pelaku, dan potensi waralaba kelapa sawit, persiapan waralaba kelapa sawit, seperti modal, persiapan lahan, pengajuan permohonan, dan pembayaran, pembibitan, sampai kepada sistem pemasaran, baik melalui tender, promosi, maupun internet.

Selain itu, diberikan pula analisis usaha agar Anda bisa membuat asumsi analisa biaya, pendapatan, dan keuntungan. Kesuksesan Anda adalah cerminan dari sejauh mana Anda membaca peluang dan metode yang diterapkan.

Selamat mencoba!

Sumber :

http://agromedia.net/Artikel/kisah-sukses-yulianto-waralaba-kelapa-sawit.html

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Kisah Sedih Petani Sawit Perempuan

Rangkuman dari tulisan:

Julia and Ben White. 2012. “Gendered Experiences of Dispossession: Oil Palm Expansion in a Dayak Hibun Community in West Kalimantan”. Journal of Peasant Studies 39 (3-4): 995-1016

Pembukaan perkebunan kelapa sawit memberikan dampak yang berbeda-beda bagi masyarakat lokal. Dalam penelitian ini, Julia dan White menyoroti dampak yang dirasakan perempuan Dayak Hibun di Dusun Anbera, Desa Dabat, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sebagai gambaran awal, sebagian besar perempuan Dayak Hibun putus sekolah setelah menyelesaikan SD. Usia pernikahan rata-rata berkisar antara 13-20 tahun. Dewan Adat Hibun mengampu urusan adat masyarakat Hibun.

Sebelum perkebunan kelapa sawit dibuka, masyarakat menanam karet, beras, serta ladang campuran. Lahan adat terdiri dari tiga jenis, yakni lahan kolektif (poyotono), lahan milik klan atau satu keturunan keluarga (poyotiant), dan lahan individual dari warisan. Perempuan Dayak Hibun berhak mendapatkan warisan tanah sama seperti laki-laki. Mereka mendapat hak mengakses tanah komunal adat dan hutan, sama seperti laki-laki. Hanya saja, perempuan tidak terlibat dalam struktur formal kepemimpinan adat.

Ketika perusahaan hendak membuka perkebunan sawit, perusahaan mendekati pemimpin formal maupun informal, yang terdiri dari pemimpin adat, pemimpin masyarakat lokal, guru, pemimpin keagamaan, dan lain-lain. Perempuan Dayak Hibun Dusun Anbera tidak ikut terlibat dalam pengambilan keputusan pembukaan perkebunan sawit, sebab semua pemimpin tersebut berjenis kelamin laki-laki. Para pemimpin ini ditugasi untuk memberi tahu warga lain, termasuk para perempuan. Mereka mendapatkan bayaran untuk melakukan tugas tersebut, juga untuk mendaftar sebanyak mungkin petani kecil ke dalam skema inti-plasma. Di kemudian hari, mereka bersama dengan kepala desa, anggota kepolisian dan militer, direkrut sebagai Satuan Pelaksana (Satlak) perusahaan yang digaji tiap bulan.

Secara formal, konsesi lahan komunal diserahkan kepada perusahaan perkebunan dalam bentuk Hak Guna Usaha (HGU). Hal ini menghilangkan hak masyarakat adat terhadap lahan komunal. Mereka diajak bergabung dalam skema inti-plasma perkebunan sawit. Skema ini mengharuskan mereka menyerahkan lahan untuk mendapatkan sepetak kebun sawit dengan perbandingan 5:2 atau 7:2. Artinya, mereka memberikan lima atau tujuh hektar lahan dan mendapatkan dua hektar lahan yang sudah ditanami sawit. Sisa tiga atau lima hektar lahan tersebut menjadi milik perusahaan inti perkebunan. Meskipun kebun sawit yang mereka dapatkan itu lebih kecil daripada lahan yang mereka serahkan, setelah mendapatkan kebun sawit mereka harus membayar cicilan untuk melunasi kebun tersebut. Hasil bulanan yang mereka dapat dari panen sawit dipotong oleh perusahaan, antara lain untuk membayar cicilan, pemeliharaan infrastruktur, ongkos transportasi, pembelian pupuk, dan bibit.

Pemerintah memberlakukan sertifikasi lahan pribadi berkenaan dengan pembukaan perkebunan sawit. Proses formalisasi kepemilikan lahan ini menunjuk laki-laki kepala keluarga sebagai pemilik lahan. Perempuan dapat menjadi pemilik lahan secara formal jika suaminya meninggal atau bercerai. Satu perempuan bukan janda yang diwawancara dalam penelitian ini mengatakan bahwa ia membuat KTP dengan status janda supaya bisa memiliki lahan secara formal. Tadinya, secara adat, perempuan Dayak Hibun memiliki lahan, misalnya melalui warisan. Namun, akibat proses formalisasi kepemilikan lahan, sertifikat lahan itu harus atas nama suaminya. Akibatnya, kontrol perempuan terhadap penghasilan keluarga berkurang. Perempuan yang mengalami hal ini ada yang harus menjadi penderes karet di kebun tetangga untuk memenuhi keperluan sendiri dan pendidikan anak. Tanpa kepemilikan formal terhadap lahan, perempuan tidak bisa memberi jaminan kepada bank untuk mendapatkan kredit. Perempuan juga tidak bisa menjadi anggota koperasi sawit maupun Serikat Petani Kelapa Sawit, karena hanya petani sawit terdaftar yang bisa menjadi anggota.

Dampak lain yang dirasakan perempuan Dayak Hibun adalah pembagian tugas yang lebih berat bagi perempuan. Mulanya, ada perbedaan tanggung jawab yang jelas antara laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan pertanian. Laki-laki melakukan pembakaran untuk membuka ladang, perempuan merawat ladang. Pekerjaan membersihkan lahan, menanam, dan memanen dilakukan bersama-sama oleh laki-laki dan perempuan. Hasil pertanian berupa beras tabu dijual, hanya untuk dimakan keluarga atau dibarter. Karet dideres oleh laki-laki dan perempuan. Hasil berupa latex dijual oleh laki-laki. Perempuan identik dengan tanaman yang tidak dijual, sementara laki-laki mengurus tanaman yang menghasilkan uang kas.

Pada perkebunan sawit, perempuan merawat pohon sejak pukul 06.00 atau 07.00 sampai pukul 16.00. Perempuan harus bertanam sawit di lahan sendiri, bekerja sebagai buruh perkebunan inti sawit, serta menjadi pemulung berondol sawit yang jatuh untuk menambah penghasilan dan mendukung keuangan keluarga. Meski mengerjakan lahan, perempuan bukan pemilik formal, sehingga tidak bisa menjadi anggota koperasi petani sawit. Perempuan menjadi kelas pekerja, sementara jabatan struktural perkebunan dipegang oleh laki-laki. Pemupukan, penyemprotan pestisida, fungisida, dan pemberantas hama dilakukan oleh perempuan. Mereka jarang dilengkapi masker, kacamata, sarung tangan atau sepatu, apalagi boots, meski kandungan kimiawi dari pestisida tersebut berbahaya bagi kesehatan. Perlengkapan tersebut harus dibeli dengan uang sendiri, padahal harganya jauh lebih mahal daripada penghasilan yang mereka terima. Di perkebunan inti sawit, pekerjaan memanen dan menjual hasilnya dianggap terlalu berat untuk perempuan, meski pada kenyataannya perempuan melakukan pekerjaan ini di lahan plasma. Karena pemanenan dan penjualan dilakukan oleh laki-laki, uang hasil penjualan dipegang, bahkan dikelola, oleh laki-laki.

Uang hasil penjualan tersebut seringkali habis di tangan laki-laki dengan alasan membayar tenaga pemanen, padahal sesungguhnya dihabiskan untuk membayar pekerja seks di kafe yang mulai bermunculan. Selain menimbulkan masalah sosial dan keluarga, fenomena ini membuat sumber penghidupan perempuan petani sawit hancur. Perempuan petani sawit harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan hidup. Salah satunya dengan memulung berondol sawit yang jatuh meski harga jualnya lebih rendah daripada tandan buah segar (TBS). Jika tidak diambil pemulung, berondol tersebut hanya akan tergeletak dan membusuk. Hampir seluruh pemulung berondol sawit adalah perempuan. Polisi memperlakukan pemulung berondol sawit sebagai pencuri yang melanggar teritori perusahaan dan mengambil properti. Perempuan diintimidasi, dilecehkan dan diancam. Ada dua perempuan yang pernah diproses secara hukum karena memulung berondol sawit. Meskipun demikian, karena keterdesakan hidup, perempuan tetap memulung berondol sawit, terutama secara berkelompok.

Keterdesakan hidup semakin menghimpit karena perubahan hubungan masyarakat dengan pertanian dan lingkungan. Kelapa sawit ditanam secara monokultur di lahan. Luas lahan pertanian campur berkurang. Kebutuhan terhadap sayur tidak bisa dipenuhi dari lahan sendiri. Hutan rusak oleh perkebunan, sehingga tidak ada makanan yang bisa diambil dari hutan dari tidak ada bahan baku untuk membuat kerajinan rotan yang bisa dijual. Sungai tercemar. Bahkan, ketika perempuan mengambil ikan di sungai, mereka dilarang polisi dan harus mengembalikan tangkapan karena sungai itu milik perusahaan. Situasi ini menyebabkan perempuan mau tidak mau harus ikut mencari nafkah dengan bekerja keras. Mereka pun lebih paham untuk membela kepentingannya dan melawan tekanan dari pihak-pihak yang mengintimidasi.

Secara garis besar, setidaknya ada lima hal yang dialami perempuan Dayak Hibun akibat pembukaan perkebunan sawit. Pertama, perubahan akses dan kendali terhadap lahan dan sumber daya lainnya. Kedua, perubahan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Ketiga, penurunan kendali terhadap penghasilan keluarga. Keempat, perubahan strategi bertahan hidup. Kelima, peningkatan perlawanan terhadap tekanan korporasi dan patriarki. Di sisi lain, pembukaan perkebunan sawit membuat mereka pengetahuan baru. Pengetahuan baru tersebut antara lain tentang ekonomi modern yang bergantung pada uang tunai, karakteristik tanaman, naik turun harga sawit, pentingnya hak atas tanah dan variasi sumber penghasilan, serta efek lingkungan yang dihasilkan oleh perkebunan kelapa sawit.

Sumber :

http://nadya.wordpress.com/2013/01/31/kisah-sedih-petani-sawit-perempuan/

Cerita Petani Sawit Sukses dari Ende Merantau ke Kutai

Memiliki penghasilan besar adalah keinginan tiap orang, tak terkecuali Ahmad (43). Pria asal Ende, Nusa Tenggara Timur itu memilih mengadu nasib ke Kutai Timur, Kalimantan Timur, untuk menjadi petani.

Dengan uang yang dimilikinya, Ahmad membeli enam hektare tanah di Desa Suka Maju, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kaltim. Di tanah miliknya itu, Ahmad bertani kelapa sawit. Alhasil, kini penghasilannya mencapai Rp 18 juta per bulan.

Dalam sebulan, kebun kelapa sawit milik Ahmad bisa dua kali panen. Dari penjualan tandan buah segar (TBS) sawit setiap dua kali dalam satu bulan dia memperoleh hasil kotor rata-rata hingga Rp 21 juta.

“Jadi pendapatan kotor sebesar Rp 24 juta kemudian dikurangi biaya operasional, obat dan pupuk serta pekerja, saya masih memperoleh Rp 9 juta atau Rp 18 juta per bulan,” katanya, Sabtu (20/7).

Ahmad yang didampingi istri Idawati dan ketiga anaknya saat berada di Sangatta, mengatakan, kebun kelapa sawit miliknya telah ditanam sejak 2002. Saat ini dia mengaku sudah menikmati hasil jerih payahnya.

“Saya dengan keluarga sangat bersyukur kepada Tuhan dengan rezeki yang diberikan. Saya dan keluarga juga sangat berterima kasih kepada Pemkab Kutai Timur selama ini memberikan perhatian kepada semua petani,” ucapnya, seperti dilansir Antara.

Menurutnya, bibit kelapa sawit dibagikan kepada warga secara gratis oleh Pemkab melalui Dinas Perkebunan, untuk ditanam di atas lahan masing-masing. “Syukur sekarang hasilnya sudah dapat dinikmati,” kata Ahmad, yang mengendarai mobil Suzuki pickup nomor polisi KT-8251-CD.

Dia mengatakan, untuk penjualan TBS sawit tidak sulit, karena berapapun banyaknya semua dibeli oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Kedatangan Ahmad bersama istri dan anaknya ke Sangatta menurut mereka untuk melanjutkan perjalanan ke Tenggarong, Kutai Kartanagera, Kaltim, mengunjungi keluarga sang istri.

“Kebetulan saya asli berasal dari daerah Ende, NTT, sedangkan istri asli Kutai. Kami ke Tenggarong untuk Lebaran bersama keluarga,” ujar petani sukses itu.

Dia mengantar istri dan anak dulu, kemudian balik lagi ke Wahau mengurus kebun. “Nanti dekat lebaran saya nyusul lagi ke Tenggarong,” katanya.
[dan]

Sumber : http://www.merdeka.com

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Kawanan Gajah Mengamuk di Kebun Kelapa Sawit, Pekerja Dijadikan Bola

Kawanan gajah Sumatera mengamuk di perkebunan kelapa sawit di daerah Minas Provinsi Riau. Akibat amukan kawanan gajah ini mengakibatkan seorang buruh, Samuel Rudi Antoni Aritonang, terluka parah.

“Gajah itu mengangkat suami saya pakai belalai, menginjak dan menendangnya seperti bola. Sungguh sebuah mukjizat dia (Samuel) masih selamat,” kata Nurjenti Sidabutar, istri dari korban seperti dikutip dari Antara, Rabu (22/5).

Nurjenti menjelaskan, kejadian mengerikan itu terjadi pada Sabtu malam (18/5) di kebun sawit di Dusun Flamboyan Desa Kota Garo di daerah Minas Kabupaten Siak. Samuel (42) merupakan buruh sawit yang dipekerjakan menjaga kebun milik pemodal di daerah itu. Menurut Nurjenti, kebun yang mereka jaga tidak jauh lokasinya dari Pusat Konservasi Gajah Riau di Minas.

Sejak menjadi buruh sawit tahun 2005, lanjutnya, kawanan gajah Sumatera liar memang kerap melintas di daerah itu. Pada saat kejadian terlihat tiga gajah yang terdiri dari satu pejantan, induk betina dan anaknya.

Namun, ia mengatakan berdasarkan pengakuan suaminya, tiga gajah yang kali melintas perilakunya berbeda dari biasanya karena tidak bisa diusir. Satwa bongsor itu tidak takut dengan nyala api dan suara mercon yang biasa digunakan warga untuk mengusir gajah.

“Malam itu suami saya terlalu dekat dengan anak gajah ketika coba mengusir. Induknya jadi marah dan menyerang suami saya,” katanya.

Akibat amuk gajah itu, ia mengatakan Samuel mengalami patah tulang rusuk, kedua lengan dan tulang bahu bagian kanan. Selain itu, ia juga mengalami gangguan pada paru-paru sehingga harus mendapat alat khusus untuk bernapas.

Samuel kini masih dirawat secara insentif di RS Santa Maria, Pekanbaru dan memerlukan operasi untuk kelanjutan hidupnya.

“Tapi kami tidak punya biaya. Suami saya cuma pekerja menjaga kebun sawit dengan gaji Rp 1,5 juta sebulan dan kalau ada tanaman rusak pasti dipecat,” kata ibu lima anak itu.

Karena itu, Nurjenti berharap ada bantuan dari pemerintah dan instansi terkait untuk membantu pengobatan suaminya.

“Saya minta pertanggungjawaban dari pemerintah dan instansi kehutanan untuk membantu pengobatan suami saya, karena kami yakin itu gajah jinak bukan gajah liar,” katanya.

Kepala Bidang Wilayah II Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau Memen Suparman saat dikonfirmasi membantah gajah yang menyerang Samuel merupakan gajah jinak binaan Pusat Konservasi Gajah. Sebab, ia mengatakan gajah binaan selalu diikat dan diawasi oleh pawang.

“Gajah kami selalu diikat dengan rantai dan tidak pernah dilepas. Yang menyerang warga itu gajah pasti liar,” ujar Memen.

Ia mengatakan pihaknya juga sulit untuk memberi santunan karena asuransi untuk korban serangan satwa liar sudah tidak ada lagi. Program asuransi korban penyerangan satwa seperti gajah dan harimau berakhir pada tahun 2009.

“Pernah ada asuransi tapi terakhir tahun 2009, sekarang ini sudah tidak ada lagi,” ujarnya.
[hhw]

Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/kawanan-gajah-ngamuk-di-kebun-sawit-pekerja-dijadikan-bola.html

Baca juga kisah-kisah sukses para petani, berita dan harga sawit di bawah ini :