Bias Oranye

“Cantikkah aku?” tanyamu
Mataku sigap mengirimkan sinyal, hatiku tegas meyakinkan, lalu “click” kau abadi dalam pocketku, dan dengan tulus aku berkata :

“Ya.., tentu! Kau cantik! Cantik sekali!”

Kau tersipu sekejap, lantas bersembunyi kebalik kelam sebelum sempat aku mengungkapkan rasa cinta yang sebenarnya. Begitu cepat malam menyambangimu.

Sempat kucoba menunggu, sebelum aku sadar bahwa kau takkan datang lagi sebelum aku melewati 1000 mimpi dalam malam-malamku, maka aku hanya menulis :
“Cantik itu sebentar, tapi cinta yang tak sempat terucap dari hati, akan abadi menyelimuti segenap jiwa”.

Maaf pagi sudah menyambangiku, aku tak sempat menyempurnakannya untukmu, karena perjalananku hari ini akan panjang. Selamat tidur.
.

Catatan harian 02032017 “Hujan di Bulan Maret”

Rinai Hujan Menyambut Maret

Subuh ini, hujan dengan sabar membuatku terjaga dari mimpi yang menggemetarkan seluruh sendi keberanianku. Suaranya gemericik, berulang mengetuk kaca jendela sembari mengajak angin yang membekukan menampar wajah kelamku. Dinginnya menyelusup ke dalam daging menggelitik isi belulang. Hanya agar aku terbangun. Demikian perdulinya ia, agar aku tak sempat menjeritkan sesuatu yang tidak perlu yang memecah kesunyian dan melumpuhkan semangat jemari pagi.

“Kalau susah, jangan mau repot untuk kembali tidur. Lagi pula ada berkemungkinan kau kembali ke dalam mimpi burukmu. Aku menemani!”, Kata Laptopku yang masih menyala. Pojoknya dengan bangga menunjukkan bahwa aku telah tiba di pukul 3.35 dan sudah berada di dalam lingkaran bulan Maret. “Tabik! Kau menang!” Katanya lagi.

Lalu apa? Segelas kopi panas? Tidak juga. Tidak menghiburku. Tapi itulah, betapa agungnya keheningan, dirangkulnya rintik rinai gerimis dan angin yang membekukkan agar aku tak mampu menolak untuk mencatatkan bahwa meski tersayat, selalu ada kertas yang harus kuisi. Disadarkannya aku bahwa nyatanya aku telah mampu melewati bulan Februari, membungkam tanggal tiganya hingga aku tak sempat memenggal leher seseorang dengan kapakku atau menghancur leburkan kepala seseorang dengan godamku hanya karena baper. Silhuet dari mimpi yang mengerikan ini tak boleh jadi mainanku, desisku. Sebentar, teringat juga moment di antara Maret yang akan datang, tapi apa itu perlu? Menakutkan atau justru malah memang kutunggu?! Demikianlah pikiran-pikiran ini, seharusnya kukepras dari dalam otakku agar tak berseliweran. Itu kalau aku bisa!

Hatiku menghiba : ” Tidak!! tidak!! Jangan lagi kau beranggapan, bahwa Maret sekarang siap-siap menghadang lalu menggempurmu dengan senjata 9 nya. Seharusnya kau camkan hingga ke dalam nadimu bahwa Februari bersama 3 nya tidak pernah menyembelihmu sebagai apa yang selalu tersirat dalam pikiran negatifmu. Februari, begitu pula Maret bersama 9 nya, seutuhnya hanyalah lembaran putih kosong, surati semau maumu, meski tampak tak indah ukir sebaik kau mampu, karena betapapun kelamnya mendung, ianya sarat menyimpan hujan yang siap menyegarkan kemaraumu.

Maret seperti gelas kosong, kau sendiri yang harus mengisinya dengan air hingga penuh. Bila telah penuh, kau akan tetap dahaga bila hanya kau pandang-pandangi. Lama-lama mata hatimu akan tumpul kalau isinya selalu kau anggap keruh. Namun bila kau mau, akan habis jua dengan hanya sekali reguk, setelah itu akan kau menangkan “segar” sebagai senjata menuju musim berikutnya.

Jadi penuhi gelas kosong bulan Maret-mu seraya menunggu dan menikmati perjalanan jingga di ufuk timur menjadi jingga di ufuk barat. Sesekali akan kau temukan bias indahnya bila kau jadikan 9 sebagai kobaran yang bisa membungkam lembayung-oranye ke dalam catatanmu. Tangkap! Dan seperti biasa, maka jiwamu akan menjadi senilai seniman yang mampu menjadikan catatan-catatan ufuk itu sebagai ornamen oranye di sudut ruang hati hampamu, meski orang lain akan menyanggah”.

“Baiklah..!”, kataku sembari mereguk minumku dan siap-siap berangkat ke ladang meski hujan semakin rinai menghadirkan Maret ke haribaanku.

Catatan Harian Dinihari 01 Maret 2017 : “Demi Hujan di 3 Februari”

Catatan Harian

Kalah atau Menang (1)

Dear Yati,
Subuh pukul 4, kuantar dia ke salon. Saat aku menungguinya, kenangan memenangkan diriku atas rasa kantuk yang menggoda renungku.

……………. dst …………..

Rasanya seperti baru kemarin kuantar Lenti, Leni dan Kholifah ke salon karena wisuda-wisuda smp, sma dan kuliah mereka, lalu tau-tau ubanku mengingatkanku bahwa kini seharusya aku sudah pantas menyemat pin bertulis “kakek” di pundakku. Mereka memberiku 3 cucu, mungkin 4, entahlah, itulah apatisnya aku tak pernah menghubungi merea. |Kakek”, itupun kalau kau izinkan. Bukankah mereka juag anak-anakku, meski dalam porsi yang sangat kecil? Bukankah kita menghidu udara yg sama, di bawah atap yg sama selama bertahun-tahun.

Jadi jika kau memberi isyarat utk izin itu, maka pin “Kakek” di pundakku adalah piala kemenangan, meski aku kalah dalam memperjuangkan waktu atas kesempatan untuk dapat menghitung ubanmu.

……………dst……….

Dear Yati,
Salonnya kini sudah selesai, dia tampak lebih dewasa. Aku menatapnya hikmah seperti hujan berkah tak berujung. Lalu seperti saat ke salon bersama kakak-kakaknya, inipun akan segera berlalu, tau-tau nanti aku sudah menimang cucu sebagai pialaku, meski aku selalu kalah pada rasa rinduku padamu. Dan seperti pada lomba-lomba nyanyi lainnya, akan kukatakan padanya :

“Jangan kau risauan tentang kalah atau menang, bila kau menyenangi panggungmu dan bernyanyi dalam penghayatan sepenuh hati, kau sudah menang meski nanti tak kau terima piala apapun dari jurimu”

(Ivan Mangunsong, Cuplikan catatan harian 060416 “Tempat Berteduh” for Yati & Divana)

Catatan Harian

Riak dan Kolam Kehidupan

Seperti angsa ini, kuingin kau punya kolammu sendiri, meski sederhana, indahnya takkan kalah dari indah danau Maninjau, tempat dulu aku menaruh heningku dengan hikmah.

Riak-riak kecil airnya yang kau ciptakan akan indah bagiku sebagai pembangkit sajak rasa sayang padamu, sajak yang lahir dari hati setelah amarahku berhasil kubungkam kala kau mengeruhkan airnya.

Mungkin tidak gampang, tapi harus kupahami : riak-riak indah di tengah kolam itu takkan mungkin tercipta tanpa ada paling tidak sedikit keruhan sebagai dampaknya. Setidaknya pada tepi kolam saat kau baru mulai berenang mengeja setiap jengkal airnya.

Jadi kelak, jangan takut atas kesalahan beratmu, datang padaku dan semua akan baik-baik saja. Kan kubuatkan kau kolam baru, tempat sayapmu bisa kau kibas semerdeka camar di atas lautan. (IvanS)

(Catatan Harian For Divana Putri, 30 Maret 2016)

Kumpulan Catatan Harian Lainnya :

Catatan Harian

Siklus

Hatiku menegur pikiranku :
“Kau tak boleh menghakimi malam yang datang menghimpun gelap lalu menaungimu ke dalam kubah hitamnya. Tak pula harus berlebihan merangkul dan memuji pagi yang bersimbah embun lalu menyelimutimu ke dalam kesejukan.

Pagi bukanlah permulaan dan malam pun bukanlah akhir, mereka hanyalah perputaran mata rantai tanpa ujung dan pangkal, demikian juga dinihari, siang dan sore, semua datang melenggang melengkapi keutuhan siklusnya.

Jadi bila ada sedih dan gembira, tangis dan tawa, ukir saja semua ke jiwamu hingga kelak menjadi ornamen bernama bijaksana.”
(By : Ivan Simangunsong, 4.30 pagi 29 Maret 2016)

Kumpulan Catatan Harian Lainnya :