Catatan di Kebun Sawit

Usaha Jasa Peremajaan atau Replanting Kebun Sawit

 

Catatan Harian 15 Maret 2013

Salah satu bisnis yang cukup menjanjikan dan punya prospek bagus adalah jasa peremajaan Kebun Sawit atau sering disebut Replanting.

Replanting Kebun Sawit biasanya dilakukan karena sudah tidak produktif karena telah berusia tua, disamping itu ada juga yang di replanting karena pohon-pohon sawit sudah sangat tidak terawat, pernah diterlantarkan atau tidak terurus dengan baik. More

Cara Pemanenan dan Penanganan Buah Kelapa Sawit Yang Baik

Catatan Harian 5 Januari 2014

Cara Pemanenan dan Penanganan Buah Kelapa Sawit sangat berpengaruh besar terhadap kualitas CPO yang dihasilkan pabrik kelapa sawit, oleh karena itu panen harus dilakukan pada buah yang sudah brondol 1 atau lebih. Namun hal ini terlalu sulit dilaksanakan di perkebunan perorangan dengan luas kebun sawit yang hanya beberap hektar. Karena dalam kebun sawit yang tidak begitu luas, sangat sedikit pohon sawit dengan buah yang sudah brondol. Petani sawit tentu tidak akan sabar hingga menunggu buah itu brondol sementara kebutuhan hidup selalu mendesak. More

Pikiran-pikiranmu Bebas, tapi Tak Boleh Mengganggu Pikiran-pikiranku

Catatan Harian 04 Desember 2013 – Kanker dan aku yang sedang berada di bawah daun-daun hijau

Pikiran-pikiranmu bebas, tapi tak boleh mengganggu pikiran-pikiranku. Mungkin terkesan sinis aku mengatakannya padamu. Tapi kau harus kuberitahu, mungkin menjelang usiaku yang tua begini, tak banyak lagi yang kuharapkan selain menerima apapun yang kudapatkan, tidak lagi mengharapkan kesenangan-kesenangan duniawi, lampu-lampu gemerlap metropolitan, rokok bermerek, bermain-main di tempat rekreasi, baju bagus, refreshing pantai, mancing, minum-minum (Jangan masukkan teh hangat atau secangkir kopi tentunya), shopping dsb. Kalaupun semua itu terpaksa kulakukan, itu demi kau,  bukan demi aku. Meski aku tak akan pernah menilai dirimu minus hanya karena itu.

Kau juga harus kuberitahu, sudah lama aku belajar untuk menerima bahwa bekerja harus kuanggap sebagai sebuah kesenangan, sebagai sebuah hobi, atau sebagai sebuah pengganti gemerlap-gemerlap yang sering menarik laron-laron hingga terjebak di balik kaca.

Maka itu kukatakan : “Pikiran-pikiranmu bebas, boleh kau ungkapkan kepadaku, namun kau jangan memaksa agar hal itu bisa mengganggu pikiran-pikiranku dan sifat memaksamu menggelegar hanya karena aku skeptis akan hal itu. Untuk yang tidak kusuka aku berusaha untuk tidak marah, dan aku tidak akan balik memaksa, tetapi aku akan lebih suka memilih untuk pergi menyendiri, sendiri berlinang ke dalam pekerjaan-pekerjaan berkeringatku atau terbuai kedalam tulisan-tulisan pena merahku.”

Ah… kau! Janganlah menghujatku. Percuma! Telingaku hanya peka pada suara-suara yang sedang susah lagi menderita, yang sedang sakit lagi terbungkam nyeri, dan terutama bagi yang butuh sedikit nasehat kecil tentang sebuah kata kunci “Kanker.”

Ada dua hal tentang itu, pertama ; mungkin kau akan berseloroh, yang kedua ; kau memang sedang mengalami fear yang kental menikam dirimu.

Boleh jadi kau termasuk dalam barisan yang tidak takut dengan kata “kanker” itu, kau boleh saja menjadikannya sebuah seloroh berkisar “kantong kering” atau anekdot lain yang sejenisnya hingga kelak kau masuk ke babak barisan ke dua yang menakutkan. Kau harus menghadapinya karena ia bernaung di dalam dirimu, dalam diri orang yang kau kasihi, dalam diri saudaramu atau dalam diri teman yang amat kau sayangi. Jika kau terpaku dirajam ketakutan karenanya hingga merasa berdenging di dengkulmu karena tak kuat menahan puncak ketakutan, boleh-boleh saja kau berbicara dari hati ke  hati padaku, itupun kalau kau mau dan merasa belum menemukan yang lainnya yang lebih baik selain daripada diriku.

Untuk yang pertama, kau boleh mengajakku tertawa sembari aku tetap bekerja di bawah daun-daun hijau kelapa sawitku tanpa harus berhenti dan tanpa harus melap keringat. Namun untuk yang kedua, aku akan berhenti bekerja, menghela nafas dalam-dalam, sedaya upaya mencoba menenangkan diriku untuk kemudian menenangkan dirimu, mengingat apa yang pernah kupelajari dan kualami selama beberapa tahun tentang kanker sialan itu. Lalu mencoba memetik hikmah yang perlu dan berbagi kalau kau mau menerimanya.

Kau boleh memilah, memakai yang kau perlu dan membuang yang kau tak suka. Mungkin kau akan bertanya lalu aku berusaha menjawab sebaik mungkin, dari situ mungkin bisa jadi tiba-tiba kau menyadari bahwa pengetahuanku seputar kanker itu masihlah cetek dibanding dokter-dokter ahli kanker. Tentu saja itu tak perlu kusangkal karena mungkin benar adanya, tapi aku memiliki waktu yang berlebih dibanding mereka. Dan kau tak perlu khawatir karena aku tak harus mengingat jarum jam atau memutar tombol-tombol waktu sejak pertama kali kita bicara tentang penyakit sialan itu lalu mengeluarkan billing yang hanya menambah kekhawatiran saja. Tidak! Disaat begini aku benci dengan tagihan! Ini kulakukan karena akupun pernah cukup terdamaikan oleh orang yang tidak kukenal waktu penyakit itu menghadang persis didepan mataku selama bertahun-tahun. Dia memberiku nasihat gratis yang tidak kalah mahalnya dan pentingnya dibanding yang diberikan oleh dokter yang pelit berbicara, walaupun semua kami lakukan hanya lewat sms dan hanya lewat dunia maya belaka.

Waktu itu, dari awal sudah kusadari bahwa pengetahuan dia tentang penyakit kanker itu sangatlah jauh dibanding dengan apa yang menjadi harapanku atas sejumlah pertanyaan yang bergayut di hati. Tapi kedamaian dan pengharapan yang meski tak sempurna, meski sederhana tetaplah menjadi sesuatu yang terbersit indah sehubungan dengan situasi puncak galau ketakutanku saat itu. Semua itu hingga kini belumlah mampu kubayar dengan apapun selain daripada mencoba berbuat hal sama kepada yang lain seperti yang pernah dilakukannya padaku.

Catatan-catatan harian lainnya :

Panen Yang Mendebarkan di Sisi Harga Buah Sawit yang Naik Terus

Catatan Harian 04 Desember 2013

Harga tandan buah segar (TBS) sawit menunjukkan trend naik terus. Hari inipun begitu. Buah hasil panen hari ini dihargai Rp. 1640 /Kg.

Selama panen tiga hari ini badan rasanya cukup letih. Hujan deras, jalan-jalan mulai rusak, semakin hari semakin parah, becek, licin karena tergerus derasnya air dari atas bukit.

Beberapa pemanen sudah ada yang mulai demam dan batuk. Satu dua orang yang diundang untuk manen ada yang istirahat untuk sementara waktu hingga badan pulih kembali.

Panen hari ini terisi sedikit tantangan cukup mendebarkan juga. Pada jalan cukup licin, mobil kami tidak bisa mendaki, meskipun gardan 2 sudah dipasang. Jika dipaksa ban belakang selalu terselip mengarah ke bibir jurang. Kucoba kembali mundur ke posisi bawah lalu tancap gas, ini kulakaukan  selama beberapa kali, yang terakhir sungguh fatal sedikit lagi saja, mobil ini akan terbalik-balik masuk ke jurang yang lumayan dalam, setidaknya mobil akan terguling 2 atau 3 kali. Daripada harus terus-terusan menjalani resiko yang berat. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari batu-batuan lalu menyerakkannya di sepanjang jalan tanah itu. Butuh waktu lama bersama jatuhan butir keringat yang cukup banyak dan tentu saat untuk pulang akan menjadi lebih malam lagi.

Batu-batu satu bak mobil di serak di tempat-tempat licin. Baru sekali coba, Voilaaaa…, mobil bisa mendaki dengan tenang. Hari ini panenpun bisa kami selesaikan tanpa ada insiden berarti selain daripada detak jantung yang dag dig dug plas….

Dan hari ini pula, RAM langgananku ini cukup berbaik hati untuk tidak mengurangi persen pada buah yang agak basah kena gerimis. Biasanya untuk buah yang basah kena hujan, persen potongan beratnya ditambah, tapi kali ini tidak begitu. Kata juragannya hari ini ada pengecualian. Buah yang kubawa perkilo dihargai Rp. 1640. Kupikir itu sudah cukup bagus.

Oke, sampai jumpa di cerita panen berikutnya. Malam… :)

(IvanS : “Di bawah Daun-Daun Hijau)

Catatan-catatan harian lainnya :

Hujan..!

Catatan Harian : 18-10-2012

Hujan di sungai kecil di kebun sawit

Hujan di sungai kecil di kebun sawit

Satu-persatu titik-titik itu menyerang wajahku, awan itu melekatkan butiran-butiran beningnya dengan tata artistik yang hanya dia yang mampu memahaminya. Terasa bagiku awan, angin, rinai ini, seolah berkeinginan mendandani-ku menjadi sebuah silhuet prototipe melankolis. Juga merangkaikan suara gemericik dengan gelembung-gelembung putih bening yang berkejaran di punggung sungai hitam ini menjadi sebuah background yang mengajak menghanyutkan hati.

Yah.., hidup memang penuh liku, tapi perahu kecilku tak gentar, pun pada badai dan belantara rawa.

Biarlah orang berkata, bahwa di dalam hujan aku adalah nakhoda kalah. Mungkin benar, apalagi saat kudengar Demis Roussos memelas :
“Rain and tears all the same…”
“Ah.., tidak!”, Teriak hatiku.
“Jangan dulu membangkitkan rindu itu lagi sebelum biduk kutambatkan atau sebelum mata kukatupkan. Karena aku harus bekerja!”

Tapi hati tak sekokoh raga yang terlihat, maka dikau belahan nafasku, sungai hitam, dedaunan hijau, rindu yang tak berujung dan hilang pangkal, desir angin dan mentari yang semakin meredup, menyatu dalam basah rinai hujan.

Sungguh, kini aku tertenggelamkan habis oleh rinai ke arus dalam rasa rindu itu. Arus yang selalu datang semenjak kau pergi selamanya dari sisiku, kekasihku!

“Riau, Dari atas perahu kecil menatap langit mendung”

Catatan-catatan Harian lain :

“Aku”

Tempat Memperoleh Kecambah Kelapa Sawit PPKS

Catatan Harian 23 November 2013

Malam ini rasanya badan lelah setelah dua harian membantu menaikkan  TBS sawit ke dalam mobil. Sambil istirahat aku browsing sana-sini, tak sengaja ketemu dengan alamat-alamat tempat memperoleh kecambah kelapa sawit yang merupakan kecambah dari PPKS. Mungkin ini bermanfaat, jadi kucantumkan saja di bawah ini, semoga berguna :

  1. PPKS Medan
    Jl. Brigjen Katamso 51 Medan
    Telp: 061-7862477 ext 120
    —————————————————–
  2. PPKS Marihat
    Jl.Pematang Tanah Jawa KM.5 marihat Ulu
    Pematangsiantar
    Telp: 0622-21926
    —————————————————–
  3. PPKS Sub Station Parindu
    Parindu, Kec. Tayanwulu, Kab. Sanggau,
    Kalimantan Barat
    CP. Bpk Supriyadi (0813 75 481 822)
    —————————————————–
  4. PPKS bekerjasama dengan Balai Penelitian Sembawa
    Jl. Palembang – Betung Km. 29, Po Box. 1127 Banyuasin 30001
    Sumatera Selatan
    Telp. (0711) 7439493
    —————————————————–
  5. PPKS bekerjasama dengan ASTRA
    PT. Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi
    Kumai, Pangkalan Bun Kalimantan Tengah
    CP. Bpk SP. Mulyono (0856 51 329 402)
    —————————————————–

Antara Investor Kelapa Sawit, Warung Kopi, Petani Pasrah, Internet dan Aku

Catatan Harian 19 November 2013

Seorang bapak setengah baya tiba-tiba menepuk pundak saya dari belakang, dengan senyum mengembang dia bilang temannya pak Wardi berkali-kali ingin bertemu karena ingin mengucapkan terimakasih. Dia ingin berterima kasih karena dia merasa terbantu dan berhasil menemukan pembeli atau lebih tepatnya investor untuk kebun sawitnya. Tentu saja aku bengong, soalnya aku lupa siapa bapak ini, dan siapa temannya. Dan kalian yang membaca ini harus kukasih tahu, dalam urusan yang kuanggap tidak terlalu penting biasanya aku menjadi sarang aneka macam jenis lupa. More

Investor Gempor dan Bunga-bunga Rumput Liar

Kondisi kendaraan yang dibawa ke lahan sawit gambut tebal

Kondisi kendaraan yang dibawa ke lahan sawit gambut tebal

Catatan Harian 17 November 2013

Bagi sebagian orang, jangan  kata tentang  melakukan pekerjaan-pekerjaan ladang sawit di daerah gambut tebal seperti : menumbang kayu, menanam bibit, mengimas, menyemprot, membuat pasar pikul dll, bahkan untuk bisa sampai ke lahan/ladang miliknya saja kadang sudah ada yang gempor. Apalagi saat musim hujan atau saat panas terik. Pekerjaan ladang bisa menjadi sangat melelahkan, karena meskipun musim hujan, tapi matahari sering terik menyengat, belum lagi kaki selalu masuk ke dalam gambut hingga batas pangkal paha. Kau boleh saja bertanya, bagaimana mungkin seseorang bisa gempor hanya karena melakukan perjalanan menuju ke ladangnya sendiri?

Ini ada kisahnya. Ada seorang investor sawit dari Jakarta yang sama sekali belum pernah melihat lahan yang dibelinya lebih dari tiga tahun lalu. Ladang yang cukup luas itu dibelinya dengan harga cukup murah, karena memang letaknya cukup jauh dari jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan beroda empat. Memanglah kalau di Riau, jika kalian mencari lahan yang cukup luas untuk perkebunan, sudah sangat sulit jika mencarinya dengan memasukkan ketentuan harus dekat dengan jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan beroda empat. Kalau ada biasanya harganya sudah mahal. Sebagai ancang-ancang, yang hutan belantara saja sekarang sudah banyak yang menawarkan Rp. 15 juta rupiah. Yang lebih murah dari itu biasanya bermasalah atau buntut-buntutnya harganya malah jauh di atas itu.

Kembali ke cerita. Sejak pembelian lahan, penanaman sawit, perawatan hingga sudah mulai berbuah dompet ia percayakan kepada kenalannya sebagai pengelola, sedang temanku hanyalah pekerja hariannya saja.

Suatu ketika, karena penasaran ingin melihat lahannya yang dikelola kerabatnya itu, ia jauh-jauh datang dari Jakarta dan minta ikut hingga ke lahan. Oleh kerabatnya sudah disampaikan secara halus bahwa musim hujan ini akan semakin sulit masuk ke lokasi, mungkin lain hari. Tapi karena dia bilang mampu dan pasti bisa dia pun ikut. Lagipula kerabatnya itu nggak berani banyak-banyak melarang, khawatir dikira nggak mau memperlihatkan hasil kerja yang dibiayainya selama ini karena ada sesuatu. “It’s ok”, katanya dalam hati lalu berangkat.

Setelah melalui jalan tanah sekitar 5 km jauhnya dari ujung jalan aspal,  mobil sudah tidak bisa lagi masuk, apalagi mobil keren begini, jika dipaksakan, bisa-bisa saat pulang pulang sudah penuh dengan grafiti, atau tulisan kaligrafi hasil karya ranting-ranting pohon.

Jadi mobil tidak bisa masuk karena gambut yang cukup tebal, ranting-ranting pohon dan kayu-kayu tunggul yang masih bernongolan karena  jalan ini memang masih berupa jalan hasil timbunan backhoe.Sarana terbaik yang bisa masuk akal adalah naik pompong (sejenis perahu kecil) atau kendaraan roda dua. Itupun terseok-seok karena kadang ban sering tenggelam hampir setengahnya di gambut basah. Perjalanan sejauh 12 KM yang sulit itu terpaksa kami ditempuh berboncengan naik kendaraan motor roda dua. Seringkali kami harus turun dan menuntun kendaraan sewaktu masuk lumpur gambut atau melewati jembatan yang hanya terdiri dari dua balok melintang.

Sampai di lahan, ia salaman dan berbincang sebentar dengan petani-petani disitu, kemudian masuk gubuk langsung tergeletak, lalu tertidur di atas papan dengan mimpi yang hanya dia yang tau, kalau boleh kutebak maka untuk sekelas dia, barangkali sedang bermimpi menginap di hotel-hotel seperti : St. Regis Hotel, Westin Hotel, The Langham, Raffles Hotel, Rosewood, atau mungkin mimpi tentang arti GEMPOR. Heh… jangan kalian kira aku paham hotel-hotel mewah gitu, aku cuma googling di Internet.

Dia terbangun menjelang sore, dari jendela gubuk dia melihat sekilas areal perkebunan sawitnya yang luas itu, lantas dia bilang “Udah kupercayakan sajalah pada kalian, sekarang tolong antar aku pulang” sambil mengibas celana panjangnya dari bunga-bunga mirip duri dari rumput liar yang melekat.

Jadi kupikir begini : memang seorang investor dan tangan kanannya yang ada di lapangan haruslah saling menjaga antara satu sama lain, menjaga betul tentang kisi-kisi antara hak dan kewajiban yang pantas. Jika semua ini dilakukan dengan baik, tentu hasilnya kelak akan baik pula dan berkesinambungan untuk jangka panjang. Sekaligus memberikan peluang kerja dan pendapatan bagi orang-orang di lingkungan sekitar yang rata-rata adalah rakyat miskin.

Dengan begitu investor-investor lain mungkin bisa lebih tertarik dan mempercayakan modalnya untuk dikelola secara baik di daerah-daerah terpencil seperti ini. Karena seperti kulihat sendiri yang sungguh sangat patut disayangkan, bahwa banyak lahan-lahan terbengkalai, ratusan hektar dibiarkan rusak tidak terurus bahkan tidak ditanami lagi karena kepercayaan yang sudah rusak oleh kepentingan-kepentingan pribadi, kemalasan dan ketamakan di kedua belah pihak.  Akupun sudah memahami, untuk jangka panjang : kebun sawit bisa sangat menjanjikan, tapi bisa juga menjadi malapetaka bagi siapa saja yang tamak dan tidak sabar.

Dari catatan Harianku “Di Bawah Daun-daun Hijau by Ivan Mangunsong”

-

Catatan-catatan harian lainnya :