Berita Kelapa Sawit

Berita-berita dan artikel-artikel tentang kelapa sawit

Bekerja di Perkebunan Sawit Jadi Alternatif TKI

Rabu, 4 Maret 2015

BEKASI – Bekerja di perkebunan kelapa sawit jadi pilihan bagi para tenaga kerja Indonesia di tengah sempitnya lapangan kerja.

Pasalnya selain hidup tenang dari kebisingan kota, bekerja di perkebunan sawit pun bisa menciptakan kemapanan dan karir yang terus menanjak.

Rozi Ariandi, salah satu alumni Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE) menngatakan ketenangan dari kebisingan kota itu terlihat ketika dirinya bekerja dalam suasana perkebunan sawit yang sangat erat dengan lingkungan hidup sehat dan asri ketimbang bekerja di perkotaan yang penuh dengan polusi. More

Menelusuri Jejak Taipan Kelapa Sawit di Indonesia

Sabtu, 28 Februari 2015

Transformasi untuk Keadilan (TUK) Indonesia mengadakan riset terhadap 25 grup usaha kelapa sawit yang dikendalikan oleh para taipan berdasarkan lahan kelapa sawit yang dikuasai oleh mereka di Indonesia.

Taipan berasal dari kata dalam bahasa Jepang “taikun” yang secara harfiah berarti “tuan besar”.

“Riset ini dilakukan untuk membahas bagian mana dari sektor minyak sawit Indonesia yang didominasi oleh kelompok usaha yang dikendalikan oleh taipan serta siapa saja yang mengendalikan grup-grup bisnis tersebut,” kata Direktur Program TUK Indonesia Rahmawati Retno Winarni dalam Workshop Media atas Kajian TUK Indonesia “Taipan di Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia” di Jakarta. More

29 Taipan Sawit Kuasai Lahan Hampir Setengah Pulau Jawa

Jum’at, 13 Februari 2015

TEMPO.CO, Jakarta – Sebanyak 25 grup perusahaan kelapa sawit menguasai lahan seluas 5,1 juta hektare atau hampir setengah Pulau Jawa yang luasnya 128.297 kilometer persegi. Dari 5,1 juta hektare (51.000 kilometer persegi), sebanyak 3,1 juta hektare telah ditanami sawit dan sisanya belum ditanami. Luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini sekitar 10 juta hektare.

“Kelompok perusahaan itu dikendalikan 29 taipan yang perusahaan induknya terdaftar di bursa efek, baik di Indonesia dan luar negeri,” kata Direktur Program Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia, Rahmawati Retno Winarni, Jumat, 13 Februari 2015. Lembaga TuK dan Profundo merilis hasil riset dengan judul “Kendali Taipan atas Grup Perusahaan Kelapa Sawit di Indonesia”.

Penelitian yang dilakukan sejak tahun lalu itu mendapatkan data bahwa kekayaan total mereka pada 2013 sebesar US$ 71,5 miliar atau Rp 922,3 triliun. Angka konservatif ini diperoleh dari kajian yang dibuat Forbes dan Jakarta Globe. Sebagian besar kekayaan tersebut didapat dari bisnis perkebunan sawit, dan beberapa bisnis lainnya.

Menurut Rahmawati Retno Winarni atau Wiwin, pemilihan 25 grup bisnis sawit terbesar itu didasari data dari laporan tahunan, website perusahaan, kajian Thomson dan Bloomberg, serta lembaga lainnya. Ada 11 perusahaan yang terdaftar di bursa efek di Jakarta, lalu 6 di bursa efek Singapura, 3 di Kuala Lumpur, dan satu perusahaan di bursa efek London.

Namun perusahaan terbuka tersebut, kata Wiwin, tidak sungguh-sungguh dimiliki publik, karena taipan adalah pemegang saham yang dominan, dengan penguasaan 20-80 persen saham. “Kepemilikan saham dilakukan melalui ‘perusahaan cangkang’ di negara-negara ramah pajak,” kata dia.

Siapa para taipan–yang dalam bahasa Jepang artinya tuan besar–yang menguasai kelompok perusahaan sawit itu? Mereka adalah Grup Wilmar (dimiliki Martua Sitorus dkk), Sinar Mas (Eka Tjipta Widjaja), Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto), Batu Kawan (Lee Oi Hian asal Malaysia), Salim (Anthoni Salim), Jardine Matheson (Henry Kaswick, Skotlandia), Genting (Lim Kok Thay, Malaysia), Sampoerna (Putera Sampoerna), Surya Dumai (Martias dan Ciliandra Fangiono), dan Provident Agro (Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno).

Lalu Grup Anglo-Eastern (Lim Siew Kim, Malaysia), Austindo (George Tahija), Bakrie (Aburizal Bakrie), BW Plantation-Rajawali (Peter Sondakh), Darmex Agro (Surya Darmadi), DSN (TP Rachmat dan Benny Subianto), Gozco (Tjandra Gozali), Harita (Lim Hariyanto Sarwono), IOI (Lee Shin Cheng, Malaysia), Kencana Agri (Henry Maknawi), Musim Mas (Bachtiar Karim), Sungai Budi (Widarto dan Santosa Winata), Tanjung Lingga (Abdul Rasyid), Tiga Pilar Sejahtera (Priyo Hadi, Stefanus Joko, dan Budhi Istanto), dan Triputra (TP Rachmat dan Benny Subianto).

Di antara mereka, kelompok perusahaan yang paling besar memiliki lahan sawit adalah Grup Sinar Mas, Grup Salim, Grup Jardine Matheson, Grup Wilmar, dan Grup Surya Dumai. Riset yang dilakukan TuK Indonesia dan Profundo menemukan bahwa ke-25 kelompok perusahaan ini menguasai 62 persen lahan sawit di Kalimantan (terluas di Kalimantan Barat, diikuti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur). Kemudian 32 persen di Sumatera (terluas di Riau diikuti Sumatera Selatan), 4 persen di Sulawesi, dan 2 persen di Papua.

Ekspansi perkebunan kelapa sawit di Tanah Air memang besar-besaran. “Dalam 5 tahun pertumbuhannya 35 persen,” kata Jan Willem van Gelder, Direktur Profundo, lembaga riset ekonomi yang berkedudukan di Amsterdam. Pada 2008, luas perkebunan sawit sebanyak 7,4 juta hektare dan saat ini mencapai 10 juta hektare. “Rata-rata setahun pertambahannya 520.000 hektare atau seluas Pulau Bali.”

Direktur Eksekutif TuK Indonesia, Norman Jiwan, menjelaskan ekspansi dalam skala yang luar biasa tersebut menciptakan masalah lingkungan dan sosial yang serius. Hal itu dimulai dari konversi sejumlah besar hutan yang berharga, terancam punahnya habitat spesies yang dilindungi, dan emisi gas rumah kaca karena pengembangan lahan gambut.

Belum lagi, banyak masyarakat kehilangan akses terhadap tanah yang sangat penting untuk hidupnya. “Padahal tanah itu bagian dari kelangsungan hidup, hak hukum atau adat selama beberapa generasi,” kata Norman. Selain itu, konflik lahan sering kali terjadi antara warga dengan pengelola perkebunan.

UNTUNG WIDYANTO

Sumber :

http://www.tempo.co/read/news/2015/02/13/206642351/29-Taipan-Sawit-Kuasai-Lahan-Hampir-Setengah-Pulau-Jawa

Petani Sawit Desak Pemerintah Kucurkan Dana Rp 38,8 T

07 Februari 2015

JAKARTA – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) kembali meminta pemerintah untuk mengucurkan dana sedikitnya Rp 38,8 triliun bagi program peremajaan tanaman atau replanting sawit milik rakyat. Pasalnya, saat ini, terdapat 2,5 juta hektare (ha) perkebunan sawit rakyat yang harus diremajakan karena usia tanamannya sudah di atas 25 tahun. Adapun permintaan dana tersebut berasal dari perolehan bea keluar (BK) yang secaraa kumulatif pada 2011-2014 mencapai Rp 100 triliun. More

Poltek CWE Lahirkan Tenaga Profesional Bidang Kelapa Sawit

06-02-2015

JAKARTA — Kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) kelapa sawit yang terampil dan siap pakai saat ini semakin mendesak. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan dibentuknya Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE) pada 2006 silam.

Direktur Politeknik Kelapa Sawit CWE Stephanus Nugroho Kristono mengungkapkan dengan dukungan fasilitas terbaik, lulusan kampus ini terserap 100% baik di dalam maupun luar negeri, bahkan sebelum lulus kuliah. “Kampus ini menjadi kebanggaan Indonesia dalam pemenuhan tenaga kerja perkelapasawitan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun,” ujarnya saat ditemui Lampung Post di kampus yang berlokasi di kawasan Rawa Banteng, Cibuntu, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jumat (6/2/2015). More