Pohon Karet

Bantu Petani, Harga Karet Harus Ditentukan Pemerintah

16 Juni 2013
TELUK KUANTAN – Sejauh ini harga standar karet untuk melindungi petani karet dalam menjual karet mereka belum ada. Hal ini berbeda dengan sektor tanaman pangan yang sudah aturan mengenai hal ini.

” Salah satu kelemahan disektor komoditi karet di Kuansing saat ini termasuk daerah lain, karena belum ada standar harga karet, harga karet tergantung benar kepada mekanisme pasar,”ujar Kadis Perkebunan Kuansing, Wariman DW, SP, MM melalui Sekretaris Dinas Perkebunan Kuansing, Miswadi, SP, M.Si belum lama ini diruang kerjanya.

Ironisnya ujar Miswadi, sebagian besar penduduk Kuansing mengandalkan  kehidupan dari komoditi ini. Karena itu alangkah baiknya semua fihak teurtama para pengambil keputusan di nasional dan provinsi dapat membuat kebijakan tentang standar harga karet tersebut.

Sebelum adanya kebijakan standar harga karet ujarnya, fihaknya hanya bisa mengusulkan keluhan para petani terkait hal ini setiap ada pertemuan di Pekanbaru maupun di Jakarta dan daerah lain. Dari penyampaian yang dilakukan fihaknya, instansi pengambil keputusan hendaknya faham dengan permasalahan yang dihadapi para petani karet dilapangan.

Disamping itu lanjutnya, Dinas Perkebunan Kuansing sendiri mendorong para petani untuk meningkatkan kualitas karet mereka, dengan aturan bahan kayu dan  kandungan air yang sedikit sesuai standar Kementrian Pertanian.

” Dalam upaya ini Kita mendorong mereka membentuk kelompok tani seperti didesa Kopah yang sudah  cukup maju,”ujarnya.

Sebab dengan mereka bergabung dalam kelompok tani ujar Miswadi,  dinas Perkebunan Kuansing akan relatif mudah untuk memberikan pelatihan, sosialisasi dfan penyuluhan terkait upaya peningkatan harga jual karet petani.

Sebab terusnya, dalam komoditi karet, harga tergantung kualitas karet yang dihasilkan petani. ” Kalau karetnya bermutu tinggi harga mereka akan tetap tinggi dan dicari pabrik. Sebab pabrik memang ingin produksi mereka di pabrik mudah dan cepat karena kandungan kayu tidak banyak,’pungkasnya. ( isa )

Sumber : http://kuansingterkini.com

Harga Karet Sulit Naik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harga rendah masih membayangi komoditas karet. Dari sebelumnya mencapai 5 dolar AS, kini harga karet terpuruk mencapai kisaran 2,4 dolar AS.

Ketua Umum  Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), Daud Husni Bastari mengatakan penurunan ini sedikit banyak akibat perang kurs dolar AS dan yen terhadap rupiah. Penyebab lain, yaitu  permintaan menurun karena semua negara menyesuikan sikap dengan krisis ekonomi dunia. “Jadi permasalahannya banyak di luar konteks produksi,” ujarnya ditemui di Gedung DPR-RI, Kamis (13/6).

Harga karet diperkirakan kembali stabil ketika ekonomi dunia ikut membaik. Namun Daud mengakui sulit mengembalikan harga karet seperti semula, yaitu dalam kisaran 5 dolar AS. Menurutnya, dibutuhkan waktu yang lama jika ingin mengembalikan harga karet seperti sebelum krisis.  “Jadi kalau kita lihat apabila kurs kita sudah tenang kembali, lalu yen dan dolar AS kembali dalam posisi yang seharusnya, harga karet akan kembali dalam keseimbangan,” ujarnya.

Di sisi lainnya, industri otomatif yang tumbuh memberikan harapan baru bagi pengusaha karet. Di setiap negara, kata dia, pemakaian ban sangat berkolerasi positif dengan GDP.

Gapkindo hingga saat ini masih berkomitmen untuk terus membeli karet rakyat untuk diolah dan diproses sebgai komoditas dagang. Namun diakui volume pembelian tidak besar, dibandingkan sebelumnya menurun. Karet Indonesia selama ini dikenal ramah lingkungan karena diproses tanpa menggunakan pertisida, herbisida dan pupuk perangsang untuk mendongkrak hasil produksi.

Saat ini Gapkindo khawatir dengan cepatnya penanaman karet di India, Thailand, Vietnam dan Kamboja. Dengan kondisi demikian, artinya terdapat daerah baru  penghasil karet. Saat ini Indonesia bersama Thailand dan Malaysia tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC) dalam mengembangkan pasar karet regional. “Kami berharap pemerintah RI mendorong peningkatan ITRC hingga ke tingkat ASEAN, sehingga Vietnam dan lainnya itu ikut bertanggung jawab terhadap suplai, jangan jadi free rider,” ujar Daud.

Tahun ini diperkirakan produksi karet menurun sekitar 200 ribu ton akibat datangnya musim kemarau basah. Tahun lalu produksi mencapai 2,5 juta ton. Mendekati kuartal pertama, produksi karet alam mencapai 1,1 juta hingga 1,5 juta ton. “Konsumsi dalam negri mencapai 500 ribu ton,” ujarnya.

Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  Benny Wachjudi mengatakan potensi perkembangan industri karet masih sangat besar. Saat ini produksi karet cukup besar, mencapai 1 ton per hektare (ha). Karakter karet Indonesia  yang ramah lingkungan bisa dikembangkan untuk menggaet pasar.

Sementara itu, pemerintah juga perlu membantu menggembangkan merk lokal. “Merk lokal harus dibantu dengan insentif pajak,” tambah Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin, Panggah Susanto saat rapat panitia kerja di Komisi VI DPR RI, Kamis (13/6).

Reporter : Meiliani Fauziah
Redaktur :
Nidia Zuraya

Sumber : http://www.republika.co.id

Harga Karet Bakal Tembus 3,5 Dollar AS

JAKARTA, KOMPAS.com – Setelah sempat anjlok di tahun 2012, harga karet tahun ini diproyeksikan naik cukup siginifikan.

Harga karet yang semula berada di level 2,5 dollar per kilogram, kemungkinan tembus di level 3,5 dollar AS per kg . Kenaikan tersebut tidak terlepas dari kesepakatan Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk mengatur pasokan karet.

Penasehat Gabungan Pengusaha Karet Indonesia, Asril Sutan Amir, di Jakarta, Senin (21/1/2013) mengatakan saat ini harga karet sudah menyentuh level 3,2 dollar AS. Sebentar lagi bakal tembus ke level 3,5 dollar AS. Kemajuan sangat cepat. Tahun lalu harganya menyentuh level terendah yakni di 2 dollar AS, katanya.

Dia menjelaskan kecenderungan kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari kesepakatan tiga negara, yang tergabung dalam ITRC (International Tripartite Rubber Council).

Indonesia, Malaysia dan Thailand sepakat untuk menerapkan skema pengurangan volume ekspor karet sebesar 300.000 ton yang diberlakukan sejak Oktober 2012 sampai Maret 2013.

Editor :
Robert Adhi Ksp
Sumber :

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/01/21/19274970/Harga.Karet.Bakal.Tembus.3.5.Dollar.AS

Harga Karet Menguat karena Pembelian China

JAKARTA, KOMPAS.com — Peningkatan pembelian oleh China membuat harga karet berjangka naik signifikan. Harga karet berjangka untuk kontrak pengiriman Juni mengalami kenaikan sebesar 1 persen pada Rabu (9/1/2013) dan berada di posisi 3.528 dollar AS per metrik ton.

Kenaikan harga karet tersebut terjadi karena dorongan spekulasi bahwa China akan meningkatkan pembelian sebelum libur Imlek bulan depan. Harga karet naik setelah China meningkatkan impor karet alam sebesar 15 persen menjadi 3,28 juta ton tahun 2012 lalu.

Impor karet diproyeksikan mengalami kenaikan terus karena permintaan kendaraan bermotor juga mengalami kenaikan sehingga permintaan terhadap ban kendaraan juga mengalami kenaikan.

Pasokan karet alam di Shanghai juga mengalami kenaikan minggu lalu menjadi 97.697 ton. Pasokan ini merupakan yang tertinggi sejak Maret 2010 lalu.

Editor :
Robert Adhi Ksp
Sumber : Kompas.com

Harga Karet Naik Tajam karena Stimulus Jepang

JAKARTA, KOMPAS.com – Harga karet berjangka di bursa Tokyo pada perdagangan Selasa (22/1/2013), meningkat tajam. Bank sentral Jepang memutuskan untuk melipatgandakan target inflasi di Jepang menjadi 2 persen, sesuai dengan permintaan dari PM Shinzo Abe.

Harga karet berjangka untuk kontrak Juni mengalami kenaikan sebesar 0,9 persen dan berada di posisi 314, 5 yen per kilogram (3. 507 dolar AS per ton).

Stimulus Jepang telah berdampak bagi pelemahan Yen, sehingga meningkatkan antusiasme publik dalam membeli komoditas, yang diperdagangkan dalam yen.

Penasihat Gabungan Pengusaha Karet Indonesia, Asril Sutan Amir, mengatakan, kenaikan harga di pasar internasional seharusnya bisa dimanfaatkan para peta ni karet untuk memacu produksi.

Indonesia menjadi salah satu produsen karet terbesar di dunia, bersama Malaysia dan Thailand.

Berdasarkan data ITRC, total produksi karet dari tiga negara ini mencakup 67 persen dari total produksi dunia, dan ekspornya sebesar 86 persen dari total ekspor dunia.

Pada tahun 2011, Indonesia menghasilkan karet alam sekitar 3 juta ton atau 27 persen dari total produksi ITRC. Sebanyak 85 persen dari total produksi karet alam nasional Indonesia diekspor, dengan nilai mencapai lebih dari 11,7 miliar dollar AS pada tahun 2011.

Editor :
Agus Mulyadi
Sumber : www.kompas.com