Berita

Prabowo Subianto Djojohadikusumo

Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo (lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951; umur 62 tahun) adalah seorang mantan Danjen Kopassus, pengusaha dan politisi. Prabowo adalah calon presiden dalam pemilu presiden Republik Indonesia 2009 dari Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA). Karena perolehan suara Partai Gerindra kurang dari 20%, Prabowo maju sebagai calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri. Saat ini Prabowo sedang bersiap untuk kembali maju sebagai calon presiden di pemilu presiden 2014.

Kehidupan pribadi

Anak dari begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo. Ia memiliki dua kakak perempuan, Bintianingsih dan Mayrani Ekowati, dan satu orang adik, Hashim Djojohadikusumo. Saat ini, Hashim dikenal sebagai seorang pengusaha handal, dengan bisnis di puluhan negara termasuk Kanada, Russia dan Indonesia.

Prabowo adalah cucu dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia dan Ketua DPAS pertama dan anggota BPUPKI.

Dan jika diselusuri lebih jauh lagi, leluhur Prabowo adalah Panglima Laskar Diponegoro untuk wilayah Gowong (Kedu), yang bernama Raden Tumenggung Kertanegara III. Prabowo juga terhitung sebagai salah seorang keturunan dari Adipati Mrapat, Bupati Kadipaten Banyumas Pertama.

Prabowo menikah dengan Siti Hediati Hariyadi, anak Presiden Soeharto. Pernikahan Prabowo berakhir tidak lama setelah Soeharto mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia.[1] Dari pernikahan ini, Prabowo dikaruniai seorang anak, Didiet Prabowo. Didiet tumbuh besar di Boston, AS dan sekarang tinggal di Paris, Perancis sebagai seorang desainer.

Karier Militer Prabowo

Prabowo Subianto sering disebut sebagai seorang jendral kontroversial. Prestasi, dan kontroversi Prabowo dimulai saat ia mendaftarkan diri di Akademi Militer Magelang pada tahun 1970. Lulus pada tahun 1974, tahun 1976 Prabowo dipercaya sebagai Komandan Pleton Para Komando Grup I Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) dan ditugaskan sebagai bagian dari operasi Tim Nanggala di Timor Timur.

Operasi Penangkapan Presiden Fretilin Nicolau Lobato

Pada bulan Desember 1978, Kapten Prabowo memimpin pasukan Den 28 Kopassus yang ditugaskan untuk membunuh pendiri dan wakil ketua Fretilin, yang pada saat itu juga menjabat sebagai Perdana Menteri pertama Timor Leste, Nicolau dos Reis Lobato. Lobato tewas setelah tertembak di perut saat bertempur di lembah Mindelo, pada tanggal 31 Desember 1978. Karena prestasi ini, Prabowo mendapatkan kenaikan pangkat.

Pelatihan Komando di Fort Benning

Setelah kembali dari Timor Timur, karier militernya Prabowo terus melejit. Pada tahun 1983, Prabowo dipercaya sebagai Wakil Komandan Detasemen 81 Penanggulangan Teroris (Gultor) Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus). Setelah menyelesaikan pelatihan “Special Forces Officer Course” di Fort Benning, Amerika Serikat, Prabowo diberi tanggungjawab sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara.

Kontroversi dan Dugaan Pelanggaran HAM

Pada tahun 1983, kala itu masih berpangkat Kapten, Prabowo diduga pernah mencoba melakukan upaya penculikan sejumlah petinggi militer, termasuk Jendral LB Moerdani[5], namun upaya ini kabarnya digagalkan oleh Mayor Luhut Panjaitan, Komandan Den 81/Antiteror[6]. Prabowo sendiri adalah wakil Luhut saat itu.

Pada tahun 1990-an, Prabowo diduga terkait dengan sejumlah kasus pelanggaran HAM di Timor Timur. Pada tahun 1995, ia diduga menggerakkan pasukan ilegal yang melancarkan aksi teror ke warga sipil[7]. Peristiwa ini membuat Prabowo nyaris baku hantam dengan Komandan Korem Timor Timur saat itu, Kolonel Inf Kiki Syahnakri, di kantor Pangdam IX Udayana. Sejumlah lembaga internasional menuntut agar kasus ini dituntaskan[8]. Menurut pakar hukum Adnan Buyung Nasution, kasus ini belum selesai secara hukum karena belum pernah diadakan pemeriksaan menurut hukum pidana[9].

Pada tahun 1997, Prabowo diduga mendalangi penculikan dan penghilangan paksa terhadap sejumlah aktivis pro-Reformasi[10]. Setidaknya 13 orang, termasuk seniman ‘Teater Rakyat’ Widji Thukul, aktivis Herman Hendrawan, dan Petrus Bima hilang dan belum ditemukan hingga sekarang. Mereka diyakini sudah meninggal.[11]. Prabowo sendiri mengakui memerintahkan Tim Mawar untuk melakukan penculikan kepada sembilan orang aktivis, diantaranya Haryanto Taslam, Desmond J Mahesa dan Pius Lustrilanang.[12]

Namun demikian, Prabowo belum diadili atas kasus tersebut walau sebagian anggota Tim Mawar sudah dijebloskan ke penjara. Sebagian korban dan keluarga korban penculikan 1998 juga belum memaafkan Prabowo dan masih terus melanjutkan upaya hukum. Sebagian berupaya menuntut keadilan dengan mengadakan aksi ‘diam hitam kamisan’, aksi demonstrasi diam di depan Istana Negara setiap hari Kamis[13]. Sebagian lagi telah bergabung denga kepengurusan Partai Gerakan Indonesia Raya, bahkan duduk di DPR RI. Haryanto Taslam yang telah menjadi anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, mengatakan “Prabowo sudah minta maaf pada saya. Dia juga mengajak saya bergabung untuk membangun negara ini. Saya adalah korban Prabowo dan Prabowo adalah korban politik saat itu. Dia juga korban. Prabowo hanya merupakan tentara yang mematuhi perintah atasannya. Ide penculikan bukan dari Prabowo. Rezim Orde Baru saat itu pun represif. Jika bukan Prabowo pasti orang lain yang akan diperintah untuk menculik.”[14]

Prabowo juga diduga mendalangi Kerusuhan Mei 1998 berdasar temuan Tim Gabungan Pencari Fakta.[15][16]. Dugaan motifnya adalah untuk mendiskreditkan rivalnya Pangab Wiranto, untuk menyerang etnis minoritas, dan untuk mendapat simpati dan wewenang lebih dari Soeharto bila kelak ia mampu memadamkan kerusuhan [17].

Juga pada Mei 1998, menurut kesaksian Presiden Habibie dan purnawirawan Sintong Panjaitan[18], Prabowo melakukan insubordinasi dan berupaya menggerakkan tentara ke Jakarta dan sekitar kediaman Habibie untuk kudeta. Karena insubordinasi tersebut ia diberhentikan dari posisinya sebagai Panglima Kostrad oleh Wiranto atas instruksi Habibie.

Masalah utama dari kesaksian Habibie ialah bahwa sebenarnya, pasukan-pasukan yang mengawal rumahnya adalah atas perintah Wiranto, bukan Prabowo. Pada briefing komando tanggal 14 Mei 1998, panglima ABRI mengarahkan Kopassus mengawal rumah-rumah presiden dan wakil presiden. Perintah-perintah ini diperkuat secara tertulis pada tanggal 17 Mei 1998 kepada komandan-komandan senior, termasuk Sjafrie Sjamsoeddin, Pangdam Jaya pada waktu itu.

Prabowo yakin ia bisa saja melancarkan kudeta pada hari-hari kerusuhan di bulan Mei itu. Tetapi yang penting baginya ia tidak melakukannya. “Keputusan memecat saya adalah sah,” katanya. “Saya tahu, banyak di antara prajurit saya akan melakukan apa yang saya perintahkan. Tetapi saya tidak mau mereka mati berjuang demi jabatan saya. Saya ingin menunjukkan bahwa saya menempatkan kebaikan bagi negeri saya dan rakyat di atas posisi saya sendiri. Saya adalah seorang prajurit yang setia. Setia kepada negara, setia kepada republik”[19].

Sepak Terjang Prabowo di Dunia Usaha

Setelah meninggalkan karier militernya, Prabowo memilih untuk mengikuti karier adiknya Hashim Djojohadikusumo, menjadi pengusaha. Karier Prabowo sebagai pengusaha dimulai dengan membeli Kiani Kertas, perusahaan pengelola pabrik kertas yang berlokasi di Mangkajang, Kalimantan Timur. Sebelumnya, Kiani Kertas dimiliki oleh Bob Hasan, pengusaha yang dekat dengan Presiden Suharto[21]. Prabowo membeli Kiani Kertas menggunakan pinjaman senilai Rp. 1,8 triliun dari Bank Mandiri[22].

Selain mengelola Kiani Kertas, yang namanya diganti oleh Prabowo menjadi Kertas Nusantara, kelompok perusahaan Nusantara Group yang dimiliki oleh Prabowo juga menguasai 27 perusahaan di dalam dan luar negeri. Usaha-usaha yang dimiliki oleh Prabowo bergerak di bidang perkebunan, tambang, kelapa sawit, dan batu bara[23].

Banyak kalangan menilai, Prabowo cukup sukses dalam berusaha. Pada Pilpres 2009, Prabowo ialah cawapres terkaya, dengan total asset sebesar Rp 1,579 Triliun dan US$ 7,57 juta[24], termasuk 84 ekor kuda istimewa yang sebagian harganya mencapai 3 Milyar per ekor serta sejumlah mobil mewah seperti BMW 750Li dan Mercedes Benz E300[25]. Kekayaannya ini besarnya berlipat 160 kali dari kekayaan yang dia laporkan pada tahun 2003. Kala itu ia hanya melaporkan kekayaan sebesar 10,153 Milyar

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Prabowo_Subianto

Dialog Panas Saat Habibie Copot Prabowo Sebagai Pangkostrad

Isu Kudeta Prabowo  3

Merdeka.com – Berseragam loreng lengkap dengan kopel dan senjata, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) Letjen Prabowo Subianto datang ke Wisma Negara, pada 22 Mei 1998. Misi Prabowo jelas, ingin menghadap Presiden BJ Habibie.

Prabowo datang dengan dua kendaraan, salah satunya ditumpangi oleh pengawal. Anak begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo itu ingin menanyakan jabatannya yang baru saja dicopot. Sebelum bertemu Habibie, Prabowo diperiksa secara ketat, senjata yang dibawa juga dilucuti oleh pasukan pengawal presiden.

Pencopotan dilakukan karena adanya informasi pergerakan pasukan di bawah kendali Prabowo. Adalah Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto yang melaporkan hal tersebut. Tanpa berpikir panjang Habibie langsung mengambil keputusan.

Setelah diberi izin masuk ke dalam ruangan, keduanya yang memang dikenal akrab saling peluk dan mencium pipi. Kemudian, sempat terjadi dialog dalam bahasa Inggis, sebelum akhirnya Prabowo berbicara dengan nada tinggi.

“Ini penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” tegas Prabowo dikutip dalam buku Prabowo: Ksatria Pengawal Macan Asia karya Femi Adi Soempeno dan Firlana Laksitasari.

Habibie menjawab, “Anda tidak dipecat, tapi jabatan anda diganti.”

Prabowo balik bertanya, “Mengapa?” Habibie kemudian menjelaskan bahwa ia menerima laporan dari Pangab bahwa ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan, dan Istana Negara.

“Saya bermaksud mengamankan Presiden,” kata Prabowo.

“Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas anda,” jawab Habibie.

“Presiden apa anda? Anda naif? jawab Prabowo dengan nada marah.

“Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,” jawab Habibie.

“Atas nama ayah saya, Prof Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,” kata Prabowo.

Habibie menjawab dengan nada tegas, “Tidak! Sampai matahari terbenam anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru. Saya bersedia mengangkat anda menjadi duta besar di mana saja!”

“Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!” jawab Prabowo.

“Ini tidak mungkin, Prabowo,” tegas Habibie.

Ketika perdebatan masih berlangsung seru, Habibie kemudian menuturkan bahwa Letjen Sintong Panjaitan masuk sembari menyatakan kepada Prabowo bahwa waktu pertemuan sudah habis.

“Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak dan harap segera meninggalkan ruangan,” kata Letjen Sintong Panjaitan yang saat itu menjabat sebagai penasihat militer presiden.

Setelah itu Prabowo menempati posisi baru sebagai Komandan Sekolah Staf Komando (Dansesko) ABRI menggantikan Letjen Arie J Kumaat. Prabowo mengisahkan serah terima jabatan dilakukan secara sederhana dan tertutup.

“Belum pernah ada perwira tinggi dipermalukan institusinya, seperti yang saya alami,” kata Prabowo.

Selanjutnya, Prabowo harus menjalani sidang Dewan Kehormatan Perwira. Prabowo disinyalir terlibat dalam penculikan aktivis saat masih menjabat sebagai Danjen Kopassus. 15 Perwira tinggi bintang tiga dan empat mengusulkan ke Pangab agar Prabowo dipecat.

“Saya paham, dewan ini sudah bersidang dengan susah payah selama sebulan dan orang-orangnya berpengalaman. Maka, saya (acc) setuju,” kata Wiranto.

Tamatlah sudah karier Prabowo.

[cza]
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/dialog-panas-habibie-prabowo-saat-dicopot-sebagai-pangkostrad-isu-kudeta-prabowo-3.html

Prabowo dan Kabar Gerakan Pasukan Liar di Kediaman Habibie

 Isu Kudeta Prabowo 2 (24 Okt’ 13)

Merdeka.com – Pergantian pucuk pimpinan negara dari Presiden Soeharto kepada Habibie berujung pada pencopotan Letjen Prabowo Subianto dari posisi Pangkostrad. Saat itu, 22 Mei 1998, Habibie yang baru satu hari dilantik menjadi Presiden RI memiliki segudang masalah untuk diselesaikan, utamanya adalah ekonomi dan keamanan.

Kondisi Ibu Kota Jakarta saat itu mencekam dan tidak menentu. Bahkan, pengerahan pasukan militer saat itu seakan kurang terkoordinasi.

Saat baru tiba di Istana Negara, Presiden Habibie mendapat laporan dari Menhankam/Panglima ABRI Jenderal Wiranto soal adanya pergerakan pasukan Kostrad dari luar daerah menuju Jakarta. Bahkan, Jenderal Wiranto dalam laporannya saat itu menyatakan ada konsentrasi pasukan tak dikenal kediaman Presiden Habibie di Patra Kuningan, Jakarta dan di Istana Merdeka.

“Dari laporan tersebut, saya berkesimpulan bahwa Pangkostrad (Letjen Prabowo Subianto) bergerak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab (Jenderal Wiranto),” kata Habibie dalam buku ‘Detik-detik yang menentukan’karya Bacharuddin Jusuf Habibie, terbitan THC Mandiri.

Habibie sontak terkejut mendengar laporan tersebut. Dalam benaknya muncul berbagai pertanyaan dan praduga. Tak butuh waktu lama, Habibie saat itu juga langsung memerintahkan Jenderal Wiranto untuk mencopot Letjen Prabowo dari posisi Pangkostrad, sebelum matahari tenggelam.

“Sebelum matahari terbenam, Pangkostrad harus sudah diganti dan kepada penggantinya diperintahkan agar semua pasukan di bawah komando Pangkostrad harus segera kembali ke basis kesatuan masing-masing,” kata Habibie.

Jenderal Wiranto lantas melaporkan kepada Presiden Habibie bahwa sang istri, Ainun Habibie, beserta anak dan cucu telah diamankan prajurit ABRI menuju Wisma Negara. Hal itu dilakukan untuk menjamin keamanan keluarga presiden karena banyaknya pasukan tak dikenal yang berkeliaran kala itu.

“Saya bertanya kepada diri saya, ‘Mengapa keluarga saya harus dikumpulkan di satu tempat? Apakah tidak lebih aman jikalau anak-anak dan cucu-cucu saya tinggal di tempatnya masing-masing dan dilindungi oleh Pasukan Keamanan Presiden? Mengapa harus dikumpulkan di satu tempat,” kata Habibie dalam hati.

Selang berapa jam kemudian, Letjen Prabowo datang menemui Presiden Habibie di Istana Negara. Prabowo menanyakan soal pencopotannya.

Dalam pertemuan itu, Presiden Habibie menanyakan soal pergerakan pasukan dari luar Jakarta menuju Istana Merdeka dan Kediamannya.

“Saya bermaksud untuk mengamankan presiden,” jawab Prabowo.

Namun jawaban Prabowo itu dibantah Presiden Habibie. Menurutnya, keamanan presiden menjadi tanggung jawab Paspampres, bukan Kostrad.

Presiden pun menolak permintaan Prabowo untuk menunda pencopotannya. Dalam bukunya, Habibie menyatakan alasan pencopotan dikarenakan pengerahan pasukan dari daerah menuju Jakarta yang dilakukan Letjen Prabowo tanpa koordinasi dengan Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto. Hal itu sangat tidak baik saat itu, karena di saat kondisi Republik yang masih genting, perbuatan Prabowo itu dapat mempengaruhi komandan lain untuk berbuat sendiri-sendiri, tanpa koordinasi.

“Bukankah kemarin pagi tanggal 20 Mei 1998 saya telah sampaikan kepada Pangab bahwa saya tidak akan menerima kepala staf angkatan termasuk Pangkostrad sendiri-sendiri tanpa sepengetahuan atau permohonan Pangab? Ini berarti gerakan pasukan dari Kostrad tanpa sepengetahuan Pangab tidak boleh saya tolerir,” kata Habibie.

Sementara itu, berdasarkan kesaksian penasihat militer Presiden Habibie, Letjen (Purn) Sintong Panjaitan, situasi di jalan depan rumah Habibie di Patra Kuningan saat itu sangat sumpek karena banyaknya prajurit ABRI. Anggota Kopassus dan Paspampres kala itu berjubel di jalan yang lebarnya hanya sekitar 6 m.

Saat itu Paspampres meminta agar personel Kopassus mundur dari area kediaman Presiden Habibie. Namun, personel korps baret merah itu menolak. Mereka hanya mau pindah jika mendapat perintah langsung dari komandannya yang saat itu adalah Danjen Kopassus Mayjen Muchdi PR. Saat itu mereka hanya menuruti perintah agar mengamankan presiden.

Paspampres yang kala itu di bawah komando Mayjen TNI Endriartono Sutarto pun gusar. Pasalnya, saat itu mereka hanya dibekali peluru hampa. Sementara, personel Kopassus saat itu dilengkapi peluru tajam. Mayjen Endriartono kemudian menghubungi Letjen Sintong Panjaitan meminta agar segera dikirimkan peluru tajam.

Letjen Sintong kemudian menghubungi bekas anak buahnya yang saat itu menjabat sebagai Wadanjen Kopassus Brigjen Idris Gasing. Letjen Sintong meminta agar Brigjen Idris segera menarik pasukannya dari kediaman Presiden Habibie.

“Gasing coba perbaiki dulu posisi pasukanmu. Pasukan yang di sini tarik ke sana dan yang di sini tarik ke situ. Kalau perlu adakan koordinasi dengan Kodam Jaya agar semua dapat berjalan lancar,” kata Letjen Sintong dalam buku ‘Perjalanan Seorang Prajurit PARA KOMANDO’ terbitan Kompas.

Brigjen Gasing lantas bertanya situasi saat itu. “Komandanmu (Mayjen Muchdi PR) sedang sibuk menghadapi penggantian jabatan. Tarik pasukanmu malam ini juga. Kalau terjadi apa-apa, nanti kau yang disalahkan,” jawab Letjen Sintong.

Brigjen Gasing lantas melaksanakan perintah Letjen Sintong. Dia langsung berkoordinasi dengan Panglima Kodam Jaya, Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin. Akhirnya, sebagian personel Kopassus itu ditarik kembali ke Serang, Jawa Barat dan sebagian lagi ke Kartosuro, Jawa Tengah.

[dan]
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/prabowo-dan-kabar-gerakan-pasukan-liar-di-kediaman-habibie-isu-kudeta-prabowo-ii.html

Baca Juga :

Prabowo dan Jerat Isu Kudeta 1998, Benar atau Fitnah?

Isu Kudeta Prabowo 2 (24 Okt ’13)

Merdeka.com – Langkah Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto maju menjadi calon presiden 2014 terganjal sejumlah persoalan masa lalu. Salah satunya soal kerusuhan Mei 1998 dan isu kudeta yang akan dilakukan Prabowo pada Habibie.

Kini kembali polemik 15 tahun itu mencuat, di depan peserta HUT Aliansi Jurnalis Independen, Habibie kembali menceritakan kisah itu. Saat itu Prabowo menjabat Panglima Kostrad TNI AD, Habibie dilapori Wiranto, ada pasukan liar yang diduga dikendalikan Prabowo bergerak ke Jakarta.

“Ada Wiranto dia bilang pasukan Kostrad masuk ke Jakarta, pesawat sudah masuk ke bandara. Perintahkan semua kembali ke pangkalan. Kalau mereka tidak kembali ke pangkalan kita bisa kayak di Mesir, Myanmar, seperti sekarang,” terang Habibie di gedung Gedung Pusat perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Kamis (29/8).

Habibie memerintah Wiranto untuk mencopot Prabowo sebagai Pangkostrad sebelum matahari terbenam. Itulah pergantian Pangkostrad paling dramatis sepanjang sejarah. Prabowo langsung diganti oleh Letjen Johny H Lumintang. 17 Jam kemudian Johny Lumintang digantikan Mayjen Djamari Chaniago.

Prabowo sendiri selalu menepis kabar akan melakukan kudeta atau menjadi dalang kerusuhan Mei 1998. Menurutnya, tak pernah ada walau sekadar niatan untuk melakukan kudeta pada pemerintahan yang sah. Prabowo menegaskan tudingan itu hanya fitnah.

“Saya waktu itu Pangkostrad dengan 33 batalyon, nyatanya apakah saya kudeta? Itu tidak akan saya lakukan karena sebagai prajurit sapta marga saya takut terhadap konstitusi UUD 1945,” kata Prabowo dalam keterangan persnya yang diterima merdeka.com, Minggu (20/10).

Menanggapi isu tersebut, mantan Danjen Kopassus itu hanya diam. Dia menilai, waktu dan sejarah yang akan mengungkap kebenaran tersebut. “Saya lebih memilih diam menanggapi fitnah itu, biarlah waktu dan sejarah yang akan membuktikan. ‘Becik ketitik ala ketara’,” jelas Prabowo.

Prabowo boleh berharap semuanya akan terang benderang. Tapi dia pun masih ragu untuk mengungkapkan siapa yang sebenarnya ‘bermain’ dalam kerusuhan Mei 1998.

Walau tak sama persis, Peristiwa 1998 sebenarnya memiliki banyak persamaan dengan peristiwa 1965. Ada persaingan para jenderal TNI AD, gerakan mahasiswa, kerusuhan dan desas-desus kudeta hingga mengakibatkan seorang presiden lengser.

Hingga kini peristiwa 65 pun diyakini belum terbongkar sepenuhnya. Faktanya masih banyak hal abu-abu dalam sejarah suram itu. Begitu juga dengan peristiwa 1998, banyak tanya yang belum terjawab.

merdeka.com mencoba mengangkat kembali kisah menarik yang terjadi di hari-hari terpanas tahun 1998. Selamat membaca.

[ian]
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/prabowo-dan-jerat-isu-kudeta-1998-benar-atau-fitnah-isu-kudeta-prabowo-1.html

Daftar Judul Lagu Hijau Daun

Album I -  Ikuti Cahaya (2008) :

  1. Suara (Ku Berharap)
  2. Cobalah
  3. Sampai Kau Bicara
  4. Selalu Begitu
  5. Dunia Lain
  6. De Ja Vu
  7. Ikuti Cahaya
  8. Lihatlah
  9. Jatuh
  10. Dewi

Album ke 2 – Bersama Terang (2010)

  1. Bersama Terang
  2. Setiap Detik
  3. Pergi
  4. Aku Dan Air Mata
  5. Biarkan Waktu
  6. Aku Ingin Engkau
  7. Mendengar Dunia
  8. Keinginan Tinggi
  9. Sisa Hati
  10. Kurindukanmu Namun
  11. Bunda
  12. Cinta Di Mana

Album ke 3 – 3 in 1 :

(Album ke 3 adalah kolaborasi band Daun Hijau dengan band Vagetoz, dan The Potter’s)

  1. Bagiku (Kau Bagaikan Bintang) – 3 in 1
  2. Titip Hatiku – Hijau Daun
  3. Tahukah Kamu – Hijau Daun
  4. Suara (Ku Berharap) – Hijau Daun
  5. Ini yang Terbaik – Hijau Daun
  6. Kamu yang Salah – Kiki “The Potter’s”
  7. Tersenyum Tapi Terluka – Kiki “The Potter’s”
  8. Lumpuh – Kiki “The Potter’s”
  9. Sebaiknya Aku Pergi Darimu – Vagetoz
  10. Hilang – Vagetoz
  11. Kau Lukaiku Lagi – Vagetoz
  12. Betapa Aku Mencintaimu (BAM) – Vagetoz

Daftar Harga TBS Sawit 23-29 Oktober 2013 Propinsi Riau

Info Daftar Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit periode 23-29 Oktober 2013, berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Propinsi Riau :

Umur

Harga  TBS
(Rp/Kg)

3 Tahun

1.323,08

4 Tahun

1.354,5

5 Tahun

1.473,87

6 Tahun

1.516,25

7 Tahun

 1.574,41

8 Tahun

1.623,43

9 Tahun

1.674,95

10 -20 Tahun

1.722,17

Sumber : Dinas Perkebunan Riau

Harga rata-rata CPO Riau  =  Rp  7.960.81 /kg
Harga rata-rata Inti Sawit  (kernel) = Rp 
4.081,29 /Kg
Indeks “K”                                                     =  88,35 %

Untuk Daftar Lengkap Informasi Harga TBS kelapa sawit di wilayah Indonesia klik di bawah ini :

“Info Harga Buah Kelapa Sawit”

Ngakak…, English Ala Sutan Bhatoegana

Sudah tidak aneh kalau banyak juga anggota Dewan sering bikin kita tertawa terpingkal-pingkal meskipun sebetulnya mereka sedang bersidang atau melakukan hal penting buat negara Indonesia. Berikut ini adalah salah satunya dari Sutan Bhatoegana (Partai Demokrat) yang membuat para penonton Youtube, kaskus dan media sosial lain ngakak terguling-guling…. ckckckckc….

-

Konflik Gajah vs Manusia Mengakibatkan Kerugian Rp 1,99 Miliar di Riau

PEKANBARU, KOMPAS.com – Organisasi lingkungan WWF menyatakan konflik gajah dengan manusia yang terjadi selama tahun 2013 di Taman Nasional Tesso Nillo menimbulkan kerugian sekitar Rp1,99 miliar.

Informasi yang diterima Antara dari WWF di Pekanbaru, Minggu (20/10/2013), menyebutkan rekapitulasi hasil konflik gajah versus manusia itu adalah rekap sejak tahun 2004.

Menurut organisasi tersebut, serangan gajah kerap terjadi di tiga desa yang berdekatan dengan Taman Nasional Tesso Nillo (TNTN).

Humas WWF Riau, Syamsidar mengatakan, untuk mengurangi kerugian akibat konflik tersebut, WWF bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau dan Balai TNTN untuk melakukan penanganan konflik yang berkepanjangan itu.

Salah satunya menurut dia yakni dengan menggunakan gajah pengusir (Flying Squad) yang telah dilakukan sejak April 2004.  Gajah pengusir adalah salah satu teknik mitigasi konflik antara manusia dengan gajah.

Upaya ini dilakukan dengan memberdayakan gajah latih untuk mengusir dan menggiring gajah liar kembali kehabitatnya di kawasan hutan.

Ia mengatakan, tim ini telah ditempatkan di kawasan rawan konflik seperti di Desa Lubuk Kembang Bunga, yang merupakan pedesaan berbatasan langsung dengan TNTN.

Tim Flying Squad terdiri dari empat ekor gajah dan delapan orang perawat yang selama ini disebut mahout. Untuk pencegahan terjadinya konflik, kata dia, tim ini melakukan patroli secara rutin di sejumlah daerah rawan.

“Selain dengan gajah, tim juga ada yang patroli dengan menggunakan sepeda motor dan mobil,” katanya.

Data WWF menyatakan labih dari 100 kasus kematian gajah Sumatera di Provinsi Riau sejak 2004 belum pernah terungkap siapa pelakunya.

Syamsidar mengatakan, hampir seluruh kasus kematian gajah Sumatera akibat diracun, dimana pemicunya adalah konflik dengan manusia, karena gajah masih dianggap sebagai hama perusak perkebunan.

Konflik gajah dan manusia juga kerap ditunggangi oleh kepentingan perburuan, dilihat dari seluruh gajah jantan yang mati nyaris seluruhnya tanpa gading.

Menurut dia, lemahnya penegakan hukum mengakibatkan tidak ada efek jera bagi pelaku dan keberadaan gajah makin terancam.

“Faktor penyebab terus terjadinya kematian gajah di Riau akibat lemahnya penegakan hukum, karena pelaku menilai tidak pernah ada hukuman terhadap pembunuhan gajah,” katanya.

Selama dua tahun terkhir, demikian Syamsidar, sudah ada 19 kasus kematian gajah yang belum terungkap. Sementara pada 2012, sebanyak 12 ekor gajah ditemukan mati akibat diracun di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, sedangkan tiga lainnya di daerah lain.

Sedangkan, hingga September 2013 sudah ada empat kasus kematian gajah di Tesso Nilo. Kondisi tersebut diakuinya sangat memprihatinkan karena jumlah populasi gajah di Riau diperkirakan hanya tinggal 300 ekor.

Sumber : http://regional.kompas.com/

Berita Kelapa Sawit Lengkap dan Harga Buah Sawit bisa disimak di Bawah ini :