Insiden

Ditanya Membangun Dinasti, Gubernur Riau Marah dan Memaki Wartawan Pakai Bahasa Minang

Gubernur Riau, Anas Makmun Memaki dengan kata Pantek

Gubernur Riau, Anas Makmun Memaki dengan kata kotor

Jumat, 18/04/2014

PEKANBARU – Gubernur Riau Anas Makmun (ejaan nama sesuai Daftar OT/1970 di Koramil-03/Bangko Dim-0303/BKLS, red) nampaknya benar-benar marah jika kebijakan dan keputusannya dalam roda pemerintahan mendapat kritikan, apalagi bila ditentang.

Celakanya, terutama bagi para wartawan, sebesar dan sehebat apapun medianya di Republik Indonesia (RI) ini, jangan coba-coba menanyakan tentang dinasti Anas Makmun yang kini sudah dibangunnya. More

Obyek Diduga Terkait Pesawat Malaysia MH370 Ternyata Ubur-ubur

Perth – Sebuah pesawat China yang ikut dalam pencarian pada Sabtu (29/3/2014) kemarin melihat tiga benda mencurigakan yang diduga terkait pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370. Ternyata setelah didekati, benda mencurigakan itu hanyalah bangkai ubur-ubur.

Seperti dilansir CNN dari stasiun TV China, CCTV, Minggu (30/3/2014) benda mencurigakan yang awalnya diduga terkait MH370 itu berwarna oranye dan disangka jaket keselamatan dari pesawat, namun nyatanya ubur-ubur mati. More

P-3 Orion, Pesawat Canggih Pelacak Malaysia Airlines MH370

Pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370, selain menyuguhkan banyak spekulasi, ketidakpastian, dan sisi menyedihkan, juga menunjukkan sisi lain yang mengagumkan.

Banyak bangsa membantu pihak Malaysia untuk mencari pesawat yang hilang sejak Sabtu (8/3/2014) lalu. Mereka mengerahkan teknologi-teknologi tercanggih yang dimiliki.

Salah satu teknologi canggih yang patut disorot adalah pesawat AP-3C Orion milik Angkatan Udara Australia (RAAF). More

Buaya Terkam Murid SD, Hanya Tersisa Lengan Kanan

Kamis, 20 Februari 2014

OELAMASI, KOMPAS.com — Yesly Lole (13), murid kelas V SD Inpres Onansila, tewas diterkam buaya di Pantai Onansila, Desa Onansila, Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur, Senin (17/2/2014) siang, sekitar pukul 13.00 Wita.

Tubuh gadis mungil ini habis disantap buaya, cuma tersisa lengan kanan. Hal ini diceritakan Camat Semau Selatan, Jhoni Aty, Rabu (19/2/2013) kemarin.

Camat Aty menuturkan, seusai bubar dari kelas, Senin siang, Yesly bersama dua temannya, Itel Lenggu dan Uco Lole, pulang ke rumah. Di perjalanan, mereka singgah di tepi Pantai Onansila untuk mencari kerang dan kepiting di pasir. More

Ratusan Hektare Kebun Karet di Riau Terbakar

23 Februari 2014

PEKANBARU — Ratusan hektare lahan perkebunan karet milik masyarakat di Kecamatan Merbau, Kabupaten Meranti, terbakar, Ahad (23/2).

“Pemilik lahan di Dusun I, Desa Bagan Melibur, Kecamatan Merbau itu juga belum bisa didata karena anggota masih membantu pemadaman kebakaran,” kata Kepala Bidang Humas Polda Riaun Ajun Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo kepada pers lewat pesan singkat seluler yang diterima, Ahad (23/2) siang. More

Bocah Berusia 5 tahun Tercebur ke Kuali Penggorengan

21 Februari 2014
Bocah Tercebur ke Kuali Penggorengan Akhirnya Meninggal Dunia

Bocah Tercebur ke Kuali Penggorengan Akhirnya Meninggal Dunia

MUARASABAK – Sefti, bocah berusia 5 tahun warga Desa Bandar Jaya, Kecamatan  Rantaurasau, Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) yang di rawat intensif di ruang ICU RSUD Raden Mattaher, karena tercebur ke kuali penggorengan tahu, akhirnya meninggal dunia. Ia menghembuskan nafas terakhir tadi pagi, Jumat (21/2/2014). More

Ayah Pemeran Wanita Video Mesum SMPN 4 Jakarta Mengeluarkan Testimoni

30 Oktober 2013

Jakarta – Selasa pagi 29 Oktober 2013, di samping Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait, lelaki paruh baya itu hanya bisa menunduk. Berkaus hitam, wajahnya ditunduk sedalam-dalamnya. Topi hitamnya diturunkan untuk menyembunyikan wajahnya dari sorotan kamera yang ada di ruang itu.

Itulah suasana pertemuan ayah pemeran video mesum SMPN 4 Jakarta yang menghebohkan itu dengan awak media. Selain menyembunyikan wajahnya, pria itu juga berusaha menyembunyikan namanya. “A-S, usia 53,” jawabnya singkat saat wartawan menanyakan namanya.

Dalam jumpa wartawan itu, AS membacakan testimoni yang ia tulis sendiri sebanyak 3 halaman. Di testimoni itu dia mencurahkan semua perasaannya, perasaan keluarga dan tentu saja perasaan putrinya, AE (14) yang saat ini menurutnya sedang trauma berat dan sedang jatuh sakit.

AS tidak sanggup membacakan seluruh testiomoni itu karena AS terus menangis. Aris Merdeka Sirait yang meneruskan membacanya. Dalam testimoni tersebut, baik AS maupun Aris tetap bepegangan kalau AE terpaksa melakukan adegan dewasa tersebut karena dipaksa atau di-bully teman-temannya. Selain berdasarkan pengakuan langsung AE, keyakinan itu juga didasarkan dari bukti baru.

Bukti baru tersebut adalah Twitter dari seorang temannya. “Jangan terlalu bully dia. Gue takut kejiwaannya terganggu,” bunyi tweet tersebut.

Dan inilah testimoni lengkap AS yang ia rasakan setelah video mesum putrinya beredar luas:

Kepada Yth. Bapak/Ibu Wartawan.
Tanggal 13 September 2013 pulang sekolah korban menemui temannya R (perempuan) dan teman-temannya yang katanya sedang piket di lantai atas. Ternyata di kelas tersebut sudah adik kelasnya, FP (pria). Mereka kemudian ngobrol, lalu R turun ke kantin katanya ingin membeli minum
Di dalam kelas tersebut, tinggallah korban dan FP. Awalnya mereka ngobrol, terus FP mulai berbuat kurang ajar karena memojokkan, mencium bibir dan meraba payudara korban. Korban marah dan berontak. Akrhinya FP melepaskan kroban, korban lari turun di tangga dan pulang sendiri.
Tiga hari setelah peristiwa itu, ada anak-anak kelas 7 yang berpapasan dengan korban, mereka lalu bilang : “Kakak ngapain ya sama FP di kelas?” Korban lalu menjawab : “Ngapain apa?”. Anak-anak itu menyahut; “Kita tahu kok kakak ngapain sama FP di kelas.” Sejak saat itulah korban mulai merasa ketakutan.
Tanggal 27 September 2013, korban saat di kantin ketemu FP dan ribut mulut. Akhirnya datang A dan C (dua-duanya perempuan) yang berkata ke korban : “Gue tahu lo sama FP ngapain di kelas, dan gue udah lihat filmnya.” Korban pun menjawab : “Emang gue ngapain? Film apa?” A melanjutkan : “Udah lo ga usah pura-pura, sekarang gue mau lo ikutin kemauan gue. Gue mau nonton live show kalo lo ga mau film itu gue sebarin dan gue laporin ke Ibu Dewi.”
Diancam korban emosi dan sempat ribut mulut. AE bilang : “A, lo tuh jangan jahat kenapa? Gue udah kelas 9, gue udah mau ujian. Emang gue pernah jahatin lo apa.” A lalu menyambung : “Makanya daripada lo dikeluarin, mending lo ikutin kemauan gue.”
Akhirnya, korban dibawa A dan teman-temannya naik ke lantai atas. Korban diminta mengikuti apa mau A, dan semua yang harus dilakukan korban diatur oleh A. Korban diminta harus senyum dan enjoy. A sebagai sutradara dan C sebagai kameramen berdiri di atas meja. Beberapa temannya ikut menonton pembuatan film tersebut.
Pada saat kejadian, ibu korban yang memang setiap hari memonitor kegiatan korban melalui sms mengingatkan korban untuk segera pulang dan menjemput adiknya untuk bersama-sama ke tempat les. Tapi ditunggu tak ada jawaban. Ibu korban menghubungi hp korban juga tak diangkat. Tak lama ada WhatsApp yang isinya korban akan piket. Lalu ibu korban menjawab, bagaimana bisa piket sedangkan kamu piketnya hari Kamis.
Lama tidak dibalas, akhirnya ibu korban kembali menghubungi, tapi tidak diangkat kembali. Tidak lama masuk lagi pesan melalui whatsapp yang berisi : “Ini A tante, AE sedang piket, hape sedang di-charge di kantin.” Ibu korban percaya karena yang mengirim pesan A, ketua kelas korban melalui hp korban.
Setelah peristiwa tanggal 27 September itu, A minta live show lagi. Tapi korban enggak mau. A kembali  mengancam menyebarkan video-video korban dan diadukan ke ibu Dewi. Dan kenyataannya benar video tersebut disebarkan di sekolah juga ke alumni SMP N 4.
Antara kurun setelah kejadian sampai tanggal 13 Oktober, korban mengeluh pada ibunya. Katanya sakit dan capek, tidak seperti biasanya selalu mimpi buruk. “Aku takut…, aku takut…, aku takut….,” katanya. Tapi itu kami anggap wajar karena korban sedang sibuk les, ujian / try out.
Informasi yang kami terima, sekolah telah mengetahui peristiwa tanggal 27 September, namun tidak memberitahu kami sebagai orangtua murid. Oleh karena itu kami berinisiatif melapor ke polisi tanggal 13 Oktober dan Komnas Anak tanggal 16 Oktober.
Tanggal 14 Oktober kami datang menemui kepala sekolah memberitahu perisitiwa yang menimpa putri kami dan minta ijin anak kami tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah, bukan meminta pidah sekolah. Saat berita pertama kali muncul di media massa dengan menyebut ada ancaman pisau itu bukan informasi dari kami.
Kami tidak pernah melarikan diri dari kasus ini sampai BAP dibuat tanggal 18 Oktober 2013. kami tetap berkomunikasi dengan Wakil Kepala Sekolah, polisi, dan Komnas Anak. selama tidak ada keberadaan kami di alamat semata-mata hanya untuk kepentingan putri kami mendapatkan rasa aman dan tenang.
Putri kami sudah lama mendapat tekanan di sekolah tersebut. Kami mengetahui itu saat putri kami mewakili sekolahnya menjelang ujian kenaikan kelas, mengikuti lomba fisika tingkat Provinsi DKI Jakarta. Istri saya juga sakit, dan saya harus ambil cuti untuk mengantarnya mengikuti lomba tersebut. Di kompetisi ini putri kami mengeluh : “Nanti selesai lomba dan aku naik kelas aku mau keluar sekolah.” Saya tanya kenapa, dia jawab “Lihat saja semua yang ikut lomba diantar guru dan temannya. Emang aku enggak punya guru, tidak punya teman?”
Semenjak TK sampai lulus SD putri kami memang selalu meraih predikat Best Student. Tapi pada kenaikan kelas bulan Juni 2013, meskipun masih ada di kelas unggulan, nilainya tidak memuaskan. Saya tanya, kenapa, ada apa? dia jawab : “Kalau ingin aku tetap jadi anak pintar dan tidak nakal, pindahkan aku dari sekolah ini. Aku sudah tidak kuat menghadapi teman-teman aku.”
Kami sebagai orangtua sepertinya sudah mati melihat kenyataan rasa takut putri kami terhadap teman-temannya. Setelah tragedi 27 September 2013 itu ia diperlakukan seperti sampah masyarakat. Padahal putri kami adalah duta dari setiap lomba science di sekolahnya dan sedang berjuang mendapatkan beasiswa dari kedutaan asing di Jakarta.
Kami melapor ke polisi dan Komnas Anak bukan untuk menuntut siapapun. Kami hanya ingin keluarga kami hidup normal. Jangankan kembali ke lingkungan masyarakat, untuk ketemu saudara pun kami sudah tidak punya harga diri. Terus bagaimana dengan nasib putri kami yang masa depannya sudah hancur?
Kami tidak menuntut siapapun. Tapi siapa yang akan bertanggungjawab dengan kehancuran keluarga kami dan masa depan putri kami?
Kami mohon bapak/ibu wartawan yang terhormat, bantu kami lindungi kami. Terimakasih. (yanoe)

Sumber : http://ciricara.com

Teknisi Putar Film Porno di Papan Reklame

Jumat, 5 Juli 2013
Screenshot via Sina Weibo . Video porno yang diputar di billboard digital dekat stasiun kereta Jilin City, China

Screenshot via Sina Weibo . Video porno yang diputar di billboard digital dekat stasiun kereta Jilin City, China

Menonton video porno saat jam kerja bukanlah ide baik, apalagi jika pekerjaan itu terhubung dengan monitor besar di luar ruangan yang bisa dilihat oleh publik.

Pada akhir Juni 2013 lalu, seorang teknisi bernama Yuan Mou memutar video porno selama 10 menit. Namun, ternyata komputer yang dipakainya itu masih terhubung dengan billboard digital berukuran besar di gedung Kaixuan, sekitar 200 meter dari stasiun kereta api Jilin City, China. More