Catatan Harian

Kalah atau Menang (1)

Dear Yati,
Subuh pukul 4, kuantar dia ke salon. Saat aku menungguinya, kenangan memenangkan diriku atas rasa kantuk yang menggoda renungku.

……………. dst …………..

Rasanya seperti baru kemarin kuantar Lenti, Leni dan Kholifah ke salon karena wisuda-wisuda smp, sma dan kuliah mereka, lalu tau-tau ubanku mengingatkanku bahwa kini seharusya aku sudah pantas menyemat pin bertulis “kakek” di pundakku. Mereka memberiku 3 cucu, mungkin 4, entahlah, itulah apatisnya aku tak pernah menghubungi merea. |Kakek”, itupun kalau kau izinkan. Bukankah mereka juag anak-anakku, meski dalam porsi yang sangat kecil? Bukankah kita menghidu udara yg sama, di bawah atap yg sama selama bertahun-tahun.

Jadi jika kau memberi isyarat utk izin itu, maka pin “Kakek” di pundakku adalah piala kemenangan, meski aku kalah dalam memperjuangkan waktu atas kesempatan untuk dapat menghitung ubanmu.

……………dst……….

Dear Yati,
Salonnya kini sudah selesai, dia tampak lebih dewasa. Aku menatapnya hikmah seperti hujan berkah tak berujung. Lalu seperti saat ke salon bersama kakak-kakaknya, inipun akan segera berlalu, tau-tau nanti aku sudah menimang cucu sebagai pialaku, meski aku selalu kalah pada rasa rinduku padamu. Dan seperti pada lomba-lomba nyanyi lainnya, akan kukatakan padanya :

“Jangan kau risauan tentang kalah atau menang, bila kau menyenangi panggungmu dan bernyanyi dalam penghayatan sepenuh hati, kau sudah menang meski nanti tak kau terima piala apapun dari jurimu”

(Ivan Mangunsong, Cuplikan catatan harian 060416 “Tempat Berteduh” for Yati & Divana)

Catatan Harian

Riak dan Kolam Kehidupan

Seperti angsa ini, kuingin kau punya kolammu sendiri, meski sederhana, indahnya takkan kalah dari indah danau Maninjau, tempat dulu aku menaruh heningku dengan hikmah.

Riak-riak kecil airnya yang kau ciptakan akan indah bagiku sebagai pembangkit sajak rasa sayang padamu, sajak yang lahir dari hati setelah amarahku berhasil kubungkam kala kau mengeruhkan airnya.

Mungkin tidak gampang, tapi harus kupahami : riak-riak indah di tengah kolam itu takkan mungkin tercipta tanpa ada paling tidak sedikit keruhan sebagai dampaknya. Setidaknya pada tepi kolam saat kau baru mulai berenang mengeja setiap jengkal airnya.

Jadi kelak, jangan takut atas kesalahan beratmu, datang padaku dan semua akan baik-baik saja. Kan kubuatkan kau kolam baru, tempat sayapmu bisa kau kibas semerdeka camar di atas lautan. (IvanS)

(Catatan Harian For Divana Putri, 30 Maret 2016)

Kumpulan Catatan Harian Lainnya :

Catatan Harian

Siklus

Hatiku menegur pikiranku :
“Kau tak boleh menghakimi malam yang datang menghimpun gelap lalu menaungimu ke dalam kubah hitamnya. Tak pula harus berlebihan merangkul dan memuji pagi yang bersimbah embun lalu menyelimutimu ke dalam kesejukan.

Pagi bukanlah permulaan dan malam pun bukanlah akhir, mereka hanyalah perputaran mata rantai tanpa ujung dan pangkal, demikian juga dinihari, siang dan sore, semua datang melenggang melengkapi keutuhan siklusnya.

Jadi bila ada sedih dan gembira, tangis dan tawa, ukir saja semua ke jiwamu hingga kelak menjadi ornamen bernama bijaksana.”
(By : Ivan Simangunsong, 4.30 pagi 29 Maret 2016)

Kumpulan Catatan Harian Lainnya :

Puisiku :

Lelaki Tua dan Puisinya

Jemari sedih lelaki tua itu
telah melemparkan ribuan frasa
ke atas debu kering di lahan tak bertuan
semua kering terkapar
tak bersuara

Dia ingin memahat nama kekasihnya
Di haribaan kerak bumi
menggapai jiwa yang damai di langit Tuhan

Nuraninya berkata :
“Alangkah sia-sia bila pena menindas waktumu!”

Tapi apa yang harus dilakukan?
Tak tertemukan perlambang
atau tiupan kata serunai
yang sanggup menterjemahkan rindunya
selain kocar-kacir doa
yang berhamburan penuh rasa sayang
tak terkendali

Katanya :
“Aku tak lagi menangiskan kepergianmu,
tapi jejak yang kau tinggal
adalah tapak-tapak api yang harus kulalui
dan puisi adalah sepatu yang kukenakan
demi menghangatkan jiwaku dari dingin kenanganmu

(Ivan Mangunsong, 26 Maret 2016)

Kumpulan Catatan Harian Lainnya :

Catatan Harian :

Trek Sawit dan Rujak

Tidak seperti biasa, kali ini kami bisa selesaikan panen dengan sangat cepat, buah sedikit, jumlah pemanen banyak. Trek! Itulah kata kawan-kawan dan kami bisa pulang cepat. Kukira akupun bisa pulang dengan hemat batere karena tak perlu lagi menghidupkan lampu kendaraanku melewati jalan gelap di antara pepohonan sawit seperti panen-panen terdahulu.

Tak ada yang perlu disesali, kecuali hikmah, bahwa saat pendapatan kita sedikit atau hasil panen kita sedikit, justru kita punya waktu untuk bercerita, tersenyum, bercanda, tertawa bersama sejenak. Kurasa akupun sudah terbiasa untuk selalu menancapkan kalimat dalam pikiranku bahwa, “Jangankan rejeki yang sedikit, sedang penderitaanpun harus disyukuri sebagai hikmah agar “ikhlas dan sabar” selalu hidup dan berakar di ulu hati kita. Itu Harus!”

Lagi pula tak ada yang disebut dengan “rejeki sedikit” yang ada “berkah saat itu.” Oleh karenanya me-rujak adalah kesempatan yang tepat untuk diselipkan sebagai pengisi waktu yang disediakan oleh “berkah saat itu.” Lalu kamipun ramai-ramai bikin rujak.

Sederhana saja! Nanas dari kebunku, buah jambu di belakang rumah kawan, mentimun dan bumbu seharga Rp. 28.000. Dan kamipun bisa ramai-ramai tertawa di antara asin, manis, pedas, asam dari rujak buatan para ibu-ibu.

Dan seperti rasa rujak yang terbuat dari berbagai bahan begitulah kumpulan catatan hidup ini saat melewati berbagai jalannya : ada rasa pahit, asam, manis, pedas, dll. Mungkin kadang kita terpaksa dibuat menangis, tapi pada akhirnya semua itu harus kita bungkus dengan senyum dan tawa yang merupakan buah dari pohon “Sabar dan Ikhlas” kita. Rawat dan jaga pohon itu agar selalu hijau.

Catatan Harian untuk panen 22 Maret 2016, sambil mengenangmu yang terkasih Nita Khristin di www.daunhijau.com.

Ivan Simangunsong