Cerita dari Kebun Kelapa Sawit

Cerita sehari-hari tentang kehidupan di perkebunan kelapa sawit

Kisah Ibu-ibu Pengumpul Sawit Berondolan di Sungaibahar

Jambi Timur
Ditulis oleh WIRA HADI, Muarojambi
Sabtu, 24 Oktober 2009 10:40

Dulu Sehari Bisa Rp 100 Ribu, Kini Tak Sanggup Bayar Cicilan

Tatkala sawit mahal, ratusan pendatang mencoba mencari kehidupan di daerah itu. Mereka bekerja sebagai buruh dan pencari sawit berondolan yang jatuh. Saat ini harga sawit anjlok, bagaimana mereka?
Sebagian besar penduduk Kecamatan Sungaibahar, Muarojambi, adalah petani. Umumnya mereka petani kelapa sawit. Dulu daerah itu merupakan daerah transmigrasi. Tentu penduduk di setiap desa tersebut adalah masyarakat pendatang dari daerah Sumatera dan Jawa.

Program transmigrasi yang dijalankan pemerintah saat itu boleh dikatakan berhasil. Buktinya mereka yang dulu hidup kekurangan, setelah mengikuti program transmigrasi, bisa menyisipkan sedikit kelegaan dan kebahagian bahkan berkecukupan.

Setiap kepala keluarga diberikan satu kapling lahan kelapa sawit berukuran sekitar 2 hektar. Sementara sawit itu bisa dipanen dua kali dalam sebulan. “Satu kali panen bisa 2 ton,” ujar Rahma Wati, warga Unit 17, Sungaibahar.

Menurut wanita asli Jawa itu, pada 2008 harga sawit sempat melambung hingga Rp 2.500 per kg. Jadi 1 ton harganya Rp 2,5 juta. “Kalikan saja, kalau sekali panen bisa Rp 5 juta, satu bulan bisa Rp 10 juta. Apa enggak lumayan?” jelasnya.

Mahalnya harga sawit waktu itu cukup menjadi alasan banyaknya pendatang mencoba mencari peruntungan di daerah perkebunan kelapa sawit. Mereka datang bukan mengikuti transmigrasi dan bukan pula memiliki kebun di daerah. Mereka datang semata-mata untuk bekerja sebagai buruh panen sawit dan mencari buah-buah sawit yang jatuh saat panen. Mereka menyebutnya berondolan. “Banyak sekali orang yang nyari berondolan karena satu hari bisa mendapatkan 40-50 kg,” kata wanita 37 tahun itu.

Para pencari berondolan itu kebanyakan ibu rumah tangga yang tidak punya kebun sawit, sementara suami mereka buruh pemetik atau yang memuat sawit ke truk. Kalau sawit mahal, penghasilan mereka cukup menggiurkan. Bayangkan, kalau satu hari dapat 50 kg dan 1 kg berondolan Rp 2.000, satu hari Rp 100 ribu bisa mereka dapat. “Mana ada gaji buruh sebesar itu untuk ibu-ibu. Makanya mereka banyak yang berhasil dengan menyisihkan uang untuk tabungan, beli motor, bahkan ada yang sudah punya rumah di Jambi,” katanya.

Itu waktu sawit mahal. Sekarang dunia ibarat terbalik. “Jangankan untuk menabung dan bayar cicilan motor atau rumah, untuk makan sehari-hari saja kadang tidak cukup,” kata ibu tiga anak itu.

Kesulitan perempuan pencari berondolan sawit juga dirasakan Martini. Dia beserta suami dan dua anaknya waktu itu ke Sungaibahar untuk mencari kehidupan yang lebih layak dibandingkan di kampungnya di Jawa. Martini menumpang di rumah saudaranya di Unit 17.

Selama di Sungaibahar, Martini bekerja sebagai pencari buah sawit yang berserakan di bawah pohon yang tidak diambil pemiliknya. Dari hasil mengumpulkan buah-buah sawit itu, dalam sehari dia bisa mendapat sedikitnya 30 kg bahkan bisa 50 kg. “Kalau sanggup membawanya, rasanya mau dibawa banyak-banyak,” ujarnya.

Setelah mengumpulkan buah-buah sawit itu, dia mengantarkan ke pengumpul sawit dengan harga Rp 2.000 per kg. Harga sawit berondolan tentu di bawah harga sawit biasa.

Banyaknya penghasilan yang didapatkan membuat Martini semakin semangat. “Memang berjalan dalam kebun sawit itu. Kalau jauh perjalanan tidak bisa dihitung, bayangkan saja satu hari berjalan terus dari satu pohon ke pohon lainnya,” katanya.

Waktu itu roda perekonomian terus beranjak naik. Dari hasil yang dia peroleh, Martini bisa membeli motor walaupun harus mencicil setiap bulan. Ditambah lagi dia mampu membayar uang muka untuk membeli rumah di salah satu perumahan di Kota Jambi. “Kalau waktu itu bayar cicilannya masih sanggup,” ujarnya.

Tatkala harga sawit anjlok, Martini merasakan dampaknya. Bayangkan, dulu bisa memeroleh uang Rp 100 ribu per hari, sekarang kini Rp 15.000. “Mana cukup untuk kebutuhan keluarga,” katanya. Banyak rekan satu pekerjaan bernasib sama dengan dirinya. “Banyak motor ditarik karena tidak sanggup bayar cicilan,” ujarnya.(*)

Sumber :

http://www.jambi-independent.co.id/jio/index.php?option=com_content&view=article&id=4575:kisah-ibu-ibu-pengumpul-sawit-berondolan-di-sungaibahar&catid=3:jambitimur&Itemid=5

Baca juga kisah-kisah sukses para petani, berita dan harga sawit di bawah ini :

Derita Petani Sawit Lampung!

H. Bambang Eka Wijaya

“HARGA sawit tandan buah segar (TBS) pada pengumpul amat rendah—di Mesuji Rp300/kg dan di Way Kanan Rp350/kg—sehingga pendapatan petani sawit berlahan di bawah 2 hektare tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya!” ujar Umar.

“Para petani sawit terpaksa mencari pekerjaan lain, jadi buruh harian mengerjakan apa saja!” “Derita itu khusus dialami petani sawit rakyat yang tidak ada kerja sama dengan perusahaan terkait perkebunan inti rakyat (PIR), dan tak ada kontrak dengan pabrik!” timpal Amir.

“Anehnya, peraturan menteri atau sejenisnya tak ada yang mengatur harga terendah TBS dari sawit rakyat jenis ini, setidaknya begitu kata pihak pabrik yang mengesampingkan giliran masuk pabrik truk sawit rakyat!”

“Akibat truk sawit rakyat dikesampingkan pelayanannya oleh pabrik, ada yang sampai berhari-hari antre tetap tak bisa masuk, pindah antre ke pabrik lain nasibnya sama, hingga akhirnya TBS busuk di truk dan harus dibuang!” tegas Umar.

“Sedihnya, sampai sejauh itu derita para petani sawit rakyat (non-PIR), tak terlihat perhatian dari pemerintah daerah maupun wakil rakyat di legislatif setempat! Bahkan, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi saja tidak, apalagi berusaha melakukan mediasi pihak-pihak terkait untuk membantu nasib petani yang terpuruk!”

“Mungkin karena pejabat daerah maupun para wakil rakyat berasumsi jatuhnya harga minyak sawit akibat krisis Eropa, hingga mereka tak mampu mengatasi masalahnya karena pusaran krisisnya jauh dari jangkauan, mereka pun pura-pura tak tahu nasib malang petani sawit rakyat!” tukas Amir.

“Artinya, mereka tak mau masuk perangkap—terlanjur masuk tapi tak bisa menyelesaikan masalah—seperti banyak kasus yang tak kunjung bisa diselesaikan!”
“Untuk menyelesaikan masalah petani sawit secara ideal memang sulit!” timpal Umar.

“Tapi upaya mengurangi penderitaan petani bukan hal mustahil! Misalnya, kalau sawit petani PIR masih dibayar di atas Rp1.000/kg TBS sesuai aturan menteri atau sejenisnya, kenapa sawit rakyat cuma Rp300? Menghitungnya seperti apa? Lalu perjuangkan, sawit rakyat di atas Rp500/kg TBS!”

“Tapi masalahnya, bisa jadi wakil rakyat ogah repot ngurus rakyat?” tukas Amir. “Lebih asyik ongkang-ongkang menikmati kekuasaan!” ***

Sumber : http://lampost.co/berita/derita-petani-sawit-lampung

Baca juga kisah-kisah sukses para petani, berita dan harga sawit di bawah ini :

Kisah Pilu Nasib Para Pekerja Sawit

Empat bulan sudah saya hidup dan berbaur bersama warga Indonesia di kompleks perkebunan Kelapa Sawit, Sabah, Malaysia. Hati saya cukup memilukan. Banyak hal yang melahirkan bahan gugatan dan kritikan saya atas berlangsungnya kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Bagaimana tidak, setelah sekian lama merdeka, warga Indonesia masih banyak yang berjuang hidup di negeri orang. Perjuangan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Sabah sungguh tidak mudah.

Mereka seperti “sapi perahan” oleh perusahaan untuk memperoleh renteh ekonomi dalam praktik industri minyak sawit di Malaysia. Para TKI kita umumnya diperkerjakan sebagai kuli (pekerja kasar) di perkebunan sawit. Mereka diantaranya bekerja menjadi penombak (penyabit) sawit, pengangkut, dan pemungut biji sawit.

Menjadi penombak, misalnya, di ladang sawit sungguh sangat berat dibayangkan. Ketinggian pohon sawit yang kira-kira tujuh sampai 14 meter harus dipetik dengan menggunakan penjolok sabit, dan untuk menyabit (menjolok dengan menggunakan alat sabit), harus dengan tenaga powerful.

Suka duka menyabit buah sawit, pernah dicoba oleh seorang kawan saya, yang juga pendidik anak-anak Indonesia di Sabah. Saat kawan tersebut menyabit, mata sabit yang telah tertancap di tangkai buah sawit, tak bisa lagi digerakkan atau ditarik keatas dan kebawah. Penjolok sawitnya stuck di atas pohon sawit. Kawan saya yang badannya besar dan gemuk lalu geleng-geleng kepala, mengherankan TKI kita yang sanggup melakoni pekerjaan itu.

Sementara gaji yang diperoleh mereka terbilang murah jika dibandingkan dengan biaya hidup, tenaga yang dikeluarkan dan ancaman resiko yang dihadapi. Para penombak hanya memperoleh upah sebesar RM 18 (setara Rp 54 000) per ton buah sawit dan untuk mendapatkan satu ton, penombak harus bisa menyabit buah antara 50-60 tandang sawit, bergantung dari besar-kecilnya buah.

Para penyabit biasanya paling maksimal bisa mendapat tiga ton sehari dari pagi hingga sore hari. Pencapaian itu sudah sangat luar biasa bagi mereka yang kuat bekerja, jika tidak hanya mendapat 1-2 ton per hari setara dengan Rp 54 ribu hingga Rp 108 ribu sehari.

Hidup di Malaysia dengan gaji sebesar itu, rasanya tak seberapa untuk hidup sejahtera. Sebab, harga kebutuhan barang-barang pokok di Malaysia agak lebih mahal dari Indonesia. Sehingga tak jarang untuk menambah penghasilan keluarga, banyak ibu rumah tangga pun ikut bekerja sebagai pemungut biji sawit di ladang.

Bagi seorang penombak, persoalannya bukan hanya gaji yang tak sesuai, tetapi resiko yang dihadapi bukan main bahayanya. Jika salah-salah menyabit, kepala atau leher sendiri taruhannya. Dalam beberapa kasus, penulis pernah mendengar ada penombak yang nyaris terputus leher kepalanya lantaran tersabit diri sendiri saat menyabit buah sawit. Peristiwa itu terjadi karena sabit yang digunakan saat menyabit lepas dari ujung tangkai penjoloknya sehingga menyabit leher sendiri.

Kejadian semacam itu memang jarang terjadi, tetapi eksiden-eksiden lainnya kerap terjadi. Seperti yang baru-baru ini terjadi di kompleks perkebunan sawit yang penulis huni. Ada seorang pekerja yang tersayat sabit di bagian pahanya karena cerobah menyandarkan penjolok sabitnya di pohon sawit sehingga jatuh mengenai dirinya. Beruntung penjolok sabit yang jatuh hanya mengenai paha, jika tidak, batok kepala yang jadi sasarannya.

Sedih rasanya kalau mendengar kisah para penombak yang terkena sabit sendiri. Sudah kerjanya berat, gajinya tak seberapa, dapat eksiden lagi yang mengancam nyawa. Karena itu, para penombak dituntut ekstra hati-hati dalam bekerja. Sabit yang diikat diujung tangkai penjoloknya harus betul-betul diperhatikan agar tidak lepas ketika menyabit buah, dan sebisa mungkin untuk tidak menyandarkan penjolok sabit di pohon saat beristirahat.

Lain lagi dengan pekerja sebagai pengangkut biji (peloading). Dari segi keamanan dan keselamatan, mereka cukup safe dari resiko eksiden. Pekerja loading ada dua macam, yang pertama peloading blok, kedua peloading rem. Peloading blok hanya bekerja mengangkut buah sawit yang sudah disodok oleh penombak untuk dimuat ke ‘parson’ (mobil pengangkut) lalu diantar ke penampungan (rem). Peloading remlah yang kemudian mengangkut serta mengaturnya kedalam bak mobil lori (mobil tronton) untuk dibawa ke kilang minyak.

Para peloading juga digaji berdasarkan besar kecilnya tenaga kasar mereka dalam mengangkat buah. Hanya saja, gaji mereka lagi-lagi dibayar sangat murah dibanding dengan energi dan beratnya pekerjaan. Setiap pengangkutan se-ton buah sawit untuk peloading blok hanya mendapat bayaran 1 ringgit 75 sen atau RM 1.75 setara dengan Rp 5250. Sementara peloading rem hanya digaji 80 sen atau Rp 2400 per ton. Duit 80 sen di Malaysia hanya cukup untuk membeli satu bungkus mie. Sementara, se-ton buah sawit bukan main banyaknya, antara 50 hingga 60 tandang buah. Berat bukan?

Para peloading rem, misalnya, yang bekerja dengan tenaga ekstra paling maksimal hanya mendapatkan 40 ton sehari. Artinya peloading ekstra tersebut dalam sehari bisa mendapatkan RM 32 setara dengan Rp 96 000. Lagi-lagi, uang sebesar itu tidak cukup untuk meraih kemakmuran di negeri rantau.

Yang juga paling mengusikkan perasaan adalah pekerja-pekerja pemungut biji yang umumnya dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Saya sendiri prihatin melihat para ibu bekerja di ladang memungut biji. Mereka adalah perempuan-perempuan tough (tangguh) yang rela meninggalkan anak-anak dan bahkan bayinya di kandang budak (bahasa Malaysia = tempat penitipan anak) demi menambah pendapatan keluarga.

Kandang budak memang sengaja dibangun oleh perusahaan untuk para rumah tangga pekerja untuk menitip asuhkan anak-anaknya di tempat itu sehingga para ibu rumah tangga bisa ikut bekerja di ladang.

Para ibu biasanya bekerja dari pagi hingga siang hari. Biji yang dipungut dan dikumpulkan dalam karung hanya digaji satu ringgit per karung (karung beras 50 Kg). Ukuran satu karung untuk biji sawit yang kecil itu sungguh sangat banyak. Para ibu harus memungut biji satu per satu yang berceceran di halaman-halaman kebun sawit. Namun, sungguh luar biasa, mereka dalam sehari bisa mengumpulkan biji sawit antara 18 hingga 30 karung (maksimal). Artinya, para ibu tadi dalam sehari bisa mendapatkan uang sebesar RM 18 sampai RM 30.

Jika dikumpul antara pendapatan suami dan istri dalam sebuah rumah tangga memang lumayan. Penghasilan mereka tidak akan bisa diperoleh di kampung halaman. Itulah juga yang barangkali menjadi alasan mengapa mereka betah hidup dan bekerja di ladang sawit. “Cikgu, di sini ada terus kerja, yang penting rajin,” demikianlah kata-kata yang sering penulis dengar kalau bercerita dengan pekerja soal kehidupan di ladang. Alasan sederhana itu memang betul dan masuk akal. Mereka hanya butuh kepastian kerja meski kerja dan upahnya tak sebanding.

Bekerja tanpa pesangon

Para pekerja ladang umumnya digaji harian. Siapa yang bekerja sehari itu yang digaji, jika sudah absent dalam apel pagi (kira-kira jam 5.30) karena alasan sakit atau tetek bengek lain, maka jangan harap akan digaji oleh kompeni. Begitupun kalau para pekerja sudah tidak bisa atau mampu bekerja, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali siap-siap untuk angkat kaki dari kompleks ladang sawit. Sebab, rumah dan tempat tinggal kompleks hanya diperuntukkan bagi mereka yang mau dan bisa bekerja di ladang sawit tersebut.

Sungguh sangat memilukan nasib para pekerja kita di kawasan ladang sawit. Meski bertahun-tahun bekerja di ladang, mereka tidak akan mendapatkan uang pesangon, jasa atau hari tua. Nasib mereka sama persis dengan ungkapan “habis manis sepah dibuang.” Lantas, bagaimanakah sikap pemerintah melihat nasib para TKI kita di ladang-ladang?

Sejauh ini, penulis belum melihat adanya upaya riil untuk memperjuangkan tingkat kesejahteraan para pekerja ladang. Pemerintah seakan tak berdaya melihat nasib pekerja sawit. Pemerintah seolah memandang kondisi pekerja secara biasa. Sementara kehidupan mereka di ladang bukan main kerasnya. Hidup seperti tanpa punya negara dan pemerintah.

Upaya pemerintah yang riil sejauh ini baru di ranah pendidikan, yakni penyelenggaraan pendidikan 9 tahun di ladang-ladang untuk anak-anak para pekerja kita. Program ini begitu penting bagi bangsa dan negara ini untuk membangun generasi mendatang sekaligus untuk memutus siklus generasi pekerja kasar di Malaysia. Karena itu, kualitas dan fasilitas sekolah yang ada di kompleks perkebunan sawit tersebut harus terus ditingkatkan demi masa depan anak-anak bangsa kita. Semoga saja. Amin.

Sumber :

http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/02/17/kisah-pilu-nasib-para-pekerja-sawit-440119.html

Baca juga kisah-kisah sukses para petani, berita dan harga sawit di bawah ini :

Pendapatan Petani Sawit PT Letawa Rp30 Juta/Bulan

 Mamuju Utara, Sulbar (ANTARA News) – Pendapatan petani sawit binaan perusahaan PT Letawa yang beroperasi di Kecamatan Tikke Raya Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat mencapai Rp30 juta per bulan.

Salah seorang petani di Kecamatan Tikke Raya, Hadi, di Mamuju Utara (Matra), Sabtu, mengaku memperoleh penghasilan Rp30 juta per bulan dari hasil penjualan sawit yang dikelolanya ke perusahaan PT Letawa.

Ia mengaku, keuntungan yang didapatkan dari hasil penjualan sawitnya ke PT Letawa yang merupakan anak perusahaan PT Astra Agro Lestari Tbk yang merupakan perusahaan sawit terbesar di Sulbar, sekitar Rp30 juta per bulan, itu diperoleh dari lahan perkebunan sawit yang dikelolanya seluas delapan hektare.

“Lahan sawit kami seluas delapan hektare mampu menghasilkan 15 ton sawit, yang bila dijual maka kami akan diperoleh keuntungan bersih sekitar Rp30 juta per bulan,” katanya.

Menurut dia, dengan penghasilan dari lahan perkebunan sawit yang dikembangkannya sejak tahun 2002 itu dirinya menjadi salah satu petani sawit sukses di Kabupaten Matra yang penghasilannya sudah mampu meningkatkan kesejahteraannya.

Ia berterima kasih kepada PT Letawa yang selama ini telah membina petani plasma seperti dirinya, hingga kesejahteraannya dapat meningkat dari sebelumnya, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.

“Dulu kami hidup dalam keadaan serba sulit tetapi karena sawit yang kami kembangkan ini, maka kami merasa lebih sejahtera, itu semua berkat PT Letawa yang membantu dengan membina petani sawit plasma mengembangkan sawitnya di Matra,” katanya.

Sementara itu Head Of Public Relation PT Astra Agro Lestari Tbk, Topan Mahdi mengatakan, tingginya penjualan hasil produksi sawit petani di Matra membuat kesejahteraan petani lebih tinggi dari kesejahteraan karyawan perusahaan PT Letawa yang hanya mendapatkan gaji di atas upah minimun provinsi Sulbar sebesar Rp1,1 juta.

Ia mengatakan, dengan kesejahteraan petani sawit maka perusahaan sawit PT Letawa yang memiliki luas lahan perkebunan sekitar 7.499 hektare berdasarkan hak guna usaha yang dimilikinya, telah memberikan andil bagi pertumbuhan ekonomi daerah. (T.KR-MFH/F003)

COPYRIGHT © 2011

Sumber : http://makassar.antaranews.com

Cerita-cerita Petani Sawit yang sukses dapat di baca di bawah ini :

“Kisah/Cerita Sukses Petani Sawit”

Sukses Jadi Entrepreneur Setelah Dapat Utangan

Sukses Jadi Entrepreneur Setelah Dapat Utangan

Kisah sukses warga pedalaman Kalimantan Barat setelah menjadi anggota credit union

Hujan deras yang mengguyur Nanga Tempunak, Kamis (19/7) malam, menyisakan jejak pada keesokan pagi harinya, Jumat (20/7). Jalan desa di Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, yang masih berupa tanah itu, terlihat lembap saat KONTAN menyambangi Nanga Tempunak.

Dalam bahasa Dayak, nanga berarti muara sungai. Memang, tak jauh dari Nanga Tempunak yang berjarak sekitar dua jam perjalanan darat dari ibukota Kabupaten Sintang, ada pertemuan antara Sungai Kapuas dan Sungai Tempunak.

Meski terletak di pedalaman, kampung ini sudah terjangkau koperasi kredit atau beken dengan sebutan credit union (CU). Sebuah kantor tempat pelayanan (TP) berlantai dua berdiri megah di tengah-tengah desa tersebut. TP CU Keling Kumang, namanya.

Tidak jauh dari TP ini, sekitar 50 meter, berdiri sebuah rumah berdinding tembok. Keberadaan rumah itu cukup mencolok karena mayoritas rumah penduduk di Nanga Tempunak berdinding kayu, semacam rumah panggung khas Dayak. Di halaman rumah dengan dinding tembok tersebut, terparkir mobil pikap kabin ganda Toyota Hilux berwarna perak.

Masuk ke dalam rumah itu, suasana nyaman dan adem terasa. Sebab, teras belakang menyuguhkan hamparan warna cokelat susu Sungai Kapuas berpadu dengan hijau hutan rimba. Sungguh, pemandangan alam yang betul-betul elok. “Kalau musim pasang, air sungai bisa naik sampai teras belakang,” kata Kalinus Marjo, sang pemilik rumah. Padahal, rumahnya berada di ketinggian sekitar 10 meter di atas permukaan sungai dalam kondisi normal.

Sukses Marjo menjadi salah satu orang paling kaya di desanya tak lepas dari keikutsertaannya dalam credit union. Ceritanya, tahun 2006 lalu ia bergabung dengan Keling Kumang. Informasi soal CU dia dapat dari para aktivis yang masuk hingga ke desa-desa di pedalaman Borneo. “Sebelum resmi menjadi anggota, saya diajari bagaimana menabung dan meminjam uang untuk memanfaatkan peluang,” ujarnya.

Ketika itu, Marjo sedang berbisnis transportasi longboat yang melayani trayek di Sungai Kapuas. Marjo punya dua perahu, yang satu dia sopiri sendiri dan satunya lagi dikemudikan oleh orang lain. Dari usahanya ini, ia mengantongi omzet bersih Rp 100.000 sehari.

Sebelum menggeluti usaha ini, pria yang hanya mengenyam pendidikan sampai sekolah menengah pertama (SMP) ini menjadi penambang emas tradisional di Desa Tanjung Prada. Berangkat dari keluarga tak mampu, Marjo banting tulang mengayak pasir demi mencuil rupiah dari emas. Hasilnya kemudian ia belikan dua longboat seharga total Rp 4 juta.

Semula di desanya tidak ada kantor TP CU. Jadi, untuk menjangkau kantor pusat Keling Kumang yang ada di Kabupaten Sekadau, Marjo harus berjalan kaki selama enam jam. Dia ingat betul, awal menjadi anggota koperasi itu, dirinya mencemplungkan duit Rp 1 juta.

Dua tahun bergabung dengan Keling Kumang, Marjo pun meninggalkan usaha longboat-nya. Dia lalu mulai menjadi pedagang pengumpul alias pengepul karet. Uang untuk membeli karet dari para petani ia dapat dari pinjaman CU. Dari pinjaman awal di 2008 sebesar Rp 25 juta, lama-lama jumlahnya mengembang jadi Rp 500 juta pada akhir 2011 lalu.

Untuk beli kebun

Pinjaman itu tak hanya Marjo pakai untuk modal memborong karet dari petani, tapi juga untuk membeli lahan perkebunan karet. Kucuran dana pertama dari CU yang dia gunakan untuk membeli kebun karet sebesar Rp 260 juta pada 2008 lalu. Kebun karet seluas 20 hektare ia beli dari para tetangga yang menawarkan lahannya.

Kini, bapak tiga anak ini memiliki 30 hektare kebun karet dan 7 hektare kebun kelapa sawit. Marjo mempekerjakan 17 karyawan yang 14 orang di antaranya adalah karyawan tetap. Dalam sehari, kebun karetnya menghasilkan 250 kilogram (kg) hingga 300 kg karet. Dalam sebulan, waktu menyadap karet cuma 18 hari sampai 22 hari.

Karet dari kebunnya dan hasil membeli dari para petani lalu Marjo jual ke Pontianak seharga Rp 11.000–Rp 12.000 per kg. Dia menjual karet hasil sadapan dari kebunnya tiap tiga bulan sekali, dengan nilai penjualan Rp 135 juta hingga Rp 198 juta.

Penghasilan ini belum termasuk pendapatan dari hasil menjual karet yang Marjo beli dari para petani, lo. Dia membeli karet dari ratusan petani yang tersebar di pelbagai kampung. Saban bulan, pria 38 tahun ini bisa menjual karet hasil pembelian dari para petani ke Pontianak hingga tiga atau empat kali. Sekali menjual sampai dua truk atau sekitar 15 ton.

Kesuksesan Marjo tak hanya berbuah kebun luas, rumah megah, dan mobil mewah. Ia pun bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Anak pertamanya kini sedang menempuh pendidikan kebidanan di Jakarta. “Saya berusaha menyekolahkan anak minimal sampai Pontianak. Kalau bisa semua anak saya sekolah di Jawa,” ujar Marjo.

Tapi, Marjo bukan satu-satunya pemilik cerita inspiratif. Lasarus Khancas, petani kelapa sawit, juga mendulang sukses karena cerdas memanfaatkan pinjaman CU. Berbeda dengan Marjo yang menjadi petani di kemudian hari, kelapa sawit sudah menjadi teman Khancas sejak kecil. Sebab, orangtuanya memiliki kebun sawit.

Ya, kebanyakan warga desa di Kalimantan Barat punya kebun sawit atau karet. Dari orangtua, Khancas mendapat warisan kebun sawit seluas dua hektare. Areal segitu sejatinya cukup luas, tapi karena tak ada modal, Khancas menggarapnya secara serampangan. Pendapatannya dari hasil panen kebun tak lebih dari Rp 2 juta.

Makanya, dia ingin maju. Lalu, ia pun mengajukan kredit ke bank. Namun, “Pengajuan pinjaman saya ke bank untuk membeli bibit ditolak,” kata ayah tiga anak ini.

Pada tahun 1999, Khancas mendengar cerita dari beberapa teman yang mendapat pinjaman dari CU. Tertarik, ia lalu bergabung dengan Lantang Tipo. Kala itu, belum ada TP koperasi itu di Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, tempat Khancas tinggal. TP terdekat ada di Pusat Damai, Kecamatan Parindu. Perjalanan darat dengan mobil dari Kembayan ke Parindu memakan waktu 1,5 jam.

Setelah dinyatakan lulus mengikuti pendidikan menjadi anggota Lantang Lipo, Khancas tak menyia-nyiakan kesempatan. Usai aktif menabung di tahun 2000 keluar pinjaman Rp 2 juta dari Lantang Tipo. Duit sebesar itu dia gunakan untuk membeli sepeda motor bekas. “Supaya aktivitas saya ke mana-mana menjadi lebih gampang,” jelas pria usia 40 tahun ini.

Tuntas dengan kredit tersebut, Khancas lalu mengajukan pinjaman lagi Rp 15 juta untuk membeli empat kaveling kebun sawit seluas total delapan hektare milik tetangga, sekaligus untuk memborong bibit.

Aksi akuisisi lahan terus berlanjut hingga sekarang Khancas memiliki kebun kelapa sawit dengan luas 60 hektare. Semua pembelian kebun itu dengan cara kredit ke Lantang Tipo. Sekarang, dalam sebulan produksi sawit Khancas antara 50 ton–100 ton. Dengan harga sekitar Rp 2.000 per kg, omzetnya Rp 100 juta–Rp 200 juta.

Tahun 2010 lalu, Khancas melebarkan sayap ke karet. Pinjaman jumbo senilai Rp 1 miliar dia gunakan untuk membeli lahan seluas 50 hektare plus bibit karet. Pinjaman bertenor 72 bulan itu mewajibkan pria jebolan sekolah menengah atas (SMA) ini membayar cicilan Rp 30 juta per bulan.

Bisa buat apa saja

Penggunaan dana hasil meminjam dari CU memang boleh buat apa saja. Lohen, anggota Lantang Tipo yang lain, pernah meminjam untuk membangun rumah berdinding tembok. Kakek dua cucu ini mendapat pinjaman sebesar Rp 150 juta tahun 2011 dengan tenor pengembalian lima tahun.

Selain bisa menabung dan meminjam uang, manfaat yang Lohen dapat dari bergabung dengan CU adalah: dirinya makin fasih mengelola keuangan. Bersama istri, dia sudah terbiasa memilah pendapatan Rp 14 juta per bulan yang berasal dari kebun sawitnya. Dari jumlah sebesar, Rp 6 juta di antaranya untuk membayar aneka cicilan kredit di CU. Sisanya buat menabung di beberapa produk Lantang Tipo dan membiayai kebutuhan hidup Lohen.

Selain pengelolaan keuangan, anggota CU mendapat pelatihan untuk merencanakan masa depan mereka. Beberapa produk yang CU keluarkan juga disesuaikan dengan kebutuhan, mulai tabungan pendidikan hingga tabungan pensiun.

Yohanes R. J., General Manager Keling Kumang, mengatakan, banyak warga yang berprofesi sebagai petani tak terbiasa berpikir manajemen pekerjaan. Termasuk menghitung untung dan rugi usaha. “Tugas CU adalah melatih entrepreneurship kepada mereka,” ungkap Yohanes.

Itu sebabnya, Abat Elias, General Manager Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), bilang, tujuan akhir CU bukan untuk menggantikan bank, tapi mengangkat harkat dan martabat seseorang. Tapi, dia mengkritik bank yang mengeruk dana besar hingga triliunan rupiah dari masyarakat kecil lewat tabungan. “Hanya 5% yang disalurkan lagi ke mereka, sedangkan 95% disalurkan ke kredit konglomerat di pusat,” sesal Abat.

Tarsisius, Chief Executive Officer (CEO) Lantang Tipo, menjelaskan, tiga prinsip dasar CU adalah pendidikan, swadaya, dan solidaritas. CU bisa maju jika anggota yang tak lain adalah juga pemilik koperasi kredit terdidik. Tak heran, CU mendorong para petani menjadi sosok petani mandiri.

Maklum, petani sawit dan karet seperti di Sanggau dan Sintang kebanyakan petani plasma. Dari sisi pengelolaan kebun, memang petani plasma tidak perlu repot-repot karena semua sudah diurus oleh perusahaan perkebunan yang menjadi rekanan mereka.

Tapi, dari sisi biaya produksi, petani plasma lebih besar ketimbang petani mandiri. Lohen membeberkan, kredit yang harus petani plasma lunasi ke bank untuk mengelola dua hektare kebun sawit saja mencapai Rp 172 juta. Sedang petani mandiri hanya butuh pinjaman dari CU Rp 50 juta.

Marjo, Khancas, dan Lohen hanya segelintir warga Kalimantan Barat yang menuai sukses setelah bergabung menjadi anggota CU. Tentu banyak kisah sukses serupa lainnya.

(KONTAN Edisi 6 – 12 Agustus 2012)

Sumber : https://www.facebook.com/TabloidKontan/posts/454111721295692

Baca juga kisah-kisah sukses para petani, berita dan harga sawit di bawah ini :